SHOLIKHUL HUDA

Oleh: Sholikhul Huda

IKLAN

GERAKAN Kembali ke Musalla digagas Pemkab Bondowoso pada 2016. Bupati Bondowoso Amin Said Husni bersama Dewan Pendidikan Bondowoso, berikhtiar membuat program yang bisa mengurangi kenakalan remaja. Wal hasil, setahun berikutnya tercetus Peraturan Bupati No 9 Tahun 2017 tentang Gerakan Kembali ke Mushalla bagi Peserta Didik yang Beragama Islam di Bondowoso.

Perda inilah yang menjadi jembatan penghubung pengawasan anak usia sekolah antara orang tua, masyarakat dan sekolah. Dikatakan sebagai penghubung, karena terdapat pasal yang mengikat. Seperti disebut pada Bam III Kewajiban, Pasa 5 ayat 1 Poin c yang menjelaskan, satuan pendidikan umum di daerah harus membuat Memorandum of Understanding (MoU) antara sekolah dengan guru ngaji, sekolah dan institusi/lembaga Baca Tulis Alquran.

Berikutnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso, membuat buku penghubung tersebut. Sekolah selaku penyelenggara pendidikan, harus berikhtiar mengetahui siswa lebih dalam. Mulai alamat sampai tempat ngaji siswa. Jika siswa belum ngaji, maka sekolah harus berikhtiar lebih dalam untuk mencari tempat ngaji terdekat. Berikutnya, sekolah mengundang guru ngaji untuk dilakukan MoU.

Kegiatan ini sudah berjalan sejak Gerakan Kembali ke Mushalla menjadi Peraturan Bupati. Artinya sampai tahun ini, sudah satu tahun setengah. Lembaga pendidikan, utamanya lembaga pendidikan dasar, yakni SD dan SMP, harus menerapkan Perbup No 9 tahun 2017 tersebut.

Dalam sebuah wawancara, Ketua Dewan Pendidikan Bondowoso Ahmad Syaeful Bahar yang juga menjadi tim gerakan kembali ke mushalla mengatakan, ada dua alasan terwujudnya gerakan kembali ke musalla ini. pertama adalah hasil rekomendasi Dewan Riset Daerah (DRD). Dimana sebelumnya ada Perbup tentang Baca Tulis Alquran (BTQ). Dalam penerapannya langkah ini dirasa kurang maksimal. Salah satu alasannya adalah jam pembelajaran BTQ di sekolah hanya ada 2 jam dalam seminggu. “Karena itu maka menjadi sangat penting untuk mensinergikan program BTQ pada guru ngaji di masayrakat,” jelasnya.

Alasan kedua adalah adanyafenomena kesadaran ngaji remaja tingkat SD dan SMP sangat rendah. Hasil riset, kecenderungan anak setelah SD tidak mau lagi ngaji. Sehingga anak yang duduk di bangku SMP, yang memiliki minat mengaji sangat sedikit. “Karena itu, gerakan kembali ke Mushalla itu diperuntukkan bagi anak anak SD dan SMP,” jelas dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Dijelaskan, selain hasil riset dari DRD Bondowoso, pada 2013 lalu, Dewan Pendidikan Bondowoso sempat melakukan kajian tentang deviasi moral pemuda Bondowoso. Walau tidak seburuk kota yang lebih maju, namun kenyatannya deviasi atau penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat sudah ada. “Salah satu sebabnya adalah pengaruh guru ngaji tidak lagi sekuat dulu,” tuturnya.
Dijelaskan, dalam pembentukan karakter seorang anak, ada tiga hal yang menjadi titik tekan. Yakni pendidikan di sekolah, pendidikan di rumah dan pendidikan di masyarakat. Guru dalam hal ini merupakan penanggung jawab pendidikan di sekolah, orang tua penanggung jawab pendidikan di rumah dan musalla menjadi pendidikan di masyarakat. “Melalui pendidikan ke musalla, anak-anak akan memiliki landasan yang kuat dan kokoh, serta meminimalisir keluyuran,” jelasnya.

Tentunya dengan adanya sistem yang dibangun ini, orang tua otomatis juga beperan aktif. Sebab orang tua adalah panutan anak. Dengan adanya MoU antara Sekolah dengan Guru Ngaji, orang tua otomatis akan mengawasi. Apalagi, ada dampak pada penentuan nilai yang di sekolah. (*)