alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Menyelisik Asumsi tentang Maraknya Kematian

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini ramai posting-an belasungkawa. Entah karena virus yang sedang merebak atau memang cuaca yang lagi tak beres. Semuanya serba tak pasti. Yang jelas, banyak pihak yang terpukul karena keluarga, guru, bahkan tokoh panutannya wafat. Sebagai warga Indonesia yang ber Tuhan, pasti semua setuju jika mati sudah takdir. Namun, semua juga mengerti bahwa banyaknya orang mati mengindikasikan ada masalah yang sedang terjadi. Tidak mengherankan, jika banyak pihak yang saling berasumsi untuk menyikapi sebab-musabab dalam situasi ini.

Seluruh asumsi, tentu memiliki nalar rasionalnya sendiri. Jika ditelaah lebih mendalam, multi asumsi yang dibangun masyarakat bisa bersumber dari rasional politik, ekonomi, kesehatan, sosial, bahkan agama. Seluruh dasar rasional yang dipakai kadang tidak berdiri sendiri. Ada yang menggabungkan politik, ekonomi, juga agama. Ada juga yang hanya sosial keagamaan saja. Pokoknya, seluruh sintesis yang ditawarkan tidak komprehensif. Tampak hanya sebagai argumentasi parsial yang saling tumpang tindih dengan isu-isu lain. Untuk itu, penulis mencoba mencatat beberapa asumsi yang sedang berkembang belakangan ini menanggapi banyaknya orang mati.

Korban Covid-19

Mobile_AP_Rectangle 2

Banyaknya orang meninggal saat ini, berbarengan dengan informasi meningkatnya penyebaran Covid-19. Sepintas memang masuk akal, namun jika dihubungkan dengan beberapa data dan informasi lain, tentu juga tidak dapat dibenarkan secara ansich. Beberapa kematian tokoh-tokoh keagamaan di pesantren, tidak masuk dalam kluster penyebaran Covid-19. Di Madura, misalnya, sejumlah tokoh agama meninggal dalam waktu yang sangat berdekatan. KH Muhammad Syamsul Arifin (Pengasuh PP Darul Ulum), KH M. Thohir Zen (Pengasuh PP Bata-bata), KH Badruddin Mudtassir (Pengasuh PP Miftahul Ulum), dan beberapa ulama lain tidak diinformasikan sedang positif terkena virus korona. Jadi, bisa dibilang, sejumlah ulama yang wafat tidak ada kaitannya dengan wabah yang sedang mendera.

Informasi lain yang tidak dapat dibantah adalah beberapa ulama Madura yang meninggal tidak dimakamkan sesuai protokol kesehatan. Jika memang mereka meninggal karena virus, tentu pesantren akan serta merta ditetapkan sebagai daerah rawan. Yang demikian, sebagaimana yang telah dilakukan pada pesantren Blok Agung, Banyuwangi. Pesantren tersebut ditutup dan mendapat pengawasan langsung dari gugus tugas. Hal demikian tidak terjadi di beberapa pesantren di Madura. Jadi dapat dipastikan beberapa kiai yang meninggal tidak ada hubungannya dengan Covid-19. Dengan kata lain, asumsi banyaknya kematian dewasa ini tak bisa dikaitkan dengan virus.

Rekayasa Media dan Data

Asumsi ini sebenarnya kebanyakan bersumber dari beberapa tokoh yang paling anti terhadap wacana dan isu yang tersebar di media. Inti asumsinya ada dua. Yakni curiganya pada sejumlah informasi yang kebanyakan hoax dan beberapa data yang tidak jelas. Sederhananya, mereka memiliki kesadaran bahwa sebelum ada virus, kematian telah banyak. Jadi, tidak usah menyibukkan diri dan merasa begitu mencekam.

Orang yang memiliki asumsi ini lebih terlihat seperti tidak ingin bersikap berlebihan menyikapi berita kematian. Sub-dalil yang dikembangkan biasanya masalah validitas pemberitaan. Mereka cenderung berbicara kelemahan informasi publik yang beredar. Mulai dari video yang lagi viral hingga data yang dipublikasi langsung oleh pemerintah, semua tidak dipercayainya. Baginya, seluruh media dan data memiliki kepentingan pragmatis.

Jika dipolakan, ada dua kalangan yang selalu memproklamirkan asumsi ini. Yakni kalangan represif dan kalangan agamawan yang pasrah pada keadaan. Kalangan represif ini biasanya dari kelompok netizen yang cenderung menghakimi berita dan data yang berkembang. Tentu kesadarannya sama, percaya bahwa data dan informasi yang disajikan bersifat propaganda. Pihak yang ada di balik propaganda, dianggap memiliki niat jahat, sehingga kalangan ini cenderung melakukan tindakan atau mengeluarkan wacana represif, konspirasi pada pihak yang berwenang. Contoh dari kalangan ini, banyak dari kalangan ormas Islam dan beberapa tokoh artis, serta influencer ternama di Indonesia.

Sedangkan yang kedua, lebih bersifat kalem. Mereka yang percaya bahwa kematian itu takdir dan pasti terjadi. Jadi tidak bersikap berlebihan. Virus korona memang ada, namun kematian tetap di tangan Tuhan. Pihak ini sebenarnya juga percaya pada adanya konspirasi sejumlah kepentingan, namun lebih memilih menyikapinya dengan sederhana.

Lemahnya asumsi ini adalah pada sisi penjabarannya tentang fakta yang terjadi. Kematian memang tidak dapat dipungkiri, namun fakta adanya lahan kuburan masal untuk korban virus, banyak kematian keluarga tokoh agama, kesaksian keluarga korban, dan lain sebagainya, tak dapat dipungkiri telah terjadi. Tanpa data dan media pun, itu benar-benar terjadi. Seluruh pihak pasti sepakat di beberapa daerah fenomena kematian mendadak terus terjadi. Bahkan di beberapa wilayah ada yang tidak sempat diberitakan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini ramai posting-an belasungkawa. Entah karena virus yang sedang merebak atau memang cuaca yang lagi tak beres. Semuanya serba tak pasti. Yang jelas, banyak pihak yang terpukul karena keluarga, guru, bahkan tokoh panutannya wafat. Sebagai warga Indonesia yang ber Tuhan, pasti semua setuju jika mati sudah takdir. Namun, semua juga mengerti bahwa banyaknya orang mati mengindikasikan ada masalah yang sedang terjadi. Tidak mengherankan, jika banyak pihak yang saling berasumsi untuk menyikapi sebab-musabab dalam situasi ini.

Seluruh asumsi, tentu memiliki nalar rasionalnya sendiri. Jika ditelaah lebih mendalam, multi asumsi yang dibangun masyarakat bisa bersumber dari rasional politik, ekonomi, kesehatan, sosial, bahkan agama. Seluruh dasar rasional yang dipakai kadang tidak berdiri sendiri. Ada yang menggabungkan politik, ekonomi, juga agama. Ada juga yang hanya sosial keagamaan saja. Pokoknya, seluruh sintesis yang ditawarkan tidak komprehensif. Tampak hanya sebagai argumentasi parsial yang saling tumpang tindih dengan isu-isu lain. Untuk itu, penulis mencoba mencatat beberapa asumsi yang sedang berkembang belakangan ini menanggapi banyaknya orang mati.

Korban Covid-19

Banyaknya orang meninggal saat ini, berbarengan dengan informasi meningkatnya penyebaran Covid-19. Sepintas memang masuk akal, namun jika dihubungkan dengan beberapa data dan informasi lain, tentu juga tidak dapat dibenarkan secara ansich. Beberapa kematian tokoh-tokoh keagamaan di pesantren, tidak masuk dalam kluster penyebaran Covid-19. Di Madura, misalnya, sejumlah tokoh agama meninggal dalam waktu yang sangat berdekatan. KH Muhammad Syamsul Arifin (Pengasuh PP Darul Ulum), KH M. Thohir Zen (Pengasuh PP Bata-bata), KH Badruddin Mudtassir (Pengasuh PP Miftahul Ulum), dan beberapa ulama lain tidak diinformasikan sedang positif terkena virus korona. Jadi, bisa dibilang, sejumlah ulama yang wafat tidak ada kaitannya dengan wabah yang sedang mendera.

Informasi lain yang tidak dapat dibantah adalah beberapa ulama Madura yang meninggal tidak dimakamkan sesuai protokol kesehatan. Jika memang mereka meninggal karena virus, tentu pesantren akan serta merta ditetapkan sebagai daerah rawan. Yang demikian, sebagaimana yang telah dilakukan pada pesantren Blok Agung, Banyuwangi. Pesantren tersebut ditutup dan mendapat pengawasan langsung dari gugus tugas. Hal demikian tidak terjadi di beberapa pesantren di Madura. Jadi dapat dipastikan beberapa kiai yang meninggal tidak ada hubungannya dengan Covid-19. Dengan kata lain, asumsi banyaknya kematian dewasa ini tak bisa dikaitkan dengan virus.

Rekayasa Media dan Data

Asumsi ini sebenarnya kebanyakan bersumber dari beberapa tokoh yang paling anti terhadap wacana dan isu yang tersebar di media. Inti asumsinya ada dua. Yakni curiganya pada sejumlah informasi yang kebanyakan hoax dan beberapa data yang tidak jelas. Sederhananya, mereka memiliki kesadaran bahwa sebelum ada virus, kematian telah banyak. Jadi, tidak usah menyibukkan diri dan merasa begitu mencekam.

Orang yang memiliki asumsi ini lebih terlihat seperti tidak ingin bersikap berlebihan menyikapi berita kematian. Sub-dalil yang dikembangkan biasanya masalah validitas pemberitaan. Mereka cenderung berbicara kelemahan informasi publik yang beredar. Mulai dari video yang lagi viral hingga data yang dipublikasi langsung oleh pemerintah, semua tidak dipercayainya. Baginya, seluruh media dan data memiliki kepentingan pragmatis.

Jika dipolakan, ada dua kalangan yang selalu memproklamirkan asumsi ini. Yakni kalangan represif dan kalangan agamawan yang pasrah pada keadaan. Kalangan represif ini biasanya dari kelompok netizen yang cenderung menghakimi berita dan data yang berkembang. Tentu kesadarannya sama, percaya bahwa data dan informasi yang disajikan bersifat propaganda. Pihak yang ada di balik propaganda, dianggap memiliki niat jahat, sehingga kalangan ini cenderung melakukan tindakan atau mengeluarkan wacana represif, konspirasi pada pihak yang berwenang. Contoh dari kalangan ini, banyak dari kalangan ormas Islam dan beberapa tokoh artis, serta influencer ternama di Indonesia.

Sedangkan yang kedua, lebih bersifat kalem. Mereka yang percaya bahwa kematian itu takdir dan pasti terjadi. Jadi tidak bersikap berlebihan. Virus korona memang ada, namun kematian tetap di tangan Tuhan. Pihak ini sebenarnya juga percaya pada adanya konspirasi sejumlah kepentingan, namun lebih memilih menyikapinya dengan sederhana.

Lemahnya asumsi ini adalah pada sisi penjabarannya tentang fakta yang terjadi. Kematian memang tidak dapat dipungkiri, namun fakta adanya lahan kuburan masal untuk korban virus, banyak kematian keluarga tokoh agama, kesaksian keluarga korban, dan lain sebagainya, tak dapat dipungkiri telah terjadi. Tanpa data dan media pun, itu benar-benar terjadi. Seluruh pihak pasti sepakat di beberapa daerah fenomena kematian mendadak terus terjadi. Bahkan di beberapa wilayah ada yang tidak sempat diberitakan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini ramai posting-an belasungkawa. Entah karena virus yang sedang merebak atau memang cuaca yang lagi tak beres. Semuanya serba tak pasti. Yang jelas, banyak pihak yang terpukul karena keluarga, guru, bahkan tokoh panutannya wafat. Sebagai warga Indonesia yang ber Tuhan, pasti semua setuju jika mati sudah takdir. Namun, semua juga mengerti bahwa banyaknya orang mati mengindikasikan ada masalah yang sedang terjadi. Tidak mengherankan, jika banyak pihak yang saling berasumsi untuk menyikapi sebab-musabab dalam situasi ini.

Seluruh asumsi, tentu memiliki nalar rasionalnya sendiri. Jika ditelaah lebih mendalam, multi asumsi yang dibangun masyarakat bisa bersumber dari rasional politik, ekonomi, kesehatan, sosial, bahkan agama. Seluruh dasar rasional yang dipakai kadang tidak berdiri sendiri. Ada yang menggabungkan politik, ekonomi, juga agama. Ada juga yang hanya sosial keagamaan saja. Pokoknya, seluruh sintesis yang ditawarkan tidak komprehensif. Tampak hanya sebagai argumentasi parsial yang saling tumpang tindih dengan isu-isu lain. Untuk itu, penulis mencoba mencatat beberapa asumsi yang sedang berkembang belakangan ini menanggapi banyaknya orang mati.

Korban Covid-19

Banyaknya orang meninggal saat ini, berbarengan dengan informasi meningkatnya penyebaran Covid-19. Sepintas memang masuk akal, namun jika dihubungkan dengan beberapa data dan informasi lain, tentu juga tidak dapat dibenarkan secara ansich. Beberapa kematian tokoh-tokoh keagamaan di pesantren, tidak masuk dalam kluster penyebaran Covid-19. Di Madura, misalnya, sejumlah tokoh agama meninggal dalam waktu yang sangat berdekatan. KH Muhammad Syamsul Arifin (Pengasuh PP Darul Ulum), KH M. Thohir Zen (Pengasuh PP Bata-bata), KH Badruddin Mudtassir (Pengasuh PP Miftahul Ulum), dan beberapa ulama lain tidak diinformasikan sedang positif terkena virus korona. Jadi, bisa dibilang, sejumlah ulama yang wafat tidak ada kaitannya dengan wabah yang sedang mendera.

Informasi lain yang tidak dapat dibantah adalah beberapa ulama Madura yang meninggal tidak dimakamkan sesuai protokol kesehatan. Jika memang mereka meninggal karena virus, tentu pesantren akan serta merta ditetapkan sebagai daerah rawan. Yang demikian, sebagaimana yang telah dilakukan pada pesantren Blok Agung, Banyuwangi. Pesantren tersebut ditutup dan mendapat pengawasan langsung dari gugus tugas. Hal demikian tidak terjadi di beberapa pesantren di Madura. Jadi dapat dipastikan beberapa kiai yang meninggal tidak ada hubungannya dengan Covid-19. Dengan kata lain, asumsi banyaknya kematian dewasa ini tak bisa dikaitkan dengan virus.

Rekayasa Media dan Data

Asumsi ini sebenarnya kebanyakan bersumber dari beberapa tokoh yang paling anti terhadap wacana dan isu yang tersebar di media. Inti asumsinya ada dua. Yakni curiganya pada sejumlah informasi yang kebanyakan hoax dan beberapa data yang tidak jelas. Sederhananya, mereka memiliki kesadaran bahwa sebelum ada virus, kematian telah banyak. Jadi, tidak usah menyibukkan diri dan merasa begitu mencekam.

Orang yang memiliki asumsi ini lebih terlihat seperti tidak ingin bersikap berlebihan menyikapi berita kematian. Sub-dalil yang dikembangkan biasanya masalah validitas pemberitaan. Mereka cenderung berbicara kelemahan informasi publik yang beredar. Mulai dari video yang lagi viral hingga data yang dipublikasi langsung oleh pemerintah, semua tidak dipercayainya. Baginya, seluruh media dan data memiliki kepentingan pragmatis.

Jika dipolakan, ada dua kalangan yang selalu memproklamirkan asumsi ini. Yakni kalangan represif dan kalangan agamawan yang pasrah pada keadaan. Kalangan represif ini biasanya dari kelompok netizen yang cenderung menghakimi berita dan data yang berkembang. Tentu kesadarannya sama, percaya bahwa data dan informasi yang disajikan bersifat propaganda. Pihak yang ada di balik propaganda, dianggap memiliki niat jahat, sehingga kalangan ini cenderung melakukan tindakan atau mengeluarkan wacana represif, konspirasi pada pihak yang berwenang. Contoh dari kalangan ini, banyak dari kalangan ormas Islam dan beberapa tokoh artis, serta influencer ternama di Indonesia.

Sedangkan yang kedua, lebih bersifat kalem. Mereka yang percaya bahwa kematian itu takdir dan pasti terjadi. Jadi tidak bersikap berlebihan. Virus korona memang ada, namun kematian tetap di tangan Tuhan. Pihak ini sebenarnya juga percaya pada adanya konspirasi sejumlah kepentingan, namun lebih memilih menyikapinya dengan sederhana.

Lemahnya asumsi ini adalah pada sisi penjabarannya tentang fakta yang terjadi. Kematian memang tidak dapat dipungkiri, namun fakta adanya lahan kuburan masal untuk korban virus, banyak kematian keluarga tokoh agama, kesaksian keluarga korban, dan lain sebagainya, tak dapat dipungkiri telah terjadi. Tanpa data dan media pun, itu benar-benar terjadi. Seluruh pihak pasti sepakat di beberapa daerah fenomena kematian mendadak terus terjadi. Bahkan di beberapa wilayah ada yang tidak sempat diberitakan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/