Penyekatan Mudik dan Lebarannomics

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perhelatan Lebaran kali ini masih sama dengan Lebaran tahun lalu yang didera pagebluk Covid-19. Tak ayal larangan mudik pemerintah berbuah keterkejutan bagi sebagian besar masyarakat. Mengingat mudik Lebaran telah mentradisi cukup dalam di masyarakat, bukan hanya sarat dengan makna sosial dan budaya, namun membuncahkan hakekat ekonomi yang penuh arti. Hingga penyematan diksi Lebarannomics memberi makna ekonomi sebagai penanda barometer pengganda perekonomian menjadi tidak berlebihan. Pada aras ini, pandemi menjadi dilema pelik antara biaya ekonomi dan kesehatan. Dengan merefleksikan tsunami pandemi India yang tentu tidak diinginkan terjadi pada kita.

Mengait ruas pemikiran pada regulasi larangan dan penyekatan mudik berdasar rayon dan aglomerasi, dapat dicermati menjadi katalisator terbentuknya konsentrasi spasial. Artinya dengan meminjam pendapat Perroux (1955), pada  titik ini jamaknya akan memunculkan kutub-kutub pertumbuhan dengan kecepatan dan intensitas yang berbeda-beda antar wilayah menciptakan trickle-down effect dalam dinamisasi sektor ekonomi, sosial dan budaya. Meski tidak saja diartikan sekadar aspek myopia, dampak konsentrasi spasial dan dilema pandemi memberikan pelajaran penting pada peluang tumbuhnya unit-unit ekonomi baru dan perputaran uang di daerah. Detailnya, bahwa tidak hanya sebatas penggunaan uang tunai, namun juga dorongan konsumsi Lebarannomics mampu mengerek angka pertumbuhan ekonomi daerah. Meski tidak secepat dan sebesar pengganda dengan adanya mudik.

Tradisi Lebaran masih menjadi episentrum ekonomi masyarakat, di mana mobilitas dan redistribusi kekayaan ekonomi masif terjadi. Ikutannya adalah stimulus aktivitas produktif di masyarakat dan kemandirian daerah. Pantulan lain yang berasa adalah Lebarannomics menjadi entry point dalam membangkitkan kebanggaan masyarakat terhadap keberadaan potensi daerah. Dalam posisi ini, maka daerah ditantang untuk mereformulasi daya dukung yang lebih atraktif dan hadap masalah.

Tidak dimungkiri selama pandemi, daerah telah menjadi laboratorium pemulihan secara bottom up dan dengan segala inovasinya. Sejurus dengan itu maka perlu strategi holistik dalam menjaga ketahanan daerah. Pandemi juga telah memberikan dampak asimetris antar wilayah. Karenanya diperlukan pendekatan berbasis tempat dan berpusat pada manusianya. Bukan saja fokus pada mobilitas, namun lebih pada akselerasi akses untuk revisiting ruang publik dalam desain tata ruang yang baru. Perubahan paradigma pembangunan daerah baru yang lebih inklusif, tawaduk pada esensi berkelanjutan dan terus belajar menjadi kota yang cerdas menjadi asa yang diusahakan tak bersekat. Relasi lain adalah dukungan bisnis, lapangan kerja dengan potensi lokal dan rumah tangga yang rentan secara ekonomi dan sosial. Pemulihan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan dan mobilitas yang bersih.

Pada titik ini, peran pemerintah daerah dalam strategi pemulihan yang berakar pada local genius, meningkatkan ekonomi lokal dengan investasi publik dan mendukung usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi penting. Mengembangkan visi atau rencana strategis pemulihan, dengan berbagai langkah stimulus, termasuk investasi dalam infrastruktur, pengurangan pajak dan fasilitasi bantuan keuangan. Stimulus fiskal harus mampu mendorong permintaan agregat. Begitupun dengan retensi investor. Investasi publik harus menciptakan permintaan dan menguntungkan pertumbuhan jangka panjang.