alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Judi Itu Candu

Dr Sukidin MPd

Mobile_AP_Rectangle 1

Untuk mengenali fenomena judi, perlu dipahami bahwa bermain judi umumnya dipelajari oleh penjudi dari orang lain, dan hal ini menyebabkan pelaku melakukan perilaku menyimpang judi tersebut. Permainan judi online yang dilakukan oleh para remaja merupakan hasil dari sebuah interaksi sosial yang terjadi di antara sesama mereka. Intensitas kebersamaan antarremaja yang sering bertemu membuat hubungan mereka terjalin sangat akrab. Hal ini membuat proses interaksi yang terjadi di antara mereka berlangsung dengan baik, karena satu sama lain saling memberikan respons dalam perbincangan itu.

Interaksi sosial ibaratkan sebuah mata uang yang memiliki dua sisi, bisa berdampak positif dan bisa negatif. Dampak negatif dari interaksi sosial, salah satunya adalah terpengaruh dalam permainan judi online. Dalam proses interaksi yang terjadi di antara remaja terdapat proses tukar-menukar informasi yang bersifat negatif, karena informasi tersebut berisikan sesuatu yang lebih bersifat penyimpangan sosial.

Lingkungan sosial bisa pula sebagai pemicu perilaku berjudi, di antaranya adalah pengaruh dari teman sebaya (peer group) untuk berpartisipasi dalam perjudian dan strategi pemasaran yang dilakukan oleh pengelola perjudian. Pengaruh kelompok membuat sang calon penjudi merasa tidak enak jika tidak mengikuti apa yang dilakukan peer group-nya. Sementara, strategi pemasaran yang dilakukan para pengelola perjudian dengan selalu mengekspos para penjudi yang berhasil menang memberikan kesan pada calon penjudi bahwa kemenangan dalam perjudian sangat memungkinkan diperoleh, bahkan mudah dan dapat terjadi pada siapa saja.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tingginya tingkat pengangguran sangat berpengaruh, terutama pada remaja untuk melakukan judi. Terbatasnya lapangan pekerjaan membuat mereka tidak memiliki kesempatan bekerja di sektor formal atau pekerjaan tetap lainnya. Semakin banyaknya pengangguran, maka akan semakin banyak pula terjadinya perilaku menyimpang, salah satunya yaitu perjudian. Kesulitan mendapatkan pekerjaan dan sulitnya memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhannya membuat mereka berusaha menempuh jalan pintas yaitu dengan berjudi.

Faktor belajar dan pengalaman memiliki efek yang besar terhadap perilaku berjudi, terutama menyangkut keinginan untuk terus berjudi. Apa yang pernah dipelajari dan ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang menyenangkan, akan terus tersimpan dalam memori seseorang dan pada waktunya ingin diulangi lagi. Dalam teori belajar hal ini disebut reinforcement theory, bahwa perilaku tertentu akan cenderung diperkuat atau diulangi bilamana diikuti oleh pemberian hadiah atau sesuatu yang bersifat menyenangkan. Bila keadaan seseorang sudah sampai pada level menyenangi judi, maka dia sudah memposisikan judi itu sebagai candu.

Judi adalah penyakit sosial, yang dampak pengiringnya dapat menggiring pelaku pada perilaku menyimpang, bahkan sampai pada tindakan kriminal. Hindari perilaku spekulasi dengan bermain judi. Dalam judi tidak ada unsur edukasi, yang ada justru menciptakan malapetaka bagi pelakunya. Judi itu candu dalam kehidupan, sekali mencoba maka akan menjadi ketagihan. Hindari bermain judi sebelum terjadi bencana sosial dalam bentuk rusaknya generasi penerus bangsa ini.

 

*) Penulis adalah dosen Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember.

- Advertisement -

Untuk mengenali fenomena judi, perlu dipahami bahwa bermain judi umumnya dipelajari oleh penjudi dari orang lain, dan hal ini menyebabkan pelaku melakukan perilaku menyimpang judi tersebut. Permainan judi online yang dilakukan oleh para remaja merupakan hasil dari sebuah interaksi sosial yang terjadi di antara sesama mereka. Intensitas kebersamaan antarremaja yang sering bertemu membuat hubungan mereka terjalin sangat akrab. Hal ini membuat proses interaksi yang terjadi di antara mereka berlangsung dengan baik, karena satu sama lain saling memberikan respons dalam perbincangan itu.

Interaksi sosial ibaratkan sebuah mata uang yang memiliki dua sisi, bisa berdampak positif dan bisa negatif. Dampak negatif dari interaksi sosial, salah satunya adalah terpengaruh dalam permainan judi online. Dalam proses interaksi yang terjadi di antara remaja terdapat proses tukar-menukar informasi yang bersifat negatif, karena informasi tersebut berisikan sesuatu yang lebih bersifat penyimpangan sosial.

Lingkungan sosial bisa pula sebagai pemicu perilaku berjudi, di antaranya adalah pengaruh dari teman sebaya (peer group) untuk berpartisipasi dalam perjudian dan strategi pemasaran yang dilakukan oleh pengelola perjudian. Pengaruh kelompok membuat sang calon penjudi merasa tidak enak jika tidak mengikuti apa yang dilakukan peer group-nya. Sementara, strategi pemasaran yang dilakukan para pengelola perjudian dengan selalu mengekspos para penjudi yang berhasil menang memberikan kesan pada calon penjudi bahwa kemenangan dalam perjudian sangat memungkinkan diperoleh, bahkan mudah dan dapat terjadi pada siapa saja.

Tingginya tingkat pengangguran sangat berpengaruh, terutama pada remaja untuk melakukan judi. Terbatasnya lapangan pekerjaan membuat mereka tidak memiliki kesempatan bekerja di sektor formal atau pekerjaan tetap lainnya. Semakin banyaknya pengangguran, maka akan semakin banyak pula terjadinya perilaku menyimpang, salah satunya yaitu perjudian. Kesulitan mendapatkan pekerjaan dan sulitnya memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhannya membuat mereka berusaha menempuh jalan pintas yaitu dengan berjudi.

Faktor belajar dan pengalaman memiliki efek yang besar terhadap perilaku berjudi, terutama menyangkut keinginan untuk terus berjudi. Apa yang pernah dipelajari dan ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang menyenangkan, akan terus tersimpan dalam memori seseorang dan pada waktunya ingin diulangi lagi. Dalam teori belajar hal ini disebut reinforcement theory, bahwa perilaku tertentu akan cenderung diperkuat atau diulangi bilamana diikuti oleh pemberian hadiah atau sesuatu yang bersifat menyenangkan. Bila keadaan seseorang sudah sampai pada level menyenangi judi, maka dia sudah memposisikan judi itu sebagai candu.

Judi adalah penyakit sosial, yang dampak pengiringnya dapat menggiring pelaku pada perilaku menyimpang, bahkan sampai pada tindakan kriminal. Hindari perilaku spekulasi dengan bermain judi. Dalam judi tidak ada unsur edukasi, yang ada justru menciptakan malapetaka bagi pelakunya. Judi itu candu dalam kehidupan, sekali mencoba maka akan menjadi ketagihan. Hindari bermain judi sebelum terjadi bencana sosial dalam bentuk rusaknya generasi penerus bangsa ini.

 

*) Penulis adalah dosen Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember.

Untuk mengenali fenomena judi, perlu dipahami bahwa bermain judi umumnya dipelajari oleh penjudi dari orang lain, dan hal ini menyebabkan pelaku melakukan perilaku menyimpang judi tersebut. Permainan judi online yang dilakukan oleh para remaja merupakan hasil dari sebuah interaksi sosial yang terjadi di antara sesama mereka. Intensitas kebersamaan antarremaja yang sering bertemu membuat hubungan mereka terjalin sangat akrab. Hal ini membuat proses interaksi yang terjadi di antara mereka berlangsung dengan baik, karena satu sama lain saling memberikan respons dalam perbincangan itu.

Interaksi sosial ibaratkan sebuah mata uang yang memiliki dua sisi, bisa berdampak positif dan bisa negatif. Dampak negatif dari interaksi sosial, salah satunya adalah terpengaruh dalam permainan judi online. Dalam proses interaksi yang terjadi di antara remaja terdapat proses tukar-menukar informasi yang bersifat negatif, karena informasi tersebut berisikan sesuatu yang lebih bersifat penyimpangan sosial.

Lingkungan sosial bisa pula sebagai pemicu perilaku berjudi, di antaranya adalah pengaruh dari teman sebaya (peer group) untuk berpartisipasi dalam perjudian dan strategi pemasaran yang dilakukan oleh pengelola perjudian. Pengaruh kelompok membuat sang calon penjudi merasa tidak enak jika tidak mengikuti apa yang dilakukan peer group-nya. Sementara, strategi pemasaran yang dilakukan para pengelola perjudian dengan selalu mengekspos para penjudi yang berhasil menang memberikan kesan pada calon penjudi bahwa kemenangan dalam perjudian sangat memungkinkan diperoleh, bahkan mudah dan dapat terjadi pada siapa saja.

Tingginya tingkat pengangguran sangat berpengaruh, terutama pada remaja untuk melakukan judi. Terbatasnya lapangan pekerjaan membuat mereka tidak memiliki kesempatan bekerja di sektor formal atau pekerjaan tetap lainnya. Semakin banyaknya pengangguran, maka akan semakin banyak pula terjadinya perilaku menyimpang, salah satunya yaitu perjudian. Kesulitan mendapatkan pekerjaan dan sulitnya memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhannya membuat mereka berusaha menempuh jalan pintas yaitu dengan berjudi.

Faktor belajar dan pengalaman memiliki efek yang besar terhadap perilaku berjudi, terutama menyangkut keinginan untuk terus berjudi. Apa yang pernah dipelajari dan ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang menyenangkan, akan terus tersimpan dalam memori seseorang dan pada waktunya ingin diulangi lagi. Dalam teori belajar hal ini disebut reinforcement theory, bahwa perilaku tertentu akan cenderung diperkuat atau diulangi bilamana diikuti oleh pemberian hadiah atau sesuatu yang bersifat menyenangkan. Bila keadaan seseorang sudah sampai pada level menyenangi judi, maka dia sudah memposisikan judi itu sebagai candu.

Judi adalah penyakit sosial, yang dampak pengiringnya dapat menggiring pelaku pada perilaku menyimpang, bahkan sampai pada tindakan kriminal. Hindari perilaku spekulasi dengan bermain judi. Dalam judi tidak ada unsur edukasi, yang ada justru menciptakan malapetaka bagi pelakunya. Judi itu candu dalam kehidupan, sekali mencoba maka akan menjadi ketagihan. Hindari bermain judi sebelum terjadi bencana sosial dalam bentuk rusaknya generasi penerus bangsa ini.

 

*) Penulis adalah dosen Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/