alexametrics
24.4 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Manusia Mati Meninggalkan Nama: Selamat Jalan Eril

Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang

Mobile_AP_Rectangle 1

Walaupun pepatah dalam judul tulisan ini mungkin jarang terdengar, tetapi maknanya masih tetap dalam dan patut untuk kita jadikan pelajaran dalam kehidupan. Seperti kita ketahui bersama, dalam dua pekan terakhir ini, hampir semua media di Indonesia baik media cetak maupun elektronik dipenuhi kabar hilangnya putra sulung gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (RK) dan Ibu Atalia Praratya yang bernama Emmeril Kahn Mumtadz (Eril) karena terseret arus di Sungai Aare, Bern, Swiss.

BACA JUGA : Kesehatan Reproduksi Diusulkan Jadi Mata Pelajaran

Bahkan salah satu stasiun televisi hampir setiap saat mengabarkan perkembangan pencarian putra sulung gubernur Jawa Barat tersebut. Apa sebenarnya yang membuat begitu banyak perhatian terhadap hilangnya Eril di Sungai Aare, Swiss tersebut? Jawaban yang terang benderang, jelas di depan mata, adalah karena Eril putra RK, gubernur Jawa Barat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Secara normatif meninggalnya Eril sebagai putra gubernur pasti menjadi berita penting. Pelayatnya pasti orang-orang penting serta para petinggi negeri ini. Tetapi ada keyakinan pada diri saya bahwa anak seorang pejabat sekalipun tidaklah menjamin bahwa berita kematiannya dapat mengundang antusias serta simpati masyarakat yang luar biasa. Anak muda yang bernama Eril yang dipanggil Tuhan pada usia 23 tahun pasti sangat istimewa di hati mereka yang mencintainya, bukan hanya karena almarhum putra seorang gubernur.

Memperhatikan antusiasme masyarakat dalam menyikapi pemberitaan pencarian Eril serta penyambutan kedatangan almarhum ke Indonesia sampai pada saat pemakaman di Cimaung, areal Islamic Center di kampung halaman ibundanya, membuktikan bahwa almarhum adalah sosok pemuda yang luar biasa. Dari beberapa berita dan pernyataan yang disampaikan masyarakat, dapat disimpulkan bahwa Eril adalah sosok yang memiliki kepedulian sosial tinggi dan sangat humble walaupun dia anak seorang gubernur.

Dia selalu menabung dari uang sakunya untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Bahkan tenaga satpam di kantor ayahnya bekerja juga sering mendapat bagian dari kedermawanan Eril. Sampai Eril meninggal, dia masih sebagai pimpinan Jabar Bergerak Zillenial, komunitas anak muda yang terus berkontribusi langsung membantu  masyarakat.

Kesederhanaan Eril yang diajarkan oleh orang tuanya terpancar dalam kehidupannya. Demikian penuturan Hendar Zaehanan, orang yang cukup lama bertugas merawat Eril dan adiknya Zahra. Menurutnya, meski lahir dari keluarga berkecukupan, kakak beradik itu tidak difasilitasi mobil untuk antar jemput ke sekolah. Mereka berdua saya antar pakai motor.  Zahra di depan, saya di tengah, dan Eril di belakang.

Kegiatan antar jemput itu berhenti saat RK menjadi wali kota Bandung karena Hendar diperlukan untuk mengurusi keperluan RK dan Ibu Atalia. Ketika Hendar sudah tidak melaksanakan antar jemput, Eril pergi ke sekolah dengan bersepeda. Hanya sekali kali saja dia menggunakan motor inventaris Hendar.

Sejak kecil almarhum sudah diajari peduli kepada sesama dan mengerjakan keperluan sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Bahkan sampai urusan membersihkan kamar tidur, Eril harus mengerjakan sendiri sejak anak-anak. Hendar hanya diminta mendampingi dan membantu apabila ada kesulitan. Demikian penuturan Hendar, pemuda yang ditugasi merawat Eril dan adiknya Zahra (Jawa Pos, 13 Juni, 2022).

Ketika ditanya tentang keseharian Eril saat diwawancarai seorang reporter di salah satu stasiun televisi, wakil gubernur Jawa Barat mengatakan bahwa setiap bertemu dengan Eril, tidak pernah ada kesan bahwa dia adalah putra seorang gubernur. Kepribadiannya menyenangkan dan sangat rendah hati serta sederhana. Kalau melihat antusiasme masyarakat menyambut kedatangan jenazah Eril, menunggu keberangkatan rombongan ke pemakaman sampai masyarakat berebut untuk datang ke pusara Eril, jelas menunjukkan bahwa almarhum sangat dicintai mereka.

- Advertisement -

Walaupun pepatah dalam judul tulisan ini mungkin jarang terdengar, tetapi maknanya masih tetap dalam dan patut untuk kita jadikan pelajaran dalam kehidupan. Seperti kita ketahui bersama, dalam dua pekan terakhir ini, hampir semua media di Indonesia baik media cetak maupun elektronik dipenuhi kabar hilangnya putra sulung gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (RK) dan Ibu Atalia Praratya yang bernama Emmeril Kahn Mumtadz (Eril) karena terseret arus di Sungai Aare, Bern, Swiss.

BACA JUGA : Kesehatan Reproduksi Diusulkan Jadi Mata Pelajaran

Bahkan salah satu stasiun televisi hampir setiap saat mengabarkan perkembangan pencarian putra sulung gubernur Jawa Barat tersebut. Apa sebenarnya yang membuat begitu banyak perhatian terhadap hilangnya Eril di Sungai Aare, Swiss tersebut? Jawaban yang terang benderang, jelas di depan mata, adalah karena Eril putra RK, gubernur Jawa Barat.

Secara normatif meninggalnya Eril sebagai putra gubernur pasti menjadi berita penting. Pelayatnya pasti orang-orang penting serta para petinggi negeri ini. Tetapi ada keyakinan pada diri saya bahwa anak seorang pejabat sekalipun tidaklah menjamin bahwa berita kematiannya dapat mengundang antusias serta simpati masyarakat yang luar biasa. Anak muda yang bernama Eril yang dipanggil Tuhan pada usia 23 tahun pasti sangat istimewa di hati mereka yang mencintainya, bukan hanya karena almarhum putra seorang gubernur.

Memperhatikan antusiasme masyarakat dalam menyikapi pemberitaan pencarian Eril serta penyambutan kedatangan almarhum ke Indonesia sampai pada saat pemakaman di Cimaung, areal Islamic Center di kampung halaman ibundanya, membuktikan bahwa almarhum adalah sosok pemuda yang luar biasa. Dari beberapa berita dan pernyataan yang disampaikan masyarakat, dapat disimpulkan bahwa Eril adalah sosok yang memiliki kepedulian sosial tinggi dan sangat humble walaupun dia anak seorang gubernur.

Dia selalu menabung dari uang sakunya untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Bahkan tenaga satpam di kantor ayahnya bekerja juga sering mendapat bagian dari kedermawanan Eril. Sampai Eril meninggal, dia masih sebagai pimpinan Jabar Bergerak Zillenial, komunitas anak muda yang terus berkontribusi langsung membantu  masyarakat.

Kesederhanaan Eril yang diajarkan oleh orang tuanya terpancar dalam kehidupannya. Demikian penuturan Hendar Zaehanan, orang yang cukup lama bertugas merawat Eril dan adiknya Zahra. Menurutnya, meski lahir dari keluarga berkecukupan, kakak beradik itu tidak difasilitasi mobil untuk antar jemput ke sekolah. Mereka berdua saya antar pakai motor.  Zahra di depan, saya di tengah, dan Eril di belakang.

Kegiatan antar jemput itu berhenti saat RK menjadi wali kota Bandung karena Hendar diperlukan untuk mengurusi keperluan RK dan Ibu Atalia. Ketika Hendar sudah tidak melaksanakan antar jemput, Eril pergi ke sekolah dengan bersepeda. Hanya sekali kali saja dia menggunakan motor inventaris Hendar.

Sejak kecil almarhum sudah diajari peduli kepada sesama dan mengerjakan keperluan sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Bahkan sampai urusan membersihkan kamar tidur, Eril harus mengerjakan sendiri sejak anak-anak. Hendar hanya diminta mendampingi dan membantu apabila ada kesulitan. Demikian penuturan Hendar, pemuda yang ditugasi merawat Eril dan adiknya Zahra (Jawa Pos, 13 Juni, 2022).

Ketika ditanya tentang keseharian Eril saat diwawancarai seorang reporter di salah satu stasiun televisi, wakil gubernur Jawa Barat mengatakan bahwa setiap bertemu dengan Eril, tidak pernah ada kesan bahwa dia adalah putra seorang gubernur. Kepribadiannya menyenangkan dan sangat rendah hati serta sederhana. Kalau melihat antusiasme masyarakat menyambut kedatangan jenazah Eril, menunggu keberangkatan rombongan ke pemakaman sampai masyarakat berebut untuk datang ke pusara Eril, jelas menunjukkan bahwa almarhum sangat dicintai mereka.

Walaupun pepatah dalam judul tulisan ini mungkin jarang terdengar, tetapi maknanya masih tetap dalam dan patut untuk kita jadikan pelajaran dalam kehidupan. Seperti kita ketahui bersama, dalam dua pekan terakhir ini, hampir semua media di Indonesia baik media cetak maupun elektronik dipenuhi kabar hilangnya putra sulung gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (RK) dan Ibu Atalia Praratya yang bernama Emmeril Kahn Mumtadz (Eril) karena terseret arus di Sungai Aare, Bern, Swiss.

BACA JUGA : Kesehatan Reproduksi Diusulkan Jadi Mata Pelajaran

Bahkan salah satu stasiun televisi hampir setiap saat mengabarkan perkembangan pencarian putra sulung gubernur Jawa Barat tersebut. Apa sebenarnya yang membuat begitu banyak perhatian terhadap hilangnya Eril di Sungai Aare, Swiss tersebut? Jawaban yang terang benderang, jelas di depan mata, adalah karena Eril putra RK, gubernur Jawa Barat.

Secara normatif meninggalnya Eril sebagai putra gubernur pasti menjadi berita penting. Pelayatnya pasti orang-orang penting serta para petinggi negeri ini. Tetapi ada keyakinan pada diri saya bahwa anak seorang pejabat sekalipun tidaklah menjamin bahwa berita kematiannya dapat mengundang antusias serta simpati masyarakat yang luar biasa. Anak muda yang bernama Eril yang dipanggil Tuhan pada usia 23 tahun pasti sangat istimewa di hati mereka yang mencintainya, bukan hanya karena almarhum putra seorang gubernur.

Memperhatikan antusiasme masyarakat dalam menyikapi pemberitaan pencarian Eril serta penyambutan kedatangan almarhum ke Indonesia sampai pada saat pemakaman di Cimaung, areal Islamic Center di kampung halaman ibundanya, membuktikan bahwa almarhum adalah sosok pemuda yang luar biasa. Dari beberapa berita dan pernyataan yang disampaikan masyarakat, dapat disimpulkan bahwa Eril adalah sosok yang memiliki kepedulian sosial tinggi dan sangat humble walaupun dia anak seorang gubernur.

Dia selalu menabung dari uang sakunya untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Bahkan tenaga satpam di kantor ayahnya bekerja juga sering mendapat bagian dari kedermawanan Eril. Sampai Eril meninggal, dia masih sebagai pimpinan Jabar Bergerak Zillenial, komunitas anak muda yang terus berkontribusi langsung membantu  masyarakat.

Kesederhanaan Eril yang diajarkan oleh orang tuanya terpancar dalam kehidupannya. Demikian penuturan Hendar Zaehanan, orang yang cukup lama bertugas merawat Eril dan adiknya Zahra. Menurutnya, meski lahir dari keluarga berkecukupan, kakak beradik itu tidak difasilitasi mobil untuk antar jemput ke sekolah. Mereka berdua saya antar pakai motor.  Zahra di depan, saya di tengah, dan Eril di belakang.

Kegiatan antar jemput itu berhenti saat RK menjadi wali kota Bandung karena Hendar diperlukan untuk mengurusi keperluan RK dan Ibu Atalia. Ketika Hendar sudah tidak melaksanakan antar jemput, Eril pergi ke sekolah dengan bersepeda. Hanya sekali kali saja dia menggunakan motor inventaris Hendar.

Sejak kecil almarhum sudah diajari peduli kepada sesama dan mengerjakan keperluan sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Bahkan sampai urusan membersihkan kamar tidur, Eril harus mengerjakan sendiri sejak anak-anak. Hendar hanya diminta mendampingi dan membantu apabila ada kesulitan. Demikian penuturan Hendar, pemuda yang ditugasi merawat Eril dan adiknya Zahra (Jawa Pos, 13 Juni, 2022).

Ketika ditanya tentang keseharian Eril saat diwawancarai seorang reporter di salah satu stasiun televisi, wakil gubernur Jawa Barat mengatakan bahwa setiap bertemu dengan Eril, tidak pernah ada kesan bahwa dia adalah putra seorang gubernur. Kepribadiannya menyenangkan dan sangat rendah hati serta sederhana. Kalau melihat antusiasme masyarakat menyambut kedatangan jenazah Eril, menunggu keberangkatan rombongan ke pemakaman sampai masyarakat berebut untuk datang ke pusara Eril, jelas menunjukkan bahwa almarhum sangat dicintai mereka.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/