Beberapa hari ini cukup ramai diberitakan di berbagai media sosial soal dosen cabul di sebuah perguruan tinggi. Di lain pihak, seorang model mantan Miss Lanscape Indonesia 2019 sedang berseteru dengan seorang profesor berinisial M dan menuntut dua miliar lantaran merasa ditelantarkan. Sungguh sangat menarik kedua suguhan berita ini karena pelakunya ditengarai sama-sama didalangi oleh kalangan akademisi. Meminjam istilah pepatah Inggris: similar but not the same (serupa tapi tak sama), yang satu korbannya anak di bawah umur, sedangkan korban yang satu lagi merupakan model berparas cantik layaknya artis pesohor.

Secara pribadi, saya tidak ingin ikut campur menjadi “pengacara” atau ikut andil mengurai benang kusut atas persoalan hukum kedua kasus tersebut. Hal ini karena sudah ada petugas berwajib pemangku kebijakan yang berwenang mempelajari, mendalami, dan memberikan sangsi hukum terhadapnya, apalagi kedua kasus ini tidak terjadi di kampus tempat kami mengabdi, namun sebagai rekan sejawat sesama dosen, saya merasa terpanggil untuk sekadar “ngopi bareng”.

 

Berharap Nasib Baik

Semua pihak pasti akan berharap nasib baik dan keberuntungan serta keniscayaan hukum yang akan berpihak kepadanya. Bagi pihak keluarga anak yang dicabuli, mereka mungkin mengamini dan berharap agar paman cabul yang berprofesi sebagai dosen dapat diadili dan dihukum seberat-beratnya sehingga ia dapat menyesali dan jera untuk tidak mengulangi perbuatannya. Namun terlepas dari itu semua, pernahkah kita berfikir, dampak apakah yang akan ditanggung sang dosen, istri, dan anak-anaknya jika seumpama dosen yang didakwa cabul tersebut dipenjara hanya gara-gara “meraba” keponakannya sendiri dengan penuh perasaan?

Terlepas ini merupakan perbuatan asusila atau perbuatan melanggar hukum. Paradoks rampingnya pemberitaan tentang dosen cabul pasti memantik perasaan crushed (remuk redam) bagi pelaku kekerasan seksual di bawah umur ini. Tak terkecuali istri dan anak-anak pelaku pasti juga ikut “terpukul” menanggung beban dosa sang ayah. Demikian halnya, kaum akademisi seakan-akan ikut kecipratan api asmara atas tindak-tanduk perilaku amoral orang yang biasa kita sebut sebagai sosok intelektual.

 

Pak Dosen Juga Manusia

“Nila setitik rusak susu sebelanga”, begitulah kira-kira kata pepatah bijak yang pas untuk menggambarkan dan mengenang sisi baik “sang paman”. Dalam petikan berita disebutkan bahwa anak di bawah umur yang mengaku dilecehkan tersebut adalah tinggal serumah dengan pelaku. Artinya, setiap hari, makan, minum, dan tidur dengan fasilitas gratis di rumah pak dosen. Kalau dipikir secara jernih, tak sebanding antara “pijitan cinta” sang dosen dengan ganjaran pidana yang sudah menghantui hari-harinya yang seakan melaju searah putaran bumi. Lalu, adakah air susu akan berubah menjadi air tuba akibat dosen “salah asuh”?

Lain ceritanya jika seumpama setelah digelar perkara, diperiksa, didalami, dan divisum dinyatakan telah terjadi dhuhul, maaf, pemerkosaan misalnya. Jika hal ini terjadi, maka persoalan nilai filosofis tidak bisa ditawar lagi karena supremasi hukum kita bak dua mata pisau yang sama-sama tajam. Para penegak hukum akan berbicara sangat lantang jika berhadapan dengan kasus pemerkosaan anak di bawah umur.