alexametrics
31.2 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Gagasan Raksasa Merdeka Belajar Ki Hajar Dewantara

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemuda bertubuh kecil itu bernama Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara. Anak keturunan bangsawan Pakualaman itu mendapat kesempatan sekolah ELS dan STOVIA yang digelar pemerintah Hindia Belanda. Ketika di STOVIA (sekolah dokter Jawa) ia tak tamat. Alasan kesehatan pemicunya. Ada pendapat lain menyebutkan bahwa ia tak selesai karena alasan politik. Belanda menghentikan beasiswanya.

Tak lulus di STOVIA ia beralih profesi ke dunia jurnalistik. Piawai menulis kritik sosial politik yang dilakukan penjajah kepada bumiputra. Tulisannya diterbitkan di surat kabar dan majalah antara lain De Expres, Oetoesan Hindia, Tjahaja Timoer, dan lain-lain.

Saat aktif sebagai jurnalis ia bertemu dengan EFE Dowes Deker pendiri Indische Partij (IP), serta dr Cipto Mangunkusumo. Mereka dikenal dengan Tiga Serangkai. Paket Indo–Bumiputra itu saling melengkapi. IP bertujuan agar Indonesia merdeka, hal itu menyebabkan IP tak berumur panjang. Belanda membubarkan karena propagandanya sangat membahayakan. Meski belum berhasil memerdekakan bangsa Indonesia, namun IP mampu membangkitkan semangat, nasionalisme, cinta tanah air pada pembentukan organisasi politik berikutnya melawan penjajah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketiganya menjalani hukum buang. Mereka meminta dibuang di Belanda. Di luar dugaan, Belanda menyetujui. Masa pembuangan selama 6 tahun di Negeri Kincir Angin, ia aktif sebagai penulis di koran dan majalah, serta belajar di Lager Onderwijs (Sekolah Guru).

Sepulang dari Belanda ia masih aktif di organisasi politik dan jurnalis. Ia keluar masuk penjara karena pidato dan tulisannya yang pedas bagi pemerintah Belanda. Selesai menjalani hukuman, ia kembali ke Yogyakarta dan 1922 mendirikan Taman Siswa, sebuah perguruan bercorak nasional. Ia tak alergi dengan pendidikan Eropa. Ia mengadopsi isi pengetahuan. Ia buang cara-cara yang tidak manusiawi pendidikan Belanda terhadap bumiputra. Taman Siswa digelar dengan memadukan pendidikan gaya eropa dengan humanis, kerakyatan, dan kebangsaan. Ia mendirikan bersama tokoh-tokoh politik dan kebudayaan anggota sarasehan “Selasa Kliwonan”. Mereka berpendapat bahwa melawan penjajah tak harus mengangkat senjata, namun dengan kekuatan berpikir, yaitu memberi pengetahuan kepada bumi putra. Pendidikan merupakan jalan baru menuju kemerdekaan. Suwardi Suryaningrat meyakini bahwa kemerdekaan bangsa didasari jiwa merdeka dan nasional dari bangsanya, maka diperlukan penanaman jiwa merdeka sejak anak-anak.

Suwardi Suryaningrat mengubah nama di usia 40 tahun, menjadi Ki Hajar Dewantara artinya Bapak Pendidik utusan rakyat tak tertandingi melawan kolonialisme. Semua guru di Taman Siswa mengubah nama Ki bagi laki-laki, Nyi bagi perempuan bersuami, dan ni bagi perempuan belum bersuami. Ia meletakkan simbol-simbol kebangsawanan dan taman siswa menjadi lambang perguruan untuk semua bumiputra.

Ia mencetuskan gagasan yang sangat populer di seluruh pelosok tanah air. Trilogi kepemimpinan bagi guru, Ing Ngarso Sung Tulodo ( guru menjadi teladan), Ing Madyo Mangun Karso (guru membangun cita cita), Tut Wuri Handayani ( guru memberi dorongan).

Menurut cucu Ki Hajar Dewantara, Ki Nanang Rekto Wulanjaya, Tut Wuri Handayani muncul dari konsep pendidikan sistem among yang ditemukan pada masa pembuangan di Belanda. Pada saat ia merumuskan sistem pendidikan yang diyakininya, maka ia melupakan putrinya berada di luar kamarnya. Waktu itu musim sangat dingin. Ketika Ni Asti menangis, Ki Hajar baru teringat putrinya. Beliau bergegas menemui putrinya sudah biru. Beliau memeluk putrinya dan berkata “berhamba kepada sang anak”. Artinya kita dengan kilas hati dan terbebas dari ikatan apa pun, mendekati sang anak dan mengorbankan diri kepadanya. Mengikuti dari belakang sambil memberi pengaruh. Jangan menarik-narik anak dari depan, biarkan mereka mencari jalan sendiri. Jika anak salah jalan, pamong memberi pengaruh menuju jalan yang benar.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemuda bertubuh kecil itu bernama Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara. Anak keturunan bangsawan Pakualaman itu mendapat kesempatan sekolah ELS dan STOVIA yang digelar pemerintah Hindia Belanda. Ketika di STOVIA (sekolah dokter Jawa) ia tak tamat. Alasan kesehatan pemicunya. Ada pendapat lain menyebutkan bahwa ia tak selesai karena alasan politik. Belanda menghentikan beasiswanya.

Tak lulus di STOVIA ia beralih profesi ke dunia jurnalistik. Piawai menulis kritik sosial politik yang dilakukan penjajah kepada bumiputra. Tulisannya diterbitkan di surat kabar dan majalah antara lain De Expres, Oetoesan Hindia, Tjahaja Timoer, dan lain-lain.

Saat aktif sebagai jurnalis ia bertemu dengan EFE Dowes Deker pendiri Indische Partij (IP), serta dr Cipto Mangunkusumo. Mereka dikenal dengan Tiga Serangkai. Paket Indo–Bumiputra itu saling melengkapi. IP bertujuan agar Indonesia merdeka, hal itu menyebabkan IP tak berumur panjang. Belanda membubarkan karena propagandanya sangat membahayakan. Meski belum berhasil memerdekakan bangsa Indonesia, namun IP mampu membangkitkan semangat, nasionalisme, cinta tanah air pada pembentukan organisasi politik berikutnya melawan penjajah.

Ketiganya menjalani hukum buang. Mereka meminta dibuang di Belanda. Di luar dugaan, Belanda menyetujui. Masa pembuangan selama 6 tahun di Negeri Kincir Angin, ia aktif sebagai penulis di koran dan majalah, serta belajar di Lager Onderwijs (Sekolah Guru).

Sepulang dari Belanda ia masih aktif di organisasi politik dan jurnalis. Ia keluar masuk penjara karena pidato dan tulisannya yang pedas bagi pemerintah Belanda. Selesai menjalani hukuman, ia kembali ke Yogyakarta dan 1922 mendirikan Taman Siswa, sebuah perguruan bercorak nasional. Ia tak alergi dengan pendidikan Eropa. Ia mengadopsi isi pengetahuan. Ia buang cara-cara yang tidak manusiawi pendidikan Belanda terhadap bumiputra. Taman Siswa digelar dengan memadukan pendidikan gaya eropa dengan humanis, kerakyatan, dan kebangsaan. Ia mendirikan bersama tokoh-tokoh politik dan kebudayaan anggota sarasehan “Selasa Kliwonan”. Mereka berpendapat bahwa melawan penjajah tak harus mengangkat senjata, namun dengan kekuatan berpikir, yaitu memberi pengetahuan kepada bumi putra. Pendidikan merupakan jalan baru menuju kemerdekaan. Suwardi Suryaningrat meyakini bahwa kemerdekaan bangsa didasari jiwa merdeka dan nasional dari bangsanya, maka diperlukan penanaman jiwa merdeka sejak anak-anak.

Suwardi Suryaningrat mengubah nama di usia 40 tahun, menjadi Ki Hajar Dewantara artinya Bapak Pendidik utusan rakyat tak tertandingi melawan kolonialisme. Semua guru di Taman Siswa mengubah nama Ki bagi laki-laki, Nyi bagi perempuan bersuami, dan ni bagi perempuan belum bersuami. Ia meletakkan simbol-simbol kebangsawanan dan taman siswa menjadi lambang perguruan untuk semua bumiputra.

Ia mencetuskan gagasan yang sangat populer di seluruh pelosok tanah air. Trilogi kepemimpinan bagi guru, Ing Ngarso Sung Tulodo ( guru menjadi teladan), Ing Madyo Mangun Karso (guru membangun cita cita), Tut Wuri Handayani ( guru memberi dorongan).

Menurut cucu Ki Hajar Dewantara, Ki Nanang Rekto Wulanjaya, Tut Wuri Handayani muncul dari konsep pendidikan sistem among yang ditemukan pada masa pembuangan di Belanda. Pada saat ia merumuskan sistem pendidikan yang diyakininya, maka ia melupakan putrinya berada di luar kamarnya. Waktu itu musim sangat dingin. Ketika Ni Asti menangis, Ki Hajar baru teringat putrinya. Beliau bergegas menemui putrinya sudah biru. Beliau memeluk putrinya dan berkata “berhamba kepada sang anak”. Artinya kita dengan kilas hati dan terbebas dari ikatan apa pun, mendekati sang anak dan mengorbankan diri kepadanya. Mengikuti dari belakang sambil memberi pengaruh. Jangan menarik-narik anak dari depan, biarkan mereka mencari jalan sendiri. Jika anak salah jalan, pamong memberi pengaruh menuju jalan yang benar.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemuda bertubuh kecil itu bernama Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara. Anak keturunan bangsawan Pakualaman itu mendapat kesempatan sekolah ELS dan STOVIA yang digelar pemerintah Hindia Belanda. Ketika di STOVIA (sekolah dokter Jawa) ia tak tamat. Alasan kesehatan pemicunya. Ada pendapat lain menyebutkan bahwa ia tak selesai karena alasan politik. Belanda menghentikan beasiswanya.

Tak lulus di STOVIA ia beralih profesi ke dunia jurnalistik. Piawai menulis kritik sosial politik yang dilakukan penjajah kepada bumiputra. Tulisannya diterbitkan di surat kabar dan majalah antara lain De Expres, Oetoesan Hindia, Tjahaja Timoer, dan lain-lain.

Saat aktif sebagai jurnalis ia bertemu dengan EFE Dowes Deker pendiri Indische Partij (IP), serta dr Cipto Mangunkusumo. Mereka dikenal dengan Tiga Serangkai. Paket Indo–Bumiputra itu saling melengkapi. IP bertujuan agar Indonesia merdeka, hal itu menyebabkan IP tak berumur panjang. Belanda membubarkan karena propagandanya sangat membahayakan. Meski belum berhasil memerdekakan bangsa Indonesia, namun IP mampu membangkitkan semangat, nasionalisme, cinta tanah air pada pembentukan organisasi politik berikutnya melawan penjajah.

Ketiganya menjalani hukum buang. Mereka meminta dibuang di Belanda. Di luar dugaan, Belanda menyetujui. Masa pembuangan selama 6 tahun di Negeri Kincir Angin, ia aktif sebagai penulis di koran dan majalah, serta belajar di Lager Onderwijs (Sekolah Guru).

Sepulang dari Belanda ia masih aktif di organisasi politik dan jurnalis. Ia keluar masuk penjara karena pidato dan tulisannya yang pedas bagi pemerintah Belanda. Selesai menjalani hukuman, ia kembali ke Yogyakarta dan 1922 mendirikan Taman Siswa, sebuah perguruan bercorak nasional. Ia tak alergi dengan pendidikan Eropa. Ia mengadopsi isi pengetahuan. Ia buang cara-cara yang tidak manusiawi pendidikan Belanda terhadap bumiputra. Taman Siswa digelar dengan memadukan pendidikan gaya eropa dengan humanis, kerakyatan, dan kebangsaan. Ia mendirikan bersama tokoh-tokoh politik dan kebudayaan anggota sarasehan “Selasa Kliwonan”. Mereka berpendapat bahwa melawan penjajah tak harus mengangkat senjata, namun dengan kekuatan berpikir, yaitu memberi pengetahuan kepada bumi putra. Pendidikan merupakan jalan baru menuju kemerdekaan. Suwardi Suryaningrat meyakini bahwa kemerdekaan bangsa didasari jiwa merdeka dan nasional dari bangsanya, maka diperlukan penanaman jiwa merdeka sejak anak-anak.

Suwardi Suryaningrat mengubah nama di usia 40 tahun, menjadi Ki Hajar Dewantara artinya Bapak Pendidik utusan rakyat tak tertandingi melawan kolonialisme. Semua guru di Taman Siswa mengubah nama Ki bagi laki-laki, Nyi bagi perempuan bersuami, dan ni bagi perempuan belum bersuami. Ia meletakkan simbol-simbol kebangsawanan dan taman siswa menjadi lambang perguruan untuk semua bumiputra.

Ia mencetuskan gagasan yang sangat populer di seluruh pelosok tanah air. Trilogi kepemimpinan bagi guru, Ing Ngarso Sung Tulodo ( guru menjadi teladan), Ing Madyo Mangun Karso (guru membangun cita cita), Tut Wuri Handayani ( guru memberi dorongan).

Menurut cucu Ki Hajar Dewantara, Ki Nanang Rekto Wulanjaya, Tut Wuri Handayani muncul dari konsep pendidikan sistem among yang ditemukan pada masa pembuangan di Belanda. Pada saat ia merumuskan sistem pendidikan yang diyakininya, maka ia melupakan putrinya berada di luar kamarnya. Waktu itu musim sangat dingin. Ketika Ni Asti menangis, Ki Hajar baru teringat putrinya. Beliau bergegas menemui putrinya sudah biru. Beliau memeluk putrinya dan berkata “berhamba kepada sang anak”. Artinya kita dengan kilas hati dan terbebas dari ikatan apa pun, mendekati sang anak dan mengorbankan diri kepadanya. Mengikuti dari belakang sambil memberi pengaruh. Jangan menarik-narik anak dari depan, biarkan mereka mencari jalan sendiri. Jika anak salah jalan, pamong memberi pengaruh menuju jalan yang benar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/