alexametrics
23.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

PEMBAHARUAN DALAM PENDIDIKAN AKHLAK

Dr. Sukidin, MPd

Mobile_AP_Rectangle 1

Sejarah peradaban manusia selalu ditandai dengan motivasi untuk membawa manusia pada kebaikan dan kemanfaatannya bagi diri dan masyarakatnya, serta menolak keburukan yang dapat menimpanya. Manusia mendapatkan fitrah dari Tuhan sehingga memiliki kecenderungan untuk berperilaku pada kebaikan, kebenaran dan keindahan. Untuk meraih kebaikan, manusia menghasilkan akhlak. Untuk meraih kebenaran, manusia menghasilkan ilmu. Untuk meraih keindahan, manusia menghasilkan seni. Itulah akhlak luhur yang terus dikampanyekan dalam menjalani kehidupan.

Secara sederhana akhlak dapat dipersamakan dengan budi pekerti. Sedangkan moral adalah sebagai ajaran tentang kebaikan dan keburukan yang telah diterima komunitas tertentu mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan seperangkat nilai yang berlaku di masyarakat. Akhlak dalam pengertian budi pekerti akan dapat dicapai dengan cara melakukan pembiasaan diri. Dalam akhlak terdapat unsur nilai. Misal, menghormati orang tua adalah wajib, dan sopan santun adalah sikap terpuji. Cara menghormati orang tua adalah dengan praktek dalam kehidupan sehari-hari, sehingga harus melalui pembiasaan yang berulang. Jadi dalam menjaga akhlak ada ketetapan hukum yang menyangkut nilai baik atau buruk, yang didasari pertimbangan akal, nurani dan nilai yang dianut masyarakat tersebut.

Manusia membutuhkan akhlak luhur merupakan keniscayaan dari kedudukanya sebagai makhluk sosial. Nilai akhlak dibutuhkan dalam upaya menunjukkan pribadi seseorang. Semakin luhur akhlak seseorang maka akan semakin mantap kehormatan dan kebahagiaannya. Artinya dia akan merasa bahagia bila melihat orang lain bahagia. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Pendidikan akhlak luhur ini telah diajarkan oleh para nabi, rosul dan para leluhur (nenek moyang) kita. Kanjeng Nabi Muhammad bersabda, “Aku diutus tidak lain, kecuali untuk menyempurnakan akhlak luhur “ (HR. Malik). Kemuliaan akhlak memiliki nilai yang sangat tinggi, baik dihadapan manusia terlebih lagi nanti dihadapan Tuhan. Kita juga diperintahkan agar membalas kejahatan dengan kejahatan yang setimpal, namun memaafkan dan berbuat baik itu jauh lebih mulia. Inilah akhlak luhur yang diajarkan nabi pada umatnya. Akhlak adalah sebagai konsideran pengangkatan para nabi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Orang-orang terdahulu sangat berpegang pada ajaran agama maupun pada ajaran para leluhurnya. Mereka patuh dan mengamalkan ajaran tersebut dalam praktek kehidupan sehari-hari. Anak muda dulu bila mencari ilmu mereka harus pergi ke guru, yang biasanya bertempat tinggal di lereng pegunungan yang sepi. Padepokan yang dihuni oleh maha guru, kemudian dijadikan sebagai madrasah untuk belajar agama, bela diri dan akhlak. Setelah ditempa di kawah condro dimuko, para murid ini kemudian pulang ke kampung halaman masing-masing. Mereka mengabdi untuk membela kebenaran, mengayomi dan melindungi masyarakat yang mendapat perlakuan tidak adil. Mereka mengajarkan ilmu kebajikan di lingkungannya. Bila ada perbuatan aniaya, mereka tidak segan membela dengan bekal ilmu bela diri yang dimiliki. Itulah gambaran tentang pendidikan akhlak dan produk akhlak generasi terdahulu. Mereka memiliki kepekaan, keperdulian, dan pembelaan pada kebenaran. Mereka mempunyai motivasi yang tinggi menempatkan akhlak pada posisi yang harus ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka menempatkan akhlak pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan ilmu. Ilmu berperan menuntun akhlak. Akhlak luhur adalah simbol kehormatan diri.

Pendidikan akhlak pada saat ini diajarkan melalui dua ranah. Pertama, yaitu melalui kurikulum sekolah. Pada materi pelajaran bisa dilihat bahwa pada rencana pembelajaran sampai pelaksanaannya, senantiasa diselipkan materi pendidikan karakter (akhlak). Pada kegiatan intra maupun ekstra-kurikuler juga telah ditanamkan pendidikan karakter dengan penekanan pada aspek akhlak. Namun dalam prakteknya ternyata pendidikan karakter yang dilakukan belum menyentuh aspek substansi. Pendidikan karakter masih hanya diajarkan dalam kelas, belum berlanjut pada pada pengamatan pembiasaan di luar kelas. Tagihan tentang kompetensi karakter juga masih menggunakan tes, belum menggunakan otentik asesmen. Jadi peserta didik nampak hanya jaim atau basa-basi saja, agar dianggap santun ketika dihadapan guru. Otentik asesmen seharusnya dapat digunakan untuk melacak praktek pembiasaan peserta didik tentang karakter yang diamati. Hal yang terjadi adalah guru kurang memiliki komitmen untuk menanamkan nilai karakter atau akhlak pada peserta didik, dan peserta didik juga kurang merespon pendidikan akhlak di sekolah. Mereka menganggap pendidikan akhlak itu membosankan dan tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

- Advertisement -

Sejarah peradaban manusia selalu ditandai dengan motivasi untuk membawa manusia pada kebaikan dan kemanfaatannya bagi diri dan masyarakatnya, serta menolak keburukan yang dapat menimpanya. Manusia mendapatkan fitrah dari Tuhan sehingga memiliki kecenderungan untuk berperilaku pada kebaikan, kebenaran dan keindahan. Untuk meraih kebaikan, manusia menghasilkan akhlak. Untuk meraih kebenaran, manusia menghasilkan ilmu. Untuk meraih keindahan, manusia menghasilkan seni. Itulah akhlak luhur yang terus dikampanyekan dalam menjalani kehidupan.

Secara sederhana akhlak dapat dipersamakan dengan budi pekerti. Sedangkan moral adalah sebagai ajaran tentang kebaikan dan keburukan yang telah diterima komunitas tertentu mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan seperangkat nilai yang berlaku di masyarakat. Akhlak dalam pengertian budi pekerti akan dapat dicapai dengan cara melakukan pembiasaan diri. Dalam akhlak terdapat unsur nilai. Misal, menghormati orang tua adalah wajib, dan sopan santun adalah sikap terpuji. Cara menghormati orang tua adalah dengan praktek dalam kehidupan sehari-hari, sehingga harus melalui pembiasaan yang berulang. Jadi dalam menjaga akhlak ada ketetapan hukum yang menyangkut nilai baik atau buruk, yang didasari pertimbangan akal, nurani dan nilai yang dianut masyarakat tersebut.

Manusia membutuhkan akhlak luhur merupakan keniscayaan dari kedudukanya sebagai makhluk sosial. Nilai akhlak dibutuhkan dalam upaya menunjukkan pribadi seseorang. Semakin luhur akhlak seseorang maka akan semakin mantap kehormatan dan kebahagiaannya. Artinya dia akan merasa bahagia bila melihat orang lain bahagia. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Pendidikan akhlak luhur ini telah diajarkan oleh para nabi, rosul dan para leluhur (nenek moyang) kita. Kanjeng Nabi Muhammad bersabda, “Aku diutus tidak lain, kecuali untuk menyempurnakan akhlak luhur “ (HR. Malik). Kemuliaan akhlak memiliki nilai yang sangat tinggi, baik dihadapan manusia terlebih lagi nanti dihadapan Tuhan. Kita juga diperintahkan agar membalas kejahatan dengan kejahatan yang setimpal, namun memaafkan dan berbuat baik itu jauh lebih mulia. Inilah akhlak luhur yang diajarkan nabi pada umatnya. Akhlak adalah sebagai konsideran pengangkatan para nabi.

Orang-orang terdahulu sangat berpegang pada ajaran agama maupun pada ajaran para leluhurnya. Mereka patuh dan mengamalkan ajaran tersebut dalam praktek kehidupan sehari-hari. Anak muda dulu bila mencari ilmu mereka harus pergi ke guru, yang biasanya bertempat tinggal di lereng pegunungan yang sepi. Padepokan yang dihuni oleh maha guru, kemudian dijadikan sebagai madrasah untuk belajar agama, bela diri dan akhlak. Setelah ditempa di kawah condro dimuko, para murid ini kemudian pulang ke kampung halaman masing-masing. Mereka mengabdi untuk membela kebenaran, mengayomi dan melindungi masyarakat yang mendapat perlakuan tidak adil. Mereka mengajarkan ilmu kebajikan di lingkungannya. Bila ada perbuatan aniaya, mereka tidak segan membela dengan bekal ilmu bela diri yang dimiliki. Itulah gambaran tentang pendidikan akhlak dan produk akhlak generasi terdahulu. Mereka memiliki kepekaan, keperdulian, dan pembelaan pada kebenaran. Mereka mempunyai motivasi yang tinggi menempatkan akhlak pada posisi yang harus ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka menempatkan akhlak pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan ilmu. Ilmu berperan menuntun akhlak. Akhlak luhur adalah simbol kehormatan diri.

Pendidikan akhlak pada saat ini diajarkan melalui dua ranah. Pertama, yaitu melalui kurikulum sekolah. Pada materi pelajaran bisa dilihat bahwa pada rencana pembelajaran sampai pelaksanaannya, senantiasa diselipkan materi pendidikan karakter (akhlak). Pada kegiatan intra maupun ekstra-kurikuler juga telah ditanamkan pendidikan karakter dengan penekanan pada aspek akhlak. Namun dalam prakteknya ternyata pendidikan karakter yang dilakukan belum menyentuh aspek substansi. Pendidikan karakter masih hanya diajarkan dalam kelas, belum berlanjut pada pada pengamatan pembiasaan di luar kelas. Tagihan tentang kompetensi karakter juga masih menggunakan tes, belum menggunakan otentik asesmen. Jadi peserta didik nampak hanya jaim atau basa-basi saja, agar dianggap santun ketika dihadapan guru. Otentik asesmen seharusnya dapat digunakan untuk melacak praktek pembiasaan peserta didik tentang karakter yang diamati. Hal yang terjadi adalah guru kurang memiliki komitmen untuk menanamkan nilai karakter atau akhlak pada peserta didik, dan peserta didik juga kurang merespon pendidikan akhlak di sekolah. Mereka menganggap pendidikan akhlak itu membosankan dan tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Sejarah peradaban manusia selalu ditandai dengan motivasi untuk membawa manusia pada kebaikan dan kemanfaatannya bagi diri dan masyarakatnya, serta menolak keburukan yang dapat menimpanya. Manusia mendapatkan fitrah dari Tuhan sehingga memiliki kecenderungan untuk berperilaku pada kebaikan, kebenaran dan keindahan. Untuk meraih kebaikan, manusia menghasilkan akhlak. Untuk meraih kebenaran, manusia menghasilkan ilmu. Untuk meraih keindahan, manusia menghasilkan seni. Itulah akhlak luhur yang terus dikampanyekan dalam menjalani kehidupan.

Secara sederhana akhlak dapat dipersamakan dengan budi pekerti. Sedangkan moral adalah sebagai ajaran tentang kebaikan dan keburukan yang telah diterima komunitas tertentu mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan seperangkat nilai yang berlaku di masyarakat. Akhlak dalam pengertian budi pekerti akan dapat dicapai dengan cara melakukan pembiasaan diri. Dalam akhlak terdapat unsur nilai. Misal, menghormati orang tua adalah wajib, dan sopan santun adalah sikap terpuji. Cara menghormati orang tua adalah dengan praktek dalam kehidupan sehari-hari, sehingga harus melalui pembiasaan yang berulang. Jadi dalam menjaga akhlak ada ketetapan hukum yang menyangkut nilai baik atau buruk, yang didasari pertimbangan akal, nurani dan nilai yang dianut masyarakat tersebut.

Manusia membutuhkan akhlak luhur merupakan keniscayaan dari kedudukanya sebagai makhluk sosial. Nilai akhlak dibutuhkan dalam upaya menunjukkan pribadi seseorang. Semakin luhur akhlak seseorang maka akan semakin mantap kehormatan dan kebahagiaannya. Artinya dia akan merasa bahagia bila melihat orang lain bahagia. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Pendidikan akhlak luhur ini telah diajarkan oleh para nabi, rosul dan para leluhur (nenek moyang) kita. Kanjeng Nabi Muhammad bersabda, “Aku diutus tidak lain, kecuali untuk menyempurnakan akhlak luhur “ (HR. Malik). Kemuliaan akhlak memiliki nilai yang sangat tinggi, baik dihadapan manusia terlebih lagi nanti dihadapan Tuhan. Kita juga diperintahkan agar membalas kejahatan dengan kejahatan yang setimpal, namun memaafkan dan berbuat baik itu jauh lebih mulia. Inilah akhlak luhur yang diajarkan nabi pada umatnya. Akhlak adalah sebagai konsideran pengangkatan para nabi.

Orang-orang terdahulu sangat berpegang pada ajaran agama maupun pada ajaran para leluhurnya. Mereka patuh dan mengamalkan ajaran tersebut dalam praktek kehidupan sehari-hari. Anak muda dulu bila mencari ilmu mereka harus pergi ke guru, yang biasanya bertempat tinggal di lereng pegunungan yang sepi. Padepokan yang dihuni oleh maha guru, kemudian dijadikan sebagai madrasah untuk belajar agama, bela diri dan akhlak. Setelah ditempa di kawah condro dimuko, para murid ini kemudian pulang ke kampung halaman masing-masing. Mereka mengabdi untuk membela kebenaran, mengayomi dan melindungi masyarakat yang mendapat perlakuan tidak adil. Mereka mengajarkan ilmu kebajikan di lingkungannya. Bila ada perbuatan aniaya, mereka tidak segan membela dengan bekal ilmu bela diri yang dimiliki. Itulah gambaran tentang pendidikan akhlak dan produk akhlak generasi terdahulu. Mereka memiliki kepekaan, keperdulian, dan pembelaan pada kebenaran. Mereka mempunyai motivasi yang tinggi menempatkan akhlak pada posisi yang harus ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka menempatkan akhlak pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan ilmu. Ilmu berperan menuntun akhlak. Akhlak luhur adalah simbol kehormatan diri.

Pendidikan akhlak pada saat ini diajarkan melalui dua ranah. Pertama, yaitu melalui kurikulum sekolah. Pada materi pelajaran bisa dilihat bahwa pada rencana pembelajaran sampai pelaksanaannya, senantiasa diselipkan materi pendidikan karakter (akhlak). Pada kegiatan intra maupun ekstra-kurikuler juga telah ditanamkan pendidikan karakter dengan penekanan pada aspek akhlak. Namun dalam prakteknya ternyata pendidikan karakter yang dilakukan belum menyentuh aspek substansi. Pendidikan karakter masih hanya diajarkan dalam kelas, belum berlanjut pada pada pengamatan pembiasaan di luar kelas. Tagihan tentang kompetensi karakter juga masih menggunakan tes, belum menggunakan otentik asesmen. Jadi peserta didik nampak hanya jaim atau basa-basi saja, agar dianggap santun ketika dihadapan guru. Otentik asesmen seharusnya dapat digunakan untuk melacak praktek pembiasaan peserta didik tentang karakter yang diamati. Hal yang terjadi adalah guru kurang memiliki komitmen untuk menanamkan nilai karakter atau akhlak pada peserta didik, dan peserta didik juga kurang merespon pendidikan akhlak di sekolah. Mereka menganggap pendidikan akhlak itu membosankan dan tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/