alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Invest in Our Planet, Bijak Memilih Bungkus dan Kemasan Makanan

Mobile_AP_Rectangle 1

Invest in Our Planet” atau “investasi di planet kita” menjadi tema pada peringatan hari bumi pada 22 April 2022 lalu. Namun, tema itu sejatinya juga diresapi di kehidupan sehari-hari dan bila perlu dilakukan setiap hari.

Dalam menyajikan makanan, kita tidak bisa lepas dengan wadah atau pembungkus makanan. Terutama jika makanan tersebut untuk diberikan kepada orang lain atau dikonsumsi selama perjalanan. Wadah makanan adalah tempat yang digunakan untuk menyajikan makanan.

Pembungkus makanan atau kemasan makanan adalah bungkus pelindung makanan (Kamus Besar Bahasa Indonesia) atau material untuk membungkus, menutup untuk melindungi makanan sebelum dijual.

Mobile_AP_Rectangle 2

Masyarakat biasa menggunakan wadah atau kemasan makanan berupa kantong plastik/ styrofoam sekali pakai, kardus, kertas pembungkus, daun pisang, bambu (besek), dll. Plastik sekali pakai atau styrofoam adalah wadah yang paling sering digunakan oleh masyarakat karena dianggap kuat, tahan lama, tidak bocor, dan yang paling utama adalah karena lebih praktis, di mana setelah aktivitas makan atau minum wadah ini bisa langsung dibuang ke tempat sampah. Aktivitas ini jika tidak terkendali dengan baik maka dapat berkontribusi meningkatkan jumlah timbulan sampah. Semakin sering kita menggunakan maka semakin banyak timbulan sampah yang dihasilkan karena sampah jenis ini sulit terurai di lingkungan.

Styrofoam merupakan plastik nomor enam dalam klasifikasi plastik, yaitu polystyrene. Plastik dan styrofoam merupakan sampah yang sulit terurai di lingkungan. Hasil penelitian Cordova dan Nurhati (2019) menunjukkan data bahwa 59 persen sampah plastik yang mengalir ke Teluk Jakarta adalah styrofoam yang berupa wadah makanan dan bungkus alat elektronik. Dalam penelitian Fitidarini dan Damanhuri (2011), sampah styrofoam yang tertimbun di TPA Sarimukti diperkirakan sudah mencapai 20,185 ton per bulan.

Saat ini, timbulan sampah plastik terus meningkat. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2020 volume sampah plastik mencapai 6,8 juta ton (National Plastic Action Partnership), dan meningkat menjadi 11,6 juta ton pada tahun 2021 (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2021). Data Greenpeace (2021) juga menunjukkan bahwa kemasan makanan berupa plastik mendominasi sampah di masyarakat, di mana diproyeksikan akan terus meningkat jika tidak ada upaya signifikan untuk mengendalikannya. Sampah wadah makanan dan kemasan makanan sekali pakai ini jika tidak terkelola akan menumpuk dan selanjutnya akan berpotensi untuk mencemari lingkungan.

Gaya hidup atau lifestyle yang serba ingin praktis merupakan salah satu faktor yang berperan pada pemilihan dan penggunaan wadah/kemasan makanan sekali pakai. Namun, sering kali gaya hidup yang ingin serba praktis ini tidak diimbangi dengan perhatian yang cukup terhadap lingkungan yang menyokong kehidupan kita. Alam yang tidak seimbang oleh karena menerima beban sampah dan bahan cemaran lingkungan yang berlebihan akan memberikan dampak terhadap kesehatan manusia.

Plastik dan styrofoam dapat masuk ke tubuh manusia bersamaan dengan makanan yang kita konsumsi (saluran pencernaan), selain juga dapat masuk lewat saluran pernapasan melalui uap karena panas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa turunan plastik dapat masuk ke tubuh manusia dalam bentuk ukuran yang kecil yaitu berupa mikroplastik dan nanoplastik. Partikel tersebut berada dalam tubuh organisme dan dapat terakumulasi melalui rantai makanan. Dari beberapa hasil penelitian, senyawa plastik yaitu polypropylene (PP) dan polyethylene (PE) ditemukan berbagai biota perairan seperti ikan, kerang, kepiting, dan lain-lain (SW Sandra dan AD Radityaningrum, 2021; Riba, 2021; Leslie et al 2022 ), pun pada feses dan darah manusia. Monomer styrene ini diklasifikasikan sebagai bahan pemicu kanker (International Agency Research on Cancer, class B2) dan dapat mengganggu kestabilan hormon (Date K, et al 2002). Untuk itu, kita perlu bijak dalam memilih dan menggunakan wadah dan kemasan makanan sebagai upaya untuk meminimalkan masuknya senyawa kimia styrene ke dalam tubuh yang dapat berefek negatif bagi kesehatan.

- Advertisement -

Invest in Our Planet” atau “investasi di planet kita” menjadi tema pada peringatan hari bumi pada 22 April 2022 lalu. Namun, tema itu sejatinya juga diresapi di kehidupan sehari-hari dan bila perlu dilakukan setiap hari.

Dalam menyajikan makanan, kita tidak bisa lepas dengan wadah atau pembungkus makanan. Terutama jika makanan tersebut untuk diberikan kepada orang lain atau dikonsumsi selama perjalanan. Wadah makanan adalah tempat yang digunakan untuk menyajikan makanan.

Pembungkus makanan atau kemasan makanan adalah bungkus pelindung makanan (Kamus Besar Bahasa Indonesia) atau material untuk membungkus, menutup untuk melindungi makanan sebelum dijual.

Masyarakat biasa menggunakan wadah atau kemasan makanan berupa kantong plastik/ styrofoam sekali pakai, kardus, kertas pembungkus, daun pisang, bambu (besek), dll. Plastik sekali pakai atau styrofoam adalah wadah yang paling sering digunakan oleh masyarakat karena dianggap kuat, tahan lama, tidak bocor, dan yang paling utama adalah karena lebih praktis, di mana setelah aktivitas makan atau minum wadah ini bisa langsung dibuang ke tempat sampah. Aktivitas ini jika tidak terkendali dengan baik maka dapat berkontribusi meningkatkan jumlah timbulan sampah. Semakin sering kita menggunakan maka semakin banyak timbulan sampah yang dihasilkan karena sampah jenis ini sulit terurai di lingkungan.

Styrofoam merupakan plastik nomor enam dalam klasifikasi plastik, yaitu polystyrene. Plastik dan styrofoam merupakan sampah yang sulit terurai di lingkungan. Hasil penelitian Cordova dan Nurhati (2019) menunjukkan data bahwa 59 persen sampah plastik yang mengalir ke Teluk Jakarta adalah styrofoam yang berupa wadah makanan dan bungkus alat elektronik. Dalam penelitian Fitidarini dan Damanhuri (2011), sampah styrofoam yang tertimbun di TPA Sarimukti diperkirakan sudah mencapai 20,185 ton per bulan.

Saat ini, timbulan sampah plastik terus meningkat. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2020 volume sampah plastik mencapai 6,8 juta ton (National Plastic Action Partnership), dan meningkat menjadi 11,6 juta ton pada tahun 2021 (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2021). Data Greenpeace (2021) juga menunjukkan bahwa kemasan makanan berupa plastik mendominasi sampah di masyarakat, di mana diproyeksikan akan terus meningkat jika tidak ada upaya signifikan untuk mengendalikannya. Sampah wadah makanan dan kemasan makanan sekali pakai ini jika tidak terkelola akan menumpuk dan selanjutnya akan berpotensi untuk mencemari lingkungan.

Gaya hidup atau lifestyle yang serba ingin praktis merupakan salah satu faktor yang berperan pada pemilihan dan penggunaan wadah/kemasan makanan sekali pakai. Namun, sering kali gaya hidup yang ingin serba praktis ini tidak diimbangi dengan perhatian yang cukup terhadap lingkungan yang menyokong kehidupan kita. Alam yang tidak seimbang oleh karena menerima beban sampah dan bahan cemaran lingkungan yang berlebihan akan memberikan dampak terhadap kesehatan manusia.

Plastik dan styrofoam dapat masuk ke tubuh manusia bersamaan dengan makanan yang kita konsumsi (saluran pencernaan), selain juga dapat masuk lewat saluran pernapasan melalui uap karena panas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa turunan plastik dapat masuk ke tubuh manusia dalam bentuk ukuran yang kecil yaitu berupa mikroplastik dan nanoplastik. Partikel tersebut berada dalam tubuh organisme dan dapat terakumulasi melalui rantai makanan. Dari beberapa hasil penelitian, senyawa plastik yaitu polypropylene (PP) dan polyethylene (PE) ditemukan berbagai biota perairan seperti ikan, kerang, kepiting, dan lain-lain (SW Sandra dan AD Radityaningrum, 2021; Riba, 2021; Leslie et al 2022 ), pun pada feses dan darah manusia. Monomer styrene ini diklasifikasikan sebagai bahan pemicu kanker (International Agency Research on Cancer, class B2) dan dapat mengganggu kestabilan hormon (Date K, et al 2002). Untuk itu, kita perlu bijak dalam memilih dan menggunakan wadah dan kemasan makanan sebagai upaya untuk meminimalkan masuknya senyawa kimia styrene ke dalam tubuh yang dapat berefek negatif bagi kesehatan.

Invest in Our Planet” atau “investasi di planet kita” menjadi tema pada peringatan hari bumi pada 22 April 2022 lalu. Namun, tema itu sejatinya juga diresapi di kehidupan sehari-hari dan bila perlu dilakukan setiap hari.

Dalam menyajikan makanan, kita tidak bisa lepas dengan wadah atau pembungkus makanan. Terutama jika makanan tersebut untuk diberikan kepada orang lain atau dikonsumsi selama perjalanan. Wadah makanan adalah tempat yang digunakan untuk menyajikan makanan.

Pembungkus makanan atau kemasan makanan adalah bungkus pelindung makanan (Kamus Besar Bahasa Indonesia) atau material untuk membungkus, menutup untuk melindungi makanan sebelum dijual.

Masyarakat biasa menggunakan wadah atau kemasan makanan berupa kantong plastik/ styrofoam sekali pakai, kardus, kertas pembungkus, daun pisang, bambu (besek), dll. Plastik sekali pakai atau styrofoam adalah wadah yang paling sering digunakan oleh masyarakat karena dianggap kuat, tahan lama, tidak bocor, dan yang paling utama adalah karena lebih praktis, di mana setelah aktivitas makan atau minum wadah ini bisa langsung dibuang ke tempat sampah. Aktivitas ini jika tidak terkendali dengan baik maka dapat berkontribusi meningkatkan jumlah timbulan sampah. Semakin sering kita menggunakan maka semakin banyak timbulan sampah yang dihasilkan karena sampah jenis ini sulit terurai di lingkungan.

Styrofoam merupakan plastik nomor enam dalam klasifikasi plastik, yaitu polystyrene. Plastik dan styrofoam merupakan sampah yang sulit terurai di lingkungan. Hasil penelitian Cordova dan Nurhati (2019) menunjukkan data bahwa 59 persen sampah plastik yang mengalir ke Teluk Jakarta adalah styrofoam yang berupa wadah makanan dan bungkus alat elektronik. Dalam penelitian Fitidarini dan Damanhuri (2011), sampah styrofoam yang tertimbun di TPA Sarimukti diperkirakan sudah mencapai 20,185 ton per bulan.

Saat ini, timbulan sampah plastik terus meningkat. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2020 volume sampah plastik mencapai 6,8 juta ton (National Plastic Action Partnership), dan meningkat menjadi 11,6 juta ton pada tahun 2021 (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2021). Data Greenpeace (2021) juga menunjukkan bahwa kemasan makanan berupa plastik mendominasi sampah di masyarakat, di mana diproyeksikan akan terus meningkat jika tidak ada upaya signifikan untuk mengendalikannya. Sampah wadah makanan dan kemasan makanan sekali pakai ini jika tidak terkelola akan menumpuk dan selanjutnya akan berpotensi untuk mencemari lingkungan.

Gaya hidup atau lifestyle yang serba ingin praktis merupakan salah satu faktor yang berperan pada pemilihan dan penggunaan wadah/kemasan makanan sekali pakai. Namun, sering kali gaya hidup yang ingin serba praktis ini tidak diimbangi dengan perhatian yang cukup terhadap lingkungan yang menyokong kehidupan kita. Alam yang tidak seimbang oleh karena menerima beban sampah dan bahan cemaran lingkungan yang berlebihan akan memberikan dampak terhadap kesehatan manusia.

Plastik dan styrofoam dapat masuk ke tubuh manusia bersamaan dengan makanan yang kita konsumsi (saluran pencernaan), selain juga dapat masuk lewat saluran pernapasan melalui uap karena panas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa turunan plastik dapat masuk ke tubuh manusia dalam bentuk ukuran yang kecil yaitu berupa mikroplastik dan nanoplastik. Partikel tersebut berada dalam tubuh organisme dan dapat terakumulasi melalui rantai makanan. Dari beberapa hasil penelitian, senyawa plastik yaitu polypropylene (PP) dan polyethylene (PE) ditemukan berbagai biota perairan seperti ikan, kerang, kepiting, dan lain-lain (SW Sandra dan AD Radityaningrum, 2021; Riba, 2021; Leslie et al 2022 ), pun pada feses dan darah manusia. Monomer styrene ini diklasifikasikan sebagai bahan pemicu kanker (International Agency Research on Cancer, class B2) dan dapat mengganggu kestabilan hormon (Date K, et al 2002). Untuk itu, kita perlu bijak dalam memilih dan menggunakan wadah dan kemasan makanan sebagai upaya untuk meminimalkan masuknya senyawa kimia styrene ke dalam tubuh yang dapat berefek negatif bagi kesehatan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/