alexametrics
30.8 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Indonesia Minus Negarawan?

Mobile_AP_Rectangle 1

“Pertahankan rumah dan pekarangan kita sekalian.” (Jendral sudirman)

Pesan singkat seorang negarawan masa agresi militer Belanda puluhan tahun lalu, jika direlevansikan dengan masa sekarang, boleh jadi secara implisit terselip makna “Bangsa Indonesia harus selalu menjaga keutuhan NKRI”.

Dilihat dari sudut mana pun, Indonesia merupakan bangsa yang besar, terurai lengkap dengan sumber daya alamnya. Kearifan lokal, adat-istiadat yang kental, nilai kebersamaan, dan gotong royong adalah sederet gambaran atau sifat dari masyarakat Indonesia. Kita berada di tengah-tengah kelompok masyarakat yang kaya akan keberagamannya. Di tengah lautan perbedaan itu, para leluhur dan anak cucunya tetap dalam sebuah “harmoni kesatuan”. Mereka menghimpunkan diri demi merajut persatuan, itulah yang membuat negara ini masih ada, eksis dan berdiri kokoh hingga sekarang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tatkala berbicara Indonesia, negara yang berdiri di atas berbagai macam komponen, suasana heterogen memaksa para pemimpin bangsa kala itu merumuskan prinsip-prinsip dasar dalam menjalankan negara. Dengan semangat moderasi, lahirlah UUD NRI 1945, Pancasila, juga Bhinneka Tunggal Ika.

Selain prinsip, aktor (pemimpin) yang berintegritas wajib dimiliki untuk mengisi sendi-sendi bangsa ini. Demikian pula persoalan kompetensi, negara harus menghadirkan iklim meritokrasi dalam ruang demokrasi, agar sosok pemimpin yang muncul berdasar kemampuan (kapasitas) seperti apa yang dikemukakan Aristoteles dan Plato. Bukan berdasar hal-hal lain yang tidak diinginkan. Oleh karenanya, sistem tersebut harus dilaksanakan supaya birokrasi memiliki kinerja pelayanan publik yang mumpuni, yaitu birokrasi yang mampu membuat desain program yang lebih tepat sasaran dan memberikan hasil optimal untuk meminimalisasi problematika yang akan muncul.

Adalah sebuah kenyataan bahwa problematika yang dihadapi bangsa semakin hari semakin kompleks. Kalau beberapa dasawarsa lalu tantangan besar bagaimana menghadapi kavaleri, infanteri, atau sebut saja militer asing. Hari ini persoalan begitu rumit, soal ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan (ipoleksosbudhankam) dan sebagainya. Seorang pengamat politik Asia Tenggara, Hendrajit, menyampaikan jika Indonesia hari ini terperangkap dalam suasana asymmetric warfare, sebuah ruang di mana kolonialisasi sedang berjalan namun tidak terlihat secara kasat mata. Bangsa kolonial masuk tanpa pamit dan menyelinap ibarat makhluk halus. Semua persoalan itu membingkai kehidupan masyarakat kita sekarang, berat.

Maka dari itu, bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin sekaligus negarawan untuk menyikapi hal tersebut. Berbagai peristiwa hari ini yang tidak menguntungkan masyarakat setiap hari dipertontonkan melalui media massa, mulai dari persoalan kesehatan, ekonomi, penegakan hukum, infrastruktur, pelayanan publik, dan seterusnya yang menjadi polemik dalam masyarakat, hingga memunculkan pertanyaan

Adakah pemimpin sekaligus negarawan?

Sejarah mencatat, era sebelum kemerdekaan Indonesia banyak melahirkan negarawan, sebut saja HAMKA, di era ini pula muncul pemimpin seperti Sukarno, M. Natsir, Hatta, Bung Tomo, M. Husni Tamrin, Lafran Pane, dan lainnya. Dari sosok merekalah muncul istilah pemimpin pejuang. Dari mereka pula juga terlibat aktif menyatukan seluruh komponen bangsa dalam sebuah bangsa yang besar.

Sukarno-Hatta memang Terpampang paling jelas dalam dokumen proklamasi, mereka berdua berdiri di depan mikrofon memproklamasikan kemerdekaan. Tapi dibalik mereka berdua ada ratusan , bahkan ribuan orang perintis kemerdekaan yang berjuang lintas waktu hingga kita bisa merdeka.

- Advertisement -

“Pertahankan rumah dan pekarangan kita sekalian.” (Jendral sudirman)

Pesan singkat seorang negarawan masa agresi militer Belanda puluhan tahun lalu, jika direlevansikan dengan masa sekarang, boleh jadi secara implisit terselip makna “Bangsa Indonesia harus selalu menjaga keutuhan NKRI”.

Dilihat dari sudut mana pun, Indonesia merupakan bangsa yang besar, terurai lengkap dengan sumber daya alamnya. Kearifan lokal, adat-istiadat yang kental, nilai kebersamaan, dan gotong royong adalah sederet gambaran atau sifat dari masyarakat Indonesia. Kita berada di tengah-tengah kelompok masyarakat yang kaya akan keberagamannya. Di tengah lautan perbedaan itu, para leluhur dan anak cucunya tetap dalam sebuah “harmoni kesatuan”. Mereka menghimpunkan diri demi merajut persatuan, itulah yang membuat negara ini masih ada, eksis dan berdiri kokoh hingga sekarang.

Tatkala berbicara Indonesia, negara yang berdiri di atas berbagai macam komponen, suasana heterogen memaksa para pemimpin bangsa kala itu merumuskan prinsip-prinsip dasar dalam menjalankan negara. Dengan semangat moderasi, lahirlah UUD NRI 1945, Pancasila, juga Bhinneka Tunggal Ika.

Selain prinsip, aktor (pemimpin) yang berintegritas wajib dimiliki untuk mengisi sendi-sendi bangsa ini. Demikian pula persoalan kompetensi, negara harus menghadirkan iklim meritokrasi dalam ruang demokrasi, agar sosok pemimpin yang muncul berdasar kemampuan (kapasitas) seperti apa yang dikemukakan Aristoteles dan Plato. Bukan berdasar hal-hal lain yang tidak diinginkan. Oleh karenanya, sistem tersebut harus dilaksanakan supaya birokrasi memiliki kinerja pelayanan publik yang mumpuni, yaitu birokrasi yang mampu membuat desain program yang lebih tepat sasaran dan memberikan hasil optimal untuk meminimalisasi problematika yang akan muncul.

Adalah sebuah kenyataan bahwa problematika yang dihadapi bangsa semakin hari semakin kompleks. Kalau beberapa dasawarsa lalu tantangan besar bagaimana menghadapi kavaleri, infanteri, atau sebut saja militer asing. Hari ini persoalan begitu rumit, soal ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan (ipoleksosbudhankam) dan sebagainya. Seorang pengamat politik Asia Tenggara, Hendrajit, menyampaikan jika Indonesia hari ini terperangkap dalam suasana asymmetric warfare, sebuah ruang di mana kolonialisasi sedang berjalan namun tidak terlihat secara kasat mata. Bangsa kolonial masuk tanpa pamit dan menyelinap ibarat makhluk halus. Semua persoalan itu membingkai kehidupan masyarakat kita sekarang, berat.

Maka dari itu, bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin sekaligus negarawan untuk menyikapi hal tersebut. Berbagai peristiwa hari ini yang tidak menguntungkan masyarakat setiap hari dipertontonkan melalui media massa, mulai dari persoalan kesehatan, ekonomi, penegakan hukum, infrastruktur, pelayanan publik, dan seterusnya yang menjadi polemik dalam masyarakat, hingga memunculkan pertanyaan

Adakah pemimpin sekaligus negarawan?

Sejarah mencatat, era sebelum kemerdekaan Indonesia banyak melahirkan negarawan, sebut saja HAMKA, di era ini pula muncul pemimpin seperti Sukarno, M. Natsir, Hatta, Bung Tomo, M. Husni Tamrin, Lafran Pane, dan lainnya. Dari sosok merekalah muncul istilah pemimpin pejuang. Dari mereka pula juga terlibat aktif menyatukan seluruh komponen bangsa dalam sebuah bangsa yang besar.

Sukarno-Hatta memang Terpampang paling jelas dalam dokumen proklamasi, mereka berdua berdiri di depan mikrofon memproklamasikan kemerdekaan. Tapi dibalik mereka berdua ada ratusan , bahkan ribuan orang perintis kemerdekaan yang berjuang lintas waktu hingga kita bisa merdeka.

“Pertahankan rumah dan pekarangan kita sekalian.” (Jendral sudirman)

Pesan singkat seorang negarawan masa agresi militer Belanda puluhan tahun lalu, jika direlevansikan dengan masa sekarang, boleh jadi secara implisit terselip makna “Bangsa Indonesia harus selalu menjaga keutuhan NKRI”.

Dilihat dari sudut mana pun, Indonesia merupakan bangsa yang besar, terurai lengkap dengan sumber daya alamnya. Kearifan lokal, adat-istiadat yang kental, nilai kebersamaan, dan gotong royong adalah sederet gambaran atau sifat dari masyarakat Indonesia. Kita berada di tengah-tengah kelompok masyarakat yang kaya akan keberagamannya. Di tengah lautan perbedaan itu, para leluhur dan anak cucunya tetap dalam sebuah “harmoni kesatuan”. Mereka menghimpunkan diri demi merajut persatuan, itulah yang membuat negara ini masih ada, eksis dan berdiri kokoh hingga sekarang.

Tatkala berbicara Indonesia, negara yang berdiri di atas berbagai macam komponen, suasana heterogen memaksa para pemimpin bangsa kala itu merumuskan prinsip-prinsip dasar dalam menjalankan negara. Dengan semangat moderasi, lahirlah UUD NRI 1945, Pancasila, juga Bhinneka Tunggal Ika.

Selain prinsip, aktor (pemimpin) yang berintegritas wajib dimiliki untuk mengisi sendi-sendi bangsa ini. Demikian pula persoalan kompetensi, negara harus menghadirkan iklim meritokrasi dalam ruang demokrasi, agar sosok pemimpin yang muncul berdasar kemampuan (kapasitas) seperti apa yang dikemukakan Aristoteles dan Plato. Bukan berdasar hal-hal lain yang tidak diinginkan. Oleh karenanya, sistem tersebut harus dilaksanakan supaya birokrasi memiliki kinerja pelayanan publik yang mumpuni, yaitu birokrasi yang mampu membuat desain program yang lebih tepat sasaran dan memberikan hasil optimal untuk meminimalisasi problematika yang akan muncul.

Adalah sebuah kenyataan bahwa problematika yang dihadapi bangsa semakin hari semakin kompleks. Kalau beberapa dasawarsa lalu tantangan besar bagaimana menghadapi kavaleri, infanteri, atau sebut saja militer asing. Hari ini persoalan begitu rumit, soal ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan (ipoleksosbudhankam) dan sebagainya. Seorang pengamat politik Asia Tenggara, Hendrajit, menyampaikan jika Indonesia hari ini terperangkap dalam suasana asymmetric warfare, sebuah ruang di mana kolonialisasi sedang berjalan namun tidak terlihat secara kasat mata. Bangsa kolonial masuk tanpa pamit dan menyelinap ibarat makhluk halus. Semua persoalan itu membingkai kehidupan masyarakat kita sekarang, berat.

Maka dari itu, bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin sekaligus negarawan untuk menyikapi hal tersebut. Berbagai peristiwa hari ini yang tidak menguntungkan masyarakat setiap hari dipertontonkan melalui media massa, mulai dari persoalan kesehatan, ekonomi, penegakan hukum, infrastruktur, pelayanan publik, dan seterusnya yang menjadi polemik dalam masyarakat, hingga memunculkan pertanyaan

Adakah pemimpin sekaligus negarawan?

Sejarah mencatat, era sebelum kemerdekaan Indonesia banyak melahirkan negarawan, sebut saja HAMKA, di era ini pula muncul pemimpin seperti Sukarno, M. Natsir, Hatta, Bung Tomo, M. Husni Tamrin, Lafran Pane, dan lainnya. Dari sosok merekalah muncul istilah pemimpin pejuang. Dari mereka pula juga terlibat aktif menyatukan seluruh komponen bangsa dalam sebuah bangsa yang besar.

Sukarno-Hatta memang Terpampang paling jelas dalam dokumen proklamasi, mereka berdua berdiri di depan mikrofon memproklamasikan kemerdekaan. Tapi dibalik mereka berdua ada ratusan , bahkan ribuan orang perintis kemerdekaan yang berjuang lintas waktu hingga kita bisa merdeka.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/