alexametrics
23.8 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Jembermu, Jemberku, Jember Kita

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu, kurang lebih pukul 21.00, saat udara cukup segar setelah hujan dua jam lalu, saya mampir di sebuah warung kopi di sekitar kantor RRI Jember. Suasana di warung tersebut agak ramai. Sambil memesan jahe panas saya memilih tempat duduk di pojok. Orang-orang yang ada di warung itu tampaknya terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan terkait bagaimana menjadikan Jember lebih baik, Jember yang lebih berhasil, Jember yang terus dalam kesuksesan, serta Jember yang bermartabat. Sambil menikmati jahe hangat, sehangat tubuh yang dibalut jaket, saya menjadi pendengar setia obrolan itu. Walau tidak sempat saya rekam, saya dapat menangkap isinya bahwa mereka beradu argumen bagaimana keadaan Jember yang lalu, saat ini dan yang akan datang.

Mereka saling mempertahankan pendapat masing-masing, saling klaim bahwa pendapat masing masinglah yang paling benar. Menariknya, kalau dilihat dari sudut pandang bahasa, satu kelompok banyak menggunakan kata “kamu” dan kelompok yang lain selalu menggunakan kata “aku”. Mereka yang banyak menggunakan kata “kamu” tampaknya adalah mereka yang menyalahkan keadaan. Menurut mereka, bahwa yang menyebabkan keadaan Jember seperti sekarang ini adalah akibat kesalahanmu. Pilihanmulah yang dulu banyak berjanji dan kemudian tidak ditepati. Pilihanmulah yang telah merusak tatanan pemerintahan di Jember ini. Pilihanmulah yang tidak bisa memimpin. Singkatnya, kata “kamu” ditujukan untuk meyakinkan bahwa kesalahan yang ada di Jember ini adalah kesalahanmu, bukan kesalahanku. Segala permasalahan yang ada di Jember adalah masalahmu dan ini Jembermu, begitulah kurang lebih isinya.

Sementara di bagian lain, mereka tidak mau kalah dalam menyampaikan “uneg-uneg” terkait Jember yang baik. Mereka menyampaikan harapan-harapan walau belum tentu menjadi garapan. Mereka juga menyodorkan hal-hal yang baik yang telah terjadi, sedang terjadi, bahkan yang masih merupakan rencana. Mereka yang menggunakan kata “aku” sepertinya beranggapan bahwa ketika Jember ini maju, baik, berhasil, rakyatnya sejahtera, maka semua itu adalah karena aku. Jelas sekali bahwa kata “aku” ditekankan untuk mengatakan bahwa yang benar adalah “aku”. Jember dengan harapan menjadi lebih baik ini adalah Jemberku.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejatinya obrolan di warung tersebut sama-sama bertujuan baik dengan alasan yang bisa diterima. Yang banyak mengatakan kata “kamu” dan itu kesalahanmu, mereka memiliki argumen yang bisa saja benar. Demikian juga sebaliknya, mereka yang mengatakan bahwa keadaan Jember saat ini karena akulah yang telah mengambil bagian di dalamnya, maka ini Jemberku, Jember ke depan akan lebih baik, itu pun belum tentu salah.

Obrolan malam itu menjadi menarik karena kalau diperhatikan tujuannya, mereka sama-sama ingin agar Jember ke depan lebih berhasil. Kalau mereka sama-sama ingin membawa Jember lebih baik dengan peran mereka pada bidang masing-masing, seharusnya mereka tidak terfokus dengan kata Jembermu (ini kesalahanmu) dan Jemberku (akulah yang benar). Mereka seharusnya menggunakan kata “kita”, melibatkan yang berbicara dan yang diajak berbicara. Karena Jember ini adalah milik bersama seluruh warga Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu, kurang lebih pukul 21.00, saat udara cukup segar setelah hujan dua jam lalu, saya mampir di sebuah warung kopi di sekitar kantor RRI Jember. Suasana di warung tersebut agak ramai. Sambil memesan jahe panas saya memilih tempat duduk di pojok. Orang-orang yang ada di warung itu tampaknya terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan terkait bagaimana menjadikan Jember lebih baik, Jember yang lebih berhasil, Jember yang terus dalam kesuksesan, serta Jember yang bermartabat. Sambil menikmati jahe hangat, sehangat tubuh yang dibalut jaket, saya menjadi pendengar setia obrolan itu. Walau tidak sempat saya rekam, saya dapat menangkap isinya bahwa mereka beradu argumen bagaimana keadaan Jember yang lalu, saat ini dan yang akan datang.

Mereka saling mempertahankan pendapat masing-masing, saling klaim bahwa pendapat masing masinglah yang paling benar. Menariknya, kalau dilihat dari sudut pandang bahasa, satu kelompok banyak menggunakan kata “kamu” dan kelompok yang lain selalu menggunakan kata “aku”. Mereka yang banyak menggunakan kata “kamu” tampaknya adalah mereka yang menyalahkan keadaan. Menurut mereka, bahwa yang menyebabkan keadaan Jember seperti sekarang ini adalah akibat kesalahanmu. Pilihanmulah yang dulu banyak berjanji dan kemudian tidak ditepati. Pilihanmulah yang telah merusak tatanan pemerintahan di Jember ini. Pilihanmulah yang tidak bisa memimpin. Singkatnya, kata “kamu” ditujukan untuk meyakinkan bahwa kesalahan yang ada di Jember ini adalah kesalahanmu, bukan kesalahanku. Segala permasalahan yang ada di Jember adalah masalahmu dan ini Jembermu, begitulah kurang lebih isinya.

Sementara di bagian lain, mereka tidak mau kalah dalam menyampaikan “uneg-uneg” terkait Jember yang baik. Mereka menyampaikan harapan-harapan walau belum tentu menjadi garapan. Mereka juga menyodorkan hal-hal yang baik yang telah terjadi, sedang terjadi, bahkan yang masih merupakan rencana. Mereka yang menggunakan kata “aku” sepertinya beranggapan bahwa ketika Jember ini maju, baik, berhasil, rakyatnya sejahtera, maka semua itu adalah karena aku. Jelas sekali bahwa kata “aku” ditekankan untuk mengatakan bahwa yang benar adalah “aku”. Jember dengan harapan menjadi lebih baik ini adalah Jemberku.

Sejatinya obrolan di warung tersebut sama-sama bertujuan baik dengan alasan yang bisa diterima. Yang banyak mengatakan kata “kamu” dan itu kesalahanmu, mereka memiliki argumen yang bisa saja benar. Demikian juga sebaliknya, mereka yang mengatakan bahwa keadaan Jember saat ini karena akulah yang telah mengambil bagian di dalamnya, maka ini Jemberku, Jember ke depan akan lebih baik, itu pun belum tentu salah.

Obrolan malam itu menjadi menarik karena kalau diperhatikan tujuannya, mereka sama-sama ingin agar Jember ke depan lebih berhasil. Kalau mereka sama-sama ingin membawa Jember lebih baik dengan peran mereka pada bidang masing-masing, seharusnya mereka tidak terfokus dengan kata Jembermu (ini kesalahanmu) dan Jemberku (akulah yang benar). Mereka seharusnya menggunakan kata “kita”, melibatkan yang berbicara dan yang diajak berbicara. Karena Jember ini adalah milik bersama seluruh warga Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu, kurang lebih pukul 21.00, saat udara cukup segar setelah hujan dua jam lalu, saya mampir di sebuah warung kopi di sekitar kantor RRI Jember. Suasana di warung tersebut agak ramai. Sambil memesan jahe panas saya memilih tempat duduk di pojok. Orang-orang yang ada di warung itu tampaknya terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan terkait bagaimana menjadikan Jember lebih baik, Jember yang lebih berhasil, Jember yang terus dalam kesuksesan, serta Jember yang bermartabat. Sambil menikmati jahe hangat, sehangat tubuh yang dibalut jaket, saya menjadi pendengar setia obrolan itu. Walau tidak sempat saya rekam, saya dapat menangkap isinya bahwa mereka beradu argumen bagaimana keadaan Jember yang lalu, saat ini dan yang akan datang.

Mereka saling mempertahankan pendapat masing-masing, saling klaim bahwa pendapat masing masinglah yang paling benar. Menariknya, kalau dilihat dari sudut pandang bahasa, satu kelompok banyak menggunakan kata “kamu” dan kelompok yang lain selalu menggunakan kata “aku”. Mereka yang banyak menggunakan kata “kamu” tampaknya adalah mereka yang menyalahkan keadaan. Menurut mereka, bahwa yang menyebabkan keadaan Jember seperti sekarang ini adalah akibat kesalahanmu. Pilihanmulah yang dulu banyak berjanji dan kemudian tidak ditepati. Pilihanmulah yang telah merusak tatanan pemerintahan di Jember ini. Pilihanmulah yang tidak bisa memimpin. Singkatnya, kata “kamu” ditujukan untuk meyakinkan bahwa kesalahan yang ada di Jember ini adalah kesalahanmu, bukan kesalahanku. Segala permasalahan yang ada di Jember adalah masalahmu dan ini Jembermu, begitulah kurang lebih isinya.

Sementara di bagian lain, mereka tidak mau kalah dalam menyampaikan “uneg-uneg” terkait Jember yang baik. Mereka menyampaikan harapan-harapan walau belum tentu menjadi garapan. Mereka juga menyodorkan hal-hal yang baik yang telah terjadi, sedang terjadi, bahkan yang masih merupakan rencana. Mereka yang menggunakan kata “aku” sepertinya beranggapan bahwa ketika Jember ini maju, baik, berhasil, rakyatnya sejahtera, maka semua itu adalah karena aku. Jelas sekali bahwa kata “aku” ditekankan untuk mengatakan bahwa yang benar adalah “aku”. Jember dengan harapan menjadi lebih baik ini adalah Jemberku.

Sejatinya obrolan di warung tersebut sama-sama bertujuan baik dengan alasan yang bisa diterima. Yang banyak mengatakan kata “kamu” dan itu kesalahanmu, mereka memiliki argumen yang bisa saja benar. Demikian juga sebaliknya, mereka yang mengatakan bahwa keadaan Jember saat ini karena akulah yang telah mengambil bagian di dalamnya, maka ini Jemberku, Jember ke depan akan lebih baik, itu pun belum tentu salah.

Obrolan malam itu menjadi menarik karena kalau diperhatikan tujuannya, mereka sama-sama ingin agar Jember ke depan lebih berhasil. Kalau mereka sama-sama ingin membawa Jember lebih baik dengan peran mereka pada bidang masing-masing, seharusnya mereka tidak terfokus dengan kata Jembermu (ini kesalahanmu) dan Jemberku (akulah yang benar). Mereka seharusnya menggunakan kata “kita”, melibatkan yang berbicara dan yang diajak berbicara. Karena Jember ini adalah milik bersama seluruh warga Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/