Pada penjelasan yang tertuang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 287 ayat (1) berbunyi: Barang siapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan istrinya, sedang diketahuinya atau harus patuh disangkakannya, bahwa umur perempuan itu belum cukup umur 15 tahun kalau tidak nyata berapa umurnya, bahwa perempuan itu belum masanya untuk kawin, dihukum penjara selama-lamanya sembilan tahun.

Selanjutnya, merujuk pada lex specialis derogate lex generalis, pada UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi undang-undang. Dalam Ayat (1) Pasal 82 Undang-undang tersebut dijelaskan bahwa pelaku pencabulan terhadap anak dipidana paling sedikit 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 5 (lima) miliar. Pada ayat (2) Pasal yang sama menyebutkan, apabila korban lebih dari satu orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, gangguan fungsi reproduksi, dan atau meninggal dunia, pelaku dikenakan tambahan sepertiga dari ancaman pidana sebagaimana diatur pada ayat (1). Lalu, ayat (5) dan (6) menyebutkan bahwa pelaku dapat dikenai pidana tambahan berupa pengumuman identitas, tindakan rehabilitasi, dan pemasangan alat pendeteksi elektronik.

 

Model Cantik Vs Profesor M

Berbeda hukumnya dengan dugaan pencabulan anak di bawah umur. Persoalan yang dihadapi model berparas “aduhai” layaknya artis terkenal ini lebih mengarah pada pemenuhan “kebutuhan” hidup. Bisa jadi, kurang nafkah lahir atau batin, dan atau faktor lain, misalnya, ingin memiliki profesor tersebut sebagai istri sah secara mutlak setelah hubungan asmaranya telah “membuahkan” anak yang kini telah berumur 8 bulan, namun sang model seakan lupa bahwa sang profesor masih lengket dengan istri pertamanya.

Patrice Rio Capella sebagai pengacara Prof M, seperti dilansir awak media menyebutkan: “tidak benar kalau sudah ada pernikahan antara klien kami, Profesor Muradi dengan Saudari Siera. Maka kalau tidak terjadi pernikahan, maka tidak mungkin memiliki anak dari hubungan. Ketiga, adalah tidak benar juga bahwa Prof Muradi pernah membelikan 1 unit apartemen terhadap atau diperuntukkan untuk saudari Siera”. Penyataan ini terlalu naif dan absurd (konyol), tidak mungkin selevel model bertaraf nasional bahkan internasional ini hanya sekadar mengaku istri simpanan tanpa ada bukti nyata bahwa mereka berdua telah menikah secara diam-diam dan menjalani “hubungan gelap”.

Black and white -hitam putih- persoalan ini ibarat bom waktu yang akan segera meledak jika kasus ini naik ke meja hijau. Sebab, tes DNA akan menjadi bukti simbolik bahwa anak yang berumur belum genap setahun itu adalah anak profesor M atau bukan?

Sayang seribu sayang, kasus hukum yang mirip dengan perjuangan Macicha Mochtar dalam menuntut hak waris anak hasil nikah siri dengan mantan Mensesneg Moerdiono ini seakan menemukan “jalan buntu”, setelah merasa tertekan, sang model mencabut laporanya. Semoga semua pihak mendapatkan solusi yang terbaik.

 

*Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN KH Achmad Siddiq Jember dan Anggota Asosiasi Jurnal Kajian Islam Indonesia.