alexametrics
23 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Online Scam, Penipuan yang Selalu Terulang

Mobile_AP_Rectangle 1

Kenapa masyarakat dapat tertipu berbagai modus penipuan walau kondisi tersebut telah berkali-kali terjadi dan banyak yang telah menjadi korban. Berbagai korban  juga telah memberikan testimoni dari berbagai pengalaman mengenai hal tersebut yang mestinya merupakan nasehat, peringatan tegas, bahkan petunjuk yang nyata. Namun korban tetap saja ada. Bertambah setiap harinya dengan sedih kita harus mendengar apabila individu terjerat kasus-kasus penipuan apalagi berbuntut pemerasan. Bahkan individu tersebut tidak sadar sedang pada lingkar jerat penipuan. Korban-korban pun dari berbagai segmentasi mulai dari ekonomi menengah atau juga ekonomi bawah. Memang modus selalu beragam dan mengikuti perkembangan teknologi yang digunakan. Beberapa penelitian menjelaskan faktor-faktor pesan yang sering kali berhasil menjerat karena pesan-pesan yang dikirim secara masif  dan masal kepada calon-calon korban berisi hal-hal manis.

Biasanya modus penipuan tersebut mengkalibrasikan isi pesan yaitu: pertama isi pesan tersebut berisi berbagai imbalan yang menggiurkan tentang kesenangan dan kepuasan. Walau itu hayal tidak masuk di akal namun secara nyata tetap secara random menjerat korban. Kedua bersembunyi dibalik sesuatu yang dipercayai orang, bisa pemberitahuan resmi, seragam, logo, mencatut nama instansi yang sudah dipercaya di masyarakat. Ketiga mengkaitkan dengan peristiwa, berita, undian, atau hal-hal yang pernah terjadi sehingga masyarakat merasa isi pesan tersebut terlihat nyata. Berbagai informasi melimpah di dunia maya dikonsumsi masyarakat memudahkan pelaku mengambil sebagai sebuah modus. Keempat dengan menekankan urgensi, peluang dengan kata-kata misalnya hanya Anda pemenang, waktu peluang terbatas. Ke empat faktor tersebut dikolaborasikan menjadi pesan yang mampu membuat korban cepat merespon karena ditambah alasan ke lima yaitu karena kondisi psikologi korban yang sedang tidak stabil. Misalnya sedang pada kondisi galau, lelah, dan ingin atau butuh batuan cepat. (Fisher, 2013). Susana hati memang ambigu dalam memahami sebuah kasus penipuan. Hati yang tidak bahagia menjadikan seseorang mudah menerima modus penipuan bantuan iming-iming pinjaman mudah sedangkan suasana hati yang sedang sangat percaya diri akan mudah percaya terhadap iming-iming kemenangan atau hadiah palsu dari instansi yang memiliki hubungan dengan kondisi individu (Fisher, 2013)

Penipuan berkedok “Undian berhadiah, modus peminjaman uang, jual barang murah, mama minta pulsa adalah modus-modus lama. Modus baru menjadi lebih trend adalah modus penipuan melalui akun FB, Instagram, WhatsApp. Misalnya seseorang menggunakan nomor kita misalnya pada aplikasi WA padahal kita masih menggunakan nomor tersebut. Ketika nomor itu diaktifkan oleh orang lain, orang tersebut menginstall WA, maka otomatis orang seolah-olah memiliki nomor WA yang kita punya (Irjen Ramli, Kominfo, 2019). Beberapa contoh penipuan yang sering terjadi bahkan akhir-akhir viral banyak terjadi percobaan penipuan dengan metode masyarakat mendapatkan pesan WhatsApp berantai dari bank tertentu tentang kebutuhan perbaikan data. Apabila kita mengklik tautan dan memasukkan data-data pribadi maka rekening yang dimaksud langsung mengalami amblas saldo berpindah tangan ke penipu.  Ada juga modus lain, misalnya, nomor call center BCA ini kan 1500 888. Orang tersebut juga membuat nomor yang sama tetapi di depannya +1622. Ada yang  +16 1500 888 kemudian dia akan meng-hack. (Kominfo, 2019)

Mobile_AP_Rectangle 2

Penipuan juga aktif di media sosial. Penggunaan media sosial tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga berdampak negatif bagi pengguna ketika digunakan sebagai media untuk melakukan kejahatan, salah satunya penipuan toko online di Instagram. Berdasarkan statistik dari Direktorat Cybercrime, Polri pada tahun 2020 menerima 649 kasus pengaduan penipuan online dari total 2.259 laporan kejahatan. Pelaku penipuan toko online dapat menghapus percakapan dengan korban yang dapat dijadikan sebagai barang bukti digital (Ariyanti, 2022)

Semua orang harus berhati-hati. Dalam teori psikologi seseorang yang ekstrovert lebih mudah untuk terdampak penipuan karena mereka lebih aktif melakukan kontak dengan orang lain. Tingkat potensial seorang individu dalam mengoperasikan gadget, menjawab pesan melalui Facebook, Instagram, WhatsApp, email juga mendukung lebih rentannya seseorang menanggapi pesan penipuan. Sehingga kemudahan tersebut harus di iringi kemampuan dalam memperdalam pengetahuan terhadap berbagai informasi sosial media. (Noris, 2019) Dari hal tersebut dapat kita ketahui bahwa keramahan, dan keingintahuan individu harus memiliki filter siapa dan apa yang layak kita ajak dalam berkomunikasi.

Ada pengaturan privacy yang Anda harus jaga betul. Seringkali kita abai terhadap pengaturan privacy, siapa orang yang bisa melihat apa dan di mana kita. Padahal data-data kita penting.  mengontrol pembaharuan status. Kita mestinya lebih peduli siapa orang yang kita percaya mengetahui kehidupan sering terpublikasi dengan status media masa. Memblokir pengguna  tidak diinginkan. Melaporkan pengguna yang mencurigakan misalnya pemberi pesan tidak kita kenal, namun meminta informasi pribadi padahal hal tersebut merupakan identitas rahasia. Tidak mudah mengklik tautan yang tidak dikenal atau berasal dari orang yang tidak di kenal adalah langkah preventif yang sekarang mungkin efektif. Selalu melakukan konfirmasi ulang dengan dua tahap, mengecek dengan pihak-pihak yang namanya telah dicatut.

- Advertisement -

Kenapa masyarakat dapat tertipu berbagai modus penipuan walau kondisi tersebut telah berkali-kali terjadi dan banyak yang telah menjadi korban. Berbagai korban  juga telah memberikan testimoni dari berbagai pengalaman mengenai hal tersebut yang mestinya merupakan nasehat, peringatan tegas, bahkan petunjuk yang nyata. Namun korban tetap saja ada. Bertambah setiap harinya dengan sedih kita harus mendengar apabila individu terjerat kasus-kasus penipuan apalagi berbuntut pemerasan. Bahkan individu tersebut tidak sadar sedang pada lingkar jerat penipuan. Korban-korban pun dari berbagai segmentasi mulai dari ekonomi menengah atau juga ekonomi bawah. Memang modus selalu beragam dan mengikuti perkembangan teknologi yang digunakan. Beberapa penelitian menjelaskan faktor-faktor pesan yang sering kali berhasil menjerat karena pesan-pesan yang dikirim secara masif  dan masal kepada calon-calon korban berisi hal-hal manis.

Biasanya modus penipuan tersebut mengkalibrasikan isi pesan yaitu: pertama isi pesan tersebut berisi berbagai imbalan yang menggiurkan tentang kesenangan dan kepuasan. Walau itu hayal tidak masuk di akal namun secara nyata tetap secara random menjerat korban. Kedua bersembunyi dibalik sesuatu yang dipercayai orang, bisa pemberitahuan resmi, seragam, logo, mencatut nama instansi yang sudah dipercaya di masyarakat. Ketiga mengkaitkan dengan peristiwa, berita, undian, atau hal-hal yang pernah terjadi sehingga masyarakat merasa isi pesan tersebut terlihat nyata. Berbagai informasi melimpah di dunia maya dikonsumsi masyarakat memudahkan pelaku mengambil sebagai sebuah modus. Keempat dengan menekankan urgensi, peluang dengan kata-kata misalnya hanya Anda pemenang, waktu peluang terbatas. Ke empat faktor tersebut dikolaborasikan menjadi pesan yang mampu membuat korban cepat merespon karena ditambah alasan ke lima yaitu karena kondisi psikologi korban yang sedang tidak stabil. Misalnya sedang pada kondisi galau, lelah, dan ingin atau butuh batuan cepat. (Fisher, 2013). Susana hati memang ambigu dalam memahami sebuah kasus penipuan. Hati yang tidak bahagia menjadikan seseorang mudah menerima modus penipuan bantuan iming-iming pinjaman mudah sedangkan suasana hati yang sedang sangat percaya diri akan mudah percaya terhadap iming-iming kemenangan atau hadiah palsu dari instansi yang memiliki hubungan dengan kondisi individu (Fisher, 2013)

Penipuan berkedok “Undian berhadiah, modus peminjaman uang, jual barang murah, mama minta pulsa adalah modus-modus lama. Modus baru menjadi lebih trend adalah modus penipuan melalui akun FB, Instagram, WhatsApp. Misalnya seseorang menggunakan nomor kita misalnya pada aplikasi WA padahal kita masih menggunakan nomor tersebut. Ketika nomor itu diaktifkan oleh orang lain, orang tersebut menginstall WA, maka otomatis orang seolah-olah memiliki nomor WA yang kita punya (Irjen Ramli, Kominfo, 2019). Beberapa contoh penipuan yang sering terjadi bahkan akhir-akhir viral banyak terjadi percobaan penipuan dengan metode masyarakat mendapatkan pesan WhatsApp berantai dari bank tertentu tentang kebutuhan perbaikan data. Apabila kita mengklik tautan dan memasukkan data-data pribadi maka rekening yang dimaksud langsung mengalami amblas saldo berpindah tangan ke penipu.  Ada juga modus lain, misalnya, nomor call center BCA ini kan 1500 888. Orang tersebut juga membuat nomor yang sama tetapi di depannya +1622. Ada yang  +16 1500 888 kemudian dia akan meng-hack. (Kominfo, 2019)

Penipuan juga aktif di media sosial. Penggunaan media sosial tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga berdampak negatif bagi pengguna ketika digunakan sebagai media untuk melakukan kejahatan, salah satunya penipuan toko online di Instagram. Berdasarkan statistik dari Direktorat Cybercrime, Polri pada tahun 2020 menerima 649 kasus pengaduan penipuan online dari total 2.259 laporan kejahatan. Pelaku penipuan toko online dapat menghapus percakapan dengan korban yang dapat dijadikan sebagai barang bukti digital (Ariyanti, 2022)

Semua orang harus berhati-hati. Dalam teori psikologi seseorang yang ekstrovert lebih mudah untuk terdampak penipuan karena mereka lebih aktif melakukan kontak dengan orang lain. Tingkat potensial seorang individu dalam mengoperasikan gadget, menjawab pesan melalui Facebook, Instagram, WhatsApp, email juga mendukung lebih rentannya seseorang menanggapi pesan penipuan. Sehingga kemudahan tersebut harus di iringi kemampuan dalam memperdalam pengetahuan terhadap berbagai informasi sosial media. (Noris, 2019) Dari hal tersebut dapat kita ketahui bahwa keramahan, dan keingintahuan individu harus memiliki filter siapa dan apa yang layak kita ajak dalam berkomunikasi.

Ada pengaturan privacy yang Anda harus jaga betul. Seringkali kita abai terhadap pengaturan privacy, siapa orang yang bisa melihat apa dan di mana kita. Padahal data-data kita penting.  mengontrol pembaharuan status. Kita mestinya lebih peduli siapa orang yang kita percaya mengetahui kehidupan sering terpublikasi dengan status media masa. Memblokir pengguna  tidak diinginkan. Melaporkan pengguna yang mencurigakan misalnya pemberi pesan tidak kita kenal, namun meminta informasi pribadi padahal hal tersebut merupakan identitas rahasia. Tidak mudah mengklik tautan yang tidak dikenal atau berasal dari orang yang tidak di kenal adalah langkah preventif yang sekarang mungkin efektif. Selalu melakukan konfirmasi ulang dengan dua tahap, mengecek dengan pihak-pihak yang namanya telah dicatut.

Kenapa masyarakat dapat tertipu berbagai modus penipuan walau kondisi tersebut telah berkali-kali terjadi dan banyak yang telah menjadi korban. Berbagai korban  juga telah memberikan testimoni dari berbagai pengalaman mengenai hal tersebut yang mestinya merupakan nasehat, peringatan tegas, bahkan petunjuk yang nyata. Namun korban tetap saja ada. Bertambah setiap harinya dengan sedih kita harus mendengar apabila individu terjerat kasus-kasus penipuan apalagi berbuntut pemerasan. Bahkan individu tersebut tidak sadar sedang pada lingkar jerat penipuan. Korban-korban pun dari berbagai segmentasi mulai dari ekonomi menengah atau juga ekonomi bawah. Memang modus selalu beragam dan mengikuti perkembangan teknologi yang digunakan. Beberapa penelitian menjelaskan faktor-faktor pesan yang sering kali berhasil menjerat karena pesan-pesan yang dikirim secara masif  dan masal kepada calon-calon korban berisi hal-hal manis.

Biasanya modus penipuan tersebut mengkalibrasikan isi pesan yaitu: pertama isi pesan tersebut berisi berbagai imbalan yang menggiurkan tentang kesenangan dan kepuasan. Walau itu hayal tidak masuk di akal namun secara nyata tetap secara random menjerat korban. Kedua bersembunyi dibalik sesuatu yang dipercayai orang, bisa pemberitahuan resmi, seragam, logo, mencatut nama instansi yang sudah dipercaya di masyarakat. Ketiga mengkaitkan dengan peristiwa, berita, undian, atau hal-hal yang pernah terjadi sehingga masyarakat merasa isi pesan tersebut terlihat nyata. Berbagai informasi melimpah di dunia maya dikonsumsi masyarakat memudahkan pelaku mengambil sebagai sebuah modus. Keempat dengan menekankan urgensi, peluang dengan kata-kata misalnya hanya Anda pemenang, waktu peluang terbatas. Ke empat faktor tersebut dikolaborasikan menjadi pesan yang mampu membuat korban cepat merespon karena ditambah alasan ke lima yaitu karena kondisi psikologi korban yang sedang tidak stabil. Misalnya sedang pada kondisi galau, lelah, dan ingin atau butuh batuan cepat. (Fisher, 2013). Susana hati memang ambigu dalam memahami sebuah kasus penipuan. Hati yang tidak bahagia menjadikan seseorang mudah menerima modus penipuan bantuan iming-iming pinjaman mudah sedangkan suasana hati yang sedang sangat percaya diri akan mudah percaya terhadap iming-iming kemenangan atau hadiah palsu dari instansi yang memiliki hubungan dengan kondisi individu (Fisher, 2013)

Penipuan berkedok “Undian berhadiah, modus peminjaman uang, jual barang murah, mama minta pulsa adalah modus-modus lama. Modus baru menjadi lebih trend adalah modus penipuan melalui akun FB, Instagram, WhatsApp. Misalnya seseorang menggunakan nomor kita misalnya pada aplikasi WA padahal kita masih menggunakan nomor tersebut. Ketika nomor itu diaktifkan oleh orang lain, orang tersebut menginstall WA, maka otomatis orang seolah-olah memiliki nomor WA yang kita punya (Irjen Ramli, Kominfo, 2019). Beberapa contoh penipuan yang sering terjadi bahkan akhir-akhir viral banyak terjadi percobaan penipuan dengan metode masyarakat mendapatkan pesan WhatsApp berantai dari bank tertentu tentang kebutuhan perbaikan data. Apabila kita mengklik tautan dan memasukkan data-data pribadi maka rekening yang dimaksud langsung mengalami amblas saldo berpindah tangan ke penipu.  Ada juga modus lain, misalnya, nomor call center BCA ini kan 1500 888. Orang tersebut juga membuat nomor yang sama tetapi di depannya +1622. Ada yang  +16 1500 888 kemudian dia akan meng-hack. (Kominfo, 2019)

Penipuan juga aktif di media sosial. Penggunaan media sosial tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga berdampak negatif bagi pengguna ketika digunakan sebagai media untuk melakukan kejahatan, salah satunya penipuan toko online di Instagram. Berdasarkan statistik dari Direktorat Cybercrime, Polri pada tahun 2020 menerima 649 kasus pengaduan penipuan online dari total 2.259 laporan kejahatan. Pelaku penipuan toko online dapat menghapus percakapan dengan korban yang dapat dijadikan sebagai barang bukti digital (Ariyanti, 2022)

Semua orang harus berhati-hati. Dalam teori psikologi seseorang yang ekstrovert lebih mudah untuk terdampak penipuan karena mereka lebih aktif melakukan kontak dengan orang lain. Tingkat potensial seorang individu dalam mengoperasikan gadget, menjawab pesan melalui Facebook, Instagram, WhatsApp, email juga mendukung lebih rentannya seseorang menanggapi pesan penipuan. Sehingga kemudahan tersebut harus di iringi kemampuan dalam memperdalam pengetahuan terhadap berbagai informasi sosial media. (Noris, 2019) Dari hal tersebut dapat kita ketahui bahwa keramahan, dan keingintahuan individu harus memiliki filter siapa dan apa yang layak kita ajak dalam berkomunikasi.

Ada pengaturan privacy yang Anda harus jaga betul. Seringkali kita abai terhadap pengaturan privacy, siapa orang yang bisa melihat apa dan di mana kita. Padahal data-data kita penting.  mengontrol pembaharuan status. Kita mestinya lebih peduli siapa orang yang kita percaya mengetahui kehidupan sering terpublikasi dengan status media masa. Memblokir pengguna  tidak diinginkan. Melaporkan pengguna yang mencurigakan misalnya pemberi pesan tidak kita kenal, namun meminta informasi pribadi padahal hal tersebut merupakan identitas rahasia. Tidak mudah mengklik tautan yang tidak dikenal atau berasal dari orang yang tidak di kenal adalah langkah preventif yang sekarang mungkin efektif. Selalu melakukan konfirmasi ulang dengan dua tahap, mengecek dengan pihak-pihak yang namanya telah dicatut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/