Menyelisik Parameter Pendidikan di Indonesia

Mencetak manusia-manusia yang siap meladeni kebutuhan pasar global, merupakan kecenderungan pada eksploitasi terhadap manusia. Sebab manusia dipaksa keluar dari esensi manusia itu sendiri yang memiliki ciri khas dengan standarisasi demi memenuhi kebutuhan pasar. Sehingga manusia-manusia tadi tak ubahnya hanya sebuah angka atau hanya simbol-simbol pemenuhan produksi perusahaan belaka.

Dunia pendidikan Indonesia kini berada dalam persimpangan yang menentukan. Sebagai responS demi keberlangsungan kapital global, melalui instansi pendidikannya, pendidikan bertransformasi sebagai pabrik pengetahuan serta memproduksi lulusan yang siap sebagai pekerja baru dengan tidak memiliki karakter, keahlian tinggi yang merupakan bagian penting dalam kecenderungan kapitalisme kognitif.

 

Melihat Ulang

Jika kita kembali pada esensi pendidikan, pendidikan merupakan sebuah proses dialog antara pendidik dan terdidik. Pendidik tidak seharusnya menjadikan terdidik bagaikan gelas kosong yang diisi air hingga penuh, mentransformasikan informasi yang delutif tanpa membawa terdidik pada suatu kasus realitas yang nyata. Anti-dialog membuat pendidikan itu dogma yang dapat menyesatkan nalar yang terdidik.

Dalam menyikapi realitas global yang ada, kita tidak bisa menutup diri dari pergaulan global. Era globalisasi dapat kita manfaatkan sebagai kemudahan mengakses informasi dari dalam maupun luar negeri sebagai penambahan wawasan akan realitas yang ada.

Dan instansi pendidikan seharusnya memberikan ruang yang bebas dalam penyerapan informasi para terdidik dengan membebaskan mereka mengeksplorasi diri dengan memarjinalkan standarisasi sehingga para terdidik bebas menjadi seperti apa yang mereka inginkan dan mengakses informasi yang mereka perlukan, tanpa adanya standarisasi yang membuat mereka keluar dari realitas mereka sendiri.

Untuk itu, kesadaran para terdidik harus bisa meruntuhkan sikap anti-dialog seperti ini dan mulai membangun antitesanya sendiri berupa konsep pendidikan yang dialogis serta lebih mengeksplorasi diri dengan melihat langsung realitas sosial yang terjadi di sekelilingnya. Dengan demikian, pendidikan merupakan suatu alat perlawanan dari ketidaktahuan dan alat yang berguna bagi perubahan sosial.

*) Penulis adalah Koordinator Komunitas Setretanan Dhibik (STD) Bondowoso