Makna Puasa Kita: Sekelumit Refleksi Tentang Puasa

DALAM salah satu hadis qudsi, Allah berfirman: “Setiap amal anak Adam (pahalanya) untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan hanya aku yang akan membalasnya….”. Hadis tersebut terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhary Juz 1. Di bulan Ramadan ini, para dai, ustad, kiai sering mengutip hadis ini sebagai bahan tausiahnya. Pastinya, dengan berbagai uraian yang beragam pula. Akan tetapi, pada intinya sama. Semuanya ingin menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang berbeda dengan ibadah yang lain.

IKLAN

Perintah puasa Ramadan yang diperintahkan melalui QS Al Baqarah: 183 ini dari segi keutamaannya memiliki kekhasan dibanding ibadah lainnya. Akan tetapi benarkah uraian itu? Tentu perbedaan cara dan isi uraian sah-sah saja. Sebab, hal ini adalah berpulang pada keluasan dan kedalaman ilmu yang dimiliki masing-masing penyampai pesan. Dan, yang pasti ini hal ini menyangkut interpretasi sebuah teks ajaran agama yang memang memungkinkan untuk diperdebatkan (debatable).

Mengenai hal ini jauh sebelumnya, juga sudah diwacanakan oleh para ulama. Salah satu kitab yang memuat wacana mengenai interpretasi hadis di atas adalah kitab Fath al-Bari karangan Ibnu Hajar al-Asqalani. Dalam kitab ini ditulis 10 pendapat ulama tentang  makna kalimat “….. puasa itu hanya untuk-Ku dan Aku pula yang akan membalasnya”.

Pertama, bahwa puasa itu adalah satu-satunya ibadah yang tidak dapat dimasuki riya (tidak dapat dipamerkan). Kedua, bahwa yang tahu kadar pahala dan pelipatgandaannya hanya Allah sendiri. Tidak seperti ibadah lainnya, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap amal kebaikan anak  Adam akan dilipatgandakan 10 kali kebaikan sampai 700 kali bahkan sampai berapa pun Allah menghendaki kecuali pahala puasa”.

Ketiga, bahwa puasa adalah ibadah yang paling disukai Allah dibanding semua ibadah lainnya. Keempat, bahwa  penyebutan “puasa itu untuk Aku  dst…” dalam rangka idlofatut tasyrif (penyandaran kemuliaan). Dalam kehidupan sehari-hari seperti cincin. Kalau disandarkan kepada presiden tentu akan berbeda nilainya dengan jika disandarkan kepada orang biasa, sekalipun sama-sama cincin.

Kelima, bahwa orang puasa yang sedang dalam keadaan makan dan minum dan segala syahwat dunia pada hakikatnya sedang berada dalam sifat ketuhanan. Keenam, bahwa sama halnya dengan yang kelima, hanya saja bukan disamakan dengan sifat-sifat ketuhanan tetapi sifat-sifat malaikat (yang juga tidak makan dan minum serta berhubungan seksual). Ketujuh, bahwa yang dapat melakukan pujian kepada pelaku puasa hanya Allah. Berbeda dengan ibadah lainnya yang pelaksanaannya dapat mendapat pujian manusia. Seperti salatnya khusyuk atau sedekahnya banyak. Berbeda dengan puasa. Tidak dapat kita bilang puasanya khusyuk, puasanya baik. Paling-paling orang hanya mengatakan orang itu sering puasa. Tentang kualitas puasanya bagaimana, hanya Allah yang tahu.

Kedelapan, bahwa puasa adalah satu-satunya ibadah yang dimaksudkan untuk hanya kepada Allah. Bukan untuk selain Allah. Berbeda dengan salat, sedekah, dan tawaf yang pada umumnya dapat bernilai sosial karena dapat terlihat oleh orang lain. Kesembilan, bahwa puasa adalah satu-satunya ibadah yang pahalanya, besuk di akhirat, tidak bisa dikurangi untuk orang-orang yang kita zalimi. Sebagaimana tersebut dalam salah satu hadis, bahwa ketika orang yang pernah kita zalimi minta keadilan, kelak pahala amal kebaikan kita akan dijadikan sebagai pengganti sesuai porsinya. Pahala puasa akan selamat dari pengurangan itu. Kesepuluh, bahwa puasa adalah ibadah yang tidak dapat dilihat oleh siapa pun, kecuali  Allah SWT. Termasuk oleh malaikat yang biasanya mencatat dan oleh setan yang biasanya merusaknya.

Hanya saja, yang dimaksud puasa di sini adalah puasa orang yang memang steril dari maksiat, baik yang berupa perkataan dan perbuatan, bahkan perasaan. Yang pasti sekalipun puasa itu memiliki kelebihan dan berbeda dibanding dengan ibadah lainnya, akan tetapi puasa adalah salah satu perintah Allah juga. Sama dengan perintah-perintah Allah lainnya, puasa harus dilaksanakan. Oleh karena wajib, maka berpahalalah bagi yang melaksanakan dan berdosa bagi yang enggan melakukan. Kita semua yakin, bahwa tidak satu pun perintah Allah steril dari maksud dan tujuan. Tentang maksud peribadatan, termasuk puasa, ini telah dikupas panjang lebar oleh para ulama  dengan titel maqashid al-tasyri’. Dan, pembahasan itu masuk dalam wilayah pembahasan filsafat hukum.

Lalu apa tujuan disyariatkan puasa? Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta, maka tidak ada artinya dia meninggalkan makan dan minum.” Dengan demikian, ada sesuatu yang harus dilihat sebagai efek puasa kita. Secara tegas Allah SWT menyebut bahwa tujuan orang puasa yang setiap tahun kita lakukan adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa.

Tampaknya tujuan ini sangat abstrak. Akan tetapi, dengan melihat makna takwa, tujuan puasa tidaklah seabstrak yang kita bayangkan. Sebab, orang yang bertakwa adalah orang secara total mengikuti perintah Allah dan meninggalkan segenap larangan-Nya.

Dalam kehidupan nyata perintah dan larangan itu, di samping berdimensi vertikal, yaitu dalam bentuk hubungannya dengan Tuhan secara personal, juga ada yang berdimensi horizontal, yaitu dalam bentuk hubungan dengan sesama. Yang berdimensi vertikal, seperti salat, puasa, dan segenap ibadah mahdhah lainnya. Yang berbentuk horizontal, seperti perintah tolong-menolong, bersedekah, tidak menyakiti orang lain, baik dengan perbuatan ataupun perkataan. Membuat hoaks dan menyebarkannya juga dapat masuk dalam konteks ini. Dengan demikian, berhasil atau tidaknya puasa kita, bisa dilihat dari praktik kehidupan meliputi aspek vertikal dan horizontal dengan menggunakan parameter-parameter tersebut. Akhirnya,  berhasil atau kegagalan puasa kita sebenarnya masing-masing kita juga sudah dapat mengukurnya sendiri pada praktik kehidupan kita pasca Ramadan nanti.

Semoga tulisan ini dapat kita jadikan sebagai bahan refleksi di hari-hari puasa kita ini. Wallahu a’lam.

*) Penulis adalah hakim Pengadilan Agama Lumajang Kelas I A.

Reporter :

Fotografer :

Editor :