alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Semangat Nasionalisme di Era Society 5.0

Peran Strategis Pemuda dalam Mengusung

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di tengah pesatnya laju globalisasi yang ditandai dengan munculnya era society 5.0 saat ini, nilai-nilai kebangsaan atau semangat nasionalisme hampir dipastikan terus menerus mengalami ujian dan tantangan. Tidak terkecuali dengan semangat nasionalisme yang dipegang teguh oleh warga negara Indonesia.

Dinamika Citra Kiai dalam Masyarakat Modern

Pentingnya peran pemuda telah digelorakan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Di satu kesempatan, Soekarno mengatakan “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”. Pernyataan presiden pertama RI itu ternyata terbukti di negara ini. Para kaum muda-lah yang menjadi motor penggerak perubahan dan semangat nasionalisme yang tercatat di dalam sejarah Indonesia. Dalam sejarah tercatat beberapa peristiwa fenomenal dan penting yang menunjukkan peran pemuda, misalnya berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908, Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1945, Hari Pahlawan pada 10 November 1945, Peristiwa Malapetaka Limabelas Januari (Malari) pada 15 Januari 1974, dan Era Reformasi atau era pasca-Soeharto di Indonesia yang dimulai pada tahun 1998, tepatnya saat kejatuhan Soeharto pada 21 Mei 1998.

Mobile_AP_Rectangle 2

Peristiwa-peristiwa besar tersebut menunjukkan eksistensi dan peran pemuda dalam kecintaannya kepada bangsa dan negara ini. Inilah semangat nasionalisme yang ditunjukkan oleh kaum muda pada saat itu.Bagaimana dengan peran pemuda di era society 5.0 saat ini?

Persoalan-persoalan kebangsaan memang sangat kompleks sekali, terutama yang terkait dengan peran strategis kaum muda di ranah publik. Pada tingkat akademik misalnya, kaum muda dalam hal ini direpresentasikan oleh para mahasiswa yang diyakini oleh sebagian kalangan memiliki nilai intelektual dan kelebihan tertentu.Mereka dianggap merupakan penyambung lidah rakyat dalam menyampaikan aspirasi yang terkait dengan berbagai persoalan sosial-keagamaan dan kebangsaan.

Sebagai penyambung lidah rakyat, mereka adalah intelektual yang memiliki keberpihakan kepada kalangan orang-orang yang tertindas atau masyarakat di tingkat bawah (grass roots). Dalam pandangan Antonio Gramsci, filsuf Italia, penulis, dan teoritis politik Italia, mereka dikategorikan sebagai intelektual organik.Intelektual organik adalah intelektual yang mampu menggerakkan perubahan (agent of social change) di ranah sosial kemasyarakatan dengan ide-ide dan gagasan-gagasannya, sehingga mampu menjadi kekuatan penyeimbang dan mempengaruhi kebijakan publik (public policy).Intelektual organik bukanlah seperti yang disebut Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dengan istilah “intelektual tukang”.

Gus Dur menyebut istilah intelektual dengan embel-embel “tukang” haruslah dilihat dalam konteks di mana ia menggunakannya. Istilah intelektual tukang digunakannya untuk menyebut para intelektual yang “menghamba” pada kekuasaan Orde Baru pada waktu itu.Energi positif seorang intelektual yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat, pemberdayaan civil society, dan penguatan ekonomi kerakyatan, justru dimanfaatkan untuk kepentingan penguasa dan kroni-kroninya dalam upaya melanggengkan kekuasaan.Oleh karena itu kepentingan yang mereka perjuangkan mengarah pada kepentingan yang bersifat sektarian, dan bukannya kepentingan kebangsaan atau masyarakat luas.

Dalam konteks Islam pun, peran pemuda ini sangat diapresiasi dan diperhitungkan dalam memperjuangkan eksistensi agama. Salah satu fakta historis mengenai hal ini adalah ketika Nabi Muhammad Saw melihat kehebatan seorang Umar bin Khaththab “muda” yang pada saat itu belum memeluk Islam. Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal sebagai seorang petarung handal di salah satu pasar di Makkah.

Di era millennium saat ini, peran pemuda seyogyanya menjadi ujung tombak dalam upaya menjaga integritas dan kemajuan bangsa.energi kaum muda haruslah diarahkan pada hal-hal yang bernilai positif-konstruktif.Kini, para pemuda kita telah memasuki era society 5.0.Sebuah era dimana manusia adalah pusat segalanya (human centered). Era dimana segala sesuatu berlandas tumpu pada teknologi (technology based), yakni Internet on Thing (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar) dan robot untuk menciptakan kualitas hidup manusia.

Di era society 5.0 yang ditandai dengan menjamurnya media sosial, peran pemuda dalam mengusung semangat nasionalisme sangat urgen dan signifikan sekali. Peran-peran tersebut dapat diarahkan pada hal-hal positif dalam segenap lini kehidupan.Pertama, sosial politik, pemuda dapat berperan aktif mengampanyekan nilai-nilai persatuan, kesatuan, dan Cinta Tanah Air.Penguasaan mereka di ranah medsos seyogyanya digunakan untuk semaksimal mungkin menangkal pahamideologi yang membahayakan dan mengancam keutuhan NKRI. Penanaman dan penguatan ideologi Pancasila menjadi prioritas utama dalam meneguhkan eksistensi negara-bangsa (nation state) yang telah menjadi kesepakatan bersama para pendiri bangsa (founding fathers).

Kedua, sosial keagamaan, peran kaum muda menjadi ujung tombak penyebaran nilai-nilai agama yang bernuansa toleran, moderat, dan inklusif di tengah-tengah kemajemukan suku, etnis, bahasa, dan agama yang ada. Mengunggah nilai-nilai moderasi dalam beragama menjadi sangat rasional di tengah pluralitas dan kemajemukan yang sangat tinggi di negara kita. Mengapa demikian? Karena nilai-nilai moderasi dalam beragama dapat mengarahkan pemeluknya untuk tidak terjebak dalam klaim-klaim kebenaran (truth claim) yang seringkali menafikan dan menegasikan sikap saling menghormati dan menghargai agama lain.

Ketiga, sosial-ekonomi, kalangan kaum muda bisa menjadi salah satu faktor determinan penumbuhan usaha-usaha ekonomi kreatif dan kewirausahaan di masyarakat. Fungsionalisasi kaum muda tersebut sangat diharapkan saat ini. Karena seperti prediksi beberapa pengamat bahwa sejak 2010 Indonesia bisa menikmati bonus demografi yang diperkirakan akan berakhir pada 2035. Disebut bonus karena struktur penduduk di Indonesia lebih didominasi kelompok usia produktif, yakni 15-64 tahun, sehingga memberikan keuntungan ekonomi berupa ledakan penduduk usia kerja, terutama angkatan kerja muda.Namun sebaliknya, jika bonus demografi tersebut tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, misalnya tidak terserapnya tenaga kerja muda tersebut dalam kantong-kantong ekonomi, tentu saja angka kriminalitas akan meningkat dan tingkat kemiskinan meluas. Bukannya menjadi suatu keuntungan, tetapi malah menjadi beban pemerintah.

Keempat, sosial budaya, kaum muda bisa menjadi duta-duta kebudayaan Indonesia baik  di tingkat daerah, nasional maupun internasional yang memang dikenal sebagai bangsa yang plural dan multikultural ini. Keragaman dan kebhinekaan yang ada di negara ini dapat terjaga dan terawat dengan baik karena salah satunya adalah peran aktif dari kaum muda  yang peduli dengan aset-aset kebudayaan kita yang sangat kaya.

Penulis adalah Dosen Pengantar Studi Islam, IAI Darussalam Blokagung Banyuwangi dan Pegiat Literasi Darussalam

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di tengah pesatnya laju globalisasi yang ditandai dengan munculnya era society 5.0 saat ini, nilai-nilai kebangsaan atau semangat nasionalisme hampir dipastikan terus menerus mengalami ujian dan tantangan. Tidak terkecuali dengan semangat nasionalisme yang dipegang teguh oleh warga negara Indonesia.

Dinamika Citra Kiai dalam Masyarakat Modern

Pentingnya peran pemuda telah digelorakan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Di satu kesempatan, Soekarno mengatakan “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”. Pernyataan presiden pertama RI itu ternyata terbukti di negara ini. Para kaum muda-lah yang menjadi motor penggerak perubahan dan semangat nasionalisme yang tercatat di dalam sejarah Indonesia. Dalam sejarah tercatat beberapa peristiwa fenomenal dan penting yang menunjukkan peran pemuda, misalnya berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908, Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1945, Hari Pahlawan pada 10 November 1945, Peristiwa Malapetaka Limabelas Januari (Malari) pada 15 Januari 1974, dan Era Reformasi atau era pasca-Soeharto di Indonesia yang dimulai pada tahun 1998, tepatnya saat kejatuhan Soeharto pada 21 Mei 1998.

Peristiwa-peristiwa besar tersebut menunjukkan eksistensi dan peran pemuda dalam kecintaannya kepada bangsa dan negara ini. Inilah semangat nasionalisme yang ditunjukkan oleh kaum muda pada saat itu.Bagaimana dengan peran pemuda di era society 5.0 saat ini?

Persoalan-persoalan kebangsaan memang sangat kompleks sekali, terutama yang terkait dengan peran strategis kaum muda di ranah publik. Pada tingkat akademik misalnya, kaum muda dalam hal ini direpresentasikan oleh para mahasiswa yang diyakini oleh sebagian kalangan memiliki nilai intelektual dan kelebihan tertentu.Mereka dianggap merupakan penyambung lidah rakyat dalam menyampaikan aspirasi yang terkait dengan berbagai persoalan sosial-keagamaan dan kebangsaan.

Sebagai penyambung lidah rakyat, mereka adalah intelektual yang memiliki keberpihakan kepada kalangan orang-orang yang tertindas atau masyarakat di tingkat bawah (grass roots). Dalam pandangan Antonio Gramsci, filsuf Italia, penulis, dan teoritis politik Italia, mereka dikategorikan sebagai intelektual organik.Intelektual organik adalah intelektual yang mampu menggerakkan perubahan (agent of social change) di ranah sosial kemasyarakatan dengan ide-ide dan gagasan-gagasannya, sehingga mampu menjadi kekuatan penyeimbang dan mempengaruhi kebijakan publik (public policy).Intelektual organik bukanlah seperti yang disebut Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dengan istilah “intelektual tukang”.

Gus Dur menyebut istilah intelektual dengan embel-embel “tukang” haruslah dilihat dalam konteks di mana ia menggunakannya. Istilah intelektual tukang digunakannya untuk menyebut para intelektual yang “menghamba” pada kekuasaan Orde Baru pada waktu itu.Energi positif seorang intelektual yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat, pemberdayaan civil society, dan penguatan ekonomi kerakyatan, justru dimanfaatkan untuk kepentingan penguasa dan kroni-kroninya dalam upaya melanggengkan kekuasaan.Oleh karena itu kepentingan yang mereka perjuangkan mengarah pada kepentingan yang bersifat sektarian, dan bukannya kepentingan kebangsaan atau masyarakat luas.

Dalam konteks Islam pun, peran pemuda ini sangat diapresiasi dan diperhitungkan dalam memperjuangkan eksistensi agama. Salah satu fakta historis mengenai hal ini adalah ketika Nabi Muhammad Saw melihat kehebatan seorang Umar bin Khaththab “muda” yang pada saat itu belum memeluk Islam. Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal sebagai seorang petarung handal di salah satu pasar di Makkah.

Di era millennium saat ini, peran pemuda seyogyanya menjadi ujung tombak dalam upaya menjaga integritas dan kemajuan bangsa.energi kaum muda haruslah diarahkan pada hal-hal yang bernilai positif-konstruktif.Kini, para pemuda kita telah memasuki era society 5.0.Sebuah era dimana manusia adalah pusat segalanya (human centered). Era dimana segala sesuatu berlandas tumpu pada teknologi (technology based), yakni Internet on Thing (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar) dan robot untuk menciptakan kualitas hidup manusia.

Di era society 5.0 yang ditandai dengan menjamurnya media sosial, peran pemuda dalam mengusung semangat nasionalisme sangat urgen dan signifikan sekali. Peran-peran tersebut dapat diarahkan pada hal-hal positif dalam segenap lini kehidupan.Pertama, sosial politik, pemuda dapat berperan aktif mengampanyekan nilai-nilai persatuan, kesatuan, dan Cinta Tanah Air.Penguasaan mereka di ranah medsos seyogyanya digunakan untuk semaksimal mungkin menangkal pahamideologi yang membahayakan dan mengancam keutuhan NKRI. Penanaman dan penguatan ideologi Pancasila menjadi prioritas utama dalam meneguhkan eksistensi negara-bangsa (nation state) yang telah menjadi kesepakatan bersama para pendiri bangsa (founding fathers).

Kedua, sosial keagamaan, peran kaum muda menjadi ujung tombak penyebaran nilai-nilai agama yang bernuansa toleran, moderat, dan inklusif di tengah-tengah kemajemukan suku, etnis, bahasa, dan agama yang ada. Mengunggah nilai-nilai moderasi dalam beragama menjadi sangat rasional di tengah pluralitas dan kemajemukan yang sangat tinggi di negara kita. Mengapa demikian? Karena nilai-nilai moderasi dalam beragama dapat mengarahkan pemeluknya untuk tidak terjebak dalam klaim-klaim kebenaran (truth claim) yang seringkali menafikan dan menegasikan sikap saling menghormati dan menghargai agama lain.

Ketiga, sosial-ekonomi, kalangan kaum muda bisa menjadi salah satu faktor determinan penumbuhan usaha-usaha ekonomi kreatif dan kewirausahaan di masyarakat. Fungsionalisasi kaum muda tersebut sangat diharapkan saat ini. Karena seperti prediksi beberapa pengamat bahwa sejak 2010 Indonesia bisa menikmati bonus demografi yang diperkirakan akan berakhir pada 2035. Disebut bonus karena struktur penduduk di Indonesia lebih didominasi kelompok usia produktif, yakni 15-64 tahun, sehingga memberikan keuntungan ekonomi berupa ledakan penduduk usia kerja, terutama angkatan kerja muda.Namun sebaliknya, jika bonus demografi tersebut tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, misalnya tidak terserapnya tenaga kerja muda tersebut dalam kantong-kantong ekonomi, tentu saja angka kriminalitas akan meningkat dan tingkat kemiskinan meluas. Bukannya menjadi suatu keuntungan, tetapi malah menjadi beban pemerintah.

Keempat, sosial budaya, kaum muda bisa menjadi duta-duta kebudayaan Indonesia baik  di tingkat daerah, nasional maupun internasional yang memang dikenal sebagai bangsa yang plural dan multikultural ini. Keragaman dan kebhinekaan yang ada di negara ini dapat terjaga dan terawat dengan baik karena salah satunya adalah peran aktif dari kaum muda  yang peduli dengan aset-aset kebudayaan kita yang sangat kaya.

Penulis adalah Dosen Pengantar Studi Islam, IAI Darussalam Blokagung Banyuwangi dan Pegiat Literasi Darussalam

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di tengah pesatnya laju globalisasi yang ditandai dengan munculnya era society 5.0 saat ini, nilai-nilai kebangsaan atau semangat nasionalisme hampir dipastikan terus menerus mengalami ujian dan tantangan. Tidak terkecuali dengan semangat nasionalisme yang dipegang teguh oleh warga negara Indonesia.

Dinamika Citra Kiai dalam Masyarakat Modern

Pentingnya peran pemuda telah digelorakan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Di satu kesempatan, Soekarno mengatakan “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”. Pernyataan presiden pertama RI itu ternyata terbukti di negara ini. Para kaum muda-lah yang menjadi motor penggerak perubahan dan semangat nasionalisme yang tercatat di dalam sejarah Indonesia. Dalam sejarah tercatat beberapa peristiwa fenomenal dan penting yang menunjukkan peran pemuda, misalnya berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908, Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1945, Hari Pahlawan pada 10 November 1945, Peristiwa Malapetaka Limabelas Januari (Malari) pada 15 Januari 1974, dan Era Reformasi atau era pasca-Soeharto di Indonesia yang dimulai pada tahun 1998, tepatnya saat kejatuhan Soeharto pada 21 Mei 1998.

Peristiwa-peristiwa besar tersebut menunjukkan eksistensi dan peran pemuda dalam kecintaannya kepada bangsa dan negara ini. Inilah semangat nasionalisme yang ditunjukkan oleh kaum muda pada saat itu.Bagaimana dengan peran pemuda di era society 5.0 saat ini?

Persoalan-persoalan kebangsaan memang sangat kompleks sekali, terutama yang terkait dengan peran strategis kaum muda di ranah publik. Pada tingkat akademik misalnya, kaum muda dalam hal ini direpresentasikan oleh para mahasiswa yang diyakini oleh sebagian kalangan memiliki nilai intelektual dan kelebihan tertentu.Mereka dianggap merupakan penyambung lidah rakyat dalam menyampaikan aspirasi yang terkait dengan berbagai persoalan sosial-keagamaan dan kebangsaan.

Sebagai penyambung lidah rakyat, mereka adalah intelektual yang memiliki keberpihakan kepada kalangan orang-orang yang tertindas atau masyarakat di tingkat bawah (grass roots). Dalam pandangan Antonio Gramsci, filsuf Italia, penulis, dan teoritis politik Italia, mereka dikategorikan sebagai intelektual organik.Intelektual organik adalah intelektual yang mampu menggerakkan perubahan (agent of social change) di ranah sosial kemasyarakatan dengan ide-ide dan gagasan-gagasannya, sehingga mampu menjadi kekuatan penyeimbang dan mempengaruhi kebijakan publik (public policy).Intelektual organik bukanlah seperti yang disebut Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dengan istilah “intelektual tukang”.

Gus Dur menyebut istilah intelektual dengan embel-embel “tukang” haruslah dilihat dalam konteks di mana ia menggunakannya. Istilah intelektual tukang digunakannya untuk menyebut para intelektual yang “menghamba” pada kekuasaan Orde Baru pada waktu itu.Energi positif seorang intelektual yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat, pemberdayaan civil society, dan penguatan ekonomi kerakyatan, justru dimanfaatkan untuk kepentingan penguasa dan kroni-kroninya dalam upaya melanggengkan kekuasaan.Oleh karena itu kepentingan yang mereka perjuangkan mengarah pada kepentingan yang bersifat sektarian, dan bukannya kepentingan kebangsaan atau masyarakat luas.

Dalam konteks Islam pun, peran pemuda ini sangat diapresiasi dan diperhitungkan dalam memperjuangkan eksistensi agama. Salah satu fakta historis mengenai hal ini adalah ketika Nabi Muhammad Saw melihat kehebatan seorang Umar bin Khaththab “muda” yang pada saat itu belum memeluk Islam. Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal sebagai seorang petarung handal di salah satu pasar di Makkah.

Di era millennium saat ini, peran pemuda seyogyanya menjadi ujung tombak dalam upaya menjaga integritas dan kemajuan bangsa.energi kaum muda haruslah diarahkan pada hal-hal yang bernilai positif-konstruktif.Kini, para pemuda kita telah memasuki era society 5.0.Sebuah era dimana manusia adalah pusat segalanya (human centered). Era dimana segala sesuatu berlandas tumpu pada teknologi (technology based), yakni Internet on Thing (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar) dan robot untuk menciptakan kualitas hidup manusia.

Di era society 5.0 yang ditandai dengan menjamurnya media sosial, peran pemuda dalam mengusung semangat nasionalisme sangat urgen dan signifikan sekali. Peran-peran tersebut dapat diarahkan pada hal-hal positif dalam segenap lini kehidupan.Pertama, sosial politik, pemuda dapat berperan aktif mengampanyekan nilai-nilai persatuan, kesatuan, dan Cinta Tanah Air.Penguasaan mereka di ranah medsos seyogyanya digunakan untuk semaksimal mungkin menangkal pahamideologi yang membahayakan dan mengancam keutuhan NKRI. Penanaman dan penguatan ideologi Pancasila menjadi prioritas utama dalam meneguhkan eksistensi negara-bangsa (nation state) yang telah menjadi kesepakatan bersama para pendiri bangsa (founding fathers).

Kedua, sosial keagamaan, peran kaum muda menjadi ujung tombak penyebaran nilai-nilai agama yang bernuansa toleran, moderat, dan inklusif di tengah-tengah kemajemukan suku, etnis, bahasa, dan agama yang ada. Mengunggah nilai-nilai moderasi dalam beragama menjadi sangat rasional di tengah pluralitas dan kemajemukan yang sangat tinggi di negara kita. Mengapa demikian? Karena nilai-nilai moderasi dalam beragama dapat mengarahkan pemeluknya untuk tidak terjebak dalam klaim-klaim kebenaran (truth claim) yang seringkali menafikan dan menegasikan sikap saling menghormati dan menghargai agama lain.

Ketiga, sosial-ekonomi, kalangan kaum muda bisa menjadi salah satu faktor determinan penumbuhan usaha-usaha ekonomi kreatif dan kewirausahaan di masyarakat. Fungsionalisasi kaum muda tersebut sangat diharapkan saat ini. Karena seperti prediksi beberapa pengamat bahwa sejak 2010 Indonesia bisa menikmati bonus demografi yang diperkirakan akan berakhir pada 2035. Disebut bonus karena struktur penduduk di Indonesia lebih didominasi kelompok usia produktif, yakni 15-64 tahun, sehingga memberikan keuntungan ekonomi berupa ledakan penduduk usia kerja, terutama angkatan kerja muda.Namun sebaliknya, jika bonus demografi tersebut tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, misalnya tidak terserapnya tenaga kerja muda tersebut dalam kantong-kantong ekonomi, tentu saja angka kriminalitas akan meningkat dan tingkat kemiskinan meluas. Bukannya menjadi suatu keuntungan, tetapi malah menjadi beban pemerintah.

Keempat, sosial budaya, kaum muda bisa menjadi duta-duta kebudayaan Indonesia baik  di tingkat daerah, nasional maupun internasional yang memang dikenal sebagai bangsa yang plural dan multikultural ini. Keragaman dan kebhinekaan yang ada di negara ini dapat terjaga dan terawat dengan baik karena salah satunya adalah peran aktif dari kaum muda  yang peduli dengan aset-aset kebudayaan kita yang sangat kaya.

Penulis adalah Dosen Pengantar Studi Islam, IAI Darussalam Blokagung Banyuwangi dan Pegiat Literasi Darussalam

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/