alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Investasi, Menguntungkan atau Membuntungkan?

Mobile_AP_Rectangle 1

Polemik perseteruan kebijakan pemerintah Jember dengan terjaganya sumber-sumber agraria di Jember terus bergulir. Paseban, Silo, Puger, dan Desa Kepanjen merupakan sedikit dari sekian banyak wilayah yang berharap-harap cemas untuk terbebas dari praktik industri pertambangan dan tambak modern yang berdampak pada kerusakan lingkungan di Jember. Terlebih dengan dibukanya kran investasi selebar-lebarnya oleh Bupati Jember, dilansir jemberkab.go.id.

Sekilas melirik perjalanan bangsa ini, penderitaan yang tiada akhir serasa tak akan pernah hilang dari bumi Indonesia. Entah dosa apa yang pernah dilakukan oleh nenek moyang kita dahulu sehingga rakyat Indonesia seakan terkutuk seumur hidup dan akan berada dalam situasi yang sengsara selamanya. Sekitar empat abad lalu, Bumi Nusantara mulai dijajah oleh sebuah perusahaan dagang Belanda bernama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) selama kurang lebih tiga setengah abad lamanya. Masa itu, rakyat Indonesia sebagai pemilik tanah sesungguhnya seakan memiliki rumah, tapi tak punya harta karena seluruh kekayaan alam yang dimiliki dari sumber-sumber agraria dieksploitasi habis-habisan oleh VOC. Tidak hanya itu, jiwa raganya pun turut tereksploitasi dengan sistem tanam paksa (Indonesia Dalam Arus Sejarah; bab II).

Matahari pernah akan terbit di bumi kita dengan kehadiran Jepang dengan segala janji manisnya. Tapi, begitulah janji dari dulu hingga sekarang, hanya menjadi pemanis kampanye dalam rangka menarik hati rakyat. Jepang pun menguasai tanah ini sampai akhirnya harapan muncul ketika sosok pemuda dari Surabaya menjadi sang proklamator atas kemerdekaan Indonesia.

Mobile_AP_Rectangle 2

Soekarno dengan ide nasionalismenya ketika menjadi presiden RI yang pertama melakukan nasionalisasi terhadap seluruh aset asing yang berada di Indonesia (Sejarah Nasionalisasi aset-aset BUMN; hal: 465-490). Bahkan Soekarno dan para pejuang revolusi kemerdekaan melalui UUD 1945 mencoba melindungi seluruh harta kekayaan negeri baik yang berada di laut, darat, maupun udara sebagai milik negara yang akan di gunakan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia (UUD 1945 pasal 33 ayat 3).

Namun, semua berubah sejak negara api menyerang. Kedamaian dan kesejahteraan yang selama ini di impikan tak kunjung tercapai. Dimulai saat runtuhnya Orde Lama di gantikan rezim Orde Baru hingga masa pasca-Reformasi hampir tidak ada perubahan signifikan berbicara perekonomian, bahkan bagi sebagian masyarakat yang mulai frustrasi menganggap siapa pun yang jadi pemimpin tidak akan mengubah apa pun. Asumsi liar masyarakat seakan terbukti kebenarannya, bergantinya pemimpin dari masa ke masa nyatanya tak mengubah situasi. Pemimpin sekarang seakan ingin menjual aset negara kepada asing.

Baru-baru ini Bupati Jember dalam kunjungannya ke PT Imasco menyampaikan akan mempermudah akses investasi di jember seperti dilansir jemberkab.go.id tanggal 8 September 2021. Ada dugaan kuat oleh aktivis lingkungan Jember bahwa Bupati Jember ingin proses eksploitasi di jember bagian selatan semakin masif. “Pertama kali kami melihat Imasco ini dari dekat, kita berharap bisa bekerja sama lebih dekat lagi tentang apa yang menjadi persoalan Imasco. Mereka sudah berinvestasi di Jember ini sebesar Rp 4 triliun. Ini adalah potensi milik kita semua, Imasco berdagang mendapatkan untung dan masyarakat Jember harus mendapatkan manfaatnya juga,” ungkap Bupati Hendy.

- Advertisement -

Polemik perseteruan kebijakan pemerintah Jember dengan terjaganya sumber-sumber agraria di Jember terus bergulir. Paseban, Silo, Puger, dan Desa Kepanjen merupakan sedikit dari sekian banyak wilayah yang berharap-harap cemas untuk terbebas dari praktik industri pertambangan dan tambak modern yang berdampak pada kerusakan lingkungan di Jember. Terlebih dengan dibukanya kran investasi selebar-lebarnya oleh Bupati Jember, dilansir jemberkab.go.id.

Sekilas melirik perjalanan bangsa ini, penderitaan yang tiada akhir serasa tak akan pernah hilang dari bumi Indonesia. Entah dosa apa yang pernah dilakukan oleh nenek moyang kita dahulu sehingga rakyat Indonesia seakan terkutuk seumur hidup dan akan berada dalam situasi yang sengsara selamanya. Sekitar empat abad lalu, Bumi Nusantara mulai dijajah oleh sebuah perusahaan dagang Belanda bernama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) selama kurang lebih tiga setengah abad lamanya. Masa itu, rakyat Indonesia sebagai pemilik tanah sesungguhnya seakan memiliki rumah, tapi tak punya harta karena seluruh kekayaan alam yang dimiliki dari sumber-sumber agraria dieksploitasi habis-habisan oleh VOC. Tidak hanya itu, jiwa raganya pun turut tereksploitasi dengan sistem tanam paksa (Indonesia Dalam Arus Sejarah; bab II).

Matahari pernah akan terbit di bumi kita dengan kehadiran Jepang dengan segala janji manisnya. Tapi, begitulah janji dari dulu hingga sekarang, hanya menjadi pemanis kampanye dalam rangka menarik hati rakyat. Jepang pun menguasai tanah ini sampai akhirnya harapan muncul ketika sosok pemuda dari Surabaya menjadi sang proklamator atas kemerdekaan Indonesia.

Soekarno dengan ide nasionalismenya ketika menjadi presiden RI yang pertama melakukan nasionalisasi terhadap seluruh aset asing yang berada di Indonesia (Sejarah Nasionalisasi aset-aset BUMN; hal: 465-490). Bahkan Soekarno dan para pejuang revolusi kemerdekaan melalui UUD 1945 mencoba melindungi seluruh harta kekayaan negeri baik yang berada di laut, darat, maupun udara sebagai milik negara yang akan di gunakan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia (UUD 1945 pasal 33 ayat 3).

Namun, semua berubah sejak negara api menyerang. Kedamaian dan kesejahteraan yang selama ini di impikan tak kunjung tercapai. Dimulai saat runtuhnya Orde Lama di gantikan rezim Orde Baru hingga masa pasca-Reformasi hampir tidak ada perubahan signifikan berbicara perekonomian, bahkan bagi sebagian masyarakat yang mulai frustrasi menganggap siapa pun yang jadi pemimpin tidak akan mengubah apa pun. Asumsi liar masyarakat seakan terbukti kebenarannya, bergantinya pemimpin dari masa ke masa nyatanya tak mengubah situasi. Pemimpin sekarang seakan ingin menjual aset negara kepada asing.

Baru-baru ini Bupati Jember dalam kunjungannya ke PT Imasco menyampaikan akan mempermudah akses investasi di jember seperti dilansir jemberkab.go.id tanggal 8 September 2021. Ada dugaan kuat oleh aktivis lingkungan Jember bahwa Bupati Jember ingin proses eksploitasi di jember bagian selatan semakin masif. “Pertama kali kami melihat Imasco ini dari dekat, kita berharap bisa bekerja sama lebih dekat lagi tentang apa yang menjadi persoalan Imasco. Mereka sudah berinvestasi di Jember ini sebesar Rp 4 triliun. Ini adalah potensi milik kita semua, Imasco berdagang mendapatkan untung dan masyarakat Jember harus mendapatkan manfaatnya juga,” ungkap Bupati Hendy.

Polemik perseteruan kebijakan pemerintah Jember dengan terjaganya sumber-sumber agraria di Jember terus bergulir. Paseban, Silo, Puger, dan Desa Kepanjen merupakan sedikit dari sekian banyak wilayah yang berharap-harap cemas untuk terbebas dari praktik industri pertambangan dan tambak modern yang berdampak pada kerusakan lingkungan di Jember. Terlebih dengan dibukanya kran investasi selebar-lebarnya oleh Bupati Jember, dilansir jemberkab.go.id.

Sekilas melirik perjalanan bangsa ini, penderitaan yang tiada akhir serasa tak akan pernah hilang dari bumi Indonesia. Entah dosa apa yang pernah dilakukan oleh nenek moyang kita dahulu sehingga rakyat Indonesia seakan terkutuk seumur hidup dan akan berada dalam situasi yang sengsara selamanya. Sekitar empat abad lalu, Bumi Nusantara mulai dijajah oleh sebuah perusahaan dagang Belanda bernama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) selama kurang lebih tiga setengah abad lamanya. Masa itu, rakyat Indonesia sebagai pemilik tanah sesungguhnya seakan memiliki rumah, tapi tak punya harta karena seluruh kekayaan alam yang dimiliki dari sumber-sumber agraria dieksploitasi habis-habisan oleh VOC. Tidak hanya itu, jiwa raganya pun turut tereksploitasi dengan sistem tanam paksa (Indonesia Dalam Arus Sejarah; bab II).

Matahari pernah akan terbit di bumi kita dengan kehadiran Jepang dengan segala janji manisnya. Tapi, begitulah janji dari dulu hingga sekarang, hanya menjadi pemanis kampanye dalam rangka menarik hati rakyat. Jepang pun menguasai tanah ini sampai akhirnya harapan muncul ketika sosok pemuda dari Surabaya menjadi sang proklamator atas kemerdekaan Indonesia.

Soekarno dengan ide nasionalismenya ketika menjadi presiden RI yang pertama melakukan nasionalisasi terhadap seluruh aset asing yang berada di Indonesia (Sejarah Nasionalisasi aset-aset BUMN; hal: 465-490). Bahkan Soekarno dan para pejuang revolusi kemerdekaan melalui UUD 1945 mencoba melindungi seluruh harta kekayaan negeri baik yang berada di laut, darat, maupun udara sebagai milik negara yang akan di gunakan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia (UUD 1945 pasal 33 ayat 3).

Namun, semua berubah sejak negara api menyerang. Kedamaian dan kesejahteraan yang selama ini di impikan tak kunjung tercapai. Dimulai saat runtuhnya Orde Lama di gantikan rezim Orde Baru hingga masa pasca-Reformasi hampir tidak ada perubahan signifikan berbicara perekonomian, bahkan bagi sebagian masyarakat yang mulai frustrasi menganggap siapa pun yang jadi pemimpin tidak akan mengubah apa pun. Asumsi liar masyarakat seakan terbukti kebenarannya, bergantinya pemimpin dari masa ke masa nyatanya tak mengubah situasi. Pemimpin sekarang seakan ingin menjual aset negara kepada asing.

Baru-baru ini Bupati Jember dalam kunjungannya ke PT Imasco menyampaikan akan mempermudah akses investasi di jember seperti dilansir jemberkab.go.id tanggal 8 September 2021. Ada dugaan kuat oleh aktivis lingkungan Jember bahwa Bupati Jember ingin proses eksploitasi di jember bagian selatan semakin masif. “Pertama kali kami melihat Imasco ini dari dekat, kita berharap bisa bekerja sama lebih dekat lagi tentang apa yang menjadi persoalan Imasco. Mereka sudah berinvestasi di Jember ini sebesar Rp 4 triliun. Ini adalah potensi milik kita semua, Imasco berdagang mendapatkan untung dan masyarakat Jember harus mendapatkan manfaatnya juga,” ungkap Bupati Hendy.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/