Pengemis dan Filantropi Islam

Setiap Bulan Suci Ramadhan tiba, terdapat pemandangan unik mewarnai Kota Jember. Ratusan hingga ribuan orang pengemis jalanan datang menyerbu Kota Jember. Mereka terlihat memadati seluruh jalan-jalan utama maupun kafe-kafe yang ada disekitar Jalan Mastrip, Kaliurang, Tidar, Riau maupun Jawa. Terutama di perempatan jalan dan tempat-tempat lainnya. Dan semua ini saya temukan langsung saat bepergian ke kota bahkan tidak terlepas dari salah satu tempat cangkru’an kafe banyak pengemis berdatangan menghampiri.

IKLAN

Ada gula ada semut. Makna peribahasa itu kerap diujarkan. Termasuk menyikapi maraknya aksi dari dari saudara-saudara kita dengan julukan gepeng (gelandang dan pengemis). Hingga acapkali kita terjebak di lingkaran causalitas theory, mengupas tentang sebab akibat keberadaan serta motivasi gepeng. Keberadaan gepeng, tak lagi sebagai fenomena sosial tapi sudah merambah area penyakit masyarakat. Menjamurnya peraturan daerah tentang larangan terhadap aktivitas gepeng. Kukira cukup dijadikan alasan, kan? Dan, perda ini adalah ranah hilir (refresif), bukan pada pencegahan (preventif), akan tetapi yang menjadi titik tekan permasalahan dari gepeng tersebut adalah pengemisnya.

Sekedar Pengantar tentang filantropi, asal kata Filantropi dari bahasa Yunani. Philein berarti cinta dan anthropos yang berarti manusia. Bermakna tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kemanusiaan, sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. Sedekah dalam Islam sebenarnya sangat dianjurkan sebagai wujud jiwa sosial kita kepada orang-orang yang tak mampu. Namun, ceritanya menjadi lain bila sedekah ini diterima oleh orang-orang yang masih mampu bekerja dengan baik namun malas berusaha.

Sedekah sebagai bagian dari konsep kedermawanan dalam Islam (Filantropi Islam) seharusnya menjadi spirit utama setiap muslim untuk membantu saudara-saudara lain yang kebetulan kurang beruntung. Namun, demi menghasilkan hasil yang maksimal dibutuhkan pengelolaan, perencanaan, dan penyaluran yang baik. Begitu pula dengan bentuk kegiatan filantropi lainnya semisal zakat, infaq, dan wakaf.

Pengelolaan yang kurang baik akan menghasilkan harapan sebaliknya yaitu meningkatkan angka kemiskinan itu sendiri. Kebesaran Filantropi Islam akhirnya hanya sebatas mitos semata tanpa realitas yang sesungguhnya. Meningkatnya jumlah angka kemiskinan dan pengangguran di negeri ini tak pelak menunjukkan bahwa negara telah gagal dalam membawa warganya terbebas dari kemiskinan yang permanen. Jadi, kata kuncinya bukan pada pemberian. Tapi motif saat memberikan. Yaitu rasa cinta sesama manusia. Terkadang bergeser pada rasa iba dari setuhan kemanusiaan setiap individu. Dan rasa iba ini yang dominan hadir pada pemberi sedekah, dan “dimanfaatkan” oleh penerima dengan semakin marak dan menjamurnya pengemis di jember khususnya.

Tujuan filantropi yang pertama adalah menghargai, mencintai dan menolong sesama manusia telah menjadi naluri dasar setiap manusia sebagai makhluk sosial. Dan semua ajaran agamapun menganjurkannya. Yang menjadi unsur perekat yang menjaga keutuhan dan keharmonisan suatu komunitas.

Kedua, adanya jurang kesenjangan sosial dan ekonomi antar manusian dan antar komunitas yang semakin besar. Ketiga, mendorong perlu adanya usaha-usaha efektif dan terarah untuk menghimpun dan membagikan dana dari dan untuk masyarakat, serta menyatukan dan memperkuat gerak langkah bersama menghadapi tantangan pembangunan sosial, kemanusiaan dan lingkungan.

Kebutuhan pokok membuat kaum miskin menjerit dan sangat membutuhkan uluran sang dermawan yang mau menyisihkan sebagian rezekinya demi sesuap nasi. Kondisi ini disebabkan oleh kelalaian, ketidakmampuan, kebodohan, keserakahan, dan kebiadaban kita dalam menangani negeri gemah ripah loh jinawi ini. Jeritan demi jeritan derita rakyat tak pernah menyentuh hati nurani para pemimpin untuk memperbaiki nasib rakyat. Belum lagi spiral krisis kini semakin tak berujung dan belum ada titik terang untuk keluar darinya. Keterpurukan ini dilengkapi lagi dengan keserakahan di mana semakin banyak orang-orang yang mendapatkan harta dari cara-cara tak halal dan menghalalkan segala cara. Dalam situasi inilah filantropi bisa mengambil peran yang cukup signifikan dalam membantu pemerintah mengatasi problem kemiskinan dan segala bentuk keterpurukan ini.

Melihat realitas di atas menurut terdapat beberapa akar masalah mendasar yang menyebabkannya dan solusi yang harus diambilnya. Pertama, pemahaman masyarakat terhadap filantropi masih tradisional dan berorientasi karitatif. Penelitian CSRC telah mengkonfirmasi bahwa 90% lebih dana zakat dan sedekah diberikan secara langsung kepada penerima (mustahik). Di mana sebagian besar diperuntukkan bagi tujuan-tujuan konsumtif dan berjangka pendek.

Ke depan filantropi Islam harus berorientasi produktif. Seluruh dana yang diperoleh baik dari aset zakat, infaq, sedekah, dan wakaf harus mampu dikelola dan disalurkan dengan baik sehingga tidak habis begitu saja. Pemberian kredit modal kerja bagi para pedagang kaki lima misalnya dapat dijadikan contoh terbaik penggunaan dana-dana filantropi ini. Semua itu dilakukan demi menciptakan lapangan-lapangan pekerjaan baru sehingga ke depan angka pengangguran dapat ditekan dan akhirnya mampu mengurangi angka kemiskinan itu sendiri.

Lemahnya sinergi antara lembaga-lembaga filantropi yang ada (Lembaga Amil Zakat atau LAZ\/Badan Amil Zakat atau BAZ). Selama ini lembaga-lembaga tersebut seperti Dompet Dhuafa (DD), Pos Keadilan peduli Umat (PKPU), Rumah Zakat, Tabung Wakaf, LAZ, dan BAZ berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi sedikit pun. Kita bisa bayangkan jika seluruh lembaga filantropi di tanah air ini bersatu dan bersinergi dalam bentuk program pengumpulan dan penyaluran dengan menetapkan skala prioritas bersama. Sungguh akan prestisius dan menakjubkan dampak yang akan diterima masyarakat.

Semoga Filantropi Islam ini secara perlahan namun pasti terus hadir dan bergerak menuju filantropi yang benar-benar membebaskan kemiskinan demi pencapaian keadilan sosial. Jika beberapa poin diatas dapat direalisasikan dengan baik diyakini betul filantropi Islam dapat dijadikan jalan lain dalam rangka mengentaskan kemiskinan untuk keadilan sosial. Akhirnya kemiskinan dan keterpurukan akan mulai meninggalkan kita menuju kesejahteraan dan kemakmuran.

*) Penulis adalah Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) IAIN Jember.

Reporter :

Fotografer :

Editor :