Membumikan Kebangkitan Nasional

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak berlebihan jika sementara orang menyebut NKRI sebagai ‘negara upacara’. Proses ritual lebih dikedepankan, dibanding pencapaian substansi sebagai tujuan hakiki. Membudaya, sebagai tradisi yang tidak mudah dikikis, apalagi ditiadakan. Seperti upacara, setelah menghormat bendera kemudian balik kanan meninggalkan lapangan. Negara upacara merupakan ilustrasi respon kebangsaan dalam setiap momentum historis, termasuk Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2021. Bisa ditebak, pada peringatan Kebangkitan Nasional menjadikan lembaga birokrasi, kelompok profesi, ormas dan sejenisnya berkompetisi membuat twibbon (link bingkai foto), komplet dengan narasi kreatifnya. Kemudian semua pengguna medsos mengekspose masing-masing pose terbaiknya. Sungguh sangat simbolik.

Pada momen Kebangkitan Nasional ini pula, penyelenggara negara disibukkan dengan penciptaan jargon yang bombastis. Dituangkan dalam bentuk narasi di sisi foto figur elitis. Menempel pada beragam flyer yang dibuat dengan kalimat dramatis. Diksi nasionalisme menjadi objek komoditas. Realitas semacam ini menjadi penampakan dari tahun ke tahun. Banner besar dipasang di setiap sudut jalan strategis dengan harapan membuat decak kagum orang untuk mengatakan ‘wow’. Setelahnya lewat tanpa kesan. Ditinggal begitu saja oleh lalu-lalang orang. Kering, tanpa membumikan makna. Miskin persuasif, tidak menabur nilai. Kerontang, tidak menjadi pesemaian integritas rasa memiliki anak bangsa.

Peringatan Kebangkitan Nasional seperti api jauh dari panggang. Tidak menimbulkan getaran isoterik. Tidak menyimpan energi membangkitkan, apalagi menggerakkan. Prosesi tahunan kebangkitan nasional itu tak lagi membangunkan dari tidur panjang. Padahal konteks kebangkitan nasional ini seharusnya bisa menjadi alat untuk menyadarkan anak bangsa yang tengah mengalami gagap realitas karena belenggu pandemi Covid-19. Dampak pandemi dalam perspektif sosiologis melahirkan multipolarisasi kepentingan untuk bertahan. Egosentrisme tak terelakkan sehingga elemen sosial terpetakan menjadi representasi: ‘aku dan engkau’ yang saling berseberangan. ‘Aku’ penguasa dan ‘Engkau’ rakyat jelata. Karenanya tema besar Kebangkitan Nasional yang tepat saat ini adalah menemukan kebersamaan atas nama dan untuk ‘kita’.

Jangan lupa, dalam perjalanannya telah terjadi pergeseran substansi makna kebangkitan nasional itu. Kebangkitan kali pertama adalah kesadaran berbangsa untuk melawan penjajah sehingga membidani lahirnya proklamasi. Dalam kancah kemerdekaan, kebangkitan memiliki konotasi membangun. Era Orde Baru kebangkitan itu diarahkan untuk mengisi. Hanya saja otoritas makna itu dicuri, kemudian dikreasi menjadi ‘aku penguasa’ . Anak bangsa menjadi marjinal dan sarat eksploitasi. Dibungkam dilarang bicara. Unjuk rasa menjadi musuh utama penguasa. Kalangan intelektual tiarap di sarangnya. Kehilangan peran yang seharusnya menjadi suluh kehidupan dan lentera untuk mengurai persoalan. Agamawan menjalankan keaktoran sebagai alat. Stabilitas menjadi tujuan tanpa batas. Pada puncaknya, justru kebangkitan nasional menjadi amunisi. Terbukti mampu meledakkan kejumudan dan membongkar belenggu struktural yang kontraproduktif dengan tujuan berbangsa. Lahirlah reformasi.

Ketika kebangkitan nasional itu memiliki makna kontekstual untuk menemukan ‘kita’, maka koridor proses untuk menemukannya adalah konstitusi. Ukurannya adalah objektifitas. Kepastian hukum menjadi kontrol. Kebijakan sebagai aksi konkret harus terukur. Kritik tidak lebih manifestasi demokrasi, sedangkan keadilan merupakan tujuan. Semua itu merupakan sub sistem dalam alur sistemik dan massif berbasis kesadaran berkonstitusi sehingga setiap kebijakan linier dengan tujuan yang diharapkan.