alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Dzikrullah Media Komunikasi Transendental

Mobile_AP_Rectangle 1

Setiap insan pasti memerlukan komunikasi, jika ingin hidupnya berarti. Sebab manusia membutuhkan interaksi untuk memenuhi segala kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Maka, komunikasi menjadi kebutuhan vital dalam kehidupan ini baik dengan sesama sebagai makhluk sosial, dan terlebih dengan Sang Khaliq, pencipta alam semesta. Preferensi komunikasi pada Sang Pencipta. selayaknya menjadi kontemplasi mendalam, karena sejatinya hidup di dunia ini hanyalah sementara. Kita semua akan kembali ke kampung halaman, ‘kampung akherat’.

Komunikasi dengan Sang Khaliq tidaklah mudah. Karena siapa DIA, siapa kita? Allah adalah Zat yang Mahaperkasa, Mahahalus dan Maha Segalanya, sedangkan kita adalah makhluk lemah, dan kasar. Allah adalah raja di raja, Maliki Yaumuddin. Sedang kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Bagaimana kita akan berkomunikasi dengan dimensi yang sangat jauh berbeda? Seperti kata pepatah, jauh panggang dari api. Mustahil rasanya kita bisa berkomunikasi dengan Zat yang Mahatinggi. Jangankan kepada Allah, berkomunikasi dengan presiden saja penuh aturan dan prosedur yang tak mudah.

Di sinilah sifat Allah, Ar Rahim. berlaku. Sifat kasih yang khusus diperuntukkan bagi makhluk yang beriman. Allah memberi ruang yang amat luas bagi makhluk yang dikasihi dan dikehendaki untuk berkomunikasi. Salah satu figur yang mampu berkomunikasi dengan Sang Khaliq adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau adalah makhluk pilihan yang dikehendaki Allah makhluk berkomunikasi, karena hatinya telah dibersihkan oleh Malaikat Jibril. Hati Rasulullah telah bersih dari kesyirikan, kemaksiatan, dan segala macam penyakit hati seperti iri, dengki, ujub. Inilah kunci agar mampu berkomunikasi dengan Allah Azza Wa Jalla. Hati kita harus bersih seperti hati rasul junjungan kita.

Mobile_AP_Rectangle 2

Komunikasi secara umum terdiri atas beberapa elemen. Mengutip model komunikasi Harold D Lasswell yang populer dalam karyanya berjudul The Structure and Function of Communication in Society (1948).

Who, siapa. Bermakna sumber atau pengirim informasi (transmitter/sourcesender). Dalam kaidah ilmu komunikasi lazim disebut komunikator. Komunikator berperan sebagai pengirim pesan untuk disampaikan ke penerima pesan atau komunikan.

(Says) What, apa. Bermakna isi pesan yang disampaikan komunikator. Komunikasi sendiri pada prinsipnya adalah proses menyampaikan atau bertukar gagasan/ide. Gagasan itu berupa simbol-simbol atau isyarat (encoding) untuk dikirim ke penerima (komunikan)

(In Which) Channel, saluran adalah media yang digunakan untuk menyampaikan pesan/gagasan komunikator ke komunikan. Saluran ini bisa secara langsung atau tatap muka dan juga bisa menggunakan media berupa alat komunikasi seperti telepon, surat, dan lain-lain, termasuk media massa.

(To) Whom, pada siapa. Pesan atau gagasan yang disampaikan oleh komunikator ditujukan pada komunikan. Dalam proses komunikasi, komunikator telah menentukan siapa yang akan menerima pesan tersebut.

(With What) Effect, dampak. Begitu pesan/gagasan tersampaikan, maka komunikator akan melihat dampak yang dialami komunikan. Dampak itu berupa pengetahuan, perubahan sikap, dan sebagainya. 

Model komunikasi yang ditawarkan Harold D Lasswell adalah komunikasi satu arah/linier, komunikator dominan. Pada model komunikasi yang lain, komunikasi bisa dua arah karena adanya umpan balik (feedback) dari komunikan. Dalam komunikasi juga ada hambatan (noise). Bagaimana dengan komunikasi transendental?

Komunikasi transendental memiliki landasan ilmiah di antaranya filsafat Islam, filsafat metafisika, sosiologi fenomenologi, psikologi kognitif psikologi terapi, antropologi metafisika, sehingga komunikasi transendental bisa dikaji secara ilmiah. Dalam buku komunikasi transendental karya Profesor Dr Hj Nina Winangish Syam (2015), mendefinisikan komunikasi transendental sebagai komunikasi yang berlangsung di dalam diri dengan sesuatu di luar diri yang disadari keberadaannya. Perspektif filsafat Islam mendefinisikan komunikasi transendental merupakan komunikasi antara hamba dan sesuatu yang supranatural yang berpusat pada kalbu. Komunikasi akan terjalin dua arah, di mana komunikator menerima umpan balik dari Sang Khaliq berupa ilmu laduni, yakni ilmu yang langsung dari Allah SWT.

Sebagai aspek yang penting di dalam bermunajat pada Ilahi Robbi, kalbu menjadi titik sentral untuk berkomunikasi atau yang lazim disebut God Spot. Ini berbeda dengan para pemikir barat yang menganalisis God Spot berada di saraf otak tepatnya di lobus frontal (otak besar di bagian depan), saya lebih sepakat dengan pemikiran Dr Iskandar MAg, jika God Spot berada di kalbu. Seperti tersurat dalam surat Al hajj ayat 46 dengan terjemahannya. Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.

Tegas pula disabdakan Rasulullah seperti yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, jika di dalam diri manusia ada segumpal daging. Kalau baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya, sebaliknya jika segumpal daging itu buruk maka buruk pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama kalbu. Rasul juga bersabda, “takwa itu di sini,” sambil menunjuk ke dada tiga kali. (HR. Baihaqi).

- Advertisement -

Setiap insan pasti memerlukan komunikasi, jika ingin hidupnya berarti. Sebab manusia membutuhkan interaksi untuk memenuhi segala kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Maka, komunikasi menjadi kebutuhan vital dalam kehidupan ini baik dengan sesama sebagai makhluk sosial, dan terlebih dengan Sang Khaliq, pencipta alam semesta. Preferensi komunikasi pada Sang Pencipta. selayaknya menjadi kontemplasi mendalam, karena sejatinya hidup di dunia ini hanyalah sementara. Kita semua akan kembali ke kampung halaman, ‘kampung akherat’.

Komunikasi dengan Sang Khaliq tidaklah mudah. Karena siapa DIA, siapa kita? Allah adalah Zat yang Mahaperkasa, Mahahalus dan Maha Segalanya, sedangkan kita adalah makhluk lemah, dan kasar. Allah adalah raja di raja, Maliki Yaumuddin. Sedang kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Bagaimana kita akan berkomunikasi dengan dimensi yang sangat jauh berbeda? Seperti kata pepatah, jauh panggang dari api. Mustahil rasanya kita bisa berkomunikasi dengan Zat yang Mahatinggi. Jangankan kepada Allah, berkomunikasi dengan presiden saja penuh aturan dan prosedur yang tak mudah.

Di sinilah sifat Allah, Ar Rahim. berlaku. Sifat kasih yang khusus diperuntukkan bagi makhluk yang beriman. Allah memberi ruang yang amat luas bagi makhluk yang dikasihi dan dikehendaki untuk berkomunikasi. Salah satu figur yang mampu berkomunikasi dengan Sang Khaliq adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau adalah makhluk pilihan yang dikehendaki Allah makhluk berkomunikasi, karena hatinya telah dibersihkan oleh Malaikat Jibril. Hati Rasulullah telah bersih dari kesyirikan, kemaksiatan, dan segala macam penyakit hati seperti iri, dengki, ujub. Inilah kunci agar mampu berkomunikasi dengan Allah Azza Wa Jalla. Hati kita harus bersih seperti hati rasul junjungan kita.

Komunikasi secara umum terdiri atas beberapa elemen. Mengutip model komunikasi Harold D Lasswell yang populer dalam karyanya berjudul The Structure and Function of Communication in Society (1948).

Who, siapa. Bermakna sumber atau pengirim informasi (transmitter/sourcesender). Dalam kaidah ilmu komunikasi lazim disebut komunikator. Komunikator berperan sebagai pengirim pesan untuk disampaikan ke penerima pesan atau komunikan.

(Says) What, apa. Bermakna isi pesan yang disampaikan komunikator. Komunikasi sendiri pada prinsipnya adalah proses menyampaikan atau bertukar gagasan/ide. Gagasan itu berupa simbol-simbol atau isyarat (encoding) untuk dikirim ke penerima (komunikan)

(In Which) Channel, saluran adalah media yang digunakan untuk menyampaikan pesan/gagasan komunikator ke komunikan. Saluran ini bisa secara langsung atau tatap muka dan juga bisa menggunakan media berupa alat komunikasi seperti telepon, surat, dan lain-lain, termasuk media massa.

(To) Whom, pada siapa. Pesan atau gagasan yang disampaikan oleh komunikator ditujukan pada komunikan. Dalam proses komunikasi, komunikator telah menentukan siapa yang akan menerima pesan tersebut.

(With What) Effect, dampak. Begitu pesan/gagasan tersampaikan, maka komunikator akan melihat dampak yang dialami komunikan. Dampak itu berupa pengetahuan, perubahan sikap, dan sebagainya. 

Model komunikasi yang ditawarkan Harold D Lasswell adalah komunikasi satu arah/linier, komunikator dominan. Pada model komunikasi yang lain, komunikasi bisa dua arah karena adanya umpan balik (feedback) dari komunikan. Dalam komunikasi juga ada hambatan (noise). Bagaimana dengan komunikasi transendental?

Komunikasi transendental memiliki landasan ilmiah di antaranya filsafat Islam, filsafat metafisika, sosiologi fenomenologi, psikologi kognitif psikologi terapi, antropologi metafisika, sehingga komunikasi transendental bisa dikaji secara ilmiah. Dalam buku komunikasi transendental karya Profesor Dr Hj Nina Winangish Syam (2015), mendefinisikan komunikasi transendental sebagai komunikasi yang berlangsung di dalam diri dengan sesuatu di luar diri yang disadari keberadaannya. Perspektif filsafat Islam mendefinisikan komunikasi transendental merupakan komunikasi antara hamba dan sesuatu yang supranatural yang berpusat pada kalbu. Komunikasi akan terjalin dua arah, di mana komunikator menerima umpan balik dari Sang Khaliq berupa ilmu laduni, yakni ilmu yang langsung dari Allah SWT.

Sebagai aspek yang penting di dalam bermunajat pada Ilahi Robbi, kalbu menjadi titik sentral untuk berkomunikasi atau yang lazim disebut God Spot. Ini berbeda dengan para pemikir barat yang menganalisis God Spot berada di saraf otak tepatnya di lobus frontal (otak besar di bagian depan), saya lebih sepakat dengan pemikiran Dr Iskandar MAg, jika God Spot berada di kalbu. Seperti tersurat dalam surat Al hajj ayat 46 dengan terjemahannya. Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.

Tegas pula disabdakan Rasulullah seperti yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, jika di dalam diri manusia ada segumpal daging. Kalau baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya, sebaliknya jika segumpal daging itu buruk maka buruk pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama kalbu. Rasul juga bersabda, “takwa itu di sini,” sambil menunjuk ke dada tiga kali. (HR. Baihaqi).

Setiap insan pasti memerlukan komunikasi, jika ingin hidupnya berarti. Sebab manusia membutuhkan interaksi untuk memenuhi segala kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Maka, komunikasi menjadi kebutuhan vital dalam kehidupan ini baik dengan sesama sebagai makhluk sosial, dan terlebih dengan Sang Khaliq, pencipta alam semesta. Preferensi komunikasi pada Sang Pencipta. selayaknya menjadi kontemplasi mendalam, karena sejatinya hidup di dunia ini hanyalah sementara. Kita semua akan kembali ke kampung halaman, ‘kampung akherat’.

Komunikasi dengan Sang Khaliq tidaklah mudah. Karena siapa DIA, siapa kita? Allah adalah Zat yang Mahaperkasa, Mahahalus dan Maha Segalanya, sedangkan kita adalah makhluk lemah, dan kasar. Allah adalah raja di raja, Maliki Yaumuddin. Sedang kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Bagaimana kita akan berkomunikasi dengan dimensi yang sangat jauh berbeda? Seperti kata pepatah, jauh panggang dari api. Mustahil rasanya kita bisa berkomunikasi dengan Zat yang Mahatinggi. Jangankan kepada Allah, berkomunikasi dengan presiden saja penuh aturan dan prosedur yang tak mudah.

Di sinilah sifat Allah, Ar Rahim. berlaku. Sifat kasih yang khusus diperuntukkan bagi makhluk yang beriman. Allah memberi ruang yang amat luas bagi makhluk yang dikasihi dan dikehendaki untuk berkomunikasi. Salah satu figur yang mampu berkomunikasi dengan Sang Khaliq adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau adalah makhluk pilihan yang dikehendaki Allah makhluk berkomunikasi, karena hatinya telah dibersihkan oleh Malaikat Jibril. Hati Rasulullah telah bersih dari kesyirikan, kemaksiatan, dan segala macam penyakit hati seperti iri, dengki, ujub. Inilah kunci agar mampu berkomunikasi dengan Allah Azza Wa Jalla. Hati kita harus bersih seperti hati rasul junjungan kita.

Komunikasi secara umum terdiri atas beberapa elemen. Mengutip model komunikasi Harold D Lasswell yang populer dalam karyanya berjudul The Structure and Function of Communication in Society (1948).

Who, siapa. Bermakna sumber atau pengirim informasi (transmitter/sourcesender). Dalam kaidah ilmu komunikasi lazim disebut komunikator. Komunikator berperan sebagai pengirim pesan untuk disampaikan ke penerima pesan atau komunikan.

(Says) What, apa. Bermakna isi pesan yang disampaikan komunikator. Komunikasi sendiri pada prinsipnya adalah proses menyampaikan atau bertukar gagasan/ide. Gagasan itu berupa simbol-simbol atau isyarat (encoding) untuk dikirim ke penerima (komunikan)

(In Which) Channel, saluran adalah media yang digunakan untuk menyampaikan pesan/gagasan komunikator ke komunikan. Saluran ini bisa secara langsung atau tatap muka dan juga bisa menggunakan media berupa alat komunikasi seperti telepon, surat, dan lain-lain, termasuk media massa.

(To) Whom, pada siapa. Pesan atau gagasan yang disampaikan oleh komunikator ditujukan pada komunikan. Dalam proses komunikasi, komunikator telah menentukan siapa yang akan menerima pesan tersebut.

(With What) Effect, dampak. Begitu pesan/gagasan tersampaikan, maka komunikator akan melihat dampak yang dialami komunikan. Dampak itu berupa pengetahuan, perubahan sikap, dan sebagainya. 

Model komunikasi yang ditawarkan Harold D Lasswell adalah komunikasi satu arah/linier, komunikator dominan. Pada model komunikasi yang lain, komunikasi bisa dua arah karena adanya umpan balik (feedback) dari komunikan. Dalam komunikasi juga ada hambatan (noise). Bagaimana dengan komunikasi transendental?

Komunikasi transendental memiliki landasan ilmiah di antaranya filsafat Islam, filsafat metafisika, sosiologi fenomenologi, psikologi kognitif psikologi terapi, antropologi metafisika, sehingga komunikasi transendental bisa dikaji secara ilmiah. Dalam buku komunikasi transendental karya Profesor Dr Hj Nina Winangish Syam (2015), mendefinisikan komunikasi transendental sebagai komunikasi yang berlangsung di dalam diri dengan sesuatu di luar diri yang disadari keberadaannya. Perspektif filsafat Islam mendefinisikan komunikasi transendental merupakan komunikasi antara hamba dan sesuatu yang supranatural yang berpusat pada kalbu. Komunikasi akan terjalin dua arah, di mana komunikator menerima umpan balik dari Sang Khaliq berupa ilmu laduni, yakni ilmu yang langsung dari Allah SWT.

Sebagai aspek yang penting di dalam bermunajat pada Ilahi Robbi, kalbu menjadi titik sentral untuk berkomunikasi atau yang lazim disebut God Spot. Ini berbeda dengan para pemikir barat yang menganalisis God Spot berada di saraf otak tepatnya di lobus frontal (otak besar di bagian depan), saya lebih sepakat dengan pemikiran Dr Iskandar MAg, jika God Spot berada di kalbu. Seperti tersurat dalam surat Al hajj ayat 46 dengan terjemahannya. Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.

Tegas pula disabdakan Rasulullah seperti yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, jika di dalam diri manusia ada segumpal daging. Kalau baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya, sebaliknya jika segumpal daging itu buruk maka buruk pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama kalbu. Rasul juga bersabda, “takwa itu di sini,” sambil menunjuk ke dada tiga kali. (HR. Baihaqi).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/