Mengambil Hikmah dari Rekonsiliasi Jokowi Prabowo

SALAH satu informasi yang menarik untuk dijadikan acuan kita bersama khususnya berkenaan dengan kontestasi politik adalah pertemuan Jokowi dan Prabowo. Pertemuan itu berlangsung di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (13/7/2019). Seperti diketahui, keduanya adalah kompetitor sewaktu pelaksanaan Pilpres yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Pertemuan keduanya di antara hal yang sudah lama dinantikan dan kita harapkan. Hal itu mengingat suasana sempat dibuat bersitegang diantara masing-masing pendukungnya. Bahkan hewan yang tidak bersalah seperti kecebong dan kampret dijadikan alat melampiaskan kebencian, kemarahan dan memperkeruh keadaan. Ini sangat ironis dan disayangkan bagaimana mahluk Tuhan yang tidak bersalahpun diikut-ikutkan. Benar sekali Alquran mengibaratkan manusia yang melepas nilai-nilai kemanusiaannya seperti hewan yang memiliki nafsu kebinatangan bahkan lebih sesat, ulaaika kal an am bahhum adhal.

IKLAN

Setiap orang yang memiliki akal sehat dan kejernihan hati, pasti menginginkan suasana yang aman dan nyaman bagaimana bisa dinikmati bersama-sama secara merata. Rekonsiliasi atau islah yang dilakukan Prabowo dan Jokowi setidaknya menjadi potret dalam menjaga hubungan baik dalam berbangsa dan bernegara. Bukankah semua manusia pada dasarnya bersaudara dan seharusnya menjaga persaudaraan. Siapapun yang mencederai nilai-nilai persaudaraan, tentu itu tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Sampai di sini saya kira semua memahaminya.

Di internal umat Islam misalnya, secara garis besar ada tiga persaudaraan yang sering dikenalkan dan ditanamkan. Pertama yaitu persaudaraan sesama umat Islam. Persaudaran yang terbangun karena memiliki keyakinan sama dalam beragama yaitu sama-sama muslim. Persaudaraan ini juga dikenal dengan ukhuwah islamiyah. Adanya kesamaan keyakinan inilah yang memunculkan persaudaraan tercipta.

Kedua adalah persaudaraan sesama bangsa Indonesia atau ukhuwah wathaniyah. Ketika kita tidak bisa dipertemukan dalam persaudaraan sesama agama karena berbeda agama yang dianut. Maka persaudaraan selanjutnya adalah persaudaraan sesama bangsa Indonesia. Persaudaraan inilah yang dirasa mampu mempertemukan kita sebagai orang yang memiliki tanah air dan tanah tumpah darah satu yaitu Indonesia. Persaudaraan ini seharusnya menjadi titik temu bangsa ini dalam rangka mempertemukan seluruh perbedaan agama, ras, suku, budaya dan semacamnya.

Para leluhur dan pendiri bangsa ini sudah mencontohkan lebih awal terkait persaudaraan ini. Misalnya pada momentum Sumpah Pemuda sebelum negara yang kita cintai ini memproklamasikan kemerdekaannya. Sumpah Pemuda adalah peninggalan berharga bagaimana tetap dipertahankan dalam berbagai konteks dan dinamikanya. Dengan Sumpah Pemuda, para pendahulu kita mampu mempertemukan perbedaan yang ada untuk selanjutnya menyatukan tekad perjuangan dalam rangka merebut kemerdekaan dari cengkeraman penjajah.

Para pendahulu kita menyadari bahwa perjuangan akan berhasil jikalau seluruh elemen bangsa ini bersatu. Ternyata hal itu berhasil daripada perjuangangan sebelumnya yang bersifat kedaerahan sehingga mudah dipatahkan. Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaan, para pendahulu ini kembali merumuskan ideologi berbangsa dan bernegara yang mampu mengakomodir dan menyatukan semua pihak. Akhirnya tercetuslah Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kelima sila yang terkandung di dalamnya memiki nilai-nilai keluhuran untuk merawat dan menjaga NKRI.

Terakhir adalah persaudaraan sesama manusia. Kita bersaudara karena menjaga hubungan persaudaraan sesama manusia. Baik dalam lingkup kecil seperti keluarga maupun dalam lingkup besar yaitu sesama manusia semuanya tanpa terkecuali. Kita sepakat dengan adanya Hak Asasi Manusia (HAM) dengan kandungan nilai-nilai kemuliannya. Walaupun di beberapa hal, barangkali perlu ada hal yang butuh dikaji ulang sehingga orang tidak sembarangan membenarkan penyimpangan yang sengaja dibungkus dan berlindung di balik HAM itu. Ketika ada beberapa pihak dengan gigih dan melakukan pembelaan terhadap orang yang terintimidasi di beberapa negara dan berupaya memperjuangkan kemerdekaannya, itu bagian dari keterpanggilan seorang manusia untuk membantu saudaranya sesama manusia. Disinilah pentingnya kita ikut terlibat menjaga persaudaraan sesama manusia atau dikenal dengan ukhuwah insaniyah atau basyariyah.

Apa yang dilakukan Prabowo dan Jokowi yang sudah melakukan rekonsiliasi seharusnya berdampak positif bagi kedua pendukungnya. Kita ingin melihat dua putra terbaik bangsa Indonesia yang sempat berkontestasi tersebut, bekerjasama dan berbagi peran untuk menciptakan energi-energi positif yang bisa dicontohkan dan ditularkan. Kalau itu bisa dilakukan, maka kalah menang dalam sebuah kontestasi bukan lagi persoalan dan tidak lagi untuk dijadikan penguat lahirnya persoalan demi persoalan.

Ketika merah putih dikibarkan dan sayap-sayap garuda dibentangkan. Maka Indonesia maju yang adil dan makmur besar harapan bisa diwujudkan tanpa memandang arah dukungan. Tapi lebih kepada perhatian pada yang lebih membutuhkan. Maka mulai saat ini sudah seharusnya ada kesadaran kolektif untuk melepaskan hal apapun yang memicu konflik dan ketegangan. Untuk itu, semua pihak terutama para tokoh agama dan tokoh masyarakat bagaimana terus melakukan kampanye damai untuk memberikan penyadaran demi penyadaran kepada masyarakat dan golongannya terutama setiap kali menghadapi pemilihan kepemimpinan.

*) Penulis adalah guru Bahasa Indonesia dan Aswaja MA Nurut Taqwa Grujugan Cermee Bondowoso, dan Sekretaris Pengurus Sub Rayon IKSASS Kecamatan Cermee.

Reporter :

Fotografer :

Editor :