alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Tren Baru dalam Penyakit Hipertensi pada Remaja

Mobile_AP_Rectangle 1

Setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Hipertensi Sedunia. Adapun tema global Hari Hipertensi Sedunia Tahun 2022 adalah “Measure Your Blood Pressure: Control It, Live Longer”.  Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan menindaklanjuti tema tersebut dengan tema nasional Hari Hipertensi Sedunia Tahun 2022 di Indonesia, yaitu “Cegah dan Kendalikan Hipertensi untuk Hidup Sehat Lebih Lama”.

Hipertensi merupakan kategori penyakit tidak menular (PTM) yang lebih banyak disebabkan karena kesalahan dalam pola perilaku atau gaya hidup yang tidak sehat seperti halnya penyakit diabetes melitus dan penyakit jantung. Maka dari itu, penting dalam peringatan Hari Hipertensi Sedunia dan secara nasional menjadi momentum mengingatkan pada seluruh masyarakat untuk peduli dengan kesehatannya dan menjalani hidup dengan pola hidup yang sehat. Termasuk di dalamnya sebagai upaya meningkatkan pengetahuan serta peran serta masyarakat dalam mencegah faktor risiko dan mengendalikan penyakit hipertensi dan PTM lainnya.

Di sisi lain, hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering muncul tanpa gejala dan keluhan yang berarti, namun dapat mengakibatkan munculnya komplikasi bahkan kematian. Hal ini karena tidak terdeteksi sejak dini yang berdampak pada lambatnya penanganan. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi salah satu strategi penting dalam pencegahan dan penanggulangan PTM di Indonesia. Maka dari itu, selain menjaga pola hidup yang sehat, hipertensi bisa dicegah dengan deteksi dini melalui pemeriksaan antropometri (BB dan TB), pemeriksaan tekanan darah dan kadar kolesterol, serta kadar gula dalam darah secara rutin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saat ini telah terjadi perubahan tren penyakit hipertensi. Dalam bidang kesehatan masyarakat disebut transisi epidemiologi yang mana transisi epidemiologi merupakan perubahan pola penyakit dan kematian yang mulanya didominasi oleh penyakit infeksi dan penyakit menular berubah menjadi penyakit tidak menular atau PTM. Di mana angka tertinggi ada pada penyakit hipertensi. Kita sering menjumpai penyakit hipertensi terjadi pada usia lanjut. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa hipertensi dapat muncul sejak remaja dan prevalensinya meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Banyak pihak yang belum menyadari hal tersebut, bahwa hipertensi yang terjadi pada masa remaja akan berlanjut hingga usia dewasa dan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian. Remaja di sini mereka yang berusia antara rentang 14 tahun-24 tahun. Hipertensi yang paling sering terjadi pada remaja adalah hipertensi esensial, yaitu hipertensi yang terjadi tanpa gejala dan banyak terdeteksi hanya saat pemeriksaan rutin. Maka dari itu, sasaran utama dalam peringatan Hari Hipertensi kami ini oleh Kementerian Kesehatan RI dalam upaya perubahan perilaku sehat dan deteksi dini diarahkan pada masyarakat mulai usia 15 tahun ke atas. Targetnya adalah semua penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas wajib mendapatkan deteksi dini minimal 1 kali setahun.

Apa sebenarnya pemicu hipertensi pada remaja ? Terdapat 2 faktor sebagai pemicu atau faktor risiko terjadinya hipertensi pada remaja. Yang pertama adalah faktor internal dalam tubuh remaja tersebut. Faktor ini sulit untuk dilakukan intervensi atau perubahan yaitu meliputi riwayat hipertensi keluarga, berat lahir rendah, dan jenis kelamin. Sedangkan faktor risiko yang kedua adalah faktor perilaku atau gaya hidup yang dapat diintervensi dan dapat diubah, yaitu obesitas, asupan natrium berlebih, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, dan kualitas tidur.

- Advertisement -

Setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Hipertensi Sedunia. Adapun tema global Hari Hipertensi Sedunia Tahun 2022 adalah “Measure Your Blood Pressure: Control It, Live Longer”.  Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan menindaklanjuti tema tersebut dengan tema nasional Hari Hipertensi Sedunia Tahun 2022 di Indonesia, yaitu “Cegah dan Kendalikan Hipertensi untuk Hidup Sehat Lebih Lama”.

Hipertensi merupakan kategori penyakit tidak menular (PTM) yang lebih banyak disebabkan karena kesalahan dalam pola perilaku atau gaya hidup yang tidak sehat seperti halnya penyakit diabetes melitus dan penyakit jantung. Maka dari itu, penting dalam peringatan Hari Hipertensi Sedunia dan secara nasional menjadi momentum mengingatkan pada seluruh masyarakat untuk peduli dengan kesehatannya dan menjalani hidup dengan pola hidup yang sehat. Termasuk di dalamnya sebagai upaya meningkatkan pengetahuan serta peran serta masyarakat dalam mencegah faktor risiko dan mengendalikan penyakit hipertensi dan PTM lainnya.

Di sisi lain, hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering muncul tanpa gejala dan keluhan yang berarti, namun dapat mengakibatkan munculnya komplikasi bahkan kematian. Hal ini karena tidak terdeteksi sejak dini yang berdampak pada lambatnya penanganan. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi salah satu strategi penting dalam pencegahan dan penanggulangan PTM di Indonesia. Maka dari itu, selain menjaga pola hidup yang sehat, hipertensi bisa dicegah dengan deteksi dini melalui pemeriksaan antropometri (BB dan TB), pemeriksaan tekanan darah dan kadar kolesterol, serta kadar gula dalam darah secara rutin.

Saat ini telah terjadi perubahan tren penyakit hipertensi. Dalam bidang kesehatan masyarakat disebut transisi epidemiologi yang mana transisi epidemiologi merupakan perubahan pola penyakit dan kematian yang mulanya didominasi oleh penyakit infeksi dan penyakit menular berubah menjadi penyakit tidak menular atau PTM. Di mana angka tertinggi ada pada penyakit hipertensi. Kita sering menjumpai penyakit hipertensi terjadi pada usia lanjut. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa hipertensi dapat muncul sejak remaja dan prevalensinya meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Banyak pihak yang belum menyadari hal tersebut, bahwa hipertensi yang terjadi pada masa remaja akan berlanjut hingga usia dewasa dan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian. Remaja di sini mereka yang berusia antara rentang 14 tahun-24 tahun. Hipertensi yang paling sering terjadi pada remaja adalah hipertensi esensial, yaitu hipertensi yang terjadi tanpa gejala dan banyak terdeteksi hanya saat pemeriksaan rutin. Maka dari itu, sasaran utama dalam peringatan Hari Hipertensi kami ini oleh Kementerian Kesehatan RI dalam upaya perubahan perilaku sehat dan deteksi dini diarahkan pada masyarakat mulai usia 15 tahun ke atas. Targetnya adalah semua penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas wajib mendapatkan deteksi dini minimal 1 kali setahun.

Apa sebenarnya pemicu hipertensi pada remaja ? Terdapat 2 faktor sebagai pemicu atau faktor risiko terjadinya hipertensi pada remaja. Yang pertama adalah faktor internal dalam tubuh remaja tersebut. Faktor ini sulit untuk dilakukan intervensi atau perubahan yaitu meliputi riwayat hipertensi keluarga, berat lahir rendah, dan jenis kelamin. Sedangkan faktor risiko yang kedua adalah faktor perilaku atau gaya hidup yang dapat diintervensi dan dapat diubah, yaitu obesitas, asupan natrium berlebih, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, dan kualitas tidur.

Setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Hipertensi Sedunia. Adapun tema global Hari Hipertensi Sedunia Tahun 2022 adalah “Measure Your Blood Pressure: Control It, Live Longer”.  Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan menindaklanjuti tema tersebut dengan tema nasional Hari Hipertensi Sedunia Tahun 2022 di Indonesia, yaitu “Cegah dan Kendalikan Hipertensi untuk Hidup Sehat Lebih Lama”.

Hipertensi merupakan kategori penyakit tidak menular (PTM) yang lebih banyak disebabkan karena kesalahan dalam pola perilaku atau gaya hidup yang tidak sehat seperti halnya penyakit diabetes melitus dan penyakit jantung. Maka dari itu, penting dalam peringatan Hari Hipertensi Sedunia dan secara nasional menjadi momentum mengingatkan pada seluruh masyarakat untuk peduli dengan kesehatannya dan menjalani hidup dengan pola hidup yang sehat. Termasuk di dalamnya sebagai upaya meningkatkan pengetahuan serta peran serta masyarakat dalam mencegah faktor risiko dan mengendalikan penyakit hipertensi dan PTM lainnya.

Di sisi lain, hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering muncul tanpa gejala dan keluhan yang berarti, namun dapat mengakibatkan munculnya komplikasi bahkan kematian. Hal ini karena tidak terdeteksi sejak dini yang berdampak pada lambatnya penanganan. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi salah satu strategi penting dalam pencegahan dan penanggulangan PTM di Indonesia. Maka dari itu, selain menjaga pola hidup yang sehat, hipertensi bisa dicegah dengan deteksi dini melalui pemeriksaan antropometri (BB dan TB), pemeriksaan tekanan darah dan kadar kolesterol, serta kadar gula dalam darah secara rutin.

Saat ini telah terjadi perubahan tren penyakit hipertensi. Dalam bidang kesehatan masyarakat disebut transisi epidemiologi yang mana transisi epidemiologi merupakan perubahan pola penyakit dan kematian yang mulanya didominasi oleh penyakit infeksi dan penyakit menular berubah menjadi penyakit tidak menular atau PTM. Di mana angka tertinggi ada pada penyakit hipertensi. Kita sering menjumpai penyakit hipertensi terjadi pada usia lanjut. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa hipertensi dapat muncul sejak remaja dan prevalensinya meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Banyak pihak yang belum menyadari hal tersebut, bahwa hipertensi yang terjadi pada masa remaja akan berlanjut hingga usia dewasa dan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian. Remaja di sini mereka yang berusia antara rentang 14 tahun-24 tahun. Hipertensi yang paling sering terjadi pada remaja adalah hipertensi esensial, yaitu hipertensi yang terjadi tanpa gejala dan banyak terdeteksi hanya saat pemeriksaan rutin. Maka dari itu, sasaran utama dalam peringatan Hari Hipertensi kami ini oleh Kementerian Kesehatan RI dalam upaya perubahan perilaku sehat dan deteksi dini diarahkan pada masyarakat mulai usia 15 tahun ke atas. Targetnya adalah semua penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas wajib mendapatkan deteksi dini minimal 1 kali setahun.

Apa sebenarnya pemicu hipertensi pada remaja ? Terdapat 2 faktor sebagai pemicu atau faktor risiko terjadinya hipertensi pada remaja. Yang pertama adalah faktor internal dalam tubuh remaja tersebut. Faktor ini sulit untuk dilakukan intervensi atau perubahan yaitu meliputi riwayat hipertensi keluarga, berat lahir rendah, dan jenis kelamin. Sedangkan faktor risiko yang kedua adalah faktor perilaku atau gaya hidup yang dapat diintervensi dan dapat diubah, yaitu obesitas, asupan natrium berlebih, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, dan kualitas tidur.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/