alexametrics
19.8 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

PEMBAHARUAN DALAM PENDIDIKAN AKHLAK

Dr. Sukidin, MPd

Mobile_AP_Rectangle 1

Generasi sekarang lebih asyik berinteraksi di dunia digital. Mereka menjadi kurang perduli pada lingkungan sekitarnya. Hasil pendidikan makin jauh dari harapan. Peserta didik lebih memilih jalan pintas dan lebih berorientasi pada aspek pragmatis dalam memandang kehidupan. Nilai akhlak yang seharusnya ditempatkan pada posisi yang utama, telah mengalami pergeseran dengan orientasi pada aspek yang hanya berbasis material. Dampaknya sudah dapat diduga, bahwa pendidikan akhlak belum menginternalisasi pada peserta didik. Inilah tantangan pembelajaran bagi guru di masa depan. Guru dituntut menghadirkan model dan strategi pembelajaran yang lebih interaktif, konstekstual dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Ajaran nilai sopan santun, etika, moral, kerja sama, dan akhlak lainnya harus ditransformasi menjadi nilai kekinian sehingga suasana pembelajaran lebih menantang peserta didik. Guru harus tampil dengan memberi inspirasi, dengan inovasi terobosan pemikiran dalam mendidik, sehingga ada relevansi dengan perkembangan jaman. Pembejaran karakter tidak lagi diuji dengan tes, itu tidak memiliki relevansi dengan konteks karakter yang akan diukur kompetensinya. Pendidikan karakter itu pembiasaan, untuk itu guru harus memiliki komitmen dengan memastikan peserta didik terus berlatih menerapkan akhlak mulia selama di sekolah. Guru harus menunjukkan performa pribadi yang bisa sebagai figure tauladan.

Kedua, melalui pendidikan keluarga. Rumah sebagai tempat sekolah berikutnya harus terlibat dalam melakukan pendidikan akhlak pada anak-anak. Orang tua memiliki peran yang strategis dalam mengawal dan mengawasi anak belajar di rumah. Peran orang tua dapat sebagai pendidik, pengarah, dan pendamping dalam pendidikan akhlak anak. Pendidikan akhlak dapat dilakukan melalui ajaran agama maupun dengan cara bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan agama hendaknya tidak hanya mengajarkan aspek hukum, ibadah dan muamallah, tapi juga harus diajarkan akhlak luhur.

Akhlak harus menjadi prioritas, karena hal tersebut merupakan inti dari dari semua ajaran.
Kemerosotan akhlak yang terjadi selama ini harus segera dilakukan pembaharuan dari sisi metode atau pendekatan, selanjutnya ditemukan gagasan baru cara mengajarkan akhlak yang dapat diterima anak. Anak harus diberi pemahaman bahwa akhlak luhur bisa sebagai modal untuk hidup bersama dan dapat mendukung kehidupan masa depannya. Orang berakhlak mulia akan mendapatkan kepercayaan dan dihormati oleh lingkungannya. Jadi pendidikan akhlak melalui pembiasaan diri, dapat dipahami sebagai media latihan agar anak tumbuhkembang menjadi pribadi yang tangguh, berkarakter, dan selalu berorientasi pada nilai kebaikan. Anak harus diberi pemahaman bahwa akhlak luhur memiliki relevansi dengan nilai religiusitas.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan pendekatan demokratisasi ide, sehingga substansi akhlak dapat menjangkau zona modernisasi, dan bahkan globalisasi. Ide-ide tentang nilai kemanusiaan yang adil dan beradab bisa dijadikan basis pembahasan pendidikan akhlak. Akhlak yang mulia akan memiliki kehormatan dari masyarakat dan akan mendapat kemuliaan disisi Tuhan. Pendidikan akhlak di sekolah dan di rumah perlu direvitalisasi dengan kebutuhan generasi era kekinian, sehingga menjadi lebih manantang dan menyemangati untuk kehidupan dia di masa depan.

*Penulis adalah dosen Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember

- Advertisement -

Generasi sekarang lebih asyik berinteraksi di dunia digital. Mereka menjadi kurang perduli pada lingkungan sekitarnya. Hasil pendidikan makin jauh dari harapan. Peserta didik lebih memilih jalan pintas dan lebih berorientasi pada aspek pragmatis dalam memandang kehidupan. Nilai akhlak yang seharusnya ditempatkan pada posisi yang utama, telah mengalami pergeseran dengan orientasi pada aspek yang hanya berbasis material. Dampaknya sudah dapat diduga, bahwa pendidikan akhlak belum menginternalisasi pada peserta didik. Inilah tantangan pembelajaran bagi guru di masa depan. Guru dituntut menghadirkan model dan strategi pembelajaran yang lebih interaktif, konstekstual dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Ajaran nilai sopan santun, etika, moral, kerja sama, dan akhlak lainnya harus ditransformasi menjadi nilai kekinian sehingga suasana pembelajaran lebih menantang peserta didik. Guru harus tampil dengan memberi inspirasi, dengan inovasi terobosan pemikiran dalam mendidik, sehingga ada relevansi dengan perkembangan jaman. Pembejaran karakter tidak lagi diuji dengan tes, itu tidak memiliki relevansi dengan konteks karakter yang akan diukur kompetensinya. Pendidikan karakter itu pembiasaan, untuk itu guru harus memiliki komitmen dengan memastikan peserta didik terus berlatih menerapkan akhlak mulia selama di sekolah. Guru harus menunjukkan performa pribadi yang bisa sebagai figure tauladan.

Kedua, melalui pendidikan keluarga. Rumah sebagai tempat sekolah berikutnya harus terlibat dalam melakukan pendidikan akhlak pada anak-anak. Orang tua memiliki peran yang strategis dalam mengawal dan mengawasi anak belajar di rumah. Peran orang tua dapat sebagai pendidik, pengarah, dan pendamping dalam pendidikan akhlak anak. Pendidikan akhlak dapat dilakukan melalui ajaran agama maupun dengan cara bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan agama hendaknya tidak hanya mengajarkan aspek hukum, ibadah dan muamallah, tapi juga harus diajarkan akhlak luhur.

Akhlak harus menjadi prioritas, karena hal tersebut merupakan inti dari dari semua ajaran.
Kemerosotan akhlak yang terjadi selama ini harus segera dilakukan pembaharuan dari sisi metode atau pendekatan, selanjutnya ditemukan gagasan baru cara mengajarkan akhlak yang dapat diterima anak. Anak harus diberi pemahaman bahwa akhlak luhur bisa sebagai modal untuk hidup bersama dan dapat mendukung kehidupan masa depannya. Orang berakhlak mulia akan mendapatkan kepercayaan dan dihormati oleh lingkungannya. Jadi pendidikan akhlak melalui pembiasaan diri, dapat dipahami sebagai media latihan agar anak tumbuhkembang menjadi pribadi yang tangguh, berkarakter, dan selalu berorientasi pada nilai kebaikan. Anak harus diberi pemahaman bahwa akhlak luhur memiliki relevansi dengan nilai religiusitas.

Pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan pendekatan demokratisasi ide, sehingga substansi akhlak dapat menjangkau zona modernisasi, dan bahkan globalisasi. Ide-ide tentang nilai kemanusiaan yang adil dan beradab bisa dijadikan basis pembahasan pendidikan akhlak. Akhlak yang mulia akan memiliki kehormatan dari masyarakat dan akan mendapat kemuliaan disisi Tuhan. Pendidikan akhlak di sekolah dan di rumah perlu direvitalisasi dengan kebutuhan generasi era kekinian, sehingga menjadi lebih manantang dan menyemangati untuk kehidupan dia di masa depan.

*Penulis adalah dosen Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember

Generasi sekarang lebih asyik berinteraksi di dunia digital. Mereka menjadi kurang perduli pada lingkungan sekitarnya. Hasil pendidikan makin jauh dari harapan. Peserta didik lebih memilih jalan pintas dan lebih berorientasi pada aspek pragmatis dalam memandang kehidupan. Nilai akhlak yang seharusnya ditempatkan pada posisi yang utama, telah mengalami pergeseran dengan orientasi pada aspek yang hanya berbasis material. Dampaknya sudah dapat diduga, bahwa pendidikan akhlak belum menginternalisasi pada peserta didik. Inilah tantangan pembelajaran bagi guru di masa depan. Guru dituntut menghadirkan model dan strategi pembelajaran yang lebih interaktif, konstekstual dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Ajaran nilai sopan santun, etika, moral, kerja sama, dan akhlak lainnya harus ditransformasi menjadi nilai kekinian sehingga suasana pembelajaran lebih menantang peserta didik. Guru harus tampil dengan memberi inspirasi, dengan inovasi terobosan pemikiran dalam mendidik, sehingga ada relevansi dengan perkembangan jaman. Pembejaran karakter tidak lagi diuji dengan tes, itu tidak memiliki relevansi dengan konteks karakter yang akan diukur kompetensinya. Pendidikan karakter itu pembiasaan, untuk itu guru harus memiliki komitmen dengan memastikan peserta didik terus berlatih menerapkan akhlak mulia selama di sekolah. Guru harus menunjukkan performa pribadi yang bisa sebagai figure tauladan.

Kedua, melalui pendidikan keluarga. Rumah sebagai tempat sekolah berikutnya harus terlibat dalam melakukan pendidikan akhlak pada anak-anak. Orang tua memiliki peran yang strategis dalam mengawal dan mengawasi anak belajar di rumah. Peran orang tua dapat sebagai pendidik, pengarah, dan pendamping dalam pendidikan akhlak anak. Pendidikan akhlak dapat dilakukan melalui ajaran agama maupun dengan cara bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan agama hendaknya tidak hanya mengajarkan aspek hukum, ibadah dan muamallah, tapi juga harus diajarkan akhlak luhur.

Akhlak harus menjadi prioritas, karena hal tersebut merupakan inti dari dari semua ajaran.
Kemerosotan akhlak yang terjadi selama ini harus segera dilakukan pembaharuan dari sisi metode atau pendekatan, selanjutnya ditemukan gagasan baru cara mengajarkan akhlak yang dapat diterima anak. Anak harus diberi pemahaman bahwa akhlak luhur bisa sebagai modal untuk hidup bersama dan dapat mendukung kehidupan masa depannya. Orang berakhlak mulia akan mendapatkan kepercayaan dan dihormati oleh lingkungannya. Jadi pendidikan akhlak melalui pembiasaan diri, dapat dipahami sebagai media latihan agar anak tumbuhkembang menjadi pribadi yang tangguh, berkarakter, dan selalu berorientasi pada nilai kebaikan. Anak harus diberi pemahaman bahwa akhlak luhur memiliki relevansi dengan nilai religiusitas.

Pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan pendekatan demokratisasi ide, sehingga substansi akhlak dapat menjangkau zona modernisasi, dan bahkan globalisasi. Ide-ide tentang nilai kemanusiaan yang adil dan beradab bisa dijadikan basis pembahasan pendidikan akhlak. Akhlak yang mulia akan memiliki kehormatan dari masyarakat dan akan mendapat kemuliaan disisi Tuhan. Pendidikan akhlak di sekolah dan di rumah perlu direvitalisasi dengan kebutuhan generasi era kekinian, sehingga menjadi lebih manantang dan menyemangati untuk kehidupan dia di masa depan.

*Penulis adalah dosen Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/