alexametrics
27.9 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Penguatan Kedelai Nasional

Mobile_AP_Rectangle 1

Gonjang-ganjing akibat meroketnya harga kedelai akan segera mereda. Hal ini dapat dilihat dari rencana Bulog yang akan mengimpor 2,5 juta ton kedelai dalam waktu dekat. Sebagaimana disampaikan Dirut Perum Bulog pada saat mengunjungi kompleks pergudangan modern Perum Bulog bersama Wapres Ma’aruf Amin di kawasan Kepala Gading, Jakarta, pada tanggal 11/3/2022.

Untuk jangka pendek, rencana impor kedelai oleh Perum Bulog merupakan obat mujarab untuk menekan harga kedelai. Meskipun dalam hati kecil kita sangat miris. Betapa negara kita sangat rentan terhadap kerawanan pangan. Indonesia yang dikenal gemah ripah lohjinawi, tidak berdaya mencukupi kebutuhan kedelai dalam negeri.

Jika kita cermati tren impor kedelai meningkat signifikan dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2010 impor kedelai Indonesia sebanyak 1,74 juta ton dan pada tahun 2019 naik menjadi 2,67 juta ton. Artinya dalam 10 tahun terakhir kenaikan impor kedelai kita mencapai 0,93 Juta ton.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di sisi lain produksi kedelai dalam negeri terus mengalami penurunan. Hal ini terlihat dalam target produksi kedelai yang ditetapkan oleh pemerintah. Dalam dokumen nota keuangan tahun anggaran 2021, target produksi kedelai dipatok sebesar 420.000 ton. Namun pada tahun ini, produksi diperkirakan turun menjadi 320.000 ton. Padahal permintaan kedelai dalam negeri setiap tahun mengalami peningkatan. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan dan peningkatan pendidikan masyarakat Indonesia. Pemanfaatan kedelai tidak hanya terbatas pada pembuatan tempe dan tahu serta produk turunannya. Seperti keripik tempe dan kerupuk tahu. Kedelai juga merupakan bahan baku pembuatan kecap dan susu kedelai.

Yang menjadi pertanyaan mengapa pertumbuhan pasar kedelai tidak mendapatkan respon positif dari petani. Mengapa luas tanam kedelai justru mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Padahal kedelai merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang sangat penting di Indonesia. Posisinya nomor tiga setelah padi dan jagung. Kebutuhan kedelai nasional berkisar 3 s.d. 3,5 juta ton per tahun. Sedangkan produksi kedelai dalam negeri hanya sekitar 400-900 ribu ton.

 

Permasalahan kedelai dalam negeri

Untuk mengembangkan kedelai nasional, tidak ada salahnya melihat pengembangan kedelai di luar negeri. Khususnya Amerika Serikat yang merupakan pemasok kedelai terbesar di Indonesia. Ada perbedaan yang mencolok antara produktivitas kedelai nasional jika dibandingkan dengan produktivitas kedelai di Amerika Serikat.

Di Indonesia, produktivitas kedelai hanya berkisar 1,5–2 ton per hektare. Sementara di Amerika Serikat, produktivitas kedelai mencapai 4 ton per hektare. Padahal kondisi alam Indonesia dan Amerika Serikat di mana kedelai dibudidayakan relatif sama. Dari pengalaman di lapangan dan beberapa literatur, bahwa potensi produktivitas kedelai di Indonesia masih bisa ditingkatkan menjadi 2–3 ton per hektare.

Sejarah pengembangan kedelai di Amerika Serikat dimulai pada tahun 1950-an. Waktu itu produktivitas kedelai di Amerika Serikat berkisar 1,0–1,5 ton per hektare. Namun, dengan adanya riset dan penyuluhan tentang pengembangan kedelai secara terpadu, maka produktivitas kedelai di Amerika Serikat terus mengalami peningkatan. Sampai akhirnya produktivitasnya mencapai 4 ton per hektare seperti saat ini.

- Advertisement -

Gonjang-ganjing akibat meroketnya harga kedelai akan segera mereda. Hal ini dapat dilihat dari rencana Bulog yang akan mengimpor 2,5 juta ton kedelai dalam waktu dekat. Sebagaimana disampaikan Dirut Perum Bulog pada saat mengunjungi kompleks pergudangan modern Perum Bulog bersama Wapres Ma’aruf Amin di kawasan Kepala Gading, Jakarta, pada tanggal 11/3/2022.

Untuk jangka pendek, rencana impor kedelai oleh Perum Bulog merupakan obat mujarab untuk menekan harga kedelai. Meskipun dalam hati kecil kita sangat miris. Betapa negara kita sangat rentan terhadap kerawanan pangan. Indonesia yang dikenal gemah ripah lohjinawi, tidak berdaya mencukupi kebutuhan kedelai dalam negeri.

Jika kita cermati tren impor kedelai meningkat signifikan dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2010 impor kedelai Indonesia sebanyak 1,74 juta ton dan pada tahun 2019 naik menjadi 2,67 juta ton. Artinya dalam 10 tahun terakhir kenaikan impor kedelai kita mencapai 0,93 Juta ton.

Di sisi lain produksi kedelai dalam negeri terus mengalami penurunan. Hal ini terlihat dalam target produksi kedelai yang ditetapkan oleh pemerintah. Dalam dokumen nota keuangan tahun anggaran 2021, target produksi kedelai dipatok sebesar 420.000 ton. Namun pada tahun ini, produksi diperkirakan turun menjadi 320.000 ton. Padahal permintaan kedelai dalam negeri setiap tahun mengalami peningkatan. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan dan peningkatan pendidikan masyarakat Indonesia. Pemanfaatan kedelai tidak hanya terbatas pada pembuatan tempe dan tahu serta produk turunannya. Seperti keripik tempe dan kerupuk tahu. Kedelai juga merupakan bahan baku pembuatan kecap dan susu kedelai.

Yang menjadi pertanyaan mengapa pertumbuhan pasar kedelai tidak mendapatkan respon positif dari petani. Mengapa luas tanam kedelai justru mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Padahal kedelai merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang sangat penting di Indonesia. Posisinya nomor tiga setelah padi dan jagung. Kebutuhan kedelai nasional berkisar 3 s.d. 3,5 juta ton per tahun. Sedangkan produksi kedelai dalam negeri hanya sekitar 400-900 ribu ton.

 

Permasalahan kedelai dalam negeri

Untuk mengembangkan kedelai nasional, tidak ada salahnya melihat pengembangan kedelai di luar negeri. Khususnya Amerika Serikat yang merupakan pemasok kedelai terbesar di Indonesia. Ada perbedaan yang mencolok antara produktivitas kedelai nasional jika dibandingkan dengan produktivitas kedelai di Amerika Serikat.

Di Indonesia, produktivitas kedelai hanya berkisar 1,5–2 ton per hektare. Sementara di Amerika Serikat, produktivitas kedelai mencapai 4 ton per hektare. Padahal kondisi alam Indonesia dan Amerika Serikat di mana kedelai dibudidayakan relatif sama. Dari pengalaman di lapangan dan beberapa literatur, bahwa potensi produktivitas kedelai di Indonesia masih bisa ditingkatkan menjadi 2–3 ton per hektare.

Sejarah pengembangan kedelai di Amerika Serikat dimulai pada tahun 1950-an. Waktu itu produktivitas kedelai di Amerika Serikat berkisar 1,0–1,5 ton per hektare. Namun, dengan adanya riset dan penyuluhan tentang pengembangan kedelai secara terpadu, maka produktivitas kedelai di Amerika Serikat terus mengalami peningkatan. Sampai akhirnya produktivitasnya mencapai 4 ton per hektare seperti saat ini.

Gonjang-ganjing akibat meroketnya harga kedelai akan segera mereda. Hal ini dapat dilihat dari rencana Bulog yang akan mengimpor 2,5 juta ton kedelai dalam waktu dekat. Sebagaimana disampaikan Dirut Perum Bulog pada saat mengunjungi kompleks pergudangan modern Perum Bulog bersama Wapres Ma’aruf Amin di kawasan Kepala Gading, Jakarta, pada tanggal 11/3/2022.

Untuk jangka pendek, rencana impor kedelai oleh Perum Bulog merupakan obat mujarab untuk menekan harga kedelai. Meskipun dalam hati kecil kita sangat miris. Betapa negara kita sangat rentan terhadap kerawanan pangan. Indonesia yang dikenal gemah ripah lohjinawi, tidak berdaya mencukupi kebutuhan kedelai dalam negeri.

Jika kita cermati tren impor kedelai meningkat signifikan dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2010 impor kedelai Indonesia sebanyak 1,74 juta ton dan pada tahun 2019 naik menjadi 2,67 juta ton. Artinya dalam 10 tahun terakhir kenaikan impor kedelai kita mencapai 0,93 Juta ton.

Di sisi lain produksi kedelai dalam negeri terus mengalami penurunan. Hal ini terlihat dalam target produksi kedelai yang ditetapkan oleh pemerintah. Dalam dokumen nota keuangan tahun anggaran 2021, target produksi kedelai dipatok sebesar 420.000 ton. Namun pada tahun ini, produksi diperkirakan turun menjadi 320.000 ton. Padahal permintaan kedelai dalam negeri setiap tahun mengalami peningkatan. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan dan peningkatan pendidikan masyarakat Indonesia. Pemanfaatan kedelai tidak hanya terbatas pada pembuatan tempe dan tahu serta produk turunannya. Seperti keripik tempe dan kerupuk tahu. Kedelai juga merupakan bahan baku pembuatan kecap dan susu kedelai.

Yang menjadi pertanyaan mengapa pertumbuhan pasar kedelai tidak mendapatkan respon positif dari petani. Mengapa luas tanam kedelai justru mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Padahal kedelai merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang sangat penting di Indonesia. Posisinya nomor tiga setelah padi dan jagung. Kebutuhan kedelai nasional berkisar 3 s.d. 3,5 juta ton per tahun. Sedangkan produksi kedelai dalam negeri hanya sekitar 400-900 ribu ton.

 

Permasalahan kedelai dalam negeri

Untuk mengembangkan kedelai nasional, tidak ada salahnya melihat pengembangan kedelai di luar negeri. Khususnya Amerika Serikat yang merupakan pemasok kedelai terbesar di Indonesia. Ada perbedaan yang mencolok antara produktivitas kedelai nasional jika dibandingkan dengan produktivitas kedelai di Amerika Serikat.

Di Indonesia, produktivitas kedelai hanya berkisar 1,5–2 ton per hektare. Sementara di Amerika Serikat, produktivitas kedelai mencapai 4 ton per hektare. Padahal kondisi alam Indonesia dan Amerika Serikat di mana kedelai dibudidayakan relatif sama. Dari pengalaman di lapangan dan beberapa literatur, bahwa potensi produktivitas kedelai di Indonesia masih bisa ditingkatkan menjadi 2–3 ton per hektare.

Sejarah pengembangan kedelai di Amerika Serikat dimulai pada tahun 1950-an. Waktu itu produktivitas kedelai di Amerika Serikat berkisar 1,0–1,5 ton per hektare. Namun, dengan adanya riset dan penyuluhan tentang pengembangan kedelai secara terpadu, maka produktivitas kedelai di Amerika Serikat terus mengalami peningkatan. Sampai akhirnya produktivitasnya mencapai 4 ton per hektare seperti saat ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/