Air Bisa Sangat Berharga jika Dihargai

Hamdan In’ami, STP, MPSDA

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setiap tanggal 22 Maret, ditetapkan sebagai peringatan Hari Air sedunia. Penetapan ini adalah Hasil Sidang Umum PBB pada tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro. Peringatan ini dilandasi pentingnya kesadaran masyarakat akan pengelolaan dan pendayagunaan air secara bijak. Sebagai sumber kehidupan, pengelolaan sumber daya air harus menjadi pertimbangan utama dalam merumuskan kebijakan pembangunan di semua sektor. Faktor perubahan iklim global menjadi perhatian dunia. Beberapa dampak pemanasan global di antaranya, yaitu daerah yang cenderung basah akan semakin basah, dan daerah yang cenderung kering akan semakin kering. Bahkan laju kenaikan tinggi muka air laut pada tingkat yang makin mengkhawatirkan. Setiap tahun memiliki tema yang berbeda sesuai dengan isu yang berkembang. Pada tahun 2021 ini mengambil tema “Menghargai Air” (Valuing Water).

Bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan longsor terus melanda secara rutin di puncak musim hujan. Eskalasi terdampak bencana juga semakin meningkat. Penanganan bencana banjir sejauh ini masih bersifat reaktif dan parsial. “Reaktif” dalam artian baru ditangani setelah bencana terjadi. “Parsial” karena penanggulangan bencana masih sebatas kegiatan normalisasi sungai. Belum menyentuh permasalahan di hulu, di mana sedimentasi yang semakin besar itu berasal. Penyebab fluktuasi debit yang makin ekstrim pun belum dikaji dan dirumuskan menjadi rencana tindak lanjut.   Akibatnya, bencana banjir dan bencana kekeringan masih terus membayang.

Faktor anomali iklim dan fenomena La Nina sering menjadi kambing hitam terjadinya bencana banjir. Pernyataan tersebut mengindikasikan keengganan penanggulangan banjir secara lebih serius. Jika respon yang muncul hanya sebuah tindakan “pemadam kebakaran”, maka eskalasi bencana dikhawatirkan akan semakin meningkat. Namun, jika akar permasalahan digarap secara serius, setidaknya dapat diturunkan rentang fluktuasi debit. Pada akhirnya diharapkan, potensi air tidak menjadi potensi bencana tapi justru bisa lebih didayagunakan pemanfaatan di berbagai bidang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di era saat ini, teknologi sudah sedemikian canggih. Faktor cuaca, pemanasan global, fenomena La Nina, debit banjir rencana, laju erosi potensial, dan sebagainya dapat di prediksi melalui pendekatan sains. Citra satelit bahkan bisa diunduh gratis di beberapa penyedia dan memungkinkan untuk terus diupdate. Pemerintah RI juga menyediakan berbagai layanan untuk keperluan ini dengan adanya lembaga BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), dan BIG (Badan Informasi Geospasial). Tinggal kemauan untuk menanggulangi bencana akibat air ini dari akar permasalahannya.

Bencana banjir di Jember tahun 2021 ini dilaporkan merendam 13 desa/kelurahan yang tersebar di 7  kecamatan. Tercatat 436 rumah terkena dampak di Sungai Bedadung. Ini belum yang dilaporkan dari sungai-sungai lainnya. Jember dianugerahi wilayah yang cukup basah, karena sebagian besar wilayah memiliki curah hujan pada kisaran 2.000-2.500 cm per tahun. Wilayah Jember barat cenderung lebih tinggi dari wilayah timur. Curah hujan tertinggi berada di kecamatan Sumbersari, yaitu 2.964 cm per tahun. Adapun curah hujan terendah di wilayah Kecamatan Kencong, yaitu 1.450 cm per tahun. Namun dengan karakteristik air yang selalu mengalir ke daerah yang lebih rendah, perbedaan ini bukan permasalahan yang berarti.

Data iklim di atas juga didukung dengan riwayat sejarah Kabupaten Jember. Kata “Jember” sendiri konon dari kata “jembrek” yang artinya “banyak air”. Anggapan ini tidak berlebihan karena faktanya banyak desa yang memiliki nama dengan kata “curah” dan “rowo” yang identik dengan air yang berlimpah dan rawa. Hal ini juga di dukung dengan sejarah zaman kolonial Belanda, di mana Jember menjadi daerah andalan di sektor perkebunan.

 

Pengelolaan sumber daya air berbasis DAS

Perlu diketahui bahwa, Daerah Aliran Sungai (DAS) bukan hanya areal di sekitar bantaran, seperti yang sering disalahpahami. DAS adalah seluruh wilayah di mana setiap ada air yang mengalir di area tersebut–karena topografinya, akan menuju ke satu sungai utama tertentu. Jadi jika ada hujan pada suatu daerah di mana alirannya masuk ke Sungai Bedadung maka wilayah tersebut masuk dalam DAS Bedadung. Di wilayah Kabupaten Jember  yang luasnya 3.293 kmini terdapat 3 DAS utama, yaitu DAS Bedadung (luas 1.083 km2), DAS Mayang (luas 1.074  km2) dan DAS Tanggul (luas 254 km2), sisanya adalah DAS Jatiroto yang melintasi wilayah Jember dan Lumajang. Lebih detail lagi, sejumlah 89 sungai yang terdata di Jember dikategorikan sebagai anak sungai.  Berdasarkan wilayah DAS, sungai-sungai tersebut terbagi ke tiap DAS, yaitu DAS Bedadung ada 36 sungai, DAS Mayang ada 25 sungai, dan DAS Tanggul terdapat 28 sungai.