alexametrics
25 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Refleksi Harlah PP Nurul Jadid dan Haul Masyayikh Ke-72

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada 14 Maret 2021, Ponpes Nurul Jadid Paiton Probolinggo telah melaksanakan peringatan Hari Lahir dan Haul Masyayikh ke-72. Di tengah pandemi ini, acara tersebut digelar dengan dua model. Yaitu luar jaringan (luring) dan dalam jaringan (daring). Tentunya, hal ini dilakukan untuk menghindari penyebaran dan penularan Covid-19 yang tak kunjung berakhir.

Jumlah tamu undangan yang boleh hadir secara langsung pun dibatasi sesuai dengan kapasitas ruangan berstandar protokol kesehatan. Sayaberuntungkarenamenjadisalahsatu alumni yang dapathadirsecaralangsungdalamrangkaianHarlahdan Haul tersebut.Selebihnya, alumni danwalisantri yang lain, dapat mengikuti acara tersebut secara daring atau virtual di berbagai kanal media sosial. Penerapan protokol kesehatan dalam pelaksanaan Harlah dan Haul tersebut menunjukkan konsistensi Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam mengamalkan salah satu dari Panca Kesadaran Santri, yaitu kesadaran berbangsa dan bernegara (alwa’yul hukumi wassyu’bi).

Dengan kata lain, alwa’yul hukumi wassyu’bi, dielaborasikan dengan mendukung serta mengamalkan suatu kebijakan pemerintah. Sebagai kebijakan pemerintah, penerapan protokol kesehatan pun sesuai dengan kaidah bahwa kebijakan pemimpin harus berorientasi pada terjaganya kemaslahatan umat (tasharrufurra’i ala rai’yah manuthun bilmashlahah). Diwajibkannya menerapkan protokol kesehatan tentu adalah kebijakan yang mengarah pada kebaikan bersama, yakni terjaganya keselamatan bersama dari Covid-19. Berkat pengamalan kesadaran ini pula, Pesantren Nurul Jadid dinobatkan menjadi pesantren terbaik dalam penanganan Covid-19 tingkat nasional oleh Satgas NU Peduli Covid-19.

Mobile_AP_Rectangle 2

Meskidemikian, pembatasan ruang tatap muka dan penerapan protokol kesehatan tidak menyurutkan gairah para santri, wali santri, alumni, dan simpatisan di berbagai tempat untuk menghadiri atau mengikuti acara Harlah dan Haul tersebut. Para undangan, baik yang hadir secara luring maupun daring, tetap mengikuti acara akbar itu secara khidmat dan berharap mampu memetik pelajaran berharga.

Kiai Pejuang

Salah satu mata rantai acara Haul Masyayikh dan Harlah Pondok Pesantren Nurul Jadid yang tidak pernah dilewatkan oleh para hadir ialah pembacaan manakib KH Zaini Mun’im. Dalam kesempatan ini manakib Sang Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid tersebut dibacakan oleh KH Mursyid Mahfud (Kali Baru Banyuwangi), salah satu santri kinasih KH Zaini Mu’im pada masanya. Dalam paparannya, KH Mahfud menegaskan bahwa pelaksanaan peringatan haul di samping untuk mengirimkan doa kepada para leluhur atau para guru yang sudah wafat, juga untuk meniti tapak tilas dari rekam jejak beliau di masa hidupnya.

Dalam hal ini, menurut KH Mursyid, untuk meniti dan mengikuti tapak tilas KH Zaini Mun’im dapat dilakukan dengan membaca salah satu karya beliau, yaitu kitab Syu’abul Iman. Mengingat keterbatasan ruang, di sini saya hanya mengambil keterangan Kiai Mursyid yang menegaskan bahwa Kiai Zaini Mun’im adalah sosok pejuang. Di sini Kiai Mursyid menceritakan pengalaman pribadinya sewaktu baru setahun menjadi santri di Pesantren Nurul Jadid pada tahun 1964. Kala itu, Kiai Mursyid mendengar langsung dawuh Kiai Zaini, sebagaimana juga dimuat dalam buku Selayang Pandang Pondok Pesantren Nurul Jadid, bahwa beliau Kiai zaini lebih senang memiliki santri yang bekerja sebagai kondektur bus tapi konsisten berjuang untuk kepentingan masyarakat, daripada memiliki santri yang menjadi kiai namun pasif dalam perjuangan.

Kiai Mursyid juga menambahkan bahwa awalnya kedatangan Kiai Zaini ke tanah Paiton sebenarnya bukan untuk mendirikan pesantren, melainkan untuk menyusul dan bergabung dengan teman-teman seperjuangan beliau di Yogyakarta. Selaras dengan keterangan Kiai Mursyid tersebut, berbagai sumber juga meriwayatkan bahwa Kiai Zaini adalah sosok pejuang kemerdekaan Indonesia, baik pada masa pendudukan Belanda maupun Jepang. Pada masa penjajahan Jepang, beliau dipercaya sebagai pemimpin barisan Pembela Tanah Air (PETA). Selanjutnya pada masa perang kemerdekaan, beliau juga dipercaya sebagai pemimpin pasukan Sabilillah dalam Serangan Umum 16 Agustus 1947 terhadap tentara Belanda yang menguasai Kota Pamekasan Madura. Sebagai salah satu santri terbaik KH Hasyim Asy’ari, Kiai Zaini juga adalah sosok yang istiqamah mendedikasikan diri untuk membesarkan Jam’iyah Nahdaltul Ulama di Jawa Timur.

Kepedulian Kiai Zaini terhadap berbagai persoalan umat juga tergambarkan dalam dawuh beliau yang masyhur bahwa seseorang yang hidup di Indonesia tapi tidak berjuang, atau hanya memikirkan persoalan ekonomi dan pendidikannya sendiri, maka ia telah berbuat maksiat. Dengan kata lain, Kiai Zaini mendidik para santri untuk menjadi pribadi yang berguna dan bermanfaat bagi orang banyak melalui berbagai bidang kehidupan. Seorang kondektur bus yang berperan dalam perjuangan dalam dawuh Kiai Zaini di atas mengisyaratkan bahwa kewajiban berjuang berlaku bagi siapa saja, tidak dibatasi profesi.

Melalui sekelumit tapak tilas ini, bagi saya dan tentunya juga semua santri Nurul Jadid, sosok Kiai Zaini adalah potret sekaligus teladan yang mengajarkan bahwa santri bukanlah seseorang yang hanya fasih dalam beragama (alwa’yuddini) dan berilmu (alwa’yul ’ilmi), tapi juga yang hadir di tengah-tengah masyarakat (alwa’yul ‘ijtima’i), menjunjung tinggi kehidupan berbangsa dan bernegara (alwa’yul hukumi wassyu’bi), dan aktif dalam keorganisasian (alwa’yunnidhzami). Dengan profesi apapun, di mana pun, dan sampai kapan pun, eksistensi santri harus senantiasa berjuang dengan cara menebar manfaatdemi kemaslahatan umat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada 14 Maret 2021, Ponpes Nurul Jadid Paiton Probolinggo telah melaksanakan peringatan Hari Lahir dan Haul Masyayikh ke-72. Di tengah pandemi ini, acara tersebut digelar dengan dua model. Yaitu luar jaringan (luring) dan dalam jaringan (daring). Tentunya, hal ini dilakukan untuk menghindari penyebaran dan penularan Covid-19 yang tak kunjung berakhir.

Jumlah tamu undangan yang boleh hadir secara langsung pun dibatasi sesuai dengan kapasitas ruangan berstandar protokol kesehatan. Sayaberuntungkarenamenjadisalahsatu alumni yang dapathadirsecaralangsungdalamrangkaianHarlahdan Haul tersebut.Selebihnya, alumni danwalisantri yang lain, dapat mengikuti acara tersebut secara daring atau virtual di berbagai kanal media sosial. Penerapan protokol kesehatan dalam pelaksanaan Harlah dan Haul tersebut menunjukkan konsistensi Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam mengamalkan salah satu dari Panca Kesadaran Santri, yaitu kesadaran berbangsa dan bernegara (alwa’yul hukumi wassyu’bi).

Dengan kata lain, alwa’yul hukumi wassyu’bi, dielaborasikan dengan mendukung serta mengamalkan suatu kebijakan pemerintah. Sebagai kebijakan pemerintah, penerapan protokol kesehatan pun sesuai dengan kaidah bahwa kebijakan pemimpin harus berorientasi pada terjaganya kemaslahatan umat (tasharrufurra’i ala rai’yah manuthun bilmashlahah). Diwajibkannya menerapkan protokol kesehatan tentu adalah kebijakan yang mengarah pada kebaikan bersama, yakni terjaganya keselamatan bersama dari Covid-19. Berkat pengamalan kesadaran ini pula, Pesantren Nurul Jadid dinobatkan menjadi pesantren terbaik dalam penanganan Covid-19 tingkat nasional oleh Satgas NU Peduli Covid-19.

Meskidemikian, pembatasan ruang tatap muka dan penerapan protokol kesehatan tidak menyurutkan gairah para santri, wali santri, alumni, dan simpatisan di berbagai tempat untuk menghadiri atau mengikuti acara Harlah dan Haul tersebut. Para undangan, baik yang hadir secara luring maupun daring, tetap mengikuti acara akbar itu secara khidmat dan berharap mampu memetik pelajaran berharga.

Kiai Pejuang

Salah satu mata rantai acara Haul Masyayikh dan Harlah Pondok Pesantren Nurul Jadid yang tidak pernah dilewatkan oleh para hadir ialah pembacaan manakib KH Zaini Mun’im. Dalam kesempatan ini manakib Sang Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid tersebut dibacakan oleh KH Mursyid Mahfud (Kali Baru Banyuwangi), salah satu santri kinasih KH Zaini Mu’im pada masanya. Dalam paparannya, KH Mahfud menegaskan bahwa pelaksanaan peringatan haul di samping untuk mengirimkan doa kepada para leluhur atau para guru yang sudah wafat, juga untuk meniti tapak tilas dari rekam jejak beliau di masa hidupnya.

Dalam hal ini, menurut KH Mursyid, untuk meniti dan mengikuti tapak tilas KH Zaini Mun’im dapat dilakukan dengan membaca salah satu karya beliau, yaitu kitab Syu’abul Iman. Mengingat keterbatasan ruang, di sini saya hanya mengambil keterangan Kiai Mursyid yang menegaskan bahwa Kiai Zaini Mun’im adalah sosok pejuang. Di sini Kiai Mursyid menceritakan pengalaman pribadinya sewaktu baru setahun menjadi santri di Pesantren Nurul Jadid pada tahun 1964. Kala itu, Kiai Mursyid mendengar langsung dawuh Kiai Zaini, sebagaimana juga dimuat dalam buku Selayang Pandang Pondok Pesantren Nurul Jadid, bahwa beliau Kiai zaini lebih senang memiliki santri yang bekerja sebagai kondektur bus tapi konsisten berjuang untuk kepentingan masyarakat, daripada memiliki santri yang menjadi kiai namun pasif dalam perjuangan.

Kiai Mursyid juga menambahkan bahwa awalnya kedatangan Kiai Zaini ke tanah Paiton sebenarnya bukan untuk mendirikan pesantren, melainkan untuk menyusul dan bergabung dengan teman-teman seperjuangan beliau di Yogyakarta. Selaras dengan keterangan Kiai Mursyid tersebut, berbagai sumber juga meriwayatkan bahwa Kiai Zaini adalah sosok pejuang kemerdekaan Indonesia, baik pada masa pendudukan Belanda maupun Jepang. Pada masa penjajahan Jepang, beliau dipercaya sebagai pemimpin barisan Pembela Tanah Air (PETA). Selanjutnya pada masa perang kemerdekaan, beliau juga dipercaya sebagai pemimpin pasukan Sabilillah dalam Serangan Umum 16 Agustus 1947 terhadap tentara Belanda yang menguasai Kota Pamekasan Madura. Sebagai salah satu santri terbaik KH Hasyim Asy’ari, Kiai Zaini juga adalah sosok yang istiqamah mendedikasikan diri untuk membesarkan Jam’iyah Nahdaltul Ulama di Jawa Timur.

Kepedulian Kiai Zaini terhadap berbagai persoalan umat juga tergambarkan dalam dawuh beliau yang masyhur bahwa seseorang yang hidup di Indonesia tapi tidak berjuang, atau hanya memikirkan persoalan ekonomi dan pendidikannya sendiri, maka ia telah berbuat maksiat. Dengan kata lain, Kiai Zaini mendidik para santri untuk menjadi pribadi yang berguna dan bermanfaat bagi orang banyak melalui berbagai bidang kehidupan. Seorang kondektur bus yang berperan dalam perjuangan dalam dawuh Kiai Zaini di atas mengisyaratkan bahwa kewajiban berjuang berlaku bagi siapa saja, tidak dibatasi profesi.

Melalui sekelumit tapak tilas ini, bagi saya dan tentunya juga semua santri Nurul Jadid, sosok Kiai Zaini adalah potret sekaligus teladan yang mengajarkan bahwa santri bukanlah seseorang yang hanya fasih dalam beragama (alwa’yuddini) dan berilmu (alwa’yul ’ilmi), tapi juga yang hadir di tengah-tengah masyarakat (alwa’yul ‘ijtima’i), menjunjung tinggi kehidupan berbangsa dan bernegara (alwa’yul hukumi wassyu’bi), dan aktif dalam keorganisasian (alwa’yunnidhzami). Dengan profesi apapun, di mana pun, dan sampai kapan pun, eksistensi santri harus senantiasa berjuang dengan cara menebar manfaatdemi kemaslahatan umat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada 14 Maret 2021, Ponpes Nurul Jadid Paiton Probolinggo telah melaksanakan peringatan Hari Lahir dan Haul Masyayikh ke-72. Di tengah pandemi ini, acara tersebut digelar dengan dua model. Yaitu luar jaringan (luring) dan dalam jaringan (daring). Tentunya, hal ini dilakukan untuk menghindari penyebaran dan penularan Covid-19 yang tak kunjung berakhir.

Jumlah tamu undangan yang boleh hadir secara langsung pun dibatasi sesuai dengan kapasitas ruangan berstandar protokol kesehatan. Sayaberuntungkarenamenjadisalahsatu alumni yang dapathadirsecaralangsungdalamrangkaianHarlahdan Haul tersebut.Selebihnya, alumni danwalisantri yang lain, dapat mengikuti acara tersebut secara daring atau virtual di berbagai kanal media sosial. Penerapan protokol kesehatan dalam pelaksanaan Harlah dan Haul tersebut menunjukkan konsistensi Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam mengamalkan salah satu dari Panca Kesadaran Santri, yaitu kesadaran berbangsa dan bernegara (alwa’yul hukumi wassyu’bi).

Dengan kata lain, alwa’yul hukumi wassyu’bi, dielaborasikan dengan mendukung serta mengamalkan suatu kebijakan pemerintah. Sebagai kebijakan pemerintah, penerapan protokol kesehatan pun sesuai dengan kaidah bahwa kebijakan pemimpin harus berorientasi pada terjaganya kemaslahatan umat (tasharrufurra’i ala rai’yah manuthun bilmashlahah). Diwajibkannya menerapkan protokol kesehatan tentu adalah kebijakan yang mengarah pada kebaikan bersama, yakni terjaganya keselamatan bersama dari Covid-19. Berkat pengamalan kesadaran ini pula, Pesantren Nurul Jadid dinobatkan menjadi pesantren terbaik dalam penanganan Covid-19 tingkat nasional oleh Satgas NU Peduli Covid-19.

Meskidemikian, pembatasan ruang tatap muka dan penerapan protokol kesehatan tidak menyurutkan gairah para santri, wali santri, alumni, dan simpatisan di berbagai tempat untuk menghadiri atau mengikuti acara Harlah dan Haul tersebut. Para undangan, baik yang hadir secara luring maupun daring, tetap mengikuti acara akbar itu secara khidmat dan berharap mampu memetik pelajaran berharga.

Kiai Pejuang

Salah satu mata rantai acara Haul Masyayikh dan Harlah Pondok Pesantren Nurul Jadid yang tidak pernah dilewatkan oleh para hadir ialah pembacaan manakib KH Zaini Mun’im. Dalam kesempatan ini manakib Sang Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid tersebut dibacakan oleh KH Mursyid Mahfud (Kali Baru Banyuwangi), salah satu santri kinasih KH Zaini Mu’im pada masanya. Dalam paparannya, KH Mahfud menegaskan bahwa pelaksanaan peringatan haul di samping untuk mengirimkan doa kepada para leluhur atau para guru yang sudah wafat, juga untuk meniti tapak tilas dari rekam jejak beliau di masa hidupnya.

Dalam hal ini, menurut KH Mursyid, untuk meniti dan mengikuti tapak tilas KH Zaini Mun’im dapat dilakukan dengan membaca salah satu karya beliau, yaitu kitab Syu’abul Iman. Mengingat keterbatasan ruang, di sini saya hanya mengambil keterangan Kiai Mursyid yang menegaskan bahwa Kiai Zaini Mun’im adalah sosok pejuang. Di sini Kiai Mursyid menceritakan pengalaman pribadinya sewaktu baru setahun menjadi santri di Pesantren Nurul Jadid pada tahun 1964. Kala itu, Kiai Mursyid mendengar langsung dawuh Kiai Zaini, sebagaimana juga dimuat dalam buku Selayang Pandang Pondok Pesantren Nurul Jadid, bahwa beliau Kiai zaini lebih senang memiliki santri yang bekerja sebagai kondektur bus tapi konsisten berjuang untuk kepentingan masyarakat, daripada memiliki santri yang menjadi kiai namun pasif dalam perjuangan.

Kiai Mursyid juga menambahkan bahwa awalnya kedatangan Kiai Zaini ke tanah Paiton sebenarnya bukan untuk mendirikan pesantren, melainkan untuk menyusul dan bergabung dengan teman-teman seperjuangan beliau di Yogyakarta. Selaras dengan keterangan Kiai Mursyid tersebut, berbagai sumber juga meriwayatkan bahwa Kiai Zaini adalah sosok pejuang kemerdekaan Indonesia, baik pada masa pendudukan Belanda maupun Jepang. Pada masa penjajahan Jepang, beliau dipercaya sebagai pemimpin barisan Pembela Tanah Air (PETA). Selanjutnya pada masa perang kemerdekaan, beliau juga dipercaya sebagai pemimpin pasukan Sabilillah dalam Serangan Umum 16 Agustus 1947 terhadap tentara Belanda yang menguasai Kota Pamekasan Madura. Sebagai salah satu santri terbaik KH Hasyim Asy’ari, Kiai Zaini juga adalah sosok yang istiqamah mendedikasikan diri untuk membesarkan Jam’iyah Nahdaltul Ulama di Jawa Timur.

Kepedulian Kiai Zaini terhadap berbagai persoalan umat juga tergambarkan dalam dawuh beliau yang masyhur bahwa seseorang yang hidup di Indonesia tapi tidak berjuang, atau hanya memikirkan persoalan ekonomi dan pendidikannya sendiri, maka ia telah berbuat maksiat. Dengan kata lain, Kiai Zaini mendidik para santri untuk menjadi pribadi yang berguna dan bermanfaat bagi orang banyak melalui berbagai bidang kehidupan. Seorang kondektur bus yang berperan dalam perjuangan dalam dawuh Kiai Zaini di atas mengisyaratkan bahwa kewajiban berjuang berlaku bagi siapa saja, tidak dibatasi profesi.

Melalui sekelumit tapak tilas ini, bagi saya dan tentunya juga semua santri Nurul Jadid, sosok Kiai Zaini adalah potret sekaligus teladan yang mengajarkan bahwa santri bukanlah seseorang yang hanya fasih dalam beragama (alwa’yuddini) dan berilmu (alwa’yul ’ilmi), tapi juga yang hadir di tengah-tengah masyarakat (alwa’yul ‘ijtima’i), menjunjung tinggi kehidupan berbangsa dan bernegara (alwa’yul hukumi wassyu’bi), dan aktif dalam keorganisasian (alwa’yunnidhzami). Dengan profesi apapun, di mana pun, dan sampai kapan pun, eksistensi santri harus senantiasa berjuang dengan cara menebar manfaatdemi kemaslahatan umat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/