alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

FOMO dan Empati terhadap Korban Bencana

Mobile_AP_Rectangle 1

ERUPSI Semeru beberapa waktu lalu menarik solidaritas berbagai lapisan masyarakat untuk turut membantu korban terdampak. Hal ini menunjukkan budaya solidaritas masyarakat kita yang gemar tolong-menolong dan bergotong royong untuk meringankan beban sesama. Tetapi dewasa ini, beberapa permasalahan muncul di antaranya adalah banyaknya masyarakat yang datang ke lokasi bencana, tidak hanya untuk memberikan bantuan, namun juga untuk melihat-lihat atau berfoto di lokasi. Bahkan dalam salah satu narasi berita nasional disebutkan bahwa banyak masyarakat yang datang hanya untuk berswafoto ria layaknya berada di lokasi wisata.

Banyak pihak kontra dan menganggap hal tersebut merupakan tindakan yang tidak empatik terhadap para korban, baik yang meninggal dunia maupun yang harta bendanya lenyap karena awan panas guguran. Ditambah lagi, lokasi yang masih rawan terjadi bencana susulan sangat berbahaya bagi masyarakat untuk beraktivitas. Pun masyarakat yang berkumpul di lokasi bencana tentu menyulitkan petugas dan relawan kebencanaan dalam bertugas.

Lalu, mengapa hal tersebut dapat terjadi? Bila menelisik lebih jauh, sebenarnya perilaku seperti ini sungguh tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Contohnya ketika terjadi kecelakaan, kebakaran, atau musibah tertentu, banyak dari masyarakat memilih untuk melihat dan mendokumentasikan kejadian. Terkadang hal tersebut sampai mengabaikan keselamatan diri sendiri karena berkerumun di tempat yang bisa jadi sangat berbahaya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hal ini tentunya tidak sepenuhnya salah. Seseorang berhak untuk melihat kejadian dan bahkan banyak juga yang berkeinginan untuk menolong, namun sering kali masyarakat mengabaikan etika tertentu dalam menghadapi sebuah musibah. Masyarakat sering kali mengabaikan duka yang dialami para korban dengan secara gamblang meliput tanpa dipikirkan dampak jangka panjangnya.

Etika dalam menghadapi sebuah musibah memang tidak pernah diajarkan secara eksplisit dalam pendidikan formal. Apabila kita tarik mundur, hal ini kemungkinan secara implisit kita dapatkan dalam pelajaran budi pekerti atau pelajaran keagamaan. Tetapi tetap saja, masih begitu banyak masyarakat yang belum mampu untuk memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berhadapan dengan situasi duka orang lain.

Hal ini kemungkinan karena masyarakat mengalami sebuah situasi psikologis yang dinamakan dengan FOMO atau fear of missing out ketika melihat kejadian yang jarang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. FOMO adalah sebuah fenomena psikologis yang muncul dekade terakhir sebagai konsekuensi dari kemajuan teknologi. Fear of missing out ditandai dengan perasaan takut dan cemas akan tertinggal dengan sesuatu hal yang sedang banyak dibicarakan oleh publik, khususnya berita-berita yang ada di media sosial. FOMO menyebabkan seseorang yakin bahwa setiap momen berharga, dan tidak boleh dilewatkan. Karena itu, pada setiap kesempatan banyak individu berlomba-lomba untuk turut update memberitakan berita yang sedang hangat atau istilah populernya berita yang sedang trending.

FOMO diyakini oleh banyak orang hanya dialami oleh anak muda atau generasi yang melek teknologi. Namun, menurut pendapat penulis, FOMO juga saat ini menjangkit segala usia karena teknologi dewasa ini dapat diakses oleh semua orang. Takut ketinggalan isu yang sedang hangat, dalam konteks masyarakat luas termanifestasi dalam berbagai bentuk perilaku, termasuk di antaranya adalah melakukan selfie di lokasi bencana.

- Advertisement -

ERUPSI Semeru beberapa waktu lalu menarik solidaritas berbagai lapisan masyarakat untuk turut membantu korban terdampak. Hal ini menunjukkan budaya solidaritas masyarakat kita yang gemar tolong-menolong dan bergotong royong untuk meringankan beban sesama. Tetapi dewasa ini, beberapa permasalahan muncul di antaranya adalah banyaknya masyarakat yang datang ke lokasi bencana, tidak hanya untuk memberikan bantuan, namun juga untuk melihat-lihat atau berfoto di lokasi. Bahkan dalam salah satu narasi berita nasional disebutkan bahwa banyak masyarakat yang datang hanya untuk berswafoto ria layaknya berada di lokasi wisata.

Banyak pihak kontra dan menganggap hal tersebut merupakan tindakan yang tidak empatik terhadap para korban, baik yang meninggal dunia maupun yang harta bendanya lenyap karena awan panas guguran. Ditambah lagi, lokasi yang masih rawan terjadi bencana susulan sangat berbahaya bagi masyarakat untuk beraktivitas. Pun masyarakat yang berkumpul di lokasi bencana tentu menyulitkan petugas dan relawan kebencanaan dalam bertugas.

Lalu, mengapa hal tersebut dapat terjadi? Bila menelisik lebih jauh, sebenarnya perilaku seperti ini sungguh tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Contohnya ketika terjadi kecelakaan, kebakaran, atau musibah tertentu, banyak dari masyarakat memilih untuk melihat dan mendokumentasikan kejadian. Terkadang hal tersebut sampai mengabaikan keselamatan diri sendiri karena berkerumun di tempat yang bisa jadi sangat berbahaya.

Hal ini tentunya tidak sepenuhnya salah. Seseorang berhak untuk melihat kejadian dan bahkan banyak juga yang berkeinginan untuk menolong, namun sering kali masyarakat mengabaikan etika tertentu dalam menghadapi sebuah musibah. Masyarakat sering kali mengabaikan duka yang dialami para korban dengan secara gamblang meliput tanpa dipikirkan dampak jangka panjangnya.

Etika dalam menghadapi sebuah musibah memang tidak pernah diajarkan secara eksplisit dalam pendidikan formal. Apabila kita tarik mundur, hal ini kemungkinan secara implisit kita dapatkan dalam pelajaran budi pekerti atau pelajaran keagamaan. Tetapi tetap saja, masih begitu banyak masyarakat yang belum mampu untuk memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berhadapan dengan situasi duka orang lain.

Hal ini kemungkinan karena masyarakat mengalami sebuah situasi psikologis yang dinamakan dengan FOMO atau fear of missing out ketika melihat kejadian yang jarang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. FOMO adalah sebuah fenomena psikologis yang muncul dekade terakhir sebagai konsekuensi dari kemajuan teknologi. Fear of missing out ditandai dengan perasaan takut dan cemas akan tertinggal dengan sesuatu hal yang sedang banyak dibicarakan oleh publik, khususnya berita-berita yang ada di media sosial. FOMO menyebabkan seseorang yakin bahwa setiap momen berharga, dan tidak boleh dilewatkan. Karena itu, pada setiap kesempatan banyak individu berlomba-lomba untuk turut update memberitakan berita yang sedang hangat atau istilah populernya berita yang sedang trending.

FOMO diyakini oleh banyak orang hanya dialami oleh anak muda atau generasi yang melek teknologi. Namun, menurut pendapat penulis, FOMO juga saat ini menjangkit segala usia karena teknologi dewasa ini dapat diakses oleh semua orang. Takut ketinggalan isu yang sedang hangat, dalam konteks masyarakat luas termanifestasi dalam berbagai bentuk perilaku, termasuk di antaranya adalah melakukan selfie di lokasi bencana.

ERUPSI Semeru beberapa waktu lalu menarik solidaritas berbagai lapisan masyarakat untuk turut membantu korban terdampak. Hal ini menunjukkan budaya solidaritas masyarakat kita yang gemar tolong-menolong dan bergotong royong untuk meringankan beban sesama. Tetapi dewasa ini, beberapa permasalahan muncul di antaranya adalah banyaknya masyarakat yang datang ke lokasi bencana, tidak hanya untuk memberikan bantuan, namun juga untuk melihat-lihat atau berfoto di lokasi. Bahkan dalam salah satu narasi berita nasional disebutkan bahwa banyak masyarakat yang datang hanya untuk berswafoto ria layaknya berada di lokasi wisata.

Banyak pihak kontra dan menganggap hal tersebut merupakan tindakan yang tidak empatik terhadap para korban, baik yang meninggal dunia maupun yang harta bendanya lenyap karena awan panas guguran. Ditambah lagi, lokasi yang masih rawan terjadi bencana susulan sangat berbahaya bagi masyarakat untuk beraktivitas. Pun masyarakat yang berkumpul di lokasi bencana tentu menyulitkan petugas dan relawan kebencanaan dalam bertugas.

Lalu, mengapa hal tersebut dapat terjadi? Bila menelisik lebih jauh, sebenarnya perilaku seperti ini sungguh tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Contohnya ketika terjadi kecelakaan, kebakaran, atau musibah tertentu, banyak dari masyarakat memilih untuk melihat dan mendokumentasikan kejadian. Terkadang hal tersebut sampai mengabaikan keselamatan diri sendiri karena berkerumun di tempat yang bisa jadi sangat berbahaya.

Hal ini tentunya tidak sepenuhnya salah. Seseorang berhak untuk melihat kejadian dan bahkan banyak juga yang berkeinginan untuk menolong, namun sering kali masyarakat mengabaikan etika tertentu dalam menghadapi sebuah musibah. Masyarakat sering kali mengabaikan duka yang dialami para korban dengan secara gamblang meliput tanpa dipikirkan dampak jangka panjangnya.

Etika dalam menghadapi sebuah musibah memang tidak pernah diajarkan secara eksplisit dalam pendidikan formal. Apabila kita tarik mundur, hal ini kemungkinan secara implisit kita dapatkan dalam pelajaran budi pekerti atau pelajaran keagamaan. Tetapi tetap saja, masih begitu banyak masyarakat yang belum mampu untuk memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berhadapan dengan situasi duka orang lain.

Hal ini kemungkinan karena masyarakat mengalami sebuah situasi psikologis yang dinamakan dengan FOMO atau fear of missing out ketika melihat kejadian yang jarang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. FOMO adalah sebuah fenomena psikologis yang muncul dekade terakhir sebagai konsekuensi dari kemajuan teknologi. Fear of missing out ditandai dengan perasaan takut dan cemas akan tertinggal dengan sesuatu hal yang sedang banyak dibicarakan oleh publik, khususnya berita-berita yang ada di media sosial. FOMO menyebabkan seseorang yakin bahwa setiap momen berharga, dan tidak boleh dilewatkan. Karena itu, pada setiap kesempatan banyak individu berlomba-lomba untuk turut update memberitakan berita yang sedang hangat atau istilah populernya berita yang sedang trending.

FOMO diyakini oleh banyak orang hanya dialami oleh anak muda atau generasi yang melek teknologi. Namun, menurut pendapat penulis, FOMO juga saat ini menjangkit segala usia karena teknologi dewasa ini dapat diakses oleh semua orang. Takut ketinggalan isu yang sedang hangat, dalam konteks masyarakat luas termanifestasi dalam berbagai bentuk perilaku, termasuk di antaranya adalah melakukan selfie di lokasi bencana.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/