Reformasi PSSI: Berbenah Menyelamatkan Timnas

Apakah Shin Tae Yong yang datang dengan visi permainan atraktif yang sarat pengalaman melatih Korea Selatan di Piala Dunia patut untuk disalahkan, kemudian layak untuk dipecat? Penulis rasa keliru. Shin Tae Yong begitu disiplin dalam memberikan arahan kepada timnas. Perlu diketahui, Shin Tae Yong tidak hanya memikirkan strategi permainan. Lebih dari itu, dia membentuk pemain timnas yang disiplin. Sudah banyak pemain yang dikeluarkan dari timnas karena tindakan indisipliner. Sebut saja Yudha Febrian yang dikeluarkan dari timnas karena telat datang latihan. Setelah diusut, Yudha didapati malam harinya datang ke kelab malam.

Sekali lagi, sangat tidak etis jika coach Shin Tae Yong disalahkan atas keburukan permainan timnas.

Apakah pemain yang dianggap bersalah? Juga tidak etis. Bagi penulis, skuad timnas yang bermain sudah melakukan kerja keras. Mereka adalah pemain disiplin yang dididik berbulan-bulan. Melakukan TC jangka panjang.

Hingga akhirnya, PSSI-lah yang harus bertanggung jawab. Carut-marut pengelolaan liga Indonesia menjadi hal yang memiriskan. Hal ini berdampak serius terhadap kinerja timnas. Selama pandemi, beberapa negara di asia tenggara bisa melakukan kompetisi liga. Kenapa Indonesia tidak? Malaysia, Thailand, Vietnam, sudah jauh-jauh hari liga diselenggarakan dengan protokol yang ketat. Kenapa liga Indonesia begitu rumit?

Penyelesaian carut-marut PSSI harus dilakukan dengan kolosal. PSSI bukanlah lembaga sembarangan yang seenaknya dianaktirikan. Dirjen bahkan Ketua PSSI haruslah yang paham tentang sepak bola. PSSI ada baiknya dipimpin oleh mantan pemain atau pegiat sepak bola yang paham tentang kondisi. Kalau kita lihat ke belakang, banyak sekali carut-marut lainnya yang bisa menjerumuskan sepak bola ke jurang bernama “mati prestasi”. Sebut saja korupsi di tubuh PSSI yang tak kunjung selesai. Varian korupsi yang paling sering kita jumpai adalah pengaturan skor atau sepak bola gajah yang sering melibatkan exco PSSI. Korupsi adalah akar dari terpuruknya timnas. Jangan lagi ada sentimen terhadap pemain dan pelatih atas keterpurukan ini. Lantangkan bahwa sistem dan manajemen PSSI sendiri yang harus berbenah dari secara kolosal. Satu solusi: reformasi PSSI!

 

*) Penulis adalah mahasiswa Teknologi Pertanian Universitas Jember. Bergiat sebagai jurnalis warg