alexametrics
24.8 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Memaknai Hidup Beragama di Indonesia

Mobile_AP_Rectangle 1

Membangun keluarga yang harmonis dan rukun merupakan tujuan setiap manusia. Maksud keluarga bukan hanya termaknai sedarah dan lingkup kecil. Namun dimaknai sebagai keluarga hidup beragama di Indonesia. Dengan banyaknya kekerasan agama yang terjadi di Indonesia, ini pertanda bahwa keluarga umat beragama di Indonesia mengalami kemirisan pada sisi kemanusiaan. Nilai-nilai Pancasila perlu kemudian diremajakan kembali dalam tafsir mutakhir di era ini.

Setara Institut melaporkan pada 6 April 2021 dalam siaran persnya menjelaskan, setidaknya sepanjang tahun 2020, telah terjadi 180 peristiwa pelanggaran KKB, dengan 422 tindakan. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah peristiwa menurun tipis, yang mana pada 2019 terjadi 200 peristiwa pelanggaran KBB. Namun, dari sisi tindakan melonjak tajam dibandingkan sebelumnya yang hanya 327 pelanggaran. Ini menandakan bahwa perlunya membangun rumah moderasi beragama dalam bingkai Indonesia. Dan perlunya memaknai kembali nilai-nilai agama masing-masing dan Pancasila dalam penerapan hidup antarumat beragama di Indonesia..

Sebenarnya agama harusnya menjadi katalisator dalam kehidupan setiap manusia. Kenapa harus terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan yang menyulut konflik? Kebebasan sebagai manusia Indonesia untuk beragama, malahan membuat intoleransi. Ini yang sebenarnya berbahaya bagi perkembangan hidup beragama di Indonesia ke depan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mereka tidak mempraktikkan ajaran masing-masing dalam membangun keluarga kecilnya. Dipastikan setiap agama memiliki sebuah ajaran yang mengarah pada konsep membangun hubungan dengan umat agama lain. Maka, ketika mereka sudah mempelajari ruh-ruh agama masing-masing, kemudian praktikkan dalam kehidupan. Apalagi dihadapkan dengan konteks keindonesiaan, dengan multikulturalistiknya, gunakan makna yang beragama penuh dengan keindahan, tujuan utamanya ialah kemanusiaan.

Ketika ruh-ruh beragama sudah mampu dipraktikkan, akan memberikan dampak yang baik bagi diri sendiri maupun sekitar. Kesaklekan dalam beragama, kadang menggiring kita pada ruang-ruang fanatisme dalam beragama. Seraya melihat pemeluk lain, sebagai musuh. Doktrin yang seakan mengarah pada keburukan, mulailah untuk dibuang. Ambillah sari-sari dalam beragama yang bisa memberi dampak baik.

Dalam setiap agama, terutama pada masing-masing kitab, pasti terdapat butiran-butiran mutiara yang bertujuan untuk kehidupan bersama, kemudian diambil inti makna dan praktikkan dalam kehidupan beragama. Tujuan awal dalam pembangun hubungan beragama yang harmonis, tertuju pada tataran hubungan kemanusiaan. Jangan terlalu mencoba untuk mengeruhkan pada tangga teologis. Keyakinan ketika dibincangkan, apalagi mereka juga mungkin belum begitu dalam atau memang mereka kaku dalam menyikapi adanya agama lain, yang kemudian tidak sepaham dengan keyakinan mereka, maka timbullah riak-riak fanatisme dalam diri.

Saling mengetahui satu sama lain, tentang agama-agama di Indonesia itu wajib. Terutama memahami dalam konteks kesejarahan agama-agama tersebut. Karena akan membuka wawasan kita semua tentang kehadiran agama-agama tersebut di Indonesia. Dan untuk membuka ketersingkapan yang mungkin masih ragu dalam agama lain, maka ini pentingnya dialog lintas agama yang berbalut dalam sosial-historis.

Sutiyono (2010) menjelaskan pada tataran teoritis terdapat dua konsep penting yang dimiliki oleh setiap agama, yang dapat mempengaruhi pemeluknya dalam interaksi di antara mereka, yaitu fanatisme dan toleransi. Dua konsep ini selalu dipraktikkan dalam pola seimbang, karena ketidakseimbangan di antara keduanya akan menyebabkan ketidakstabilan sosial antarpemeluknya. Hal ini sering terlihat di lapangan, bahwa jika fanatisme terlalu kuat sementara toleransi rendah, maka eksistensi agamanya menjadi menguat dan sering menimbulkan permusuhan terhadap penganut agama lain. Sebaliknya, jika fanatisme terlalu lemah sementara toleransi tinggi, maka eksistensi agamanya menjadi melemah karena mereka merasa tidak bangga dengan agama yang dianutnya.

Sangat jelas apa yang dikemukakan oleh Sutiyono bahwa harus seimbang, moderat dalam beragama. Fanatik jangan, toleransi berlebih pun jangan, seimbang saja. Kubangan yang sering menjadi perdebatan ialah ketika muslim masuk gereja, ketika muslim belajar kitab Kristen, ketika muslim bersinggungan yang membuat isu-isu beragama. Ini perlunya rejuvinasi dialog lintas agama dalam konteks sejarah di helat kembali. Sehingga sebuah pertanyaan besar yang muncul bisa terjawab, yakni apakah boleh muslim belajar Injil? Apakah boleh muslim belajar kitab-kitab lain? Apa tidak kitab itu termasuk doktrin agama mereka? Ini perlu kemudian dibahas dan dikupas lewat sejarah.

- Advertisement -

Membangun keluarga yang harmonis dan rukun merupakan tujuan setiap manusia. Maksud keluarga bukan hanya termaknai sedarah dan lingkup kecil. Namun dimaknai sebagai keluarga hidup beragama di Indonesia. Dengan banyaknya kekerasan agama yang terjadi di Indonesia, ini pertanda bahwa keluarga umat beragama di Indonesia mengalami kemirisan pada sisi kemanusiaan. Nilai-nilai Pancasila perlu kemudian diremajakan kembali dalam tafsir mutakhir di era ini.

Setara Institut melaporkan pada 6 April 2021 dalam siaran persnya menjelaskan, setidaknya sepanjang tahun 2020, telah terjadi 180 peristiwa pelanggaran KKB, dengan 422 tindakan. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah peristiwa menurun tipis, yang mana pada 2019 terjadi 200 peristiwa pelanggaran KBB. Namun, dari sisi tindakan melonjak tajam dibandingkan sebelumnya yang hanya 327 pelanggaran. Ini menandakan bahwa perlunya membangun rumah moderasi beragama dalam bingkai Indonesia. Dan perlunya memaknai kembali nilai-nilai agama masing-masing dan Pancasila dalam penerapan hidup antarumat beragama di Indonesia..

Sebenarnya agama harusnya menjadi katalisator dalam kehidupan setiap manusia. Kenapa harus terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan yang menyulut konflik? Kebebasan sebagai manusia Indonesia untuk beragama, malahan membuat intoleransi. Ini yang sebenarnya berbahaya bagi perkembangan hidup beragama di Indonesia ke depan.

Mereka tidak mempraktikkan ajaran masing-masing dalam membangun keluarga kecilnya. Dipastikan setiap agama memiliki sebuah ajaran yang mengarah pada konsep membangun hubungan dengan umat agama lain. Maka, ketika mereka sudah mempelajari ruh-ruh agama masing-masing, kemudian praktikkan dalam kehidupan. Apalagi dihadapkan dengan konteks keindonesiaan, dengan multikulturalistiknya, gunakan makna yang beragama penuh dengan keindahan, tujuan utamanya ialah kemanusiaan.

Ketika ruh-ruh beragama sudah mampu dipraktikkan, akan memberikan dampak yang baik bagi diri sendiri maupun sekitar. Kesaklekan dalam beragama, kadang menggiring kita pada ruang-ruang fanatisme dalam beragama. Seraya melihat pemeluk lain, sebagai musuh. Doktrin yang seakan mengarah pada keburukan, mulailah untuk dibuang. Ambillah sari-sari dalam beragama yang bisa memberi dampak baik.

Dalam setiap agama, terutama pada masing-masing kitab, pasti terdapat butiran-butiran mutiara yang bertujuan untuk kehidupan bersama, kemudian diambil inti makna dan praktikkan dalam kehidupan beragama. Tujuan awal dalam pembangun hubungan beragama yang harmonis, tertuju pada tataran hubungan kemanusiaan. Jangan terlalu mencoba untuk mengeruhkan pada tangga teologis. Keyakinan ketika dibincangkan, apalagi mereka juga mungkin belum begitu dalam atau memang mereka kaku dalam menyikapi adanya agama lain, yang kemudian tidak sepaham dengan keyakinan mereka, maka timbullah riak-riak fanatisme dalam diri.

Saling mengetahui satu sama lain, tentang agama-agama di Indonesia itu wajib. Terutama memahami dalam konteks kesejarahan agama-agama tersebut. Karena akan membuka wawasan kita semua tentang kehadiran agama-agama tersebut di Indonesia. Dan untuk membuka ketersingkapan yang mungkin masih ragu dalam agama lain, maka ini pentingnya dialog lintas agama yang berbalut dalam sosial-historis.

Sutiyono (2010) menjelaskan pada tataran teoritis terdapat dua konsep penting yang dimiliki oleh setiap agama, yang dapat mempengaruhi pemeluknya dalam interaksi di antara mereka, yaitu fanatisme dan toleransi. Dua konsep ini selalu dipraktikkan dalam pola seimbang, karena ketidakseimbangan di antara keduanya akan menyebabkan ketidakstabilan sosial antarpemeluknya. Hal ini sering terlihat di lapangan, bahwa jika fanatisme terlalu kuat sementara toleransi rendah, maka eksistensi agamanya menjadi menguat dan sering menimbulkan permusuhan terhadap penganut agama lain. Sebaliknya, jika fanatisme terlalu lemah sementara toleransi tinggi, maka eksistensi agamanya menjadi melemah karena mereka merasa tidak bangga dengan agama yang dianutnya.

Sangat jelas apa yang dikemukakan oleh Sutiyono bahwa harus seimbang, moderat dalam beragama. Fanatik jangan, toleransi berlebih pun jangan, seimbang saja. Kubangan yang sering menjadi perdebatan ialah ketika muslim masuk gereja, ketika muslim belajar kitab Kristen, ketika muslim bersinggungan yang membuat isu-isu beragama. Ini perlunya rejuvinasi dialog lintas agama dalam konteks sejarah di helat kembali. Sehingga sebuah pertanyaan besar yang muncul bisa terjawab, yakni apakah boleh muslim belajar Injil? Apakah boleh muslim belajar kitab-kitab lain? Apa tidak kitab itu termasuk doktrin agama mereka? Ini perlu kemudian dibahas dan dikupas lewat sejarah.

Membangun keluarga yang harmonis dan rukun merupakan tujuan setiap manusia. Maksud keluarga bukan hanya termaknai sedarah dan lingkup kecil. Namun dimaknai sebagai keluarga hidup beragama di Indonesia. Dengan banyaknya kekerasan agama yang terjadi di Indonesia, ini pertanda bahwa keluarga umat beragama di Indonesia mengalami kemirisan pada sisi kemanusiaan. Nilai-nilai Pancasila perlu kemudian diremajakan kembali dalam tafsir mutakhir di era ini.

Setara Institut melaporkan pada 6 April 2021 dalam siaran persnya menjelaskan, setidaknya sepanjang tahun 2020, telah terjadi 180 peristiwa pelanggaran KKB, dengan 422 tindakan. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah peristiwa menurun tipis, yang mana pada 2019 terjadi 200 peristiwa pelanggaran KBB. Namun, dari sisi tindakan melonjak tajam dibandingkan sebelumnya yang hanya 327 pelanggaran. Ini menandakan bahwa perlunya membangun rumah moderasi beragama dalam bingkai Indonesia. Dan perlunya memaknai kembali nilai-nilai agama masing-masing dan Pancasila dalam penerapan hidup antarumat beragama di Indonesia..

Sebenarnya agama harusnya menjadi katalisator dalam kehidupan setiap manusia. Kenapa harus terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan yang menyulut konflik? Kebebasan sebagai manusia Indonesia untuk beragama, malahan membuat intoleransi. Ini yang sebenarnya berbahaya bagi perkembangan hidup beragama di Indonesia ke depan.

Mereka tidak mempraktikkan ajaran masing-masing dalam membangun keluarga kecilnya. Dipastikan setiap agama memiliki sebuah ajaran yang mengarah pada konsep membangun hubungan dengan umat agama lain. Maka, ketika mereka sudah mempelajari ruh-ruh agama masing-masing, kemudian praktikkan dalam kehidupan. Apalagi dihadapkan dengan konteks keindonesiaan, dengan multikulturalistiknya, gunakan makna yang beragama penuh dengan keindahan, tujuan utamanya ialah kemanusiaan.

Ketika ruh-ruh beragama sudah mampu dipraktikkan, akan memberikan dampak yang baik bagi diri sendiri maupun sekitar. Kesaklekan dalam beragama, kadang menggiring kita pada ruang-ruang fanatisme dalam beragama. Seraya melihat pemeluk lain, sebagai musuh. Doktrin yang seakan mengarah pada keburukan, mulailah untuk dibuang. Ambillah sari-sari dalam beragama yang bisa memberi dampak baik.

Dalam setiap agama, terutama pada masing-masing kitab, pasti terdapat butiran-butiran mutiara yang bertujuan untuk kehidupan bersama, kemudian diambil inti makna dan praktikkan dalam kehidupan beragama. Tujuan awal dalam pembangun hubungan beragama yang harmonis, tertuju pada tataran hubungan kemanusiaan. Jangan terlalu mencoba untuk mengeruhkan pada tangga teologis. Keyakinan ketika dibincangkan, apalagi mereka juga mungkin belum begitu dalam atau memang mereka kaku dalam menyikapi adanya agama lain, yang kemudian tidak sepaham dengan keyakinan mereka, maka timbullah riak-riak fanatisme dalam diri.

Saling mengetahui satu sama lain, tentang agama-agama di Indonesia itu wajib. Terutama memahami dalam konteks kesejarahan agama-agama tersebut. Karena akan membuka wawasan kita semua tentang kehadiran agama-agama tersebut di Indonesia. Dan untuk membuka ketersingkapan yang mungkin masih ragu dalam agama lain, maka ini pentingnya dialog lintas agama yang berbalut dalam sosial-historis.

Sutiyono (2010) menjelaskan pada tataran teoritis terdapat dua konsep penting yang dimiliki oleh setiap agama, yang dapat mempengaruhi pemeluknya dalam interaksi di antara mereka, yaitu fanatisme dan toleransi. Dua konsep ini selalu dipraktikkan dalam pola seimbang, karena ketidakseimbangan di antara keduanya akan menyebabkan ketidakstabilan sosial antarpemeluknya. Hal ini sering terlihat di lapangan, bahwa jika fanatisme terlalu kuat sementara toleransi rendah, maka eksistensi agamanya menjadi menguat dan sering menimbulkan permusuhan terhadap penganut agama lain. Sebaliknya, jika fanatisme terlalu lemah sementara toleransi tinggi, maka eksistensi agamanya menjadi melemah karena mereka merasa tidak bangga dengan agama yang dianutnya.

Sangat jelas apa yang dikemukakan oleh Sutiyono bahwa harus seimbang, moderat dalam beragama. Fanatik jangan, toleransi berlebih pun jangan, seimbang saja. Kubangan yang sering menjadi perdebatan ialah ketika muslim masuk gereja, ketika muslim belajar kitab Kristen, ketika muslim bersinggungan yang membuat isu-isu beragama. Ini perlunya rejuvinasi dialog lintas agama dalam konteks sejarah di helat kembali. Sehingga sebuah pertanyaan besar yang muncul bisa terjawab, yakni apakah boleh muslim belajar Injil? Apakah boleh muslim belajar kitab-kitab lain? Apa tidak kitab itu termasuk doktrin agama mereka? Ini perlu kemudian dibahas dan dikupas lewat sejarah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/