Memahami Kasus Kekerasan Seksual secara Utuh, Setara, dan Humanis

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tulisan ini sengaja saya tulis untuk menanggapi Opini yang dituliskan oleh Dr Miftahul Ulum M.S.I., M.Sy., M.H. Penulis menuliskan opininya pada kolom Opini Radar Jember tertanggal 17 April dengan judul Cabul, Antara Amoral dan “Hitam Putih” Kehidupan. Secara umum, bagi saya, tidak ada keserasian antara judul dan isi yang ia bawa, terlebih dengan pemilihan beberapa diksi yang bias gender membuat kita semua harus membacanya lebih dalam.

Demi menjunjung tinggi kesetaraan dalam ilmu pengetahuan, saya sengaja mengkritik opininya sekaligus memberikan pandangan baru bagi pembaca. Pada awal tulisannya, penulis merasa terpanggil untuk sekadar “ngopi bareng” katanya, dalam menanggapi kasus pencabulan yang diduga dilakukan oleh rekan sejawatnya, sesama dosen. Namun, penulis tak ingin menanggapi kasus ini selayaknya pengacara menanggapi kasus hukum, ia hanya ingin berbagi pandangan.

Bagian yang menjadi sorotan berbekal pernyataan penulis yang tak ingin mengomentari kasus ini laiknya seorang pengacara, ia mengungkapkan, “Namun terlepas dari itu semua, pernahkah kita berpikir, dampak apakah yang akan ditanggung sang dosen, istri, dan anak-anaknya jika seumpama dosen yang didakwa cabul tersebut dipenjara hanya gara-gara “meraba” keponakannya sendiri dengan penuh perasaan?”

Kata-kata penulis cukup membuat pikiran saya traveling, akankah aktor intelektual sekelas doktor seolah menyepelekan rabaan RH kepada keponakannya? Pada tulisan ini pula seolah memperkuat pandangan bahwa di dunia pendidikan kita saat ini, tak selamanya aktor intelektual memiliki perspektif gender dalam melihat permasalahan. Saya tidak ingin menambahkan komentar saya terlebih dahulu, tapi saya ingin menyuguhkan pendapat lain perihal tindak pidana pencabulan, dan apakah “hanya rabaan” dapat ditoleransi di depan pengadilan.

Menurut R. Soesilo seorang ahli hukum pidana yang komentar-komentarnya pada tiap pasal dijadikan rujukan bagi hampir seluruh mahasiswa fakultas hukum di Indonesia, menuliskan bahwa “Pasal 289 KUHP, ialah segala perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, semuanya itu dalam lingkungan nafsu birahi kelamin, misalnya: cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada, dan sebagainya.

Persetubuhan masuk pula dalam pengertian perbuatan cabul, tetapi dalam KUHP disebutkan sendiri. Yang dilarang bukan saja memaksa orang untuk melakukan perbuatan cabul, tetapi juga memaksa orang untuk membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul. Sudah terlihat bukan, bagaimana ternyata metode analisis penulis yang kacau.

Penulis juga mengatakan bahwa “Pak Dosen Juga Manusia” hmm bisa kita rasakan bahwa kalimat tersebut sengaja digunakan sebagai upaya pembelaan. Mengutip pernyataan penulis “Nila setitik rusak susu sebelanga”. Penulis ingin coba mengaitkan dan mengenang sisi baik dari sang paman yang katanya telah mengasuh Nada sehari-hari. Penulis seolah ingin menggiring opini pembaca bahwa RH adalah seseorang paman yang baik dan tak mungkin mencabuli keponakannya.

Tak hanya sampai di situ, penulis melanjutkan tulisannya, “Artinya, setiap hari makan, minum, dan tidur dengan fasilitas gratis di rumah Pak Dosen. Kalau dipikir secara jernih, tak sebanding antara “pijitan cinta” sang dosen dengan ganjaran pidana yang sudah menghantui hari-harinya yang seakan melaju searah putaran bumi. Lalu, adakah air susu akan berubah menjadi air tuba akibat dosen “salah asuh”?” Berbekal kenyamanan fasilitas, apakah kita bisa sepakat untuk membenarkan perlakuan cabul sang paman? Ironi.

Pemilihan diksi kata “pijatan cinta” yang kurang tepat, penulis secara tersirat sengaja mengatakan bahwa tak sebanding antara segala fasilitas yang didapatkan dengan tindak pencabulan yang dilakukan RH kepada keponakannya. Melihat dari data kekerasan seksual oleh Komnas Perempuan Tahun 2020, mengenai Kekerasan Terhadap Anak Perempuan justru melonjak sebanyak 65% dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2020, kekerasan seksual terhadap anak dengan inses (perilaku seksual yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga terhadap anggota keluarga yang lain. Baik yang memiliki ikatan keluarga, hubungan darah sebagian, ataupun seluruhnya) mencapai angka tertinggi, yakni 822 kasus, dan sebagian besar dilakukan oleh ayah dan paman.