alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Menjaga Budaya, Merawat Bahasa

Mobile_AP_Rectangle 1

Bahasa adalah bagian integral dari kehidupan manusia. Tanpa bahasa, manusia tidak akan memiliki peradaban serta budaya. Karena itulah, ketika kita berbicara bahasa, pada saat yang sama kita juga membicarakan sebagian besar aspek kehidupan manusia, karena hampir semua aktivitas manusia dapat berlangsung karena adanya bahasa (Mahsun, 2009). Dalam tulisan singkat ini, paparan hanya akan difokuskan kepada bahasa daerah (BD) dan akan dipersempit lagi menjadi BD di Indonesia.

Indonesia merupakan negara yang memiliki BD terbanyak kedua (742 BD) di dunia setelah Papua New Guinea (850 BD). Keberagaman BD di Indonesia sejalan dengan keberagaman budaya yang didasarkan pada keanekaragaman suku yang tergolong masyarakat multilingual (Aritonang, 2016).

Antonius Maturbongs, mengutip The Summer institute of Linguistic (SIL), (2017) dalam publikasinya mengatakan bahwa keadaan BD di Indonesia terus mengalami penurunan jumlah penutur aslinya. Antonius juga mengutip Tempo, 21 Februari 2007, yang menyatakan bahwa UNESCO mengkhawatirkan terjadinya penurunan jumlah penutur asli BD di dunia. Menurut data UNESCO, saat ini separuh dari sekitar enam ribu bahasa yang terdapat di dunia terancam punah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kecenderungan terus menurunnya penutur asli BD ini hampir terjadi secara merata di seluruh kawasan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut Abdul Wahab (2002), BD seperti Bugis, Batak, Makasar, Lampung, dan Bima saat ini terdesak oleh pemakaian Bahasa Indonesia (BI) sebab penggunaan BI lebih tinggi frekuensinya dibandingkan dengan penggunaan bahasa-bahasa daerah tersebut, baik dalam urusan formal maupun nonformal.

Menurut Moseley (2010) pada Atlas of the World’s Languages in Danger, di Indonesia terdapat 146 bahasa daerah yang terancam punah. Sekadar menyebut beberapa contoh di antaranya adalah: bahasa Amahai (penuturnya 50 orang), bahasa Hoti (penuturnya 10 orang), bahasa Kamarian (penuturnya 10 orang), bahasa Masep (penuturnya 25 orang), dan bahasa Dampal (penuturnya 90 orang) (www.etnologue.com/nearly _extinct.asp). Sebagian besar BD yang terancam punah berasal dari Indonesia Timur, seperti Maluku dan Papua.

Sebagai ilustrasi, hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Jember pada tahun 2014 (lokasi penelitian Jember Selatan dan Jember Utara) menunjukkan bahwa BD di Kabupaten Jember senyatanya sekarang sedang mengalami penurunan penutur aslinya, paling tidak ada gejala ke arah tersebut. Apabila hal ini dibiarkan terus-menerus, keadaan BD di Jember yaitu Bahasa Jawa (BJ) di Jember selatan dan Bahasa Madura (BM) di Jember utara, secara pelan tetapi pasti akan menuju ke arah penurunan vitalitas. Gejala tersebut dapat dilihat dari kecenderungan para orang tua yang tidak lagi memakai BD dalam berkomunikasi dengan putra-putri mereka. Mereka cenderung memakai BI (Salikin, 2014).

Pada saat ini para ahli bahasa mencurahkan perhatiannya pada penurunan jumlah penutur asli atau (gejala) kepunahan BD terutama bahasa-bahasa di negara-negara berkembang. Kesimpulan yang mereka peroleh adalah bahwa penyebab utama penurunan jumlah penutur asli sampai kepada kepunahan BD adalah karena para orang tua tidak lagi mengajarkan BD kepada anak-anaknya dan tidak lagi secara aktif menggunakannya di rumah dalam berbagai ranah komunikasi (Grimes 2000). Kalau orang tua sudah tidak menggunakan BD dengan putra-putrinya, maka generasi muda pasti tidak mampu menggunakan BD mereka.

Kondisi masyarakat multibahasa juga menjadi pemicu terus menurunnya penutur asli BD. Pada situasi seperti ini sering terjadi alih kode dan campur kode berkaitan dengan penggunaan beberapa leksikon maupun frasa bahasa lain dalam tuturan. Dengan demikian, penutur asli BD akan berkurang terus jumlahnya.

Penyebab berikutnya adalah adanya migrasi. Migrasi penduduk keluar dari daerah asalnya, baik karena pekerjaan, pendidikan, maupun karena beberapa faktor lainnya, turut pula menentukan kelangsungan hidup bahasanya. Ketika seseorang berpindah atau bermigrasi ke tempat lain, sangat mungkin mereka akan menggunakan bahasa yang dipakai di tempat yang baru.

- Advertisement -

Bahasa adalah bagian integral dari kehidupan manusia. Tanpa bahasa, manusia tidak akan memiliki peradaban serta budaya. Karena itulah, ketika kita berbicara bahasa, pada saat yang sama kita juga membicarakan sebagian besar aspek kehidupan manusia, karena hampir semua aktivitas manusia dapat berlangsung karena adanya bahasa (Mahsun, 2009). Dalam tulisan singkat ini, paparan hanya akan difokuskan kepada bahasa daerah (BD) dan akan dipersempit lagi menjadi BD di Indonesia.

Indonesia merupakan negara yang memiliki BD terbanyak kedua (742 BD) di dunia setelah Papua New Guinea (850 BD). Keberagaman BD di Indonesia sejalan dengan keberagaman budaya yang didasarkan pada keanekaragaman suku yang tergolong masyarakat multilingual (Aritonang, 2016).

Antonius Maturbongs, mengutip The Summer institute of Linguistic (SIL), (2017) dalam publikasinya mengatakan bahwa keadaan BD di Indonesia terus mengalami penurunan jumlah penutur aslinya. Antonius juga mengutip Tempo, 21 Februari 2007, yang menyatakan bahwa UNESCO mengkhawatirkan terjadinya penurunan jumlah penutur asli BD di dunia. Menurut data UNESCO, saat ini separuh dari sekitar enam ribu bahasa yang terdapat di dunia terancam punah.

Kecenderungan terus menurunnya penutur asli BD ini hampir terjadi secara merata di seluruh kawasan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut Abdul Wahab (2002), BD seperti Bugis, Batak, Makasar, Lampung, dan Bima saat ini terdesak oleh pemakaian Bahasa Indonesia (BI) sebab penggunaan BI lebih tinggi frekuensinya dibandingkan dengan penggunaan bahasa-bahasa daerah tersebut, baik dalam urusan formal maupun nonformal.

Menurut Moseley (2010) pada Atlas of the World’s Languages in Danger, di Indonesia terdapat 146 bahasa daerah yang terancam punah. Sekadar menyebut beberapa contoh di antaranya adalah: bahasa Amahai (penuturnya 50 orang), bahasa Hoti (penuturnya 10 orang), bahasa Kamarian (penuturnya 10 orang), bahasa Masep (penuturnya 25 orang), dan bahasa Dampal (penuturnya 90 orang) (www.etnologue.com/nearly _extinct.asp). Sebagian besar BD yang terancam punah berasal dari Indonesia Timur, seperti Maluku dan Papua.

Sebagai ilustrasi, hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Jember pada tahun 2014 (lokasi penelitian Jember Selatan dan Jember Utara) menunjukkan bahwa BD di Kabupaten Jember senyatanya sekarang sedang mengalami penurunan penutur aslinya, paling tidak ada gejala ke arah tersebut. Apabila hal ini dibiarkan terus-menerus, keadaan BD di Jember yaitu Bahasa Jawa (BJ) di Jember selatan dan Bahasa Madura (BM) di Jember utara, secara pelan tetapi pasti akan menuju ke arah penurunan vitalitas. Gejala tersebut dapat dilihat dari kecenderungan para orang tua yang tidak lagi memakai BD dalam berkomunikasi dengan putra-putri mereka. Mereka cenderung memakai BI (Salikin, 2014).

Pada saat ini para ahli bahasa mencurahkan perhatiannya pada penurunan jumlah penutur asli atau (gejala) kepunahan BD terutama bahasa-bahasa di negara-negara berkembang. Kesimpulan yang mereka peroleh adalah bahwa penyebab utama penurunan jumlah penutur asli sampai kepada kepunahan BD adalah karena para orang tua tidak lagi mengajarkan BD kepada anak-anaknya dan tidak lagi secara aktif menggunakannya di rumah dalam berbagai ranah komunikasi (Grimes 2000). Kalau orang tua sudah tidak menggunakan BD dengan putra-putrinya, maka generasi muda pasti tidak mampu menggunakan BD mereka.

Kondisi masyarakat multibahasa juga menjadi pemicu terus menurunnya penutur asli BD. Pada situasi seperti ini sering terjadi alih kode dan campur kode berkaitan dengan penggunaan beberapa leksikon maupun frasa bahasa lain dalam tuturan. Dengan demikian, penutur asli BD akan berkurang terus jumlahnya.

Penyebab berikutnya adalah adanya migrasi. Migrasi penduduk keluar dari daerah asalnya, baik karena pekerjaan, pendidikan, maupun karena beberapa faktor lainnya, turut pula menentukan kelangsungan hidup bahasanya. Ketika seseorang berpindah atau bermigrasi ke tempat lain, sangat mungkin mereka akan menggunakan bahasa yang dipakai di tempat yang baru.

Bahasa adalah bagian integral dari kehidupan manusia. Tanpa bahasa, manusia tidak akan memiliki peradaban serta budaya. Karena itulah, ketika kita berbicara bahasa, pada saat yang sama kita juga membicarakan sebagian besar aspek kehidupan manusia, karena hampir semua aktivitas manusia dapat berlangsung karena adanya bahasa (Mahsun, 2009). Dalam tulisan singkat ini, paparan hanya akan difokuskan kepada bahasa daerah (BD) dan akan dipersempit lagi menjadi BD di Indonesia.

Indonesia merupakan negara yang memiliki BD terbanyak kedua (742 BD) di dunia setelah Papua New Guinea (850 BD). Keberagaman BD di Indonesia sejalan dengan keberagaman budaya yang didasarkan pada keanekaragaman suku yang tergolong masyarakat multilingual (Aritonang, 2016).

Antonius Maturbongs, mengutip The Summer institute of Linguistic (SIL), (2017) dalam publikasinya mengatakan bahwa keadaan BD di Indonesia terus mengalami penurunan jumlah penutur aslinya. Antonius juga mengutip Tempo, 21 Februari 2007, yang menyatakan bahwa UNESCO mengkhawatirkan terjadinya penurunan jumlah penutur asli BD di dunia. Menurut data UNESCO, saat ini separuh dari sekitar enam ribu bahasa yang terdapat di dunia terancam punah.

Kecenderungan terus menurunnya penutur asli BD ini hampir terjadi secara merata di seluruh kawasan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut Abdul Wahab (2002), BD seperti Bugis, Batak, Makasar, Lampung, dan Bima saat ini terdesak oleh pemakaian Bahasa Indonesia (BI) sebab penggunaan BI lebih tinggi frekuensinya dibandingkan dengan penggunaan bahasa-bahasa daerah tersebut, baik dalam urusan formal maupun nonformal.

Menurut Moseley (2010) pada Atlas of the World’s Languages in Danger, di Indonesia terdapat 146 bahasa daerah yang terancam punah. Sekadar menyebut beberapa contoh di antaranya adalah: bahasa Amahai (penuturnya 50 orang), bahasa Hoti (penuturnya 10 orang), bahasa Kamarian (penuturnya 10 orang), bahasa Masep (penuturnya 25 orang), dan bahasa Dampal (penuturnya 90 orang) (www.etnologue.com/nearly _extinct.asp). Sebagian besar BD yang terancam punah berasal dari Indonesia Timur, seperti Maluku dan Papua.

Sebagai ilustrasi, hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Jember pada tahun 2014 (lokasi penelitian Jember Selatan dan Jember Utara) menunjukkan bahwa BD di Kabupaten Jember senyatanya sekarang sedang mengalami penurunan penutur aslinya, paling tidak ada gejala ke arah tersebut. Apabila hal ini dibiarkan terus-menerus, keadaan BD di Jember yaitu Bahasa Jawa (BJ) di Jember selatan dan Bahasa Madura (BM) di Jember utara, secara pelan tetapi pasti akan menuju ke arah penurunan vitalitas. Gejala tersebut dapat dilihat dari kecenderungan para orang tua yang tidak lagi memakai BD dalam berkomunikasi dengan putra-putri mereka. Mereka cenderung memakai BI (Salikin, 2014).

Pada saat ini para ahli bahasa mencurahkan perhatiannya pada penurunan jumlah penutur asli atau (gejala) kepunahan BD terutama bahasa-bahasa di negara-negara berkembang. Kesimpulan yang mereka peroleh adalah bahwa penyebab utama penurunan jumlah penutur asli sampai kepada kepunahan BD adalah karena para orang tua tidak lagi mengajarkan BD kepada anak-anaknya dan tidak lagi secara aktif menggunakannya di rumah dalam berbagai ranah komunikasi (Grimes 2000). Kalau orang tua sudah tidak menggunakan BD dengan putra-putrinya, maka generasi muda pasti tidak mampu menggunakan BD mereka.

Kondisi masyarakat multibahasa juga menjadi pemicu terus menurunnya penutur asli BD. Pada situasi seperti ini sering terjadi alih kode dan campur kode berkaitan dengan penggunaan beberapa leksikon maupun frasa bahasa lain dalam tuturan. Dengan demikian, penutur asli BD akan berkurang terus jumlahnya.

Penyebab berikutnya adalah adanya migrasi. Migrasi penduduk keluar dari daerah asalnya, baik karena pekerjaan, pendidikan, maupun karena beberapa faktor lainnya, turut pula menentukan kelangsungan hidup bahasanya. Ketika seseorang berpindah atau bermigrasi ke tempat lain, sangat mungkin mereka akan menggunakan bahasa yang dipakai di tempat yang baru.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/