alexametrics
23.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Memaknai Hidup Beragama di Indonesia

Mobile_AP_Rectangle 1

Agar semua umat beragama di Indonesia khususnya, bisa memaknai setiap keragaman yang ada. Baik dari tingkat lokal maupun nasional. Mengetahui agama lain bukan tujuan untuk saling mendiskreditkan, meminoritaskan, memarjinalkan atau mendebat dengan keyakinan mana yang benar mana yang salah. Namun bangunlah semua kemajemukan itu penuh siraman kasih sayang, cinta kasih untuk merawat dan menjaga keindahan yang telah Tuhan titipkan lewat agama-agama yang tumbuh di Indonesia ini.

Saidurrahman menjelaskan bahwa harmonis dalam sudut pandang agama Hindu bahwa konsep kerukunan merujuk pada kitab suci Veda, di mana mengamanatkan untuk menumbuhkembangkan kerukunan umat beragama, toleransi, solidaritas dan penghargaan terhadap sesama manusia dengan tidak membeda-bedakannya. Dalam ajaran kitab Veda, masalah kerukunan dijelaskan secara gamblang dalam ajaran: Tattwam asi, karma phala, dan ahimsa.

Dalam sudut pandang agama Buddha untuk membina kerukunan hidup beragama, umat Buddha telah memiliki pedoman yang dapat dijadikan tuntunan kehidupan harmonis yang oleh Buddha disebut enam faktor yang membawa keharmonisan (Saraniya-dhamma). Pertama, cinta kasih diwujudkan dalam perbuatan. Kedua, cinta kasih diwujudkan dalam tutur kata. Ketiga, cinta kasih diwujudkan dalam pikiran dan pemikiran. Keempat, memberi kesempatan kepada sesama ikut menikmati apa yang diperoleh secara halal. Kelima, di depan umum atau pribadi dia menjalankan kehidupan yang bermoral, tidak berbuat sesuatu yang melukai perasaan orang. Keenam, di depan umum atau pribadi memiliki yang sama yang bersifat membebaskan dari penderitaan dan membawanya berbuat sesuai dengan pandangan tersebut, hidup harmonis tidak bertengkar karena perbedaan pandangan..

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam sudut pandang agama Konghucu bahwa Konghucu mengajarkan kepada umatnya ialah pemahaman dasar yang dapat membangun sebuah hidup berkerukunan adalah tidak membeda-bedakan, para anggota masyarakatnya diikat dalam pemahaman persaudaraan yang saling tenggang rasa dan tidak membebani satu sama lain. Konsep demikian diujarkan Nabi Kong Hu Cu; “Di empat penjuru samudra, kita semua manusia adalah bersaudara. Dan seorang yang berperi cinta kasih itu ingin dapat tegak, maka berusaha agar orang lain pun tegak; ia ingin maju, maka berusaha agar orang lain pun maju. Nabi Kong Hu Cu berpesan; “agar di rumah hendaknya berbakti, di luar rumah hendaknya rendah hati, hati-hati hingga dapat dipercaya, waktu luang digunakan untuk membaca kitab meluaskan pengetahuan.

Dalam agama Kristen memaknai sebuah kemajemukan ialah terciptanya kesatuan pelayanan bersama yang berpusat pada kasih Kristus. Kesatuan pelayanan ini didasarkan atas ketaatan dan kesetiaan kepada misi yang dipercayakan kepada umat yang satu dan yang menerima tugas yang satu dari Kristus. Inti kehidupan pengikut Kristus dalam hubunganya secara totalitas dengan Allah adalah hubungan kasih. Ini adalah hukum terutama dan yang pertama, dan dengan sesama manusia juga kasihi seperti diri sendiri.

Dalam sudut pandang mengenai kemajemukan agama, agama Islam juga mempunyai versi dalam merajut keharmonisan di tengah majemuknya agama. Islam memberikan penjelasan-penjelasan tentang pentingnya membina hubungan baik antara muslim dan nonmuslim, pentingnya saling menghargai, saling menghormati dan berbuat baik walaupun kepada umat yang lain. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai asas pemberlakuan konsep kerukunan dalam Islam, antara lain: teks keagamaan Islam sangat toleran dan dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia.

Hal tersebut dalam mendukung dan menjaga toleransi beragama di Indonesia. Sebenarnya sudah final dalam melihat kondisi pluralitas agama, yakni dengan mengakui keberadaan agama lain, bukan mengakui kebenaran masing-masing. Dari sini yang sering menjadi sebuah isu sentral dan menuai kekonflikan karena penyebutan kafir dipicu dengan adanya truth claim atas dasar teologi masing-masing.

 

*) Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

- Advertisement -

Agar semua umat beragama di Indonesia khususnya, bisa memaknai setiap keragaman yang ada. Baik dari tingkat lokal maupun nasional. Mengetahui agama lain bukan tujuan untuk saling mendiskreditkan, meminoritaskan, memarjinalkan atau mendebat dengan keyakinan mana yang benar mana yang salah. Namun bangunlah semua kemajemukan itu penuh siraman kasih sayang, cinta kasih untuk merawat dan menjaga keindahan yang telah Tuhan titipkan lewat agama-agama yang tumbuh di Indonesia ini.

Saidurrahman menjelaskan bahwa harmonis dalam sudut pandang agama Hindu bahwa konsep kerukunan merujuk pada kitab suci Veda, di mana mengamanatkan untuk menumbuhkembangkan kerukunan umat beragama, toleransi, solidaritas dan penghargaan terhadap sesama manusia dengan tidak membeda-bedakannya. Dalam ajaran kitab Veda, masalah kerukunan dijelaskan secara gamblang dalam ajaran: Tattwam asi, karma phala, dan ahimsa.

Dalam sudut pandang agama Buddha untuk membina kerukunan hidup beragama, umat Buddha telah memiliki pedoman yang dapat dijadikan tuntunan kehidupan harmonis yang oleh Buddha disebut enam faktor yang membawa keharmonisan (Saraniya-dhamma). Pertama, cinta kasih diwujudkan dalam perbuatan. Kedua, cinta kasih diwujudkan dalam tutur kata. Ketiga, cinta kasih diwujudkan dalam pikiran dan pemikiran. Keempat, memberi kesempatan kepada sesama ikut menikmati apa yang diperoleh secara halal. Kelima, di depan umum atau pribadi dia menjalankan kehidupan yang bermoral, tidak berbuat sesuatu yang melukai perasaan orang. Keenam, di depan umum atau pribadi memiliki yang sama yang bersifat membebaskan dari penderitaan dan membawanya berbuat sesuai dengan pandangan tersebut, hidup harmonis tidak bertengkar karena perbedaan pandangan..

Dalam sudut pandang agama Konghucu bahwa Konghucu mengajarkan kepada umatnya ialah pemahaman dasar yang dapat membangun sebuah hidup berkerukunan adalah tidak membeda-bedakan, para anggota masyarakatnya diikat dalam pemahaman persaudaraan yang saling tenggang rasa dan tidak membebani satu sama lain. Konsep demikian diujarkan Nabi Kong Hu Cu; “Di empat penjuru samudra, kita semua manusia adalah bersaudara. Dan seorang yang berperi cinta kasih itu ingin dapat tegak, maka berusaha agar orang lain pun tegak; ia ingin maju, maka berusaha agar orang lain pun maju. Nabi Kong Hu Cu berpesan; “agar di rumah hendaknya berbakti, di luar rumah hendaknya rendah hati, hati-hati hingga dapat dipercaya, waktu luang digunakan untuk membaca kitab meluaskan pengetahuan.

Dalam agama Kristen memaknai sebuah kemajemukan ialah terciptanya kesatuan pelayanan bersama yang berpusat pada kasih Kristus. Kesatuan pelayanan ini didasarkan atas ketaatan dan kesetiaan kepada misi yang dipercayakan kepada umat yang satu dan yang menerima tugas yang satu dari Kristus. Inti kehidupan pengikut Kristus dalam hubunganya secara totalitas dengan Allah adalah hubungan kasih. Ini adalah hukum terutama dan yang pertama, dan dengan sesama manusia juga kasihi seperti diri sendiri.

Dalam sudut pandang mengenai kemajemukan agama, agama Islam juga mempunyai versi dalam merajut keharmonisan di tengah majemuknya agama. Islam memberikan penjelasan-penjelasan tentang pentingnya membina hubungan baik antara muslim dan nonmuslim, pentingnya saling menghargai, saling menghormati dan berbuat baik walaupun kepada umat yang lain. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai asas pemberlakuan konsep kerukunan dalam Islam, antara lain: teks keagamaan Islam sangat toleran dan dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia.

Hal tersebut dalam mendukung dan menjaga toleransi beragama di Indonesia. Sebenarnya sudah final dalam melihat kondisi pluralitas agama, yakni dengan mengakui keberadaan agama lain, bukan mengakui kebenaran masing-masing. Dari sini yang sering menjadi sebuah isu sentral dan menuai kekonflikan karena penyebutan kafir dipicu dengan adanya truth claim atas dasar teologi masing-masing.

 

*) Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Agar semua umat beragama di Indonesia khususnya, bisa memaknai setiap keragaman yang ada. Baik dari tingkat lokal maupun nasional. Mengetahui agama lain bukan tujuan untuk saling mendiskreditkan, meminoritaskan, memarjinalkan atau mendebat dengan keyakinan mana yang benar mana yang salah. Namun bangunlah semua kemajemukan itu penuh siraman kasih sayang, cinta kasih untuk merawat dan menjaga keindahan yang telah Tuhan titipkan lewat agama-agama yang tumbuh di Indonesia ini.

Saidurrahman menjelaskan bahwa harmonis dalam sudut pandang agama Hindu bahwa konsep kerukunan merujuk pada kitab suci Veda, di mana mengamanatkan untuk menumbuhkembangkan kerukunan umat beragama, toleransi, solidaritas dan penghargaan terhadap sesama manusia dengan tidak membeda-bedakannya. Dalam ajaran kitab Veda, masalah kerukunan dijelaskan secara gamblang dalam ajaran: Tattwam asi, karma phala, dan ahimsa.

Dalam sudut pandang agama Buddha untuk membina kerukunan hidup beragama, umat Buddha telah memiliki pedoman yang dapat dijadikan tuntunan kehidupan harmonis yang oleh Buddha disebut enam faktor yang membawa keharmonisan (Saraniya-dhamma). Pertama, cinta kasih diwujudkan dalam perbuatan. Kedua, cinta kasih diwujudkan dalam tutur kata. Ketiga, cinta kasih diwujudkan dalam pikiran dan pemikiran. Keempat, memberi kesempatan kepada sesama ikut menikmati apa yang diperoleh secara halal. Kelima, di depan umum atau pribadi dia menjalankan kehidupan yang bermoral, tidak berbuat sesuatu yang melukai perasaan orang. Keenam, di depan umum atau pribadi memiliki yang sama yang bersifat membebaskan dari penderitaan dan membawanya berbuat sesuai dengan pandangan tersebut, hidup harmonis tidak bertengkar karena perbedaan pandangan..

Dalam sudut pandang agama Konghucu bahwa Konghucu mengajarkan kepada umatnya ialah pemahaman dasar yang dapat membangun sebuah hidup berkerukunan adalah tidak membeda-bedakan, para anggota masyarakatnya diikat dalam pemahaman persaudaraan yang saling tenggang rasa dan tidak membebani satu sama lain. Konsep demikian diujarkan Nabi Kong Hu Cu; “Di empat penjuru samudra, kita semua manusia adalah bersaudara. Dan seorang yang berperi cinta kasih itu ingin dapat tegak, maka berusaha agar orang lain pun tegak; ia ingin maju, maka berusaha agar orang lain pun maju. Nabi Kong Hu Cu berpesan; “agar di rumah hendaknya berbakti, di luar rumah hendaknya rendah hati, hati-hati hingga dapat dipercaya, waktu luang digunakan untuk membaca kitab meluaskan pengetahuan.

Dalam agama Kristen memaknai sebuah kemajemukan ialah terciptanya kesatuan pelayanan bersama yang berpusat pada kasih Kristus. Kesatuan pelayanan ini didasarkan atas ketaatan dan kesetiaan kepada misi yang dipercayakan kepada umat yang satu dan yang menerima tugas yang satu dari Kristus. Inti kehidupan pengikut Kristus dalam hubunganya secara totalitas dengan Allah adalah hubungan kasih. Ini adalah hukum terutama dan yang pertama, dan dengan sesama manusia juga kasihi seperti diri sendiri.

Dalam sudut pandang mengenai kemajemukan agama, agama Islam juga mempunyai versi dalam merajut keharmonisan di tengah majemuknya agama. Islam memberikan penjelasan-penjelasan tentang pentingnya membina hubungan baik antara muslim dan nonmuslim, pentingnya saling menghargai, saling menghormati dan berbuat baik walaupun kepada umat yang lain. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai asas pemberlakuan konsep kerukunan dalam Islam, antara lain: teks keagamaan Islam sangat toleran dan dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia.

Hal tersebut dalam mendukung dan menjaga toleransi beragama di Indonesia. Sebenarnya sudah final dalam melihat kondisi pluralitas agama, yakni dengan mengakui keberadaan agama lain, bukan mengakui kebenaran masing-masing. Dari sini yang sering menjadi sebuah isu sentral dan menuai kekonflikan karena penyebutan kafir dipicu dengan adanya truth claim atas dasar teologi masing-masing.

 

*) Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/