alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

“Tafsir” Pelaksanaan KKN di Masa Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Euforia pelaksanaan KKN (kuliah kerja nyata) secara offline di lingkungan perguruan tinggi di masa pandemi Covid-19 seakan tak mungkin dilaksanakan. Sebab seluruh lapisan masyarakat Indonesia bahkan seluruh penduduk dunia merasa cemas untuk berinteraksi secara langsung, mereka seakan saling “curiga’, jangan-jangan membawa “petaka” virus Covid-19.
Dimana-mana masyarakat dibuat “sibuk” dengan urusan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) berskala mikro, secara bertahap, mulai urusan ibadah, urusan kantor hingga soal pergaulan manusia dipakem dengan istilah ‘Madura’ yang cukup mendunia, physical distancing (jaga jarak).
Adagium ini seolah-olah tidak pernah berlaku bagi masyarakat Madura. Di mana-mana orang Madura tak mau ambil pusing dengan aturan super ketat ini. Salat berjamaah misalnya, tetap terlaksana seperti layaknya suasana normal, pasar tetap ramai walaupun dalam bingkai suasana pandemi Covid-19.
Namun demikian, hal bijaksana telah dilakukan oleh Rektor UIN KH. Achmad Siddiq Jember Prof Babun Suharto dengan memberlakukan KKN luring yang bertujuan mulia. Yaitu untuk memberikan penyegaran pemahaman kepada masyarakat tentang urgensi memakai masker, menjaga jarak, cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat dalam memotivasi dan mewujudkan gaya hidup sehat. Tentu kebijakan ini perlu disemai, dan disambut baik oleh masyarakat.
Langkah berani ini perlu diapresiasi dan dicontoh oleh para pimpinan perguruan tinggi dalam upaya membendung meluasnya penyebaran Covid-19 yang semakin hari menggelinding semakin kencang. Para mahasiswa perlu digerakkan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pola hidup sehat dalam upaya mewujudkan masyarakat sehat dan sejahtera. Sehingga masyarakat mengalami metamorfosa ke arah yang lebih baik dalam rangka menghidupkan kembali segala lini sendi kehidupan ini. Kembali bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi ini. Sudah saatnya masyarakat kita lebih cerdas seperti yang diharapkan Prof Babun. Masyarakat bagaimana bisa tunduk dan patuh kepada protokol kesehatan sebagaimana harapan Presiden Joko Widodo.
Bagi kalangan yang fanatik, persoalan pandemi acapkali menimbulkan keraguan banyak pihak dalam bersosialisasi. Tidak sedikit kalangan dosen yang menjaga betul soal physical distancing dengan tidak mau bersentuhan tangan, tidak mau bersalaman misalnya, bahkan tidak mau bertatap muka dengan alasan takut tertular virus korona. Virus ini memang tak tampak oleh panca indra manusia namun keberadaannya sangat diwaspadai dan ditakuti.
Di negara-negara maju, seperti yang kita saksikan di televisi, baik media online maupun offline, ketika pemerintah menyatakan lockdown, segala sektor kehidupan seakan terkunci. Masyarakatnya langsung tiarap, bak kota mati. Masyarakatnya tak mau keluar rumah bila dirasa tak benar-benar urgent. Namun dampak yang terjadi adalah semua negara kaya mengalami resesi ekonomi. Di Arab Saudi misalnya, pandemi ini telah meluluhlantakkan sektor perekonomian. Negara yang dulu dikenal sebagai “sorga” bagi segenap lapisan masyarakat dunia kini telah mengalami krisis ekonomi akibat anjloknya harga minyak dunia dan melorotnya pendapatan devisa negara. Tetapi tidak demikian yang terjadi di negara kita, rakyat Indonesia agaknya sulit diatur untuk menerapkan protokol kesehatan sehingga sangat diperlukan sosialisasi yang lebih intensif. Meminjam istilah Presiden Jokowi: saya tidak bisa bayangin kalau dulu kita lockdown.
Oleh karenanya, mahasiswa perlu digerakkan sebagai penyeimbang di tengah masifnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan protokol kesehatan. Saya sebagai bagian dari panitia pelaksanaan KKN UIN Jember merasa sangat senang dengan adanya KKN yang dapat terlaksana secara luring. Para mahasiswa peserta KKN sebagai insan terdidik dapat memaksakan kegiatannya sesuai protokol kesehatan. membawa masker yang cukup, membiasakan hidup bersih dengan rajin mencuci tangan, menjadi ikon dalam menjaga jarak saat berinteraksi dengan masyarakat. Intinya, para mahasiswa, menjadi aktor utama dalam membintangi mahligai kehidupan taat protokol kesehatan. Bahkan hal yang sangat membanggakan adalah sebelum diterjunkan ke masyarakat, para mahasiswa terlebih dahulu didiagnosa kesehatannya oleh petugas kesehatan.
Dengan demikian, tidak akan terjadi kluster baru penyebaran atau siklus penularan Covid-19. Yang paling menarik dari pelaksanaan KKN ini adalah metode pendekatan yang digunakan dengan konsep ABCD (Asset Based Communities Development), yaitu suatu program pengembangan potensi kehidupan masyarakat dengan pola pengembangan potensi masyarakat yang ada. Dengan kata lain, apa pun kondisi masyarakat maka itu merupakan suatu potensi. Begitu juga dengan suasana pandemi Covid-19, kondisi ini dapat dijadikan “ladang” potensi untuk meningkatkan dan mengembangkan segala aspek kehidupan yang berkaitan dengan pemenuhan dan pemulihan ke arah yang lebih baik.
The last but not least, yang terpenting dari pelaksanaan program KKN ini adalah adanya transfer knowledge, yaitu bagaimana mahasiswa mampu berkolaborasi secara aktif dengan masyarakat sebagai langkah awal dalam menapaki kehidupan nyata bermasyarakat sebagaimana visi misi UIN KH Achmad Siddiq Jember yang terakumulasi dalam empat pilar, yaitu: salat berjamaah, memperbanyak membaca Alquran, memperbanyak membaca salawat, dan tidak zalim kepada orang lain. Semoga kita semua dapat mengamalkan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Euforia pelaksanaan KKN (kuliah kerja nyata) secara offline di lingkungan perguruan tinggi di masa pandemi Covid-19 seakan tak mungkin dilaksanakan. Sebab seluruh lapisan masyarakat Indonesia bahkan seluruh penduduk dunia merasa cemas untuk berinteraksi secara langsung, mereka seakan saling “curiga’, jangan-jangan membawa “petaka” virus Covid-19.
Dimana-mana masyarakat dibuat “sibuk” dengan urusan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) berskala mikro, secara bertahap, mulai urusan ibadah, urusan kantor hingga soal pergaulan manusia dipakem dengan istilah ‘Madura’ yang cukup mendunia, physical distancing (jaga jarak).
Adagium ini seolah-olah tidak pernah berlaku bagi masyarakat Madura. Di mana-mana orang Madura tak mau ambil pusing dengan aturan super ketat ini. Salat berjamaah misalnya, tetap terlaksana seperti layaknya suasana normal, pasar tetap ramai walaupun dalam bingkai suasana pandemi Covid-19.
Namun demikian, hal bijaksana telah dilakukan oleh Rektor UIN KH. Achmad Siddiq Jember Prof Babun Suharto dengan memberlakukan KKN luring yang bertujuan mulia. Yaitu untuk memberikan penyegaran pemahaman kepada masyarakat tentang urgensi memakai masker, menjaga jarak, cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat dalam memotivasi dan mewujudkan gaya hidup sehat. Tentu kebijakan ini perlu disemai, dan disambut baik oleh masyarakat.
Langkah berani ini perlu diapresiasi dan dicontoh oleh para pimpinan perguruan tinggi dalam upaya membendung meluasnya penyebaran Covid-19 yang semakin hari menggelinding semakin kencang. Para mahasiswa perlu digerakkan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pola hidup sehat dalam upaya mewujudkan masyarakat sehat dan sejahtera. Sehingga masyarakat mengalami metamorfosa ke arah yang lebih baik dalam rangka menghidupkan kembali segala lini sendi kehidupan ini. Kembali bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi ini. Sudah saatnya masyarakat kita lebih cerdas seperti yang diharapkan Prof Babun. Masyarakat bagaimana bisa tunduk dan patuh kepada protokol kesehatan sebagaimana harapan Presiden Joko Widodo.
Bagi kalangan yang fanatik, persoalan pandemi acapkali menimbulkan keraguan banyak pihak dalam bersosialisasi. Tidak sedikit kalangan dosen yang menjaga betul soal physical distancing dengan tidak mau bersentuhan tangan, tidak mau bersalaman misalnya, bahkan tidak mau bertatap muka dengan alasan takut tertular virus korona. Virus ini memang tak tampak oleh panca indra manusia namun keberadaannya sangat diwaspadai dan ditakuti.
Di negara-negara maju, seperti yang kita saksikan di televisi, baik media online maupun offline, ketika pemerintah menyatakan lockdown, segala sektor kehidupan seakan terkunci. Masyarakatnya langsung tiarap, bak kota mati. Masyarakatnya tak mau keluar rumah bila dirasa tak benar-benar urgent. Namun dampak yang terjadi adalah semua negara kaya mengalami resesi ekonomi. Di Arab Saudi misalnya, pandemi ini telah meluluhlantakkan sektor perekonomian. Negara yang dulu dikenal sebagai “sorga” bagi segenap lapisan masyarakat dunia kini telah mengalami krisis ekonomi akibat anjloknya harga minyak dunia dan melorotnya pendapatan devisa negara. Tetapi tidak demikian yang terjadi di negara kita, rakyat Indonesia agaknya sulit diatur untuk menerapkan protokol kesehatan sehingga sangat diperlukan sosialisasi yang lebih intensif. Meminjam istilah Presiden Jokowi: saya tidak bisa bayangin kalau dulu kita lockdown.
Oleh karenanya, mahasiswa perlu digerakkan sebagai penyeimbang di tengah masifnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan protokol kesehatan. Saya sebagai bagian dari panitia pelaksanaan KKN UIN Jember merasa sangat senang dengan adanya KKN yang dapat terlaksana secara luring. Para mahasiswa peserta KKN sebagai insan terdidik dapat memaksakan kegiatannya sesuai protokol kesehatan. membawa masker yang cukup, membiasakan hidup bersih dengan rajin mencuci tangan, menjadi ikon dalam menjaga jarak saat berinteraksi dengan masyarakat. Intinya, para mahasiswa, menjadi aktor utama dalam membintangi mahligai kehidupan taat protokol kesehatan. Bahkan hal yang sangat membanggakan adalah sebelum diterjunkan ke masyarakat, para mahasiswa terlebih dahulu didiagnosa kesehatannya oleh petugas kesehatan.
Dengan demikian, tidak akan terjadi kluster baru penyebaran atau siklus penularan Covid-19. Yang paling menarik dari pelaksanaan KKN ini adalah metode pendekatan yang digunakan dengan konsep ABCD (Asset Based Communities Development), yaitu suatu program pengembangan potensi kehidupan masyarakat dengan pola pengembangan potensi masyarakat yang ada. Dengan kata lain, apa pun kondisi masyarakat maka itu merupakan suatu potensi. Begitu juga dengan suasana pandemi Covid-19, kondisi ini dapat dijadikan “ladang” potensi untuk meningkatkan dan mengembangkan segala aspek kehidupan yang berkaitan dengan pemenuhan dan pemulihan ke arah yang lebih baik.
The last but not least, yang terpenting dari pelaksanaan program KKN ini adalah adanya transfer knowledge, yaitu bagaimana mahasiswa mampu berkolaborasi secara aktif dengan masyarakat sebagai langkah awal dalam menapaki kehidupan nyata bermasyarakat sebagaimana visi misi UIN KH Achmad Siddiq Jember yang terakumulasi dalam empat pilar, yaitu: salat berjamaah, memperbanyak membaca Alquran, memperbanyak membaca salawat, dan tidak zalim kepada orang lain. Semoga kita semua dapat mengamalkan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Euforia pelaksanaan KKN (kuliah kerja nyata) secara offline di lingkungan perguruan tinggi di masa pandemi Covid-19 seakan tak mungkin dilaksanakan. Sebab seluruh lapisan masyarakat Indonesia bahkan seluruh penduduk dunia merasa cemas untuk berinteraksi secara langsung, mereka seakan saling “curiga’, jangan-jangan membawa “petaka” virus Covid-19.
Dimana-mana masyarakat dibuat “sibuk” dengan urusan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) berskala mikro, secara bertahap, mulai urusan ibadah, urusan kantor hingga soal pergaulan manusia dipakem dengan istilah ‘Madura’ yang cukup mendunia, physical distancing (jaga jarak).
Adagium ini seolah-olah tidak pernah berlaku bagi masyarakat Madura. Di mana-mana orang Madura tak mau ambil pusing dengan aturan super ketat ini. Salat berjamaah misalnya, tetap terlaksana seperti layaknya suasana normal, pasar tetap ramai walaupun dalam bingkai suasana pandemi Covid-19.
Namun demikian, hal bijaksana telah dilakukan oleh Rektor UIN KH. Achmad Siddiq Jember Prof Babun Suharto dengan memberlakukan KKN luring yang bertujuan mulia. Yaitu untuk memberikan penyegaran pemahaman kepada masyarakat tentang urgensi memakai masker, menjaga jarak, cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat dalam memotivasi dan mewujudkan gaya hidup sehat. Tentu kebijakan ini perlu disemai, dan disambut baik oleh masyarakat.
Langkah berani ini perlu diapresiasi dan dicontoh oleh para pimpinan perguruan tinggi dalam upaya membendung meluasnya penyebaran Covid-19 yang semakin hari menggelinding semakin kencang. Para mahasiswa perlu digerakkan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pola hidup sehat dalam upaya mewujudkan masyarakat sehat dan sejahtera. Sehingga masyarakat mengalami metamorfosa ke arah yang lebih baik dalam rangka menghidupkan kembali segala lini sendi kehidupan ini. Kembali bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi ini. Sudah saatnya masyarakat kita lebih cerdas seperti yang diharapkan Prof Babun. Masyarakat bagaimana bisa tunduk dan patuh kepada protokol kesehatan sebagaimana harapan Presiden Joko Widodo.
Bagi kalangan yang fanatik, persoalan pandemi acapkali menimbulkan keraguan banyak pihak dalam bersosialisasi. Tidak sedikit kalangan dosen yang menjaga betul soal physical distancing dengan tidak mau bersentuhan tangan, tidak mau bersalaman misalnya, bahkan tidak mau bertatap muka dengan alasan takut tertular virus korona. Virus ini memang tak tampak oleh panca indra manusia namun keberadaannya sangat diwaspadai dan ditakuti.
Di negara-negara maju, seperti yang kita saksikan di televisi, baik media online maupun offline, ketika pemerintah menyatakan lockdown, segala sektor kehidupan seakan terkunci. Masyarakatnya langsung tiarap, bak kota mati. Masyarakatnya tak mau keluar rumah bila dirasa tak benar-benar urgent. Namun dampak yang terjadi adalah semua negara kaya mengalami resesi ekonomi. Di Arab Saudi misalnya, pandemi ini telah meluluhlantakkan sektor perekonomian. Negara yang dulu dikenal sebagai “sorga” bagi segenap lapisan masyarakat dunia kini telah mengalami krisis ekonomi akibat anjloknya harga minyak dunia dan melorotnya pendapatan devisa negara. Tetapi tidak demikian yang terjadi di negara kita, rakyat Indonesia agaknya sulit diatur untuk menerapkan protokol kesehatan sehingga sangat diperlukan sosialisasi yang lebih intensif. Meminjam istilah Presiden Jokowi: saya tidak bisa bayangin kalau dulu kita lockdown.
Oleh karenanya, mahasiswa perlu digerakkan sebagai penyeimbang di tengah masifnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan protokol kesehatan. Saya sebagai bagian dari panitia pelaksanaan KKN UIN Jember merasa sangat senang dengan adanya KKN yang dapat terlaksana secara luring. Para mahasiswa peserta KKN sebagai insan terdidik dapat memaksakan kegiatannya sesuai protokol kesehatan. membawa masker yang cukup, membiasakan hidup bersih dengan rajin mencuci tangan, menjadi ikon dalam menjaga jarak saat berinteraksi dengan masyarakat. Intinya, para mahasiswa, menjadi aktor utama dalam membintangi mahligai kehidupan taat protokol kesehatan. Bahkan hal yang sangat membanggakan adalah sebelum diterjunkan ke masyarakat, para mahasiswa terlebih dahulu didiagnosa kesehatannya oleh petugas kesehatan.
Dengan demikian, tidak akan terjadi kluster baru penyebaran atau siklus penularan Covid-19. Yang paling menarik dari pelaksanaan KKN ini adalah metode pendekatan yang digunakan dengan konsep ABCD (Asset Based Communities Development), yaitu suatu program pengembangan potensi kehidupan masyarakat dengan pola pengembangan potensi masyarakat yang ada. Dengan kata lain, apa pun kondisi masyarakat maka itu merupakan suatu potensi. Begitu juga dengan suasana pandemi Covid-19, kondisi ini dapat dijadikan “ladang” potensi untuk meningkatkan dan mengembangkan segala aspek kehidupan yang berkaitan dengan pemenuhan dan pemulihan ke arah yang lebih baik.
The last but not least, yang terpenting dari pelaksanaan program KKN ini adalah adanya transfer knowledge, yaitu bagaimana mahasiswa mampu berkolaborasi secara aktif dengan masyarakat sebagai langkah awal dalam menapaki kehidupan nyata bermasyarakat sebagaimana visi misi UIN KH Achmad Siddiq Jember yang terakumulasi dalam empat pilar, yaitu: salat berjamaah, memperbanyak membaca Alquran, memperbanyak membaca salawat, dan tidak zalim kepada orang lain. Semoga kita semua dapat mengamalkan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/