Puasa Ramadhan Mendidik Kesalehan Individu Menuju Kesalehan Sosial

Agus Zainudin, M.Pd.I

ISLAM adalah agama yang komplit, sebab Islam tidak melulu bicara soal ibadah vertikal atau mahdhah tetapi juga ibadah horizontal atau gairu mahdhah. Tidak ada yang yang lebih utama antara keduanya, karena itu Islam menekankan pentingnya hubungan manusia (hablun minannas) dan hubungan dengan Tuhan (hablun minallah). Puasa Ramadhan mencerminkan keduanya, yakni ibadah vertikal atau ketaatan kepada Tuhan sebagai wujud dari kesalehan individu serta ibadah horizontal wujud dari kesalehan sosial.

IKLAN

Namun nyatanya, umat Islam masih banyak yang memahami bahwa ketaatan kepada Tuhan hanya identik dengan kesalehan individu semata. Sementara kesalehan sosial dipandang dengan sebelah mata sehingga kerap ditinggalkan dalam kehidupan sehari-sehari. Maka jika hal ini dibiarkan, sama saja kita memberi umpan pada tudingan Karl Marx, tokoh komunisme asal Jerman, bahwa agama adalah candu yang membuat penganutnya puas dengan amalan-amalan individualnya. Padahal dalam Islam kesalehan individu dan kesalehan sosial merupakan satu-kesatuan yang tidak bisa ditawar dan harus tertancap serta dimiliki oleh setiap umat Islam. Aapalagi agama menganjurkan udkhulu fis silmi kaffah. Ini bermakna kesalehan dalam Islam harus total.

Saleh individu ya saleh sosial. Karena pada dasarnya, ritual ibadah seperti puasa selain bertujuan mengabdi kepada Tuhan secara bersamaan juga bertujuan membentuk karakter yang islami sehingga punya dampak positif terhadap kehidupan sosial atau hubungan antar sesama manusia. Lantaran itu pulalah, kreteria kesalehan seseorang terlalu dangkal bila hanya diukur dengan menjalan ibadah puasa semata tetapi juga ouput sosialnya seperti, kasih-sayang pada sesama, menghargai hak orang lain, menjalin intraksi yang harmonis, sikap demokratis, dan membantu orang lain.

Sebab mustahil kita bisa mencipta kondisi sosial yang damai bila kita tidak menonjolkan perangai dan sikap yang bijaksana kepada orang lain. Maka karena itu, kita sulit menemukan anjuran ibadah dalam Islam yang tidak memiliki dampak sosial atau nilai-nilai sosial. Artinya, semua ibadah dianjurkan pasti menyimpan efek sosial. Implikasi sosial dalam puasa sangat jelas. Misalnya, menahan diri dari kesenangan duniawi misalnya makan, minum, dan hubungan seksual antar suami istri. Lapar mengajarkan rendah diri sekaligus merasakan nasib orang lain yang kurang beruntung dan dari sini simpati pada derita orang lain itu dimulai.

Selain itu puasa memupuk kepekaan sosial. Hal ini terlihat apabila umat Islam terpaksa membatalkan puasa Ramadhan seperti melakukan hubungan suami-istri di siang hari maka ia diwajibkan membayar fidyah atau memberi makan kepada fakir miskin. Singkatnya, sekurang-kurangnya puasa memiliki tiga fungsi. Pertama, tadzhib puasa sarana untuk mengarahkan jiwa pada kebaikan. Kedua, ta’dib puasa sebagai media mendidik atau membentuk karakteristik pribadi yang bijaksana. Ketiga, tadrib yakni puasa sebagai ajang latihan menjadi manusia yang paripurna serta menjauhi sifat rakus.

Selanjutnya, ketika ketiga fungsi puasa ini benar-benar mendarah daging bagi setiap umat Islam maka kesalehan individu akan memicu efek-efek kesalehan sosial. Sebaliknya, apabila ketiga-tiganya disia-siakan maka sebenarnya – meskipun tanpa disadari – ibadah puasa yang dipraktikkan hanya berorientasi pada hal-hal yang artifisal belaka sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalam puasa tenggelam serta mengalami destruksi. Konsekuensinya, kebangkrutan agama akan terjadi.

“Apakah engkau tahu siapa orang yang bangkrut? Sahabat menjawab: Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak berharta benda. Nabi s.a.w bersabda: Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan-amalan ibadah salat, puasa, dan zakat tetapi pada saat yang sama ia datang sebagai orang yang pernah mencacimaki orang lain, makan harta orang lain, memukul orang lain, mengalirkan darah (membunuh) orang lain. Maka orang-orang lain (korban) akan mendapat kebaikan pahalanya (pelaku). Ketika seluruh kebaikannya habis sebelum ia dapat menebusnya maka dosa-dosa mereka (korban) akan ditimpakan padanya (pelaku). Kemudian dia akan dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Imam Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Melalui hadits tersebut, kita bisa menarik benang merahnya bahwa kesalehan dalam agama Islam sangat berorientasi pada aktualisasi nilai-nilai ibadah pada prakktik kehidupan sosial setiap hari. Indikasi kesalehan sosial tersebut tidak memberi ruang gerak pada tumbuh-berkembangnya kemungkaran pun juga kedzaliman sosial, baik dalam bentuk ketidakadilan kebijkan, kebejatan berpolitik, kerakusan ataupun dalam bentuk penindasan dan eksploitasi manusia satu kepada yang lain.

Idealnya, ritual ibadah dalam Islam merefleksikan kearifan hidup dan kehidupan. Sayangnya, bersamaan dengan rendahnya kesadaran mentafakkuri nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah, khususnya puasa Ramadhan, kerap menjebak kita pada pengertian bahwa puasa sebatas menahan makan dan minum dari terbitnya fajar hingga terbenamanya matahari. Maka dari itu, menjadi penting untuk merenungkan kembali nilai-nilai ibadah yang selama ini telah dipraktikkan secara kontinyu. Jangan sampai, puasa yang kita jalankan saat ini hanya memperoleh lapar dan dahaga sedangkan takwa sebagai muara dari puasa–lallakum tattaqun- ikut terabaikan.

Alhasil, terlalu sia-sia bila kesalehan individu dan kesalehan sosial yang bisa dicapai melalui nilai-nilai puasa Ramadhan sekadar menjadi cita-cita namun jauh panggang dari api untuk termanifestasi. Sekali lagi, mari jadikan bulan suci Ramadhan untuk merenungi nilai ibadah guna mendidik sekaligus mewujudkan pribadi yang saleh individu dan saleh sosial. Semoga, aamiin.

*) Penulis adalah Ketua Prodi PGMI Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Jember.

Reporter :

Fotografer :

Editor :