Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Lalu strategi apa yang perlu disiapkan perpustakaan dalam mewujudkan inklusi sosial perpustakaan. Dalam kaitan dengan tulisan ini, penulis mengadaptasi pendapat yang dikemukakan oleh UTTA (2019) menyampaikan lima hal yang bisa membangun kemandirian, di mana hal ini dapat diadaptasikan ke perpustakaan. Pertama; perpustakaan harus mampu mengidentifikasi kebutuhan belajar masyarakatnya, dengan mengetahui kebutuhan belajar masyarakat maka perpustakaan dapat mengetahui sumber-sumber informasi apa yang harus disiapkan kepada pembacanya misalnya perpustakaan yang berada di komunitas masyarakat nelayan maka sumber informasi yang dominan tersedia adalah tentang pengelolaan dan pengolahan hasil tangkapan ikan. Kedua; perpustakaan harus dapat menerapkan tujuan yang mengacu kepada kebutuhan belajar pembacanya, ini bermakna bahwa perpustakaan mempunyai tahapan rencana strategis dan operasional yang mengacu kepada kesesuaian kebutuhan informasi pembaca yang dilayaninya. Ketiga; perpustakaan mampu mengidentifikasi sumber belajar yang tepat bagi pembacanya ini dapat dilakukan perpustakaan dengan menyediakan informasi yang sesuai dengan latar belakang kebutuhan pembacanya maka alokasi pembiayaan yang dilakukan dapat tepat sasaran dan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Keempat; perpustakaan dapat memberikan alternatif strategi pembelajaran yang sesuai dengan pembacanya ke sumber-sumber informasi yang tersedia di perpustakaan, karena setiap keragaman informasi yang ada di perpustakaan mempunyai pendekatan akses yang berbeda pula, dengan kata lain koleksi perpustakaan seyogianya beragam tidak terbatas koleksi teks saja akan tetapi digabungkan dengan koleksi audio-visual dan media informasi interaktif lainnya. Kelima; perpustakaan harus melakukan evaluasi terhadap beragam sumber informasi yang dimiliki apakah mempunyai dampak signifikan kepada peningkatan kemandirian bahkan kualitas hidup pembacanya.

Ringkasnya, peran perpustakaan dalam menyediakan sumber informasi harus dibarengi dengan membimbing pembacanya untuk dapat mengaplikasikan apa yang telah dibaca. Perpustakaan berbasis inklusi sosial yang digaungkan dapat berhasil dijalankan memerlukan konsistensi pemangku kepentingan serta menyadari bahwa perpustakaan merupakan organisasi yang harus bertumbuh sebagai organisasi pelayanan yang dapat membangun karakter manusia unggul. Dengan kata lain, peran perpustakaan bukan hanya menyediakan bahan bacaan semata akan tetapi bagaimana pembacanya dapat memahami konteks dari bahan bacaan. Harapannya, dengan memahami konteks bahan bacaan dapat melahirkan ide-ide yang membangun kemandirian serta inovasi pembacanya, hingga mampu memberikan manfaat bukan saja bagi dirinya akan tetapi juga bagi orang lain dan pada akhirnya dapat terbangun peradaban bangsa yang maju. Semoga.

 

*) Penulis adalah pustakawan Universitas Jember.