alexametrics
26 C
Jember
Wednesday, 26 January 2022

Generasi Muda Beresiko Tinggi Terpapar Radikalisme

Mobile_AP_Rectangle 1

Saat itu kelompok Khawarij ini berbeda paham dengan Ali bin Abi Thalib. Karena perbedaan paham itu mereka memutuskan untuk keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib dan membentuk aliran sendiri. Kemudian, pada tanggal 25 bulan Ramadan tahun 40 Hijriah, Ali bin Abi Thalib saat hendak menjadi imam salat Shubuh, dibunuh oleh anggota kelompok Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam.

Bisa dibilang kalau kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Khawarij ini sudah tidak ada lagi. Akan tetapi ajaran ekstremis yang mereka pakai rupanya masih ada hingga saat ini. Tak terkecuali juga terdapat di Indonesia.

Tentu ini menjadi sebuah renungan bagi bangsa Indonesia. Kok bisa banyak para anak muda ini sangat mudah sekali untuk dicuci otaknya oleh paham-paham radikalisme dan kebencian yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mencoba merongrong NKRI.

Mobile_AP_Rectangle 2

Peran pemerintah dalam upaya deradikalisasi ini harus terus digencarkan. Jangan sampai ada lagi para pemuka agama yang dalam dakwahnya selalu saja mengkafir-kafirkan orang yang berbeda keyakinan dengannya. Secara langsung maupun tidak langsung, para pemuka agama yang suka mengkafir-kafirkan saudara sebangsanya inilah yang menjadi pemicu atau pendorong untuk orang menjadi membenci saudaranya sendiri, membenci orang yang tidak sepaham dengan dirinya, bahkan sampai rela membunuh orang lain.

Peran masyarakat dan orang tua juga diharapkan turut andil dalam menjaga para anak-anak muda ini supaya mereka terhindar dari ajaran radikalisme dan kebencian. Terutama dalam penggunaan media sosial. Media sosial ini ternyata juga menjadi media propaganda para pelaku ajaran ekstremis ini dalam usaha untuk merekrut para jihadis-jihadis ini untuk melancarkan aksinya. Mencari sosok guru atau panutan juga tidak kalah pentingnya. Carilah guru yang mengajarkan cinta kasih antar sesama tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agamanya.

Tidak hanya pemerintah dan keluarga saja yang harus berperan dalam mencegah berkembangnya radikalisme. Semua lapisan masyarakat, terutama para influencer yang memiliki pengikut dengan jumlah banyak dan memiliki suara yang berpengaruh juga harus ikut menyebarkan tentang pentingnya melawan paham radikilasme dan kebencian ini.

Peran generasi muda juga sangat penting. Janganlah jadi generasi muda yang berpikiran sempit dan mudah menerima ajaran atau ajakan untuk membenci saudara sebangsa dan setanah air. Bagaimanapun juga dalam 20-50 tahun ke depan, tanggung jawab negara ini akan berada di tangan anak muda. Kalau paham-paham radikalisme ini tidak dihilangkan dari pikiran generasi muda kita, maka negara ini pasti akan mengalami kehancuran.

 

*) Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sejarah di Universitas Jember.

- Advertisement -

Saat itu kelompok Khawarij ini berbeda paham dengan Ali bin Abi Thalib. Karena perbedaan paham itu mereka memutuskan untuk keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib dan membentuk aliran sendiri. Kemudian, pada tanggal 25 bulan Ramadan tahun 40 Hijriah, Ali bin Abi Thalib saat hendak menjadi imam salat Shubuh, dibunuh oleh anggota kelompok Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam.

Bisa dibilang kalau kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Khawarij ini sudah tidak ada lagi. Akan tetapi ajaran ekstremis yang mereka pakai rupanya masih ada hingga saat ini. Tak terkecuali juga terdapat di Indonesia.

Tentu ini menjadi sebuah renungan bagi bangsa Indonesia. Kok bisa banyak para anak muda ini sangat mudah sekali untuk dicuci otaknya oleh paham-paham radikalisme dan kebencian yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mencoba merongrong NKRI.

Peran pemerintah dalam upaya deradikalisasi ini harus terus digencarkan. Jangan sampai ada lagi para pemuka agama yang dalam dakwahnya selalu saja mengkafir-kafirkan orang yang berbeda keyakinan dengannya. Secara langsung maupun tidak langsung, para pemuka agama yang suka mengkafir-kafirkan saudara sebangsanya inilah yang menjadi pemicu atau pendorong untuk orang menjadi membenci saudaranya sendiri, membenci orang yang tidak sepaham dengan dirinya, bahkan sampai rela membunuh orang lain.

Peran masyarakat dan orang tua juga diharapkan turut andil dalam menjaga para anak-anak muda ini supaya mereka terhindar dari ajaran radikalisme dan kebencian. Terutama dalam penggunaan media sosial. Media sosial ini ternyata juga menjadi media propaganda para pelaku ajaran ekstremis ini dalam usaha untuk merekrut para jihadis-jihadis ini untuk melancarkan aksinya. Mencari sosok guru atau panutan juga tidak kalah pentingnya. Carilah guru yang mengajarkan cinta kasih antar sesama tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agamanya.

Tidak hanya pemerintah dan keluarga saja yang harus berperan dalam mencegah berkembangnya radikalisme. Semua lapisan masyarakat, terutama para influencer yang memiliki pengikut dengan jumlah banyak dan memiliki suara yang berpengaruh juga harus ikut menyebarkan tentang pentingnya melawan paham radikilasme dan kebencian ini.

Peran generasi muda juga sangat penting. Janganlah jadi generasi muda yang berpikiran sempit dan mudah menerima ajaran atau ajakan untuk membenci saudara sebangsa dan setanah air. Bagaimanapun juga dalam 20-50 tahun ke depan, tanggung jawab negara ini akan berada di tangan anak muda. Kalau paham-paham radikalisme ini tidak dihilangkan dari pikiran generasi muda kita, maka negara ini pasti akan mengalami kehancuran.

 

*) Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sejarah di Universitas Jember.

Saat itu kelompok Khawarij ini berbeda paham dengan Ali bin Abi Thalib. Karena perbedaan paham itu mereka memutuskan untuk keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib dan membentuk aliran sendiri. Kemudian, pada tanggal 25 bulan Ramadan tahun 40 Hijriah, Ali bin Abi Thalib saat hendak menjadi imam salat Shubuh, dibunuh oleh anggota kelompok Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam.

Bisa dibilang kalau kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Khawarij ini sudah tidak ada lagi. Akan tetapi ajaran ekstremis yang mereka pakai rupanya masih ada hingga saat ini. Tak terkecuali juga terdapat di Indonesia.

Tentu ini menjadi sebuah renungan bagi bangsa Indonesia. Kok bisa banyak para anak muda ini sangat mudah sekali untuk dicuci otaknya oleh paham-paham radikalisme dan kebencian yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mencoba merongrong NKRI.

Peran pemerintah dalam upaya deradikalisasi ini harus terus digencarkan. Jangan sampai ada lagi para pemuka agama yang dalam dakwahnya selalu saja mengkafir-kafirkan orang yang berbeda keyakinan dengannya. Secara langsung maupun tidak langsung, para pemuka agama yang suka mengkafir-kafirkan saudara sebangsanya inilah yang menjadi pemicu atau pendorong untuk orang menjadi membenci saudaranya sendiri, membenci orang yang tidak sepaham dengan dirinya, bahkan sampai rela membunuh orang lain.

Peran masyarakat dan orang tua juga diharapkan turut andil dalam menjaga para anak-anak muda ini supaya mereka terhindar dari ajaran radikalisme dan kebencian. Terutama dalam penggunaan media sosial. Media sosial ini ternyata juga menjadi media propaganda para pelaku ajaran ekstremis ini dalam usaha untuk merekrut para jihadis-jihadis ini untuk melancarkan aksinya. Mencari sosok guru atau panutan juga tidak kalah pentingnya. Carilah guru yang mengajarkan cinta kasih antar sesama tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agamanya.

Tidak hanya pemerintah dan keluarga saja yang harus berperan dalam mencegah berkembangnya radikalisme. Semua lapisan masyarakat, terutama para influencer yang memiliki pengikut dengan jumlah banyak dan memiliki suara yang berpengaruh juga harus ikut menyebarkan tentang pentingnya melawan paham radikilasme dan kebencian ini.

Peran generasi muda juga sangat penting. Janganlah jadi generasi muda yang berpikiran sempit dan mudah menerima ajaran atau ajakan untuk membenci saudara sebangsa dan setanah air. Bagaimanapun juga dalam 20-50 tahun ke depan, tanggung jawab negara ini akan berada di tangan anak muda. Kalau paham-paham radikalisme ini tidak dihilangkan dari pikiran generasi muda kita, maka negara ini pasti akan mengalami kehancuran.

 

*) Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sejarah di Universitas Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca