alexametrics
29.6 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

Menggali Bung Karno

Mobile_AP_Rectangle 1

Juni adalah bulan Pancasila. Pada bulan Juni terdapat dua momentum historis tentang Pancasila. 1 Juni lahirnya Pancasila dan 21 Juni meninggalnya Sang Penggali Pancasila. Bung Karno. Peringatan Hari lahir Pancasila menjadi bagian penting di negeri ini. Sakral. Kalender pun dimerahkan. Dulu, sebagai wujud rasa cinta dan mengenang Sang Penggali, pada 21 Juni digelar kegiatan Haul Bung Karno. Kini kegiatan ritual adat semacam itu tak lagi terdengar. Haul Bung Karno menjadi asing.

Haul adalah peringatan atas kematian seseorang. Haul biasanya diadakan setahun sekali dengan tujuan mendoakan agar amal ibadah almarhum diterima Allah SWT. Demikian pula dengan Haul Bung Karno. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Haul Bung Karno tidak sekadar mendoakan. Dalam perspektif membangun nilai-nilai juang dan semangat kebangsaan, Haul Bung Karno merupakan wahana menggali, merawat, menumbuhkembangkan, melekatkan, internalisasi spirit sebagai entitas nilai. Karena itu di era kekinian dalam dialektika berbangsa dan bernegara dengan segala keterbatasannya, Haul Bung Karno 21 Juni adalah identik dengan giat bertema ‘Menggali Bung Karno’.

‘Menggali’ adalah kiasan yang digunakan Bung Karno. Menggali adalah aksi yang melibatkan bumi dan tubuh. Menggali Pancasila berarti dengan kucuran keringat menghadirkan nilai perekat hidup dan kehidupan. Kini, term ‘menggali’ ini menjadi urgen. Menggali Bung Karno. Menggali Sang penggali. Berarti menghadirkan kembali Bung Karno sebagai spirit di tengah potensi multipolarisasi kepentingan yang cenderung mengancam kelangsungan berbangsa.

Mobile_AP_Rectangle 2

Prihatin. Setiap saat media menayangkan narasi tabrakan kepentingan sebagai manifestasi ego yang menggerus harmoni persatuan dan kesatuan. Berita miskinnya keteladanan karena masyarakat kehilangan trust  pada pengambil keputusan. Kritik terhadap penguasa tak lagi dimaknai sebagai wujud rasa cinta dan memiliki. Arogansi kuasa terus merawat diri. Melenggang tanpa integritas  hingga dalam lingkup kecil daerah. Rakyat menjadi gamang. Hilang referensi menentukan arah. Nepotisme, kolusi dan korupsi terus mengadaptasikan diri menjadi entitas yang samar dan pejal terhadap kontrol. Sementara lembaga pendidikan tinggi rempong dengan kegiatan akreditasi. Hilang kesadaran akan fungsinya merawat generasi.

Problema di atas menciptakan panggung sehingga demokrasi menjadi seksi kembali. Demokrasi tak ubahnya menjadi penari di desa oligarki. Semangat demokrasi lahir kembali. Tumbuh kembang di jalan-jalan. Mencari format dan bentuknya sebagai gerakan kritis. Ada ‘Forum Konco Dewe (FKD)’ Jember dengan jargon ‘Selamatkan Jember’, termasuk Forum Lumajang. Gerakan-gerakan demokrasi itu memposisikan diri sebagai gerakan swadaya kontrol. Komunitas di dalamnya merepresentasikan akademisi, politisi, pengusaha, guru, budayawan, mahasiswa, agamawan, aktifis, relawan hingga pensiunan.

Forum-forum demokrasi ini kian mengental, muncul di berbagai kota dan kawasan sebagai kanal alternatif. Bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi referensi kebijakan. Menggalang kepercayaan dan menjelma menjadi rumah rakyat.

Para pegiat demokrasi itu tengah menggali. Menggali Bung Karno. Bung Karno telah hilang sebagai lentera. Dimensi spiritualitas Bung Karno tak lagi dimaknai sebagai nilai. Bung Karno kini tak lebih sebagai gambar. Dipajang dalam baliho guna mempersuasif publik untuk kepentingan elektabilitas dan komoditas politik transaksional. Bung Karno seolah milik satu golongan. Milik satu keluarga.

Bung Karno sejatinya adalah icon negeri. Bung Karno adalah Internasionalisasi Indonesia itu sendiri. Andaikata mungkin, ingin rasanya mengajak kembali Bung Karno. Dalam wisata berbangsa turun-kunjung di seantero detail negeri ini sambil berbincang dan ngopi soal : tiga periode jabatan presiden, penggalangan solidaritas kepala desa untuk kepentingan suksesi, pertarungan internal partai berebut Indonesia Satu, inkonsistensi MoU Helsinki yang membangun ketidakpercayaan kombatan GAM kini, Radikalisme, Intoleransi, Keabadian Pancasila dalam Konstitusi hingga Polemik Pengadaan Beras di Jember dan Problema Pasir Semeru yang tak kunjung usai.

- Advertisement -

Juni adalah bulan Pancasila. Pada bulan Juni terdapat dua momentum historis tentang Pancasila. 1 Juni lahirnya Pancasila dan 21 Juni meninggalnya Sang Penggali Pancasila. Bung Karno. Peringatan Hari lahir Pancasila menjadi bagian penting di negeri ini. Sakral. Kalender pun dimerahkan. Dulu, sebagai wujud rasa cinta dan mengenang Sang Penggali, pada 21 Juni digelar kegiatan Haul Bung Karno. Kini kegiatan ritual adat semacam itu tak lagi terdengar. Haul Bung Karno menjadi asing.

Haul adalah peringatan atas kematian seseorang. Haul biasanya diadakan setahun sekali dengan tujuan mendoakan agar amal ibadah almarhum diterima Allah SWT. Demikian pula dengan Haul Bung Karno. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Haul Bung Karno tidak sekadar mendoakan. Dalam perspektif membangun nilai-nilai juang dan semangat kebangsaan, Haul Bung Karno merupakan wahana menggali, merawat, menumbuhkembangkan, melekatkan, internalisasi spirit sebagai entitas nilai. Karena itu di era kekinian dalam dialektika berbangsa dan bernegara dengan segala keterbatasannya, Haul Bung Karno 21 Juni adalah identik dengan giat bertema ‘Menggali Bung Karno’.

‘Menggali’ adalah kiasan yang digunakan Bung Karno. Menggali adalah aksi yang melibatkan bumi dan tubuh. Menggali Pancasila berarti dengan kucuran keringat menghadirkan nilai perekat hidup dan kehidupan. Kini, term ‘menggali’ ini menjadi urgen. Menggali Bung Karno. Menggali Sang penggali. Berarti menghadirkan kembali Bung Karno sebagai spirit di tengah potensi multipolarisasi kepentingan yang cenderung mengancam kelangsungan berbangsa.

Prihatin. Setiap saat media menayangkan narasi tabrakan kepentingan sebagai manifestasi ego yang menggerus harmoni persatuan dan kesatuan. Berita miskinnya keteladanan karena masyarakat kehilangan trust  pada pengambil keputusan. Kritik terhadap penguasa tak lagi dimaknai sebagai wujud rasa cinta dan memiliki. Arogansi kuasa terus merawat diri. Melenggang tanpa integritas  hingga dalam lingkup kecil daerah. Rakyat menjadi gamang. Hilang referensi menentukan arah. Nepotisme, kolusi dan korupsi terus mengadaptasikan diri menjadi entitas yang samar dan pejal terhadap kontrol. Sementara lembaga pendidikan tinggi rempong dengan kegiatan akreditasi. Hilang kesadaran akan fungsinya merawat generasi.

Problema di atas menciptakan panggung sehingga demokrasi menjadi seksi kembali. Demokrasi tak ubahnya menjadi penari di desa oligarki. Semangat demokrasi lahir kembali. Tumbuh kembang di jalan-jalan. Mencari format dan bentuknya sebagai gerakan kritis. Ada ‘Forum Konco Dewe (FKD)’ Jember dengan jargon ‘Selamatkan Jember’, termasuk Forum Lumajang. Gerakan-gerakan demokrasi itu memposisikan diri sebagai gerakan swadaya kontrol. Komunitas di dalamnya merepresentasikan akademisi, politisi, pengusaha, guru, budayawan, mahasiswa, agamawan, aktifis, relawan hingga pensiunan.

Forum-forum demokrasi ini kian mengental, muncul di berbagai kota dan kawasan sebagai kanal alternatif. Bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi referensi kebijakan. Menggalang kepercayaan dan menjelma menjadi rumah rakyat.

Para pegiat demokrasi itu tengah menggali. Menggali Bung Karno. Bung Karno telah hilang sebagai lentera. Dimensi spiritualitas Bung Karno tak lagi dimaknai sebagai nilai. Bung Karno kini tak lebih sebagai gambar. Dipajang dalam baliho guna mempersuasif publik untuk kepentingan elektabilitas dan komoditas politik transaksional. Bung Karno seolah milik satu golongan. Milik satu keluarga.

Bung Karno sejatinya adalah icon negeri. Bung Karno adalah Internasionalisasi Indonesia itu sendiri. Andaikata mungkin, ingin rasanya mengajak kembali Bung Karno. Dalam wisata berbangsa turun-kunjung di seantero detail negeri ini sambil berbincang dan ngopi soal : tiga periode jabatan presiden, penggalangan solidaritas kepala desa untuk kepentingan suksesi, pertarungan internal partai berebut Indonesia Satu, inkonsistensi MoU Helsinki yang membangun ketidakpercayaan kombatan GAM kini, Radikalisme, Intoleransi, Keabadian Pancasila dalam Konstitusi hingga Polemik Pengadaan Beras di Jember dan Problema Pasir Semeru yang tak kunjung usai.

Juni adalah bulan Pancasila. Pada bulan Juni terdapat dua momentum historis tentang Pancasila. 1 Juni lahirnya Pancasila dan 21 Juni meninggalnya Sang Penggali Pancasila. Bung Karno. Peringatan Hari lahir Pancasila menjadi bagian penting di negeri ini. Sakral. Kalender pun dimerahkan. Dulu, sebagai wujud rasa cinta dan mengenang Sang Penggali, pada 21 Juni digelar kegiatan Haul Bung Karno. Kini kegiatan ritual adat semacam itu tak lagi terdengar. Haul Bung Karno menjadi asing.

Haul adalah peringatan atas kematian seseorang. Haul biasanya diadakan setahun sekali dengan tujuan mendoakan agar amal ibadah almarhum diterima Allah SWT. Demikian pula dengan Haul Bung Karno. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Haul Bung Karno tidak sekadar mendoakan. Dalam perspektif membangun nilai-nilai juang dan semangat kebangsaan, Haul Bung Karno merupakan wahana menggali, merawat, menumbuhkembangkan, melekatkan, internalisasi spirit sebagai entitas nilai. Karena itu di era kekinian dalam dialektika berbangsa dan bernegara dengan segala keterbatasannya, Haul Bung Karno 21 Juni adalah identik dengan giat bertema ‘Menggali Bung Karno’.

‘Menggali’ adalah kiasan yang digunakan Bung Karno. Menggali adalah aksi yang melibatkan bumi dan tubuh. Menggali Pancasila berarti dengan kucuran keringat menghadirkan nilai perekat hidup dan kehidupan. Kini, term ‘menggali’ ini menjadi urgen. Menggali Bung Karno. Menggali Sang penggali. Berarti menghadirkan kembali Bung Karno sebagai spirit di tengah potensi multipolarisasi kepentingan yang cenderung mengancam kelangsungan berbangsa.

Prihatin. Setiap saat media menayangkan narasi tabrakan kepentingan sebagai manifestasi ego yang menggerus harmoni persatuan dan kesatuan. Berita miskinnya keteladanan karena masyarakat kehilangan trust  pada pengambil keputusan. Kritik terhadap penguasa tak lagi dimaknai sebagai wujud rasa cinta dan memiliki. Arogansi kuasa terus merawat diri. Melenggang tanpa integritas  hingga dalam lingkup kecil daerah. Rakyat menjadi gamang. Hilang referensi menentukan arah. Nepotisme, kolusi dan korupsi terus mengadaptasikan diri menjadi entitas yang samar dan pejal terhadap kontrol. Sementara lembaga pendidikan tinggi rempong dengan kegiatan akreditasi. Hilang kesadaran akan fungsinya merawat generasi.

Problema di atas menciptakan panggung sehingga demokrasi menjadi seksi kembali. Demokrasi tak ubahnya menjadi penari di desa oligarki. Semangat demokrasi lahir kembali. Tumbuh kembang di jalan-jalan. Mencari format dan bentuknya sebagai gerakan kritis. Ada ‘Forum Konco Dewe (FKD)’ Jember dengan jargon ‘Selamatkan Jember’, termasuk Forum Lumajang. Gerakan-gerakan demokrasi itu memposisikan diri sebagai gerakan swadaya kontrol. Komunitas di dalamnya merepresentasikan akademisi, politisi, pengusaha, guru, budayawan, mahasiswa, agamawan, aktifis, relawan hingga pensiunan.

Forum-forum demokrasi ini kian mengental, muncul di berbagai kota dan kawasan sebagai kanal alternatif. Bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi referensi kebijakan. Menggalang kepercayaan dan menjelma menjadi rumah rakyat.

Para pegiat demokrasi itu tengah menggali. Menggali Bung Karno. Bung Karno telah hilang sebagai lentera. Dimensi spiritualitas Bung Karno tak lagi dimaknai sebagai nilai. Bung Karno kini tak lebih sebagai gambar. Dipajang dalam baliho guna mempersuasif publik untuk kepentingan elektabilitas dan komoditas politik transaksional. Bung Karno seolah milik satu golongan. Milik satu keluarga.

Bung Karno sejatinya adalah icon negeri. Bung Karno adalah Internasionalisasi Indonesia itu sendiri. Andaikata mungkin, ingin rasanya mengajak kembali Bung Karno. Dalam wisata berbangsa turun-kunjung di seantero detail negeri ini sambil berbincang dan ngopi soal : tiga periode jabatan presiden, penggalangan solidaritas kepala desa untuk kepentingan suksesi, pertarungan internal partai berebut Indonesia Satu, inkonsistensi MoU Helsinki yang membangun ketidakpercayaan kombatan GAM kini, Radikalisme, Intoleransi, Keabadian Pancasila dalam Konstitusi hingga Polemik Pengadaan Beras di Jember dan Problema Pasir Semeru yang tak kunjung usai.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/