alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Media, Tempat Bagus untuk (Ketahuan) Bohong

Mobile_AP_Rectangle 1

Sejarah mencatat, beberapa orang, terlepas itu rakyat jelata, tokoh, artis, pejabat rendahan, hingga pejabat kelas berat, dengan pede-nya pernah menyebarkan sebuah kebohongan di media (alternatif maupun maisntream) dengan level kebohongan paling kecil hingga paling “barbar“. Biasanya kebohongan dikenali sebagai sebuah kebenaran pada awalnya oleh penerima informasi (pembaca, pendengar, dan penonton) hingga pada akhirnya semua kepalsuan terbongkar.

Baca Juga : WhatsApp Ketua MUI Bondowoso Diretas, Digunakan untuk Menipu

Tentu saja contoh dari kebohongan yang disebarkan di media tidak akan bisa kita sebutkan satu per satu. Akan membutuhkan ratusan bahkan ribuan jilid buku jika kita ingin mendokumentasikan berbagai kebohongan yang pernah menghebohkan publik. Belum lagi yang disebutkan di naskah-naskah kuno.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jangankan rakyat biasa, presiden sekalipun tidak luput menjadi korban kebohongan (yang disebarkan melalui media). Pada tahun 1950-an, Presiden RI pertama, Ir Sukarno, pernah mengundang ke istana negara, dua orang pasangan yang disebut media pada saat itu sebagai raja dan ratu suku pedalaman Jambi, yang belakangan terbongkar, identitas kedua orang tersebut ternyata tukang becak dan–maaf–pelacur. Salah satu penyebabnya mereka ada yang keceplosan berbahasa Jawa Tegal, bukannya berbahasa Jambi pedalaman. Beruntung, belum ada media sosial seperti Twitter pada waktu itu. Setidaknya masalah tidak tambah runyam dan berkepanjangan, meskipun terdokumentasi dengan baik.

Efek sementara bagi yang “berhasil lolos” berbohong di media, pada awalnya akan memberikan efek famous (tergantung seberapa heboh). Namanya akan melambung dikenal banyak orang. Bahkan bualannya terkadang menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang banyak. Tetapi dapat ditebak, karena struktur “bangunan” kebohongan yang didirikan selalu di atas fondasi rapuh kepalsuan, sesuatu yang tidak ada faktanya, maka tinggal menunggu waktu “bangunan” itu akan ambruk dan menjadi bancana bagi pelakunya dan bahkan berimbas kepada orang lain.

Pada tahun 2003, George W. Bush, Presiden Amerika ke-43, di depan media seluruh dunia menuduh Irak memiliki senjata pemusnah masal yang dapat membahayakan dunia. Semua orang pada waktu itu yang mengikuti berita manggut-manggut berjamaah sambil berharap USA segera menghajar Saddam Hussein dan mengembalikan “keamanan” dunia. Singkat cerita, setelah Irak hancur lebur oleh serangan militer Amerika, tidak berselang lama borok dari operasi militer itu terungkap di media. Intelijen “salah” memberi informasi. Ternyata Irak tidak memiliki senjata pemusnah masal, dan peristiwa itu dinobatkan sebagai salah satu skandal terbesar yang dilakukan oleh negara Paman Sam. Namun, Irak kadung hancur gara-gara berita bohong dan Amerika yang awalnya didukung malah berbalik dikutuk berjamaah.

Bencana bagi individu yang berbohong di media massa paling ringan berupa “kemaluan” (baca: mendapat malu) yang dapat menghancurkan nama baik, karir, dan harga diri di mata masyarakat dan dikucilkan, hingga efek paling berat dapat berakibat berurusan dengan hukum. Untuk tokoh dan pejabat publik efeknya bisa berkali lipat. Bahkan dalam level tertentu kebohongan dapat mengakibatkan kerusakan kehidupan sosial masyarakat.

Masih segar di ingatan publik skandal Hibah Bodong Akidi Tio pada tahun 2021. Konon pengusaha dari Palembang itu akan memberikan sumbangan kepada negara sebesar Rp 2 triliun. Nominal yang hampir mendekati besaran APBD salah satu kabupaten di Indonesia. Tak pelak lagi semua tertegun dan terpesona. Ya, semua. Dari tukang gorengan, jurnalis, menteri, bahkan mungkin Bapak Presiden. Tapi, sayangnya cerita ini berakhir dengan anak Akidi Tio digelandang polisi karena penipuan dan Kapolda Sumsel dicopot, satu negara malu.

- Advertisement -

Sejarah mencatat, beberapa orang, terlepas itu rakyat jelata, tokoh, artis, pejabat rendahan, hingga pejabat kelas berat, dengan pede-nya pernah menyebarkan sebuah kebohongan di media (alternatif maupun maisntream) dengan level kebohongan paling kecil hingga paling “barbar“. Biasanya kebohongan dikenali sebagai sebuah kebenaran pada awalnya oleh penerima informasi (pembaca, pendengar, dan penonton) hingga pada akhirnya semua kepalsuan terbongkar.

Baca Juga : WhatsApp Ketua MUI Bondowoso Diretas, Digunakan untuk Menipu

Tentu saja contoh dari kebohongan yang disebarkan di media tidak akan bisa kita sebutkan satu per satu. Akan membutuhkan ratusan bahkan ribuan jilid buku jika kita ingin mendokumentasikan berbagai kebohongan yang pernah menghebohkan publik. Belum lagi yang disebutkan di naskah-naskah kuno.

Jangankan rakyat biasa, presiden sekalipun tidak luput menjadi korban kebohongan (yang disebarkan melalui media). Pada tahun 1950-an, Presiden RI pertama, Ir Sukarno, pernah mengundang ke istana negara, dua orang pasangan yang disebut media pada saat itu sebagai raja dan ratu suku pedalaman Jambi, yang belakangan terbongkar, identitas kedua orang tersebut ternyata tukang becak dan–maaf–pelacur. Salah satu penyebabnya mereka ada yang keceplosan berbahasa Jawa Tegal, bukannya berbahasa Jambi pedalaman. Beruntung, belum ada media sosial seperti Twitter pada waktu itu. Setidaknya masalah tidak tambah runyam dan berkepanjangan, meskipun terdokumentasi dengan baik.

Efek sementara bagi yang “berhasil lolos” berbohong di media, pada awalnya akan memberikan efek famous (tergantung seberapa heboh). Namanya akan melambung dikenal banyak orang. Bahkan bualannya terkadang menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang banyak. Tetapi dapat ditebak, karena struktur “bangunan” kebohongan yang didirikan selalu di atas fondasi rapuh kepalsuan, sesuatu yang tidak ada faktanya, maka tinggal menunggu waktu “bangunan” itu akan ambruk dan menjadi bancana bagi pelakunya dan bahkan berimbas kepada orang lain.

Pada tahun 2003, George W. Bush, Presiden Amerika ke-43, di depan media seluruh dunia menuduh Irak memiliki senjata pemusnah masal yang dapat membahayakan dunia. Semua orang pada waktu itu yang mengikuti berita manggut-manggut berjamaah sambil berharap USA segera menghajar Saddam Hussein dan mengembalikan “keamanan” dunia. Singkat cerita, setelah Irak hancur lebur oleh serangan militer Amerika, tidak berselang lama borok dari operasi militer itu terungkap di media. Intelijen “salah” memberi informasi. Ternyata Irak tidak memiliki senjata pemusnah masal, dan peristiwa itu dinobatkan sebagai salah satu skandal terbesar yang dilakukan oleh negara Paman Sam. Namun, Irak kadung hancur gara-gara berita bohong dan Amerika yang awalnya didukung malah berbalik dikutuk berjamaah.

Bencana bagi individu yang berbohong di media massa paling ringan berupa “kemaluan” (baca: mendapat malu) yang dapat menghancurkan nama baik, karir, dan harga diri di mata masyarakat dan dikucilkan, hingga efek paling berat dapat berakibat berurusan dengan hukum. Untuk tokoh dan pejabat publik efeknya bisa berkali lipat. Bahkan dalam level tertentu kebohongan dapat mengakibatkan kerusakan kehidupan sosial masyarakat.

Masih segar di ingatan publik skandal Hibah Bodong Akidi Tio pada tahun 2021. Konon pengusaha dari Palembang itu akan memberikan sumbangan kepada negara sebesar Rp 2 triliun. Nominal yang hampir mendekati besaran APBD salah satu kabupaten di Indonesia. Tak pelak lagi semua tertegun dan terpesona. Ya, semua. Dari tukang gorengan, jurnalis, menteri, bahkan mungkin Bapak Presiden. Tapi, sayangnya cerita ini berakhir dengan anak Akidi Tio digelandang polisi karena penipuan dan Kapolda Sumsel dicopot, satu negara malu.

Sejarah mencatat, beberapa orang, terlepas itu rakyat jelata, tokoh, artis, pejabat rendahan, hingga pejabat kelas berat, dengan pede-nya pernah menyebarkan sebuah kebohongan di media (alternatif maupun maisntream) dengan level kebohongan paling kecil hingga paling “barbar“. Biasanya kebohongan dikenali sebagai sebuah kebenaran pada awalnya oleh penerima informasi (pembaca, pendengar, dan penonton) hingga pada akhirnya semua kepalsuan terbongkar.

Baca Juga : WhatsApp Ketua MUI Bondowoso Diretas, Digunakan untuk Menipu

Tentu saja contoh dari kebohongan yang disebarkan di media tidak akan bisa kita sebutkan satu per satu. Akan membutuhkan ratusan bahkan ribuan jilid buku jika kita ingin mendokumentasikan berbagai kebohongan yang pernah menghebohkan publik. Belum lagi yang disebutkan di naskah-naskah kuno.

Jangankan rakyat biasa, presiden sekalipun tidak luput menjadi korban kebohongan (yang disebarkan melalui media). Pada tahun 1950-an, Presiden RI pertama, Ir Sukarno, pernah mengundang ke istana negara, dua orang pasangan yang disebut media pada saat itu sebagai raja dan ratu suku pedalaman Jambi, yang belakangan terbongkar, identitas kedua orang tersebut ternyata tukang becak dan–maaf–pelacur. Salah satu penyebabnya mereka ada yang keceplosan berbahasa Jawa Tegal, bukannya berbahasa Jambi pedalaman. Beruntung, belum ada media sosial seperti Twitter pada waktu itu. Setidaknya masalah tidak tambah runyam dan berkepanjangan, meskipun terdokumentasi dengan baik.

Efek sementara bagi yang “berhasil lolos” berbohong di media, pada awalnya akan memberikan efek famous (tergantung seberapa heboh). Namanya akan melambung dikenal banyak orang. Bahkan bualannya terkadang menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang banyak. Tetapi dapat ditebak, karena struktur “bangunan” kebohongan yang didirikan selalu di atas fondasi rapuh kepalsuan, sesuatu yang tidak ada faktanya, maka tinggal menunggu waktu “bangunan” itu akan ambruk dan menjadi bancana bagi pelakunya dan bahkan berimbas kepada orang lain.

Pada tahun 2003, George W. Bush, Presiden Amerika ke-43, di depan media seluruh dunia menuduh Irak memiliki senjata pemusnah masal yang dapat membahayakan dunia. Semua orang pada waktu itu yang mengikuti berita manggut-manggut berjamaah sambil berharap USA segera menghajar Saddam Hussein dan mengembalikan “keamanan” dunia. Singkat cerita, setelah Irak hancur lebur oleh serangan militer Amerika, tidak berselang lama borok dari operasi militer itu terungkap di media. Intelijen “salah” memberi informasi. Ternyata Irak tidak memiliki senjata pemusnah masal, dan peristiwa itu dinobatkan sebagai salah satu skandal terbesar yang dilakukan oleh negara Paman Sam. Namun, Irak kadung hancur gara-gara berita bohong dan Amerika yang awalnya didukung malah berbalik dikutuk berjamaah.

Bencana bagi individu yang berbohong di media massa paling ringan berupa “kemaluan” (baca: mendapat malu) yang dapat menghancurkan nama baik, karir, dan harga diri di mata masyarakat dan dikucilkan, hingga efek paling berat dapat berakibat berurusan dengan hukum. Untuk tokoh dan pejabat publik efeknya bisa berkali lipat. Bahkan dalam level tertentu kebohongan dapat mengakibatkan kerusakan kehidupan sosial masyarakat.

Masih segar di ingatan publik skandal Hibah Bodong Akidi Tio pada tahun 2021. Konon pengusaha dari Palembang itu akan memberikan sumbangan kepada negara sebesar Rp 2 triliun. Nominal yang hampir mendekati besaran APBD salah satu kabupaten di Indonesia. Tak pelak lagi semua tertegun dan terpesona. Ya, semua. Dari tukang gorengan, jurnalis, menteri, bahkan mungkin Bapak Presiden. Tapi, sayangnya cerita ini berakhir dengan anak Akidi Tio digelandang polisi karena penipuan dan Kapolda Sumsel dicopot, satu negara malu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/