22.8 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

Perlukah Praktik Kemiskinan Dipertontonkan?

Mobile_AP_Rectangle 1

Beberapa minggu terakhir sosial media dihiasi segelintir masalah-masalah sosial yang cukup mengundang perhatian dari berbagai kalangan. Salah satu masalah sosial yang dipertontonkan adalah mandi lumpur yang praktiknya masif dilakukan dalam sosial media Tiktok. Pelakunya tidak lain merupakan individu-individu yang berada dalam stratifikasi sosial paling bawah. Bahkan seorang lansia juga ikut dalam praktik tersebut karena keinginan anaknya. Miris! Lagi-lagi alasan popularitas dan uang memaksa mereka untuk mau melakukan praktik tersebut. Acap kali kedinginan dan menggigil menjadi konsumsi bagi penontonnya. Harapan mereka tentunya suaka dari penonton berupa gift yang nantinya dapat ditukarkan dengan uang tunai. Tak main-main, dalam satu kali live penontonnya mencapai 2000 viewers. Dan tidak sedikit pula netizen yang nyinyir dan merasa iba, bahkan ada netizen yang beranggapan bahwa praktik kemiskinan itu sebagai hiburan. Mereka juga akan melakukan apa pun yang diinginkan oleh penontonnya walaupun permintaannya nyeleneh. Dosen Department Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga memberikan respons dengan menyatakan bahwa media sosial saat ini digunakan untuk mencari popularitas dan uang. Tidak dimungkiri berbagai macam cara dilakukan oleh content creator guna memperoleh perhatian dari khalayak umum, nilai-nilai moral dan etika diabaikan, yang seharusnya dijunjung tinggi.

Disadari atau tidak posisi manusia kini berubah menjadi objek yang dibentuk oleh keinginan pasar. Sehingga pelaku akan terus beraudisi menarik perhatian yang berakibat krisis kesadaran manusia. Yang menjadi persoalan, pantaskah kemudian manusia kini dianggap sebagai objek oleh manusia lain demi memenuhi keinginannya? Layakkah kemiskinan untuk dipertontonkan demi popularitas dan uang? Lantas, apa yang melatarbelakangi hal itu? Dan, bagaimana alternatif penyelesaian persoalan tersebut? Tulisan ini tidak bertujuan untuk menghakimi, melainkan menilik lebih dalam akar dari permasalahan ini yang nantinya mampu untuk menjawab persoalan tersebut.

- Advertisement -

Beberapa minggu terakhir sosial media dihiasi segelintir masalah-masalah sosial yang cukup mengundang perhatian dari berbagai kalangan. Salah satu masalah sosial yang dipertontonkan adalah mandi lumpur yang praktiknya masif dilakukan dalam sosial media Tiktok. Pelakunya tidak lain merupakan individu-individu yang berada dalam stratifikasi sosial paling bawah. Bahkan seorang lansia juga ikut dalam praktik tersebut karena keinginan anaknya. Miris! Lagi-lagi alasan popularitas dan uang memaksa mereka untuk mau melakukan praktik tersebut. Acap kali kedinginan dan menggigil menjadi konsumsi bagi penontonnya. Harapan mereka tentunya suaka dari penonton berupa gift yang nantinya dapat ditukarkan dengan uang tunai. Tak main-main, dalam satu kali live penontonnya mencapai 2000 viewers. Dan tidak sedikit pula netizen yang nyinyir dan merasa iba, bahkan ada netizen yang beranggapan bahwa praktik kemiskinan itu sebagai hiburan. Mereka juga akan melakukan apa pun yang diinginkan oleh penontonnya walaupun permintaannya nyeleneh. Dosen Department Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga memberikan respons dengan menyatakan bahwa media sosial saat ini digunakan untuk mencari popularitas dan uang. Tidak dimungkiri berbagai macam cara dilakukan oleh content creator guna memperoleh perhatian dari khalayak umum, nilai-nilai moral dan etika diabaikan, yang seharusnya dijunjung tinggi.

Disadari atau tidak posisi manusia kini berubah menjadi objek yang dibentuk oleh keinginan pasar. Sehingga pelaku akan terus beraudisi menarik perhatian yang berakibat krisis kesadaran manusia. Yang menjadi persoalan, pantaskah kemudian manusia kini dianggap sebagai objek oleh manusia lain demi memenuhi keinginannya? Layakkah kemiskinan untuk dipertontonkan demi popularitas dan uang? Lantas, apa yang melatarbelakangi hal itu? Dan, bagaimana alternatif penyelesaian persoalan tersebut? Tulisan ini tidak bertujuan untuk menghakimi, melainkan menilik lebih dalam akar dari permasalahan ini yang nantinya mampu untuk menjawab persoalan tersebut.

Beberapa minggu terakhir sosial media dihiasi segelintir masalah-masalah sosial yang cukup mengundang perhatian dari berbagai kalangan. Salah satu masalah sosial yang dipertontonkan adalah mandi lumpur yang praktiknya masif dilakukan dalam sosial media Tiktok. Pelakunya tidak lain merupakan individu-individu yang berada dalam stratifikasi sosial paling bawah. Bahkan seorang lansia juga ikut dalam praktik tersebut karena keinginan anaknya. Miris! Lagi-lagi alasan popularitas dan uang memaksa mereka untuk mau melakukan praktik tersebut. Acap kali kedinginan dan menggigil menjadi konsumsi bagi penontonnya. Harapan mereka tentunya suaka dari penonton berupa gift yang nantinya dapat ditukarkan dengan uang tunai. Tak main-main, dalam satu kali live penontonnya mencapai 2000 viewers. Dan tidak sedikit pula netizen yang nyinyir dan merasa iba, bahkan ada netizen yang beranggapan bahwa praktik kemiskinan itu sebagai hiburan. Mereka juga akan melakukan apa pun yang diinginkan oleh penontonnya walaupun permintaannya nyeleneh. Dosen Department Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga memberikan respons dengan menyatakan bahwa media sosial saat ini digunakan untuk mencari popularitas dan uang. Tidak dimungkiri berbagai macam cara dilakukan oleh content creator guna memperoleh perhatian dari khalayak umum, nilai-nilai moral dan etika diabaikan, yang seharusnya dijunjung tinggi.

Disadari atau tidak posisi manusia kini berubah menjadi objek yang dibentuk oleh keinginan pasar. Sehingga pelaku akan terus beraudisi menarik perhatian yang berakibat krisis kesadaran manusia. Yang menjadi persoalan, pantaskah kemudian manusia kini dianggap sebagai objek oleh manusia lain demi memenuhi keinginannya? Layakkah kemiskinan untuk dipertontonkan demi popularitas dan uang? Lantas, apa yang melatarbelakangi hal itu? Dan, bagaimana alternatif penyelesaian persoalan tersebut? Tulisan ini tidak bertujuan untuk menghakimi, melainkan menilik lebih dalam akar dari permasalahan ini yang nantinya mampu untuk menjawab persoalan tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca