alexametrics
29.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Pertikaian Antarperguruan Silat

Mobile_AP_Rectangle 1

Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan dengan adanya peristiwa pertikaian masal, yang melibatkan dua perguruan silat. Akibat pertikaian tersebut terdapat 1 orang meninggal dunia, dan 21 orang luka. Bentrok antarperguruan silat tersebut terjadi di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Bentrok itu telah diantisipasi oleh kepolisian, namun karena jumlah massa lebih dari 1.000 orang, kontak fisik di antara mereka tak dapat dihindari. Amuk massa tersebut juga mengakibatkan rusaknya beberapa rumah warga, dan bahkan masjid juga ikut dirusak oleh massa yang sedang “kalap” tersebut.

Baca Juga : Tersangka Pengedar Narkoba di Lumajang Didominasi Pemuda

Bentrok tersebut dipicu saling ejek antaranggota kedua  perguruan silat di media sosial. Saling ejek tersebut terus berkembang, dan semakin meruncing, yang puncaknya terjadilah bentrok secara fisik antaranggota kedua perguruan silat itu. Kita sangat prihatin atas terjadinya perang antarperguruan silat PSHT dan Pagar Nusa. Tampaknya di negeri ini secara beruntun terus didera masalah dan musibah. Beberapa waktu yang lalu kita dilanda bencana alam dalam bentuk gempa, tsunami, gunung meletus, banjir bandang, dan angin puting beliung.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di samping itu, kita juga sedang menghadapi masalah dalam relasi sesama anak bangsa. Sumber masalah bisa berasal dari perbedaan pandangan dalam keberagamaan, politik, kekuasaan dan friksi yang berujung konflik terbuka dalam praktik kehidupan sehari-hari. Media sosial berkontribusi besar dalam menciptakan konflik yang dipicu dari adanya polarisasi di masyarakat.

Kedua kelompok perguruan silat tersebut memulai konflik dari adanya fenomena saling ejek melalui media sosial. Pesan berantai melalui WA group dengan cepat diakses oleh masing-masing anggota. Ejekan dibalas dengan ejekan. Emosi berhadapan dengan emosi. Konflik yang awalnya bersifat pribadi, berkembang menjadi konflik antarkelompok. Anggota perguruan silat, melalui WA group mereka dapat share informasi ejekan dari grup sebelah ke grup perguruannya. Media sosial itu bagaikan pedang bermata dua, satu sisi dapat bermanfaat untuk menyebarluaskan informasi penting pada komunitas, namun pada sisi yang lain bisa sebagai pemicu munculnya konflik secara kolektif. Maka dari itu, kita perlu bijak dalam memfilter informasi dari media sosial, sehingga tidak mudah terprovokasi dan tersulut emosi. Informasi yang menghasilkan respons pro versus kontra inilah yang menjadi penyebab terjadinya polarisasi di masyarakat. Bila tidak disikapi dengan hati-hati maka akan berakibat munculnya konflik sosial.

Mengapa masyarakat kita sangat sensitif dan rentan terjadi konflik. Untuk menjelaskan fenomena ini, kita dapat menggunakan pendekatan sumber daya manusia. Mayoritas masyarakat kita, apalagi di perdesaan, rata-rata tingkat pendidikannya masih rendah. Keterbatasan pengetahuan dan wawasan akan memengaruhi pola pikir atau cara pandang individu. Masyarakat yang berpendidikan rendah memiliki karakter yang labil sehingga akan mudah diadu domba. Mereka lebih mengedepankan aspek emosional dan kurang berpikir rasional. Mereka mudah dipengaruhi dan terpengaruh, serta selanjutnya mudah terprovokasi terutama oleh peer group-nya. Mereka umumnya menjadi penganut ajaran sumbu pendek. Prinsip hidupnya, yang penting bertindak dulu, tentang risiko itu urusan nanti.

Kedua anggota perguruan silat tersebut memiliki karakter yang relevan yaitu rendahnya sumber daya manusia. Pada umumnya mereka memiliki keterbatasan akses pada pekerjaan. Mereka akhirnya lebih memilih tetap bertahan di daerah asal, karena tidak berani berkompetisi dengan migrasi ke kota. Mereka rela bekerja di daerah dengan peluang karier yang terbatas. Mereka merasa tidak mampu mewujudkan mimpi tentang masa depannya. Dalam kondisi masa depan yang tidak jelas, mereka menjadi pemberani ketika tersulut emosinya. Bentrok secara fisik akan dilakukan sebagai kompensasi dari masa suram yang dialaminya.

Aspek berikutnya dapat dijelaskan dari sudut pandang  psikologi. Pada umumnya individu memiliki kecenderungan untuk dianggap hebat oleh lingkungan sekitarnya. Terdapat beragam cara yang dilakukan untuk menunjukkan keunggulannya, seperti berprestasi dalam bidang karir, olahraga, jabatan, pendidikan, dan termasuk bidang agama serta kesuksesan dalam mengakumulasi kekayaan. Mereka akan menunjukkan perasaan bangga atas capaian prestasi atau kesuksesan yang diraihnya. Sedangkan orang  yang tidak memiliki keunggulan akan tetap berusaha menunjukkan eksistensi di lingkungannya dengan caranya sendiri.

- Advertisement -

Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan dengan adanya peristiwa pertikaian masal, yang melibatkan dua perguruan silat. Akibat pertikaian tersebut terdapat 1 orang meninggal dunia, dan 21 orang luka. Bentrok antarperguruan silat tersebut terjadi di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Bentrok itu telah diantisipasi oleh kepolisian, namun karena jumlah massa lebih dari 1.000 orang, kontak fisik di antara mereka tak dapat dihindari. Amuk massa tersebut juga mengakibatkan rusaknya beberapa rumah warga, dan bahkan masjid juga ikut dirusak oleh massa yang sedang “kalap” tersebut.

Baca Juga : Tersangka Pengedar Narkoba di Lumajang Didominasi Pemuda

Bentrok tersebut dipicu saling ejek antaranggota kedua  perguruan silat di media sosial. Saling ejek tersebut terus berkembang, dan semakin meruncing, yang puncaknya terjadilah bentrok secara fisik antaranggota kedua perguruan silat itu. Kita sangat prihatin atas terjadinya perang antarperguruan silat PSHT dan Pagar Nusa. Tampaknya di negeri ini secara beruntun terus didera masalah dan musibah. Beberapa waktu yang lalu kita dilanda bencana alam dalam bentuk gempa, tsunami, gunung meletus, banjir bandang, dan angin puting beliung.

Di samping itu, kita juga sedang menghadapi masalah dalam relasi sesama anak bangsa. Sumber masalah bisa berasal dari perbedaan pandangan dalam keberagamaan, politik, kekuasaan dan friksi yang berujung konflik terbuka dalam praktik kehidupan sehari-hari. Media sosial berkontribusi besar dalam menciptakan konflik yang dipicu dari adanya polarisasi di masyarakat.

Kedua kelompok perguruan silat tersebut memulai konflik dari adanya fenomena saling ejek melalui media sosial. Pesan berantai melalui WA group dengan cepat diakses oleh masing-masing anggota. Ejekan dibalas dengan ejekan. Emosi berhadapan dengan emosi. Konflik yang awalnya bersifat pribadi, berkembang menjadi konflik antarkelompok. Anggota perguruan silat, melalui WA group mereka dapat share informasi ejekan dari grup sebelah ke grup perguruannya. Media sosial itu bagaikan pedang bermata dua, satu sisi dapat bermanfaat untuk menyebarluaskan informasi penting pada komunitas, namun pada sisi yang lain bisa sebagai pemicu munculnya konflik secara kolektif. Maka dari itu, kita perlu bijak dalam memfilter informasi dari media sosial, sehingga tidak mudah terprovokasi dan tersulut emosi. Informasi yang menghasilkan respons pro versus kontra inilah yang menjadi penyebab terjadinya polarisasi di masyarakat. Bila tidak disikapi dengan hati-hati maka akan berakibat munculnya konflik sosial.

Mengapa masyarakat kita sangat sensitif dan rentan terjadi konflik. Untuk menjelaskan fenomena ini, kita dapat menggunakan pendekatan sumber daya manusia. Mayoritas masyarakat kita, apalagi di perdesaan, rata-rata tingkat pendidikannya masih rendah. Keterbatasan pengetahuan dan wawasan akan memengaruhi pola pikir atau cara pandang individu. Masyarakat yang berpendidikan rendah memiliki karakter yang labil sehingga akan mudah diadu domba. Mereka lebih mengedepankan aspek emosional dan kurang berpikir rasional. Mereka mudah dipengaruhi dan terpengaruh, serta selanjutnya mudah terprovokasi terutama oleh peer group-nya. Mereka umumnya menjadi penganut ajaran sumbu pendek. Prinsip hidupnya, yang penting bertindak dulu, tentang risiko itu urusan nanti.

Kedua anggota perguruan silat tersebut memiliki karakter yang relevan yaitu rendahnya sumber daya manusia. Pada umumnya mereka memiliki keterbatasan akses pada pekerjaan. Mereka akhirnya lebih memilih tetap bertahan di daerah asal, karena tidak berani berkompetisi dengan migrasi ke kota. Mereka rela bekerja di daerah dengan peluang karier yang terbatas. Mereka merasa tidak mampu mewujudkan mimpi tentang masa depannya. Dalam kondisi masa depan yang tidak jelas, mereka menjadi pemberani ketika tersulut emosinya. Bentrok secara fisik akan dilakukan sebagai kompensasi dari masa suram yang dialaminya.

Aspek berikutnya dapat dijelaskan dari sudut pandang  psikologi. Pada umumnya individu memiliki kecenderungan untuk dianggap hebat oleh lingkungan sekitarnya. Terdapat beragam cara yang dilakukan untuk menunjukkan keunggulannya, seperti berprestasi dalam bidang karir, olahraga, jabatan, pendidikan, dan termasuk bidang agama serta kesuksesan dalam mengakumulasi kekayaan. Mereka akan menunjukkan perasaan bangga atas capaian prestasi atau kesuksesan yang diraihnya. Sedangkan orang  yang tidak memiliki keunggulan akan tetap berusaha menunjukkan eksistensi di lingkungannya dengan caranya sendiri.

Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan dengan adanya peristiwa pertikaian masal, yang melibatkan dua perguruan silat. Akibat pertikaian tersebut terdapat 1 orang meninggal dunia, dan 21 orang luka. Bentrok antarperguruan silat tersebut terjadi di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Bentrok itu telah diantisipasi oleh kepolisian, namun karena jumlah massa lebih dari 1.000 orang, kontak fisik di antara mereka tak dapat dihindari. Amuk massa tersebut juga mengakibatkan rusaknya beberapa rumah warga, dan bahkan masjid juga ikut dirusak oleh massa yang sedang “kalap” tersebut.

Baca Juga : Tersangka Pengedar Narkoba di Lumajang Didominasi Pemuda

Bentrok tersebut dipicu saling ejek antaranggota kedua  perguruan silat di media sosial. Saling ejek tersebut terus berkembang, dan semakin meruncing, yang puncaknya terjadilah bentrok secara fisik antaranggota kedua perguruan silat itu. Kita sangat prihatin atas terjadinya perang antarperguruan silat PSHT dan Pagar Nusa. Tampaknya di negeri ini secara beruntun terus didera masalah dan musibah. Beberapa waktu yang lalu kita dilanda bencana alam dalam bentuk gempa, tsunami, gunung meletus, banjir bandang, dan angin puting beliung.

Di samping itu, kita juga sedang menghadapi masalah dalam relasi sesama anak bangsa. Sumber masalah bisa berasal dari perbedaan pandangan dalam keberagamaan, politik, kekuasaan dan friksi yang berujung konflik terbuka dalam praktik kehidupan sehari-hari. Media sosial berkontribusi besar dalam menciptakan konflik yang dipicu dari adanya polarisasi di masyarakat.

Kedua kelompok perguruan silat tersebut memulai konflik dari adanya fenomena saling ejek melalui media sosial. Pesan berantai melalui WA group dengan cepat diakses oleh masing-masing anggota. Ejekan dibalas dengan ejekan. Emosi berhadapan dengan emosi. Konflik yang awalnya bersifat pribadi, berkembang menjadi konflik antarkelompok. Anggota perguruan silat, melalui WA group mereka dapat share informasi ejekan dari grup sebelah ke grup perguruannya. Media sosial itu bagaikan pedang bermata dua, satu sisi dapat bermanfaat untuk menyebarluaskan informasi penting pada komunitas, namun pada sisi yang lain bisa sebagai pemicu munculnya konflik secara kolektif. Maka dari itu, kita perlu bijak dalam memfilter informasi dari media sosial, sehingga tidak mudah terprovokasi dan tersulut emosi. Informasi yang menghasilkan respons pro versus kontra inilah yang menjadi penyebab terjadinya polarisasi di masyarakat. Bila tidak disikapi dengan hati-hati maka akan berakibat munculnya konflik sosial.

Mengapa masyarakat kita sangat sensitif dan rentan terjadi konflik. Untuk menjelaskan fenomena ini, kita dapat menggunakan pendekatan sumber daya manusia. Mayoritas masyarakat kita, apalagi di perdesaan, rata-rata tingkat pendidikannya masih rendah. Keterbatasan pengetahuan dan wawasan akan memengaruhi pola pikir atau cara pandang individu. Masyarakat yang berpendidikan rendah memiliki karakter yang labil sehingga akan mudah diadu domba. Mereka lebih mengedepankan aspek emosional dan kurang berpikir rasional. Mereka mudah dipengaruhi dan terpengaruh, serta selanjutnya mudah terprovokasi terutama oleh peer group-nya. Mereka umumnya menjadi penganut ajaran sumbu pendek. Prinsip hidupnya, yang penting bertindak dulu, tentang risiko itu urusan nanti.

Kedua anggota perguruan silat tersebut memiliki karakter yang relevan yaitu rendahnya sumber daya manusia. Pada umumnya mereka memiliki keterbatasan akses pada pekerjaan. Mereka akhirnya lebih memilih tetap bertahan di daerah asal, karena tidak berani berkompetisi dengan migrasi ke kota. Mereka rela bekerja di daerah dengan peluang karier yang terbatas. Mereka merasa tidak mampu mewujudkan mimpi tentang masa depannya. Dalam kondisi masa depan yang tidak jelas, mereka menjadi pemberani ketika tersulut emosinya. Bentrok secara fisik akan dilakukan sebagai kompensasi dari masa suram yang dialaminya.

Aspek berikutnya dapat dijelaskan dari sudut pandang  psikologi. Pada umumnya individu memiliki kecenderungan untuk dianggap hebat oleh lingkungan sekitarnya. Terdapat beragam cara yang dilakukan untuk menunjukkan keunggulannya, seperti berprestasi dalam bidang karir, olahraga, jabatan, pendidikan, dan termasuk bidang agama serta kesuksesan dalam mengakumulasi kekayaan. Mereka akan menunjukkan perasaan bangga atas capaian prestasi atau kesuksesan yang diraihnya. Sedangkan orang  yang tidak memiliki keunggulan akan tetap berusaha menunjukkan eksistensi di lingkungannya dengan caranya sendiri.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/