alexametrics
23.7 C
Jember
Saturday, 24 September 2022

Dinamika Citra Kiai dalam Masyarakat Modern

Mobile_AP_Rectangle 1

Sejak zaman kolonialisme berlangsung di negeri ini, figur ulama desa yang dihormati yaitu kiai telah eksis dalam pergulatan sosial-kemasyarakatan. Kiai sebagai sosok yang dianggap mumpuni dalam ilmu-ilmu keislaman seringkali terlibat dalam basis pergerakan massa untuk melawan penjajahan. Mulai dari Kiai Subchi yang berjuang dengan bambu runcing saktinya di Temanggung, KH Wahab Hasbullah dari Tambak Beras yang berjuang secara politis untuk kebangkitan bangsa, hingga Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari yang menjadi poros pergerakan perlawanan melawan penjajah di Jombang adalah sebaris torehan tinta emas sejarah luar biasa kiai bagi masyarakat Indonesia.

Kiai dan istilah nomenklaturnya telah banyak sekali dibahas dalam berbagai literatur oleh para peneliti terdahulu. Beberapa nama besar peneliti seperti Martin Van Bruinessen, Zamakhsyari Dhofier, Mansurnoor, Horikoshi, Geertz, dan lainnya sebagainya telah merumuskan pola kehidupan kiai dalam berbagai aspek kehidupan sosial di negeri ini. Demikian, sejak beberapa dasawarsa lalu kiai konsisten memiliki dan menjaga identitasnya dalam percaturan kehidupan bangsa. Kiai selalu memiliki pengaruh yang superior dalam pergolakan kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, studi tentang dinamika kiai selalu menjadi topik yang menarik untuk ditelisik dan dipublikasi lebih lanjut dalam ranah akademis.

Kiai merupakan seorang tokoh kharismatik dalam lingkup masyarakat Islam yang memiliki pengaruh seperti realitas sosial-keagamaan, otoritas kebijakan publik, dan politik baik yang bersifat struktural maupun nonstruktural. Sebagai seorang elite lokal, menurut Dr Endang Turmudi dalam disertasinya yang dibukukan, posisi kuat kiai dalam masyarakat ditengarai sebab dua faktor. Pertama, kiai adalah orang yang berpengetahuan luas khususnya tentang ilmu keislaman sehingga ceramah dan petuahnya menjadi sentral konstruksi nilai dan norma dalam kehidupan masyarakat Islam. Kedua, karena umumnya kiai berasal dari keluarga yang berada. Dengan kekayaannya, seorang kiai menciptakan sebuah pola patronase yang menghubungkannya dengan orang-orang tertentu dalam masyarakat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Patronase dan pengaruh kiai akan semakin kuat apabila ia memiliki lembaga pendidikan yakni pesantren yang di dalamnya terdapat amanah masyarakat setempat. Pesantren sebagai tempat mencari ilmu para santri (baca: orang yang belajar di pesantren) secara inklusif akan menghubungkan kiai dengan sudut-sudut lain dalam aspek kehidupan sosial masyarakat. Adapun kualitas sebuah pesantren biasanya terikat dengan citra kiai yang sebelumnya telah terbangun di masyarakat.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia. Sebagai kawah candradimuka, pesantren secara masif telah tumbuh dan berkembang pesat di nusantara. Terutama di Pulau Jawa, pesantren tersebar di seluruh pelosok daerah. Tujuan dari pendirian pesantren sejatinya adalah untuk menyediakan wadah pembelajaran islami yang otentik (Alquran dan Hadis) kepada generasi muslim sehingga mereka dapat memperoleh ajaran Islam yang bernasab hingga Nabi Muhammad SAW melalui kitab-kitab yang ditulis para ulama.

Demikian, upaya kiai dalam pembangunan bangsa melalui pesantren telah memiliki sejarah panjang yang tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Sayangnya hari ini, diskursus tentang kiai dan pesantrennya sedang terhanyut atas pemberitaan yang kurang sedap dan dihadapkan dengan berbagai isu-isu miring. Fenomena penyimpangan tindak asusila oleh kiai atau keluarganya terhadap santri-santrinya menjadi topik pembicaraan publik yang santer diperbincangkan. Realitas ini secara hemat penulis disinyalir akan membawa pengaruh atau dampak yang cukup signifikan. Pasalnya, kiai dan pesantren sebagaimana diketahui ialah sebagai orang dan tempat suci namun justru menjadi pelaku dan tempat terjadinya tindakan amoral.

Dimulai dengan runtuhnya gunung es sejak penangkapan Heri Wirawan akibat tindak pencabulan santrinya di akhir tahun 2021, berturut-turut kasus lain yang serupa mulai bermunculan. Paling anyar dan masih hangat dibincangkan adalah kasus Mas Bechi, seorang anak kiai pesantren yang memiliki pengaruh cukup kuat di Jombang. Patut disayangkan, pasalnya sederet kasus yang viral di publik tersebut menyeret figur kiai atau pemimpin pesantren.

Kemunculan kasus-kasus yang bersifat aib ini di permukaan publik, secara simultan akan berdampak terhadap citra kiai dan pesantren dalam perspektif masyarakat. Kiai sebagaimana disebutkan di awal bahwa ia terfragmentasi sebagai seorang elite yang memiliki pengaruh akan mengalami degradasi kepercayaan yang cukup telak. Meskipun belum ada bukti yang menyebutkan seluruh kiai bertindak demikian, namun masifnya jumlah kasus serta pemberitaan di media dapat mencoreng nama baik kiai yang bisa jadi secara keseluruhan jika dilihat dari kaca mata orang awam.

Pasalnya, figur kiai yang terbangun saat ini adalah seorang ilmuwan muslim yang tutur kata dan tingkah lakunya dijadikan tauladan bagi masyarakat. Apabila dalam kehidupannya lantas ditemukan suatu penyimpangan atau pelanggaran terhadap norma hukum yang berlaku maka hal tersebut akan mencemari nilai seorang kiai bahkan pesantren yang ia pimpin.

Menanggapi fenomena ini, Kiai Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha’) berpendapat bahwa realita ini sebenarnya bagus. Dalam sebuah wawancara beliau menyebutkan “Itu menunjukkan bahwa Islam itu masih benar. Jadi kekuatan teks samawi itu masih kuat mengalahkan kultus.” Gus Baha’ menyoroti permasalahan ini dengan menggunakan paradigma akidah dan fiqih di mana kiai harusnya dipandang sebagai sosok manusia yang tidak luput dari perbuatan salah dan dosa. Dengan ini, kultus masyarakat terhadap kiai mungkin saja akan runtuh akan tetapi secara fundamental hal ini menandakan bahwa yang harus dipercaya adalah Alquran dan Hadis bukan melulu dari tutur kata kiai.

Pendapat Gus Baha’ di atas memang sama sekali benar. Sejatinya yang harus dipercaya adalah ajaran agama yang secara orisinal berasal dari kajian konteks teks sumber agama yang diakui. Meskipun dalam hal ini kiai merupakan penyambung lidah dari bentuk teks ke tutur lisan, namun hal tersebut sudah bersifat profan dan berkurang kesakralannya. Artinya, kultus yang tersemat pada diri seorang kiai tidak semestinya ditumbuhkan. Ada baiknya sebagai seorang santri atau orang yang mendengarkan, kita mengkaji ulang ajaran tersebut misalnya dengan melakukan triangulasi sumber.

Namun, di samping itu dengan munculnya tindakan yang tidak etis dari kiai ini selanjutnya akan menimbulkan penentangan terhadap legalitas kiai dan pesantren oleh masyarakat luas bahkan pengikutnya sendiri. Penentangan terhadap kiai dan pesantren tersebut akan berdampak pada masa depan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Padahal hingga saat ini, belum ada satu pun lembaga pendidikan Islam dalam bentuk selain pesantren yang mampu menandingi kualitas pesantren secara keseluruhan. Selain itu, saat ini juga gencar sekali bermunculan aliran-aliran Islam radikal yang entah dari mana sumbernya.

Oleh karena itu, penting kiranya di zaman akhir ini kita memandang sesuatu secara jernih bahkan hingga ke dasarnya. Semoga ada titik terang. Amin.

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah Unity of Writer

 

 

- Advertisement -

Sejak zaman kolonialisme berlangsung di negeri ini, figur ulama desa yang dihormati yaitu kiai telah eksis dalam pergulatan sosial-kemasyarakatan. Kiai sebagai sosok yang dianggap mumpuni dalam ilmu-ilmu keislaman seringkali terlibat dalam basis pergerakan massa untuk melawan penjajahan. Mulai dari Kiai Subchi yang berjuang dengan bambu runcing saktinya di Temanggung, KH Wahab Hasbullah dari Tambak Beras yang berjuang secara politis untuk kebangkitan bangsa, hingga Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari yang menjadi poros pergerakan perlawanan melawan penjajah di Jombang adalah sebaris torehan tinta emas sejarah luar biasa kiai bagi masyarakat Indonesia.

Kiai dan istilah nomenklaturnya telah banyak sekali dibahas dalam berbagai literatur oleh para peneliti terdahulu. Beberapa nama besar peneliti seperti Martin Van Bruinessen, Zamakhsyari Dhofier, Mansurnoor, Horikoshi, Geertz, dan lainnya sebagainya telah merumuskan pola kehidupan kiai dalam berbagai aspek kehidupan sosial di negeri ini. Demikian, sejak beberapa dasawarsa lalu kiai konsisten memiliki dan menjaga identitasnya dalam percaturan kehidupan bangsa. Kiai selalu memiliki pengaruh yang superior dalam pergolakan kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, studi tentang dinamika kiai selalu menjadi topik yang menarik untuk ditelisik dan dipublikasi lebih lanjut dalam ranah akademis.

Kiai merupakan seorang tokoh kharismatik dalam lingkup masyarakat Islam yang memiliki pengaruh seperti realitas sosial-keagamaan, otoritas kebijakan publik, dan politik baik yang bersifat struktural maupun nonstruktural. Sebagai seorang elite lokal, menurut Dr Endang Turmudi dalam disertasinya yang dibukukan, posisi kuat kiai dalam masyarakat ditengarai sebab dua faktor. Pertama, kiai adalah orang yang berpengetahuan luas khususnya tentang ilmu keislaman sehingga ceramah dan petuahnya menjadi sentral konstruksi nilai dan norma dalam kehidupan masyarakat Islam. Kedua, karena umumnya kiai berasal dari keluarga yang berada. Dengan kekayaannya, seorang kiai menciptakan sebuah pola patronase yang menghubungkannya dengan orang-orang tertentu dalam masyarakat.

Patronase dan pengaruh kiai akan semakin kuat apabila ia memiliki lembaga pendidikan yakni pesantren yang di dalamnya terdapat amanah masyarakat setempat. Pesantren sebagai tempat mencari ilmu para santri (baca: orang yang belajar di pesantren) secara inklusif akan menghubungkan kiai dengan sudut-sudut lain dalam aspek kehidupan sosial masyarakat. Adapun kualitas sebuah pesantren biasanya terikat dengan citra kiai yang sebelumnya telah terbangun di masyarakat.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia. Sebagai kawah candradimuka, pesantren secara masif telah tumbuh dan berkembang pesat di nusantara. Terutama di Pulau Jawa, pesantren tersebar di seluruh pelosok daerah. Tujuan dari pendirian pesantren sejatinya adalah untuk menyediakan wadah pembelajaran islami yang otentik (Alquran dan Hadis) kepada generasi muslim sehingga mereka dapat memperoleh ajaran Islam yang bernasab hingga Nabi Muhammad SAW melalui kitab-kitab yang ditulis para ulama.

Demikian, upaya kiai dalam pembangunan bangsa melalui pesantren telah memiliki sejarah panjang yang tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Sayangnya hari ini, diskursus tentang kiai dan pesantrennya sedang terhanyut atas pemberitaan yang kurang sedap dan dihadapkan dengan berbagai isu-isu miring. Fenomena penyimpangan tindak asusila oleh kiai atau keluarganya terhadap santri-santrinya menjadi topik pembicaraan publik yang santer diperbincangkan. Realitas ini secara hemat penulis disinyalir akan membawa pengaruh atau dampak yang cukup signifikan. Pasalnya, kiai dan pesantren sebagaimana diketahui ialah sebagai orang dan tempat suci namun justru menjadi pelaku dan tempat terjadinya tindakan amoral.

Dimulai dengan runtuhnya gunung es sejak penangkapan Heri Wirawan akibat tindak pencabulan santrinya di akhir tahun 2021, berturut-turut kasus lain yang serupa mulai bermunculan. Paling anyar dan masih hangat dibincangkan adalah kasus Mas Bechi, seorang anak kiai pesantren yang memiliki pengaruh cukup kuat di Jombang. Patut disayangkan, pasalnya sederet kasus yang viral di publik tersebut menyeret figur kiai atau pemimpin pesantren.

Kemunculan kasus-kasus yang bersifat aib ini di permukaan publik, secara simultan akan berdampak terhadap citra kiai dan pesantren dalam perspektif masyarakat. Kiai sebagaimana disebutkan di awal bahwa ia terfragmentasi sebagai seorang elite yang memiliki pengaruh akan mengalami degradasi kepercayaan yang cukup telak. Meskipun belum ada bukti yang menyebutkan seluruh kiai bertindak demikian, namun masifnya jumlah kasus serta pemberitaan di media dapat mencoreng nama baik kiai yang bisa jadi secara keseluruhan jika dilihat dari kaca mata orang awam.

Pasalnya, figur kiai yang terbangun saat ini adalah seorang ilmuwan muslim yang tutur kata dan tingkah lakunya dijadikan tauladan bagi masyarakat. Apabila dalam kehidupannya lantas ditemukan suatu penyimpangan atau pelanggaran terhadap norma hukum yang berlaku maka hal tersebut akan mencemari nilai seorang kiai bahkan pesantren yang ia pimpin.

Menanggapi fenomena ini, Kiai Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha’) berpendapat bahwa realita ini sebenarnya bagus. Dalam sebuah wawancara beliau menyebutkan “Itu menunjukkan bahwa Islam itu masih benar. Jadi kekuatan teks samawi itu masih kuat mengalahkan kultus.” Gus Baha’ menyoroti permasalahan ini dengan menggunakan paradigma akidah dan fiqih di mana kiai harusnya dipandang sebagai sosok manusia yang tidak luput dari perbuatan salah dan dosa. Dengan ini, kultus masyarakat terhadap kiai mungkin saja akan runtuh akan tetapi secara fundamental hal ini menandakan bahwa yang harus dipercaya adalah Alquran dan Hadis bukan melulu dari tutur kata kiai.

Pendapat Gus Baha’ di atas memang sama sekali benar. Sejatinya yang harus dipercaya adalah ajaran agama yang secara orisinal berasal dari kajian konteks teks sumber agama yang diakui. Meskipun dalam hal ini kiai merupakan penyambung lidah dari bentuk teks ke tutur lisan, namun hal tersebut sudah bersifat profan dan berkurang kesakralannya. Artinya, kultus yang tersemat pada diri seorang kiai tidak semestinya ditumbuhkan. Ada baiknya sebagai seorang santri atau orang yang mendengarkan, kita mengkaji ulang ajaran tersebut misalnya dengan melakukan triangulasi sumber.

Namun, di samping itu dengan munculnya tindakan yang tidak etis dari kiai ini selanjutnya akan menimbulkan penentangan terhadap legalitas kiai dan pesantren oleh masyarakat luas bahkan pengikutnya sendiri. Penentangan terhadap kiai dan pesantren tersebut akan berdampak pada masa depan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Padahal hingga saat ini, belum ada satu pun lembaga pendidikan Islam dalam bentuk selain pesantren yang mampu menandingi kualitas pesantren secara keseluruhan. Selain itu, saat ini juga gencar sekali bermunculan aliran-aliran Islam radikal yang entah dari mana sumbernya.

Oleh karena itu, penting kiranya di zaman akhir ini kita memandang sesuatu secara jernih bahkan hingga ke dasarnya. Semoga ada titik terang. Amin.

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah Unity of Writer

 

 

Sejak zaman kolonialisme berlangsung di negeri ini, figur ulama desa yang dihormati yaitu kiai telah eksis dalam pergulatan sosial-kemasyarakatan. Kiai sebagai sosok yang dianggap mumpuni dalam ilmu-ilmu keislaman seringkali terlibat dalam basis pergerakan massa untuk melawan penjajahan. Mulai dari Kiai Subchi yang berjuang dengan bambu runcing saktinya di Temanggung, KH Wahab Hasbullah dari Tambak Beras yang berjuang secara politis untuk kebangkitan bangsa, hingga Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari yang menjadi poros pergerakan perlawanan melawan penjajah di Jombang adalah sebaris torehan tinta emas sejarah luar biasa kiai bagi masyarakat Indonesia.

Kiai dan istilah nomenklaturnya telah banyak sekali dibahas dalam berbagai literatur oleh para peneliti terdahulu. Beberapa nama besar peneliti seperti Martin Van Bruinessen, Zamakhsyari Dhofier, Mansurnoor, Horikoshi, Geertz, dan lainnya sebagainya telah merumuskan pola kehidupan kiai dalam berbagai aspek kehidupan sosial di negeri ini. Demikian, sejak beberapa dasawarsa lalu kiai konsisten memiliki dan menjaga identitasnya dalam percaturan kehidupan bangsa. Kiai selalu memiliki pengaruh yang superior dalam pergolakan kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, studi tentang dinamika kiai selalu menjadi topik yang menarik untuk ditelisik dan dipublikasi lebih lanjut dalam ranah akademis.

Kiai merupakan seorang tokoh kharismatik dalam lingkup masyarakat Islam yang memiliki pengaruh seperti realitas sosial-keagamaan, otoritas kebijakan publik, dan politik baik yang bersifat struktural maupun nonstruktural. Sebagai seorang elite lokal, menurut Dr Endang Turmudi dalam disertasinya yang dibukukan, posisi kuat kiai dalam masyarakat ditengarai sebab dua faktor. Pertama, kiai adalah orang yang berpengetahuan luas khususnya tentang ilmu keislaman sehingga ceramah dan petuahnya menjadi sentral konstruksi nilai dan norma dalam kehidupan masyarakat Islam. Kedua, karena umumnya kiai berasal dari keluarga yang berada. Dengan kekayaannya, seorang kiai menciptakan sebuah pola patronase yang menghubungkannya dengan orang-orang tertentu dalam masyarakat.

Patronase dan pengaruh kiai akan semakin kuat apabila ia memiliki lembaga pendidikan yakni pesantren yang di dalamnya terdapat amanah masyarakat setempat. Pesantren sebagai tempat mencari ilmu para santri (baca: orang yang belajar di pesantren) secara inklusif akan menghubungkan kiai dengan sudut-sudut lain dalam aspek kehidupan sosial masyarakat. Adapun kualitas sebuah pesantren biasanya terikat dengan citra kiai yang sebelumnya telah terbangun di masyarakat.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia. Sebagai kawah candradimuka, pesantren secara masif telah tumbuh dan berkembang pesat di nusantara. Terutama di Pulau Jawa, pesantren tersebar di seluruh pelosok daerah. Tujuan dari pendirian pesantren sejatinya adalah untuk menyediakan wadah pembelajaran islami yang otentik (Alquran dan Hadis) kepada generasi muslim sehingga mereka dapat memperoleh ajaran Islam yang bernasab hingga Nabi Muhammad SAW melalui kitab-kitab yang ditulis para ulama.

Demikian, upaya kiai dalam pembangunan bangsa melalui pesantren telah memiliki sejarah panjang yang tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Sayangnya hari ini, diskursus tentang kiai dan pesantrennya sedang terhanyut atas pemberitaan yang kurang sedap dan dihadapkan dengan berbagai isu-isu miring. Fenomena penyimpangan tindak asusila oleh kiai atau keluarganya terhadap santri-santrinya menjadi topik pembicaraan publik yang santer diperbincangkan. Realitas ini secara hemat penulis disinyalir akan membawa pengaruh atau dampak yang cukup signifikan. Pasalnya, kiai dan pesantren sebagaimana diketahui ialah sebagai orang dan tempat suci namun justru menjadi pelaku dan tempat terjadinya tindakan amoral.

Dimulai dengan runtuhnya gunung es sejak penangkapan Heri Wirawan akibat tindak pencabulan santrinya di akhir tahun 2021, berturut-turut kasus lain yang serupa mulai bermunculan. Paling anyar dan masih hangat dibincangkan adalah kasus Mas Bechi, seorang anak kiai pesantren yang memiliki pengaruh cukup kuat di Jombang. Patut disayangkan, pasalnya sederet kasus yang viral di publik tersebut menyeret figur kiai atau pemimpin pesantren.

Kemunculan kasus-kasus yang bersifat aib ini di permukaan publik, secara simultan akan berdampak terhadap citra kiai dan pesantren dalam perspektif masyarakat. Kiai sebagaimana disebutkan di awal bahwa ia terfragmentasi sebagai seorang elite yang memiliki pengaruh akan mengalami degradasi kepercayaan yang cukup telak. Meskipun belum ada bukti yang menyebutkan seluruh kiai bertindak demikian, namun masifnya jumlah kasus serta pemberitaan di media dapat mencoreng nama baik kiai yang bisa jadi secara keseluruhan jika dilihat dari kaca mata orang awam.

Pasalnya, figur kiai yang terbangun saat ini adalah seorang ilmuwan muslim yang tutur kata dan tingkah lakunya dijadikan tauladan bagi masyarakat. Apabila dalam kehidupannya lantas ditemukan suatu penyimpangan atau pelanggaran terhadap norma hukum yang berlaku maka hal tersebut akan mencemari nilai seorang kiai bahkan pesantren yang ia pimpin.

Menanggapi fenomena ini, Kiai Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha’) berpendapat bahwa realita ini sebenarnya bagus. Dalam sebuah wawancara beliau menyebutkan “Itu menunjukkan bahwa Islam itu masih benar. Jadi kekuatan teks samawi itu masih kuat mengalahkan kultus.” Gus Baha’ menyoroti permasalahan ini dengan menggunakan paradigma akidah dan fiqih di mana kiai harusnya dipandang sebagai sosok manusia yang tidak luput dari perbuatan salah dan dosa. Dengan ini, kultus masyarakat terhadap kiai mungkin saja akan runtuh akan tetapi secara fundamental hal ini menandakan bahwa yang harus dipercaya adalah Alquran dan Hadis bukan melulu dari tutur kata kiai.

Pendapat Gus Baha’ di atas memang sama sekali benar. Sejatinya yang harus dipercaya adalah ajaran agama yang secara orisinal berasal dari kajian konteks teks sumber agama yang diakui. Meskipun dalam hal ini kiai merupakan penyambung lidah dari bentuk teks ke tutur lisan, namun hal tersebut sudah bersifat profan dan berkurang kesakralannya. Artinya, kultus yang tersemat pada diri seorang kiai tidak semestinya ditumbuhkan. Ada baiknya sebagai seorang santri atau orang yang mendengarkan, kita mengkaji ulang ajaran tersebut misalnya dengan melakukan triangulasi sumber.

Namun, di samping itu dengan munculnya tindakan yang tidak etis dari kiai ini selanjutnya akan menimbulkan penentangan terhadap legalitas kiai dan pesantren oleh masyarakat luas bahkan pengikutnya sendiri. Penentangan terhadap kiai dan pesantren tersebut akan berdampak pada masa depan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Padahal hingga saat ini, belum ada satu pun lembaga pendidikan Islam dalam bentuk selain pesantren yang mampu menandingi kualitas pesantren secara keseluruhan. Selain itu, saat ini juga gencar sekali bermunculan aliran-aliran Islam radikal yang entah dari mana sumbernya.

Oleh karena itu, penting kiranya di zaman akhir ini kita memandang sesuatu secara jernih bahkan hingga ke dasarnya. Semoga ada titik terang. Amin.

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah Unity of Writer

 

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/