alexametrics
30.2 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Pentingnya Pendidikan Waris dan Seks

Mobile_AP_Rectangle 1

Waris merupakan persoalan yang sangat penting. Menyangkut peralihan hak dan kewajiban dalam lapangan harta kekayaan. Namun, jarang menjadi persoalan penting diajarkan sejak dini. Justru santer terdengar pendidikan seks. Pendidikan seks usia dini sudah lama sosialisasikan dan diterapkan. Bahkan di banyak sekolah, pendidikan seks menjadi bagian dari kurikulumnya.

Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), menyebutkan tiga dosa besar dalam pendidikan. “Yakni intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual,” (Jawa Pos.com, 9 Mei 2022).

Soal kekerasan seksual, banyak ahli bersepakat dapat dicegah dengan pengenalan pendidikan seks sejak dini. Pendidikan seks menurut Syamsudin (1985) adalah sebagai usaha untuk membimbing seseorang agar dapat mengerti benar-benar tentang arti dan fungsi kehidupan seksnya, sehingga dapat mempergunakannya dengan baik selama hidupnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Zaman dulu bicara seks tabu. Kini tidak. Bahkan pengetahuan seks mulai diajarkan sejak dini. Seks dan aktivitasnya berhubungan dengan kenikmatan dan kelahiran. Kenikmatan seks sulit dijabarkan. Mengundang rasa ingin tahu dan “coba-coba”. Apalagi bagi remaja yang memasuki usia pubertas.

Namun, salah kaprah apabila pendidikan seks dipahami mendorong anak untuk melakukan hubungan seksual. Pendidikan seks bertujuan menghasilkan manusia-manusia dewasa yang dapat menjalankan kehidupan yang bahagia karena dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungannya, serta bertanggung jawab.

Jika tidak dibicarakan sejak dini, seperti lirik lagu, “Pulang-pulang hamil duluan“. Jika dibicarakan, setidaknya memenuhi rasa ingin tahu, mencegah aktivitas seksual yang tidak benar, tidak kaget pada saat memasuki usia pubertas dan sekaligus menciptakan kesadaran pentingnya menjaga organ reproduksinya.

Berbeda dengan waris. Soal waris, di luar masalah yang dipikirkan anak-anak. Anak-anak lebih asyik dalam dunianya sendiri. Bertambah asyik dengan adanya gawai. Hampir tidak ada anak-anak yang penasaran bicara tentang waris.

Waris berhubungan dengan kematian. Prinsip yang dipahami, pewarisan hanya terjadi bilamana ada kematian. Sebelum ada kematian, tabu membicarakan masalah warisan.

Meskipun ada kenikmatan di balik bertambahnya aset, kadang terasa demi menghormati mendiang risih membicarakan. Namun ada pula yang tidak sabaran ngebet ingin segera mengambil alih dan menguasainya. Kemudian dibagi-bagi secara sepihak tanpa dimusyawarahkan dengan baik bersama seluruh ahli warisnya.

Padahal sebelum membagi harta waris, harus melakukan verifikasi ahli waris dan harta waris terlebih dahulu. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah atau PP 24/1997, setidaknya diawali dari didapatkannya Surat Keterangan Waris (SKW) dan Fatwa Waris.

Jelas cara yang tidak sesuai prosedur hukum dipastikan menimbulkan perselisihan, pertengkaran dan bahkan tidak menutup kemungkinan adanya tindak pidana. Di Indonesia banyak kasus tindak pidana berlatarbelakang persoalan waris.

- Advertisement -

Waris merupakan persoalan yang sangat penting. Menyangkut peralihan hak dan kewajiban dalam lapangan harta kekayaan. Namun, jarang menjadi persoalan penting diajarkan sejak dini. Justru santer terdengar pendidikan seks. Pendidikan seks usia dini sudah lama sosialisasikan dan diterapkan. Bahkan di banyak sekolah, pendidikan seks menjadi bagian dari kurikulumnya.

Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), menyebutkan tiga dosa besar dalam pendidikan. “Yakni intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual,” (Jawa Pos.com, 9 Mei 2022).

Soal kekerasan seksual, banyak ahli bersepakat dapat dicegah dengan pengenalan pendidikan seks sejak dini. Pendidikan seks menurut Syamsudin (1985) adalah sebagai usaha untuk membimbing seseorang agar dapat mengerti benar-benar tentang arti dan fungsi kehidupan seksnya, sehingga dapat mempergunakannya dengan baik selama hidupnya.

Zaman dulu bicara seks tabu. Kini tidak. Bahkan pengetahuan seks mulai diajarkan sejak dini. Seks dan aktivitasnya berhubungan dengan kenikmatan dan kelahiran. Kenikmatan seks sulit dijabarkan. Mengundang rasa ingin tahu dan “coba-coba”. Apalagi bagi remaja yang memasuki usia pubertas.

Namun, salah kaprah apabila pendidikan seks dipahami mendorong anak untuk melakukan hubungan seksual. Pendidikan seks bertujuan menghasilkan manusia-manusia dewasa yang dapat menjalankan kehidupan yang bahagia karena dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungannya, serta bertanggung jawab.

Jika tidak dibicarakan sejak dini, seperti lirik lagu, “Pulang-pulang hamil duluan“. Jika dibicarakan, setidaknya memenuhi rasa ingin tahu, mencegah aktivitas seksual yang tidak benar, tidak kaget pada saat memasuki usia pubertas dan sekaligus menciptakan kesadaran pentingnya menjaga organ reproduksinya.

Berbeda dengan waris. Soal waris, di luar masalah yang dipikirkan anak-anak. Anak-anak lebih asyik dalam dunianya sendiri. Bertambah asyik dengan adanya gawai. Hampir tidak ada anak-anak yang penasaran bicara tentang waris.

Waris berhubungan dengan kematian. Prinsip yang dipahami, pewarisan hanya terjadi bilamana ada kematian. Sebelum ada kematian, tabu membicarakan masalah warisan.

Meskipun ada kenikmatan di balik bertambahnya aset, kadang terasa demi menghormati mendiang risih membicarakan. Namun ada pula yang tidak sabaran ngebet ingin segera mengambil alih dan menguasainya. Kemudian dibagi-bagi secara sepihak tanpa dimusyawarahkan dengan baik bersama seluruh ahli warisnya.

Padahal sebelum membagi harta waris, harus melakukan verifikasi ahli waris dan harta waris terlebih dahulu. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah atau PP 24/1997, setidaknya diawali dari didapatkannya Surat Keterangan Waris (SKW) dan Fatwa Waris.

Jelas cara yang tidak sesuai prosedur hukum dipastikan menimbulkan perselisihan, pertengkaran dan bahkan tidak menutup kemungkinan adanya tindak pidana. Di Indonesia banyak kasus tindak pidana berlatarbelakang persoalan waris.

Waris merupakan persoalan yang sangat penting. Menyangkut peralihan hak dan kewajiban dalam lapangan harta kekayaan. Namun, jarang menjadi persoalan penting diajarkan sejak dini. Justru santer terdengar pendidikan seks. Pendidikan seks usia dini sudah lama sosialisasikan dan diterapkan. Bahkan di banyak sekolah, pendidikan seks menjadi bagian dari kurikulumnya.

Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), menyebutkan tiga dosa besar dalam pendidikan. “Yakni intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual,” (Jawa Pos.com, 9 Mei 2022).

Soal kekerasan seksual, banyak ahli bersepakat dapat dicegah dengan pengenalan pendidikan seks sejak dini. Pendidikan seks menurut Syamsudin (1985) adalah sebagai usaha untuk membimbing seseorang agar dapat mengerti benar-benar tentang arti dan fungsi kehidupan seksnya, sehingga dapat mempergunakannya dengan baik selama hidupnya.

Zaman dulu bicara seks tabu. Kini tidak. Bahkan pengetahuan seks mulai diajarkan sejak dini. Seks dan aktivitasnya berhubungan dengan kenikmatan dan kelahiran. Kenikmatan seks sulit dijabarkan. Mengundang rasa ingin tahu dan “coba-coba”. Apalagi bagi remaja yang memasuki usia pubertas.

Namun, salah kaprah apabila pendidikan seks dipahami mendorong anak untuk melakukan hubungan seksual. Pendidikan seks bertujuan menghasilkan manusia-manusia dewasa yang dapat menjalankan kehidupan yang bahagia karena dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungannya, serta bertanggung jawab.

Jika tidak dibicarakan sejak dini, seperti lirik lagu, “Pulang-pulang hamil duluan“. Jika dibicarakan, setidaknya memenuhi rasa ingin tahu, mencegah aktivitas seksual yang tidak benar, tidak kaget pada saat memasuki usia pubertas dan sekaligus menciptakan kesadaran pentingnya menjaga organ reproduksinya.

Berbeda dengan waris. Soal waris, di luar masalah yang dipikirkan anak-anak. Anak-anak lebih asyik dalam dunianya sendiri. Bertambah asyik dengan adanya gawai. Hampir tidak ada anak-anak yang penasaran bicara tentang waris.

Waris berhubungan dengan kematian. Prinsip yang dipahami, pewarisan hanya terjadi bilamana ada kematian. Sebelum ada kematian, tabu membicarakan masalah warisan.

Meskipun ada kenikmatan di balik bertambahnya aset, kadang terasa demi menghormati mendiang risih membicarakan. Namun ada pula yang tidak sabaran ngebet ingin segera mengambil alih dan menguasainya. Kemudian dibagi-bagi secara sepihak tanpa dimusyawarahkan dengan baik bersama seluruh ahli warisnya.

Padahal sebelum membagi harta waris, harus melakukan verifikasi ahli waris dan harta waris terlebih dahulu. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah atau PP 24/1997, setidaknya diawali dari didapatkannya Surat Keterangan Waris (SKW) dan Fatwa Waris.

Jelas cara yang tidak sesuai prosedur hukum dipastikan menimbulkan perselisihan, pertengkaran dan bahkan tidak menutup kemungkinan adanya tindak pidana. Di Indonesia banyak kasus tindak pidana berlatarbelakang persoalan waris.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/