alexametrics
28 C
Jember
Monday, 15 August 2022

23 Tahun Menuju Radar Jember Berkarakter

Oleh: Aries Harianto*)

Mobile_AP_Rectangle 1

TAK terasa, 23 tahun sudah usia Radar Jember. Sabtu, 16 Juli ini, Radar Jember berultah. Selamat untuk Radar Jember. Terima kasih, melalui berita, selama ini telah menabur manfaat. Kaya dengan ragam opini. Maslahat mengawal masyarakat. Komplet mendokumentasi aksi.

Sesuai nama, Radar adalah kependekan dari Radio Detection and Ranging. Bekerja dengan sistem gelombang elektromagnetik. Difungsikan untuk deteksi. Mengukur jarak, melacak objek, dan media informasi cuaca. Atas dasar fungsi itu, surat kabar yang tengah di hadapan pembaca ini dinamakan Radar. Radar Jember karena kaver teritorialnya lingkup Jember dan sekitarnya.

Meminjam kerangka sistemik radar, media yang populis disebut Jawa Pos RJ ini telah menjalankan perannya melakukan deteksi “kesejagatan” Jember. Deteksi potensi dalam upaya optimalisasi pembangunan dan pelayanan di teritorial Jember. Memberitakan problem dan melacak sumber. Mengukur jarak kesejahteraan. Mengabarkan prestasi. Mengomunikasikan aksi. Memotret realitas sekaligus mengulas. Membeberkan fakta. Mencerdaskan mahasiswa. Menghidupkan polemik dan objektif menelisik.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sungguh menyehatkan dan konstitusional memenuhi selera pembaca. Namun jangan lupa, di balik tugas mulia yang diperankan, tak berarti Radar Jember lepas dari ujian. Bahkan tidak tertutup kemungkinan di era kini dan mendatang, Radar Jember ada di persimpangan. Gamang dan tidak mudah mengambil keputusan dalam kangkangan amanah idealisme media dan pragmatisme bisnis.

Pemikir Swiss, Benjamin Constant (1767–1834), menyatakan, surat kabar acap kali menimbulkan kericuhan, onar, dan kegaduhan. Namun jangan lupa, tanpa surat kabar akan selalu muncul penindasan. Pikiran di atas adalah nilai untuk merawat idealisme media. Media merupakan penguasa dunia. Kepanjangan dari kedaulatan rakyat dalam konteks akses publik. Ditakuti bahkan memengaruhi proses pengambilan otoritas atas kontrol dan kritik.

Konsep pemikiran Benjamin itulah yang membidani raja-raja kecil di seantero republik ini bersemangat untuk menjalin MoU dengan media. Sekuat tenaga merangkul dan merayu media. Ketika MoU dilakukan, maka separoh jiwa media menjadi milik pihak lain. Terikat konsensus dan dibebani komitmen etika dan norma kerja bersama. Kemerdekaan pers menjadi sebatas imajinasi. Idealisme media terkebiri. Profesional menjadi gagal total. MoU membuka kemungkinan menjadi ruang gadai jati diri pers. Pers bukan lagi menjadi katup pembuka, tetapi pengunci agar tarian raja tidak bisa diakses.

Media apa pun targetnya adalah dibaca orang. Daya baca berkorelasi dengan prospek bisnis media. Minat baca tergantung objek berita. Frame “ideologi” pers adalah “kabar buruk adalah berita baik”. Berita negatif diburu pembaca aktif. Terjalin interrelasi self contradictory. Sajian kabar buruk merupakan persuasif membangun rasa ingin tahu. Logikanya, jika Radar Jember menyajikan pemberitaan nirfenomena, miskin problema, tentu saja dijauhi pembaca. Pembaca menuntut sajian yang hangat dan “seksi”.

Facebook, Instagram, Twitter serta Youtube membuat semua orang bisa melakukan pekerjaan seperti wartawan. Mencari dan menyuguhkan informasi. Dengan kata lain, saat ini pembaca sekaligus pewarta. Masyarakat adalah konsumen sekaligus produsen berita. Realitas semacam ini adalah lampu merah bagi kelangsungan Radar Jember. Akselerasi warganet tak lagi bisa dibendung. Cepat menggali berita, piawai memilih dan memilah selera. Berani meluncur data dan fakta, meskipun kadang menghalalkan segala cara. Televisi tak lagi menjadi media favorit. Apalagi industri yang menggantungkan pada kertas. Tinggal menunggu waktu untuk sirna.

- Advertisement -

TAK terasa, 23 tahun sudah usia Radar Jember. Sabtu, 16 Juli ini, Radar Jember berultah. Selamat untuk Radar Jember. Terima kasih, melalui berita, selama ini telah menabur manfaat. Kaya dengan ragam opini. Maslahat mengawal masyarakat. Komplet mendokumentasi aksi.

Sesuai nama, Radar adalah kependekan dari Radio Detection and Ranging. Bekerja dengan sistem gelombang elektromagnetik. Difungsikan untuk deteksi. Mengukur jarak, melacak objek, dan media informasi cuaca. Atas dasar fungsi itu, surat kabar yang tengah di hadapan pembaca ini dinamakan Radar. Radar Jember karena kaver teritorialnya lingkup Jember dan sekitarnya.

Meminjam kerangka sistemik radar, media yang populis disebut Jawa Pos RJ ini telah menjalankan perannya melakukan deteksi “kesejagatan” Jember. Deteksi potensi dalam upaya optimalisasi pembangunan dan pelayanan di teritorial Jember. Memberitakan problem dan melacak sumber. Mengukur jarak kesejahteraan. Mengabarkan prestasi. Mengomunikasikan aksi. Memotret realitas sekaligus mengulas. Membeberkan fakta. Mencerdaskan mahasiswa. Menghidupkan polemik dan objektif menelisik.

Sungguh menyehatkan dan konstitusional memenuhi selera pembaca. Namun jangan lupa, di balik tugas mulia yang diperankan, tak berarti Radar Jember lepas dari ujian. Bahkan tidak tertutup kemungkinan di era kini dan mendatang, Radar Jember ada di persimpangan. Gamang dan tidak mudah mengambil keputusan dalam kangkangan amanah idealisme media dan pragmatisme bisnis.

Pemikir Swiss, Benjamin Constant (1767–1834), menyatakan, surat kabar acap kali menimbulkan kericuhan, onar, dan kegaduhan. Namun jangan lupa, tanpa surat kabar akan selalu muncul penindasan. Pikiran di atas adalah nilai untuk merawat idealisme media. Media merupakan penguasa dunia. Kepanjangan dari kedaulatan rakyat dalam konteks akses publik. Ditakuti bahkan memengaruhi proses pengambilan otoritas atas kontrol dan kritik.

Konsep pemikiran Benjamin itulah yang membidani raja-raja kecil di seantero republik ini bersemangat untuk menjalin MoU dengan media. Sekuat tenaga merangkul dan merayu media. Ketika MoU dilakukan, maka separoh jiwa media menjadi milik pihak lain. Terikat konsensus dan dibebani komitmen etika dan norma kerja bersama. Kemerdekaan pers menjadi sebatas imajinasi. Idealisme media terkebiri. Profesional menjadi gagal total. MoU membuka kemungkinan menjadi ruang gadai jati diri pers. Pers bukan lagi menjadi katup pembuka, tetapi pengunci agar tarian raja tidak bisa diakses.

Media apa pun targetnya adalah dibaca orang. Daya baca berkorelasi dengan prospek bisnis media. Minat baca tergantung objek berita. Frame “ideologi” pers adalah “kabar buruk adalah berita baik”. Berita negatif diburu pembaca aktif. Terjalin interrelasi self contradictory. Sajian kabar buruk merupakan persuasif membangun rasa ingin tahu. Logikanya, jika Radar Jember menyajikan pemberitaan nirfenomena, miskin problema, tentu saja dijauhi pembaca. Pembaca menuntut sajian yang hangat dan “seksi”.

Facebook, Instagram, Twitter serta Youtube membuat semua orang bisa melakukan pekerjaan seperti wartawan. Mencari dan menyuguhkan informasi. Dengan kata lain, saat ini pembaca sekaligus pewarta. Masyarakat adalah konsumen sekaligus produsen berita. Realitas semacam ini adalah lampu merah bagi kelangsungan Radar Jember. Akselerasi warganet tak lagi bisa dibendung. Cepat menggali berita, piawai memilih dan memilah selera. Berani meluncur data dan fakta, meskipun kadang menghalalkan segala cara. Televisi tak lagi menjadi media favorit. Apalagi industri yang menggantungkan pada kertas. Tinggal menunggu waktu untuk sirna.

TAK terasa, 23 tahun sudah usia Radar Jember. Sabtu, 16 Juli ini, Radar Jember berultah. Selamat untuk Radar Jember. Terima kasih, melalui berita, selama ini telah menabur manfaat. Kaya dengan ragam opini. Maslahat mengawal masyarakat. Komplet mendokumentasi aksi.

Sesuai nama, Radar adalah kependekan dari Radio Detection and Ranging. Bekerja dengan sistem gelombang elektromagnetik. Difungsikan untuk deteksi. Mengukur jarak, melacak objek, dan media informasi cuaca. Atas dasar fungsi itu, surat kabar yang tengah di hadapan pembaca ini dinamakan Radar. Radar Jember karena kaver teritorialnya lingkup Jember dan sekitarnya.

Meminjam kerangka sistemik radar, media yang populis disebut Jawa Pos RJ ini telah menjalankan perannya melakukan deteksi “kesejagatan” Jember. Deteksi potensi dalam upaya optimalisasi pembangunan dan pelayanan di teritorial Jember. Memberitakan problem dan melacak sumber. Mengukur jarak kesejahteraan. Mengabarkan prestasi. Mengomunikasikan aksi. Memotret realitas sekaligus mengulas. Membeberkan fakta. Mencerdaskan mahasiswa. Menghidupkan polemik dan objektif menelisik.

Sungguh menyehatkan dan konstitusional memenuhi selera pembaca. Namun jangan lupa, di balik tugas mulia yang diperankan, tak berarti Radar Jember lepas dari ujian. Bahkan tidak tertutup kemungkinan di era kini dan mendatang, Radar Jember ada di persimpangan. Gamang dan tidak mudah mengambil keputusan dalam kangkangan amanah idealisme media dan pragmatisme bisnis.

Pemikir Swiss, Benjamin Constant (1767–1834), menyatakan, surat kabar acap kali menimbulkan kericuhan, onar, dan kegaduhan. Namun jangan lupa, tanpa surat kabar akan selalu muncul penindasan. Pikiran di atas adalah nilai untuk merawat idealisme media. Media merupakan penguasa dunia. Kepanjangan dari kedaulatan rakyat dalam konteks akses publik. Ditakuti bahkan memengaruhi proses pengambilan otoritas atas kontrol dan kritik.

Konsep pemikiran Benjamin itulah yang membidani raja-raja kecil di seantero republik ini bersemangat untuk menjalin MoU dengan media. Sekuat tenaga merangkul dan merayu media. Ketika MoU dilakukan, maka separoh jiwa media menjadi milik pihak lain. Terikat konsensus dan dibebani komitmen etika dan norma kerja bersama. Kemerdekaan pers menjadi sebatas imajinasi. Idealisme media terkebiri. Profesional menjadi gagal total. MoU membuka kemungkinan menjadi ruang gadai jati diri pers. Pers bukan lagi menjadi katup pembuka, tetapi pengunci agar tarian raja tidak bisa diakses.

Media apa pun targetnya adalah dibaca orang. Daya baca berkorelasi dengan prospek bisnis media. Minat baca tergantung objek berita. Frame “ideologi” pers adalah “kabar buruk adalah berita baik”. Berita negatif diburu pembaca aktif. Terjalin interrelasi self contradictory. Sajian kabar buruk merupakan persuasif membangun rasa ingin tahu. Logikanya, jika Radar Jember menyajikan pemberitaan nirfenomena, miskin problema, tentu saja dijauhi pembaca. Pembaca menuntut sajian yang hangat dan “seksi”.

Facebook, Instagram, Twitter serta Youtube membuat semua orang bisa melakukan pekerjaan seperti wartawan. Mencari dan menyuguhkan informasi. Dengan kata lain, saat ini pembaca sekaligus pewarta. Masyarakat adalah konsumen sekaligus produsen berita. Realitas semacam ini adalah lampu merah bagi kelangsungan Radar Jember. Akselerasi warganet tak lagi bisa dibendung. Cepat menggali berita, piawai memilih dan memilah selera. Berani meluncur data dan fakta, meskipun kadang menghalalkan segala cara. Televisi tak lagi menjadi media favorit. Apalagi industri yang menggantungkan pada kertas. Tinggal menunggu waktu untuk sirna.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/