alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 13 August 2022

Kurikulum Merdeka dan Sinergi Lintas Sektor

Mobile_AP_Rectangle 1

Bulan Juli 2022 menyajikan dua momen yang tampaknya terpisah, namun kita bila menggeser sudut pandang sedikit saja, maka akan tampak irisan dari keduanya. Momen pertama diungkapnya dugaan penyimpangan pengelolaan dana filantropi yang dihimpun lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Momen kedua masih akan kita songsong yakni dimulainya Tahun Pelajaran 2022-2023 pada 18 Juli 2022. Berbagai lembaga pendidikan dasar menengah (dasmen) akan mulai menerapkan Kurikulum Merdeka.

ACT ditelisik oleh media mainstream dan warganet di berbagai media sosial. Statusnya sebagai lembaga kemanusiaan yang menghimpun donasi dari masyarakat, dipersoalkan oleh berbagai pihak. Termasuk Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadziy menyebut ACT tidak termasuk Lembaga Amil Zakat (LAZ) sehingga lembaga yang berdiri pada 2005 itu tidak bisa menghimpun dana masyarakat untuk infak dan sedekah. Sementara Badan Amil Zakat nasional (Baznas) mengungkapkan akibat dari perkara ACT ini menyebabkan turunnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga amal.

Pada saat Baznas bersama LAZ mesti berupaya memulihkan kepercayaan masyarakat agar lebih giat kembali berdonasi sebagai amal menunaikan tuntunan agama. Pada saat yang sama, guru dan murid di Indonesia sedang bergelut untuk bisa bangkit dari krisis pembelajaran yang semakin bertambah akibat pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan hilangnya pembelajaran (learning loss) dan meningkatnya kesenjangan pembelajaran.

Mobile_AP_Rectangle 2

Guru dan murid dipaksa berakselerasi untuk membenahi kesenjangan kualitas pembelajaran antar lembaga pendidikan maupun antar daerah dengan segala kondisi infrastruktur fasilitas teknologi pendukung pendidikan yang beragam. Kolaborasi menjadi salah satu resep untuk menopang akselerasi pembelajaran. Maka menjadi keniscayaan bila lembaga pendidikan (sekolah dan madrasah) menggandeng pelaku wirausaha, professional, relawan lingkungan, relawan sosial, dan lembaga pemerintah lintas sektor. Termasuk juga bisa menggandeng Baznas dan LAZ di tiap daerah.

Kolaborasi Adalah Pengungkit

Kurikulum Merdeka membuka peluang lembaga pendidikan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak dan pihak yang digandeng tentu dapat dipastikan bakal memetik manfaat dari kerja sama itu. Kolaborasi akan menguatkan karakter murid atau peserta didik sebab mereka akan berinteraksi langsung dengan praktisi dan professional dari berbagai bidang. Mereka akan terpapar dengan pengalaman-pengalaman otentik para praktisi dan kerja-kerja professional para ahli. Tersedianya teknologi komunikasi dalam jaringan (online) semacam Zoom dan Google Meet membuka peluang praktik kolaborasi yang efektif sekaligus efisien.

Terbukanya wawasan peserta didik dan pendidik melalui kolaborasi ini akan mendorong peserta didik untuk mengasah kompetensi dan hal ini kompetensi ini merupakan jawaban dari tantangan dunia abad ke-21. Abad ketika warga global di berbagai lini menuntut adanya kompetensi, menggeser kompetisi menjadi kolaborasi, memacu kreativitas, dan mengharuskan komunikasi intensif yang  lintas batas kultural dan negara.

Kolaborasi Baznas bersama LAZ dengan lembaga pendidikan dapat diterapkan secara sederhana dengan tetap mempertimbangkan tercapainya tujuan dari masing-masing pihak. Manfaat dari kolaborasi antara Baznas dan LAZ jangan dibayangkan akan terhimpunnya dana filantropi yang melimpah dari kalangan pelajar, melainkan terkadernya calon-calon filantropis masa depan melalui sekolah dan madrasah. Bila jiwa altrusistik dan filantropis terpupuk sejak dini, maka Baznas dan LAZ akan memanen dana kelolaan filantropi yang melimpah di masa depan. Kerja-kerja filantropi tak bisa hanya dipandang sebagai kerja satu tahun atau dua tahun. Ini merupakan kerja berkesinambungan lintas generasi.

Penerapan kolaborasi Baznas dan LAZ bersama sekolah dan madrasah bisa dimulai dengan kegiatan-kegiatan sederhana yang dilaksanakan secara ajek atau istiqamah. Misalnya, penghimpunan infak dan sedekah setiap hari di kalangan murid yang direncanakan, dikelola dan didistribusikan oleh para murid secara mandiri. Dari kegiatan sederhana itu, pihak sekolah mendapat manfaat berupa terealisasinya praktik pembelajaran intrakurikuler (dari berbagai muatan pelajaran) dan projek penguatan karakter pelajar Pancasila.

- Advertisement -

Bulan Juli 2022 menyajikan dua momen yang tampaknya terpisah, namun kita bila menggeser sudut pandang sedikit saja, maka akan tampak irisan dari keduanya. Momen pertama diungkapnya dugaan penyimpangan pengelolaan dana filantropi yang dihimpun lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Momen kedua masih akan kita songsong yakni dimulainya Tahun Pelajaran 2022-2023 pada 18 Juli 2022. Berbagai lembaga pendidikan dasar menengah (dasmen) akan mulai menerapkan Kurikulum Merdeka.

ACT ditelisik oleh media mainstream dan warganet di berbagai media sosial. Statusnya sebagai lembaga kemanusiaan yang menghimpun donasi dari masyarakat, dipersoalkan oleh berbagai pihak. Termasuk Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadziy menyebut ACT tidak termasuk Lembaga Amil Zakat (LAZ) sehingga lembaga yang berdiri pada 2005 itu tidak bisa menghimpun dana masyarakat untuk infak dan sedekah. Sementara Badan Amil Zakat nasional (Baznas) mengungkapkan akibat dari perkara ACT ini menyebabkan turunnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga amal.

Pada saat Baznas bersama LAZ mesti berupaya memulihkan kepercayaan masyarakat agar lebih giat kembali berdonasi sebagai amal menunaikan tuntunan agama. Pada saat yang sama, guru dan murid di Indonesia sedang bergelut untuk bisa bangkit dari krisis pembelajaran yang semakin bertambah akibat pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan hilangnya pembelajaran (learning loss) dan meningkatnya kesenjangan pembelajaran.

Guru dan murid dipaksa berakselerasi untuk membenahi kesenjangan kualitas pembelajaran antar lembaga pendidikan maupun antar daerah dengan segala kondisi infrastruktur fasilitas teknologi pendukung pendidikan yang beragam. Kolaborasi menjadi salah satu resep untuk menopang akselerasi pembelajaran. Maka menjadi keniscayaan bila lembaga pendidikan (sekolah dan madrasah) menggandeng pelaku wirausaha, professional, relawan lingkungan, relawan sosial, dan lembaga pemerintah lintas sektor. Termasuk juga bisa menggandeng Baznas dan LAZ di tiap daerah.

Kolaborasi Adalah Pengungkit

Kurikulum Merdeka membuka peluang lembaga pendidikan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak dan pihak yang digandeng tentu dapat dipastikan bakal memetik manfaat dari kerja sama itu. Kolaborasi akan menguatkan karakter murid atau peserta didik sebab mereka akan berinteraksi langsung dengan praktisi dan professional dari berbagai bidang. Mereka akan terpapar dengan pengalaman-pengalaman otentik para praktisi dan kerja-kerja professional para ahli. Tersedianya teknologi komunikasi dalam jaringan (online) semacam Zoom dan Google Meet membuka peluang praktik kolaborasi yang efektif sekaligus efisien.

Terbukanya wawasan peserta didik dan pendidik melalui kolaborasi ini akan mendorong peserta didik untuk mengasah kompetensi dan hal ini kompetensi ini merupakan jawaban dari tantangan dunia abad ke-21. Abad ketika warga global di berbagai lini menuntut adanya kompetensi, menggeser kompetisi menjadi kolaborasi, memacu kreativitas, dan mengharuskan komunikasi intensif yang  lintas batas kultural dan negara.

Kolaborasi Baznas bersama LAZ dengan lembaga pendidikan dapat diterapkan secara sederhana dengan tetap mempertimbangkan tercapainya tujuan dari masing-masing pihak. Manfaat dari kolaborasi antara Baznas dan LAZ jangan dibayangkan akan terhimpunnya dana filantropi yang melimpah dari kalangan pelajar, melainkan terkadernya calon-calon filantropis masa depan melalui sekolah dan madrasah. Bila jiwa altrusistik dan filantropis terpupuk sejak dini, maka Baznas dan LAZ akan memanen dana kelolaan filantropi yang melimpah di masa depan. Kerja-kerja filantropi tak bisa hanya dipandang sebagai kerja satu tahun atau dua tahun. Ini merupakan kerja berkesinambungan lintas generasi.

Penerapan kolaborasi Baznas dan LAZ bersama sekolah dan madrasah bisa dimulai dengan kegiatan-kegiatan sederhana yang dilaksanakan secara ajek atau istiqamah. Misalnya, penghimpunan infak dan sedekah setiap hari di kalangan murid yang direncanakan, dikelola dan didistribusikan oleh para murid secara mandiri. Dari kegiatan sederhana itu, pihak sekolah mendapat manfaat berupa terealisasinya praktik pembelajaran intrakurikuler (dari berbagai muatan pelajaran) dan projek penguatan karakter pelajar Pancasila.

Bulan Juli 2022 menyajikan dua momen yang tampaknya terpisah, namun kita bila menggeser sudut pandang sedikit saja, maka akan tampak irisan dari keduanya. Momen pertama diungkapnya dugaan penyimpangan pengelolaan dana filantropi yang dihimpun lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Momen kedua masih akan kita songsong yakni dimulainya Tahun Pelajaran 2022-2023 pada 18 Juli 2022. Berbagai lembaga pendidikan dasar menengah (dasmen) akan mulai menerapkan Kurikulum Merdeka.

ACT ditelisik oleh media mainstream dan warganet di berbagai media sosial. Statusnya sebagai lembaga kemanusiaan yang menghimpun donasi dari masyarakat, dipersoalkan oleh berbagai pihak. Termasuk Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadziy menyebut ACT tidak termasuk Lembaga Amil Zakat (LAZ) sehingga lembaga yang berdiri pada 2005 itu tidak bisa menghimpun dana masyarakat untuk infak dan sedekah. Sementara Badan Amil Zakat nasional (Baznas) mengungkapkan akibat dari perkara ACT ini menyebabkan turunnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga amal.

Pada saat Baznas bersama LAZ mesti berupaya memulihkan kepercayaan masyarakat agar lebih giat kembali berdonasi sebagai amal menunaikan tuntunan agama. Pada saat yang sama, guru dan murid di Indonesia sedang bergelut untuk bisa bangkit dari krisis pembelajaran yang semakin bertambah akibat pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan hilangnya pembelajaran (learning loss) dan meningkatnya kesenjangan pembelajaran.

Guru dan murid dipaksa berakselerasi untuk membenahi kesenjangan kualitas pembelajaran antar lembaga pendidikan maupun antar daerah dengan segala kondisi infrastruktur fasilitas teknologi pendukung pendidikan yang beragam. Kolaborasi menjadi salah satu resep untuk menopang akselerasi pembelajaran. Maka menjadi keniscayaan bila lembaga pendidikan (sekolah dan madrasah) menggandeng pelaku wirausaha, professional, relawan lingkungan, relawan sosial, dan lembaga pemerintah lintas sektor. Termasuk juga bisa menggandeng Baznas dan LAZ di tiap daerah.

Kolaborasi Adalah Pengungkit

Kurikulum Merdeka membuka peluang lembaga pendidikan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak dan pihak yang digandeng tentu dapat dipastikan bakal memetik manfaat dari kerja sama itu. Kolaborasi akan menguatkan karakter murid atau peserta didik sebab mereka akan berinteraksi langsung dengan praktisi dan professional dari berbagai bidang. Mereka akan terpapar dengan pengalaman-pengalaman otentik para praktisi dan kerja-kerja professional para ahli. Tersedianya teknologi komunikasi dalam jaringan (online) semacam Zoom dan Google Meet membuka peluang praktik kolaborasi yang efektif sekaligus efisien.

Terbukanya wawasan peserta didik dan pendidik melalui kolaborasi ini akan mendorong peserta didik untuk mengasah kompetensi dan hal ini kompetensi ini merupakan jawaban dari tantangan dunia abad ke-21. Abad ketika warga global di berbagai lini menuntut adanya kompetensi, menggeser kompetisi menjadi kolaborasi, memacu kreativitas, dan mengharuskan komunikasi intensif yang  lintas batas kultural dan negara.

Kolaborasi Baznas bersama LAZ dengan lembaga pendidikan dapat diterapkan secara sederhana dengan tetap mempertimbangkan tercapainya tujuan dari masing-masing pihak. Manfaat dari kolaborasi antara Baznas dan LAZ jangan dibayangkan akan terhimpunnya dana filantropi yang melimpah dari kalangan pelajar, melainkan terkadernya calon-calon filantropis masa depan melalui sekolah dan madrasah. Bila jiwa altrusistik dan filantropis terpupuk sejak dini, maka Baznas dan LAZ akan memanen dana kelolaan filantropi yang melimpah di masa depan. Kerja-kerja filantropi tak bisa hanya dipandang sebagai kerja satu tahun atau dua tahun. Ini merupakan kerja berkesinambungan lintas generasi.

Penerapan kolaborasi Baznas dan LAZ bersama sekolah dan madrasah bisa dimulai dengan kegiatan-kegiatan sederhana yang dilaksanakan secara ajek atau istiqamah. Misalnya, penghimpunan infak dan sedekah setiap hari di kalangan murid yang direncanakan, dikelola dan didistribusikan oleh para murid secara mandiri. Dari kegiatan sederhana itu, pihak sekolah mendapat manfaat berupa terealisasinya praktik pembelajaran intrakurikuler (dari berbagai muatan pelajaran) dan projek penguatan karakter pelajar Pancasila.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/