alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Tragedi Kemanusiaan di Ambang Pintu

Mobile_AP_Rectangle 1

Apa yang saya khawatirkan terjadi. Perang Rusia vs Ukraina meletus sejak 24 Februari 2022, hingga kini terus berlanjut. Perang ini menurut saya tidak datang dengan tiba-tiba, melainkan ada sejarah panjang yang banyak aspek berkelindan di dalamnya. Mereka dulunya adalah dua sahabat ketika Rusia dan Ukraina masih bergabung di Uni Soviet di tahun 1922, namun kemudian bubar pada tahun 1991. Puluhan tahun mereka seiring sejalan, beragam suka dan duka mereka lewati bersama, termasuk pada saat perang dunia kedua, bersama menggempur Nazi Jerman. Suku Rusia menikah dengan suku Ukraina. Percampuran budaya antara suku Rusia dan Ukraina terjadi.

Baca Juga : Dua Bacalon Berebut Kursi Kades Gedangmas

Generasi berikutnya yang lahir adalah campuran darah Rusia dan Ukraina. Orang Rusia ada yang bekerja di Ukraina. Orang Ukraina ada yang bekerja di Rusia. Anak-anak Ukraina ada yang sekolah di Rusia dan demikian sebaliknya. Di desa, di tempat tinggal mereka, orang Ukraina bertetangga dengan orang Rusia. Silaturahmi pasti terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Singkatnya terjadi interaksi yang cukup lama pada konteks ekonomi, social, budaya, pendidikan, dan lain-lainnya. Ikatan batiniah antar mereka pasti sangat kuat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketika Uni Soviet bubar, bermunculan negara-negara baru pecahannya yang merdeka dan berdaulat termasuk Ukraina. Ini tentu sangat mengejutkan bagi Rusia yang selama di Uni Soviet cukup dominan. Negara-negara baru tersebut misalnya Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, dan lainnya, selain Ukraina. Negara-negara tersebut terbilang kecil dibanding Rusia. Rusia relatif lebih unggul dalam hal jumlah penduduk, jumlah tentaranya, peralatan militernya, dan kekuatan ekonominya. Oleh sebab itu, meskipun telah menjadi negara-negara baru yang merdeka, Rusia tetap ingin melanjutkan dominasinya secara politik maupun ekonomi seperti semasa di Uni Soviet dulu. Kemarahan Rusia memuncak ketika Ukraina berhasrat bergabung dengan Nato, menjauh dari Rusia. Menurut saya perang ini dipicu oleh kombinasi aspek politik, psikologis (merasa sebagai negara besar), ekonomi, dan militer (keunggulan tentara dan alat persenjataan) dari Rusia.

Perang Rusia vs Ukraina telah memasuki hari-hari yang semakin mendebarkan. Rudal-rudal Rusia selain menyasar instalasi militer Ukraina juga diberitakan menyasar ke infrastruktur transportasi, rumah sakit, permukiman warga serta sumber-sumber social ekonomi seperti listrik dan pasar. Reaksi dunia khususnya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat maupun PBB mengecam serangan tersebut serta mengancam memberi sanksi ekonomi kepada Rusia, dan Indonesia pun setuju. Sanksi tersebut diharapkan membuat ekonomi Rusia guncang lalu bersedia membuka dialog dengan Ukraina untuk membahas perdamaian. Tampaknya perjalanan ke arah dialog perdamaian sangat sulit terwujud selama sanksi ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat tidak memberikan efek yang berarti bagi perekonomian Rusia. Serangan militer Rusia dengan persenjataan yang sangat canggih akan terus terjadi yang menyebabkan infrastruktur sosial ekonomi Ukraina semakin luluh lantak.

- Advertisement -

Apa yang saya khawatirkan terjadi. Perang Rusia vs Ukraina meletus sejak 24 Februari 2022, hingga kini terus berlanjut. Perang ini menurut saya tidak datang dengan tiba-tiba, melainkan ada sejarah panjang yang banyak aspek berkelindan di dalamnya. Mereka dulunya adalah dua sahabat ketika Rusia dan Ukraina masih bergabung di Uni Soviet di tahun 1922, namun kemudian bubar pada tahun 1991. Puluhan tahun mereka seiring sejalan, beragam suka dan duka mereka lewati bersama, termasuk pada saat perang dunia kedua, bersama menggempur Nazi Jerman. Suku Rusia menikah dengan suku Ukraina. Percampuran budaya antara suku Rusia dan Ukraina terjadi.

Baca Juga : Dua Bacalon Berebut Kursi Kades Gedangmas

Generasi berikutnya yang lahir adalah campuran darah Rusia dan Ukraina. Orang Rusia ada yang bekerja di Ukraina. Orang Ukraina ada yang bekerja di Rusia. Anak-anak Ukraina ada yang sekolah di Rusia dan demikian sebaliknya. Di desa, di tempat tinggal mereka, orang Ukraina bertetangga dengan orang Rusia. Silaturahmi pasti terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Singkatnya terjadi interaksi yang cukup lama pada konteks ekonomi, social, budaya, pendidikan, dan lain-lainnya. Ikatan batiniah antar mereka pasti sangat kuat.

Ketika Uni Soviet bubar, bermunculan negara-negara baru pecahannya yang merdeka dan berdaulat termasuk Ukraina. Ini tentu sangat mengejutkan bagi Rusia yang selama di Uni Soviet cukup dominan. Negara-negara baru tersebut misalnya Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, dan lainnya, selain Ukraina. Negara-negara tersebut terbilang kecil dibanding Rusia. Rusia relatif lebih unggul dalam hal jumlah penduduk, jumlah tentaranya, peralatan militernya, dan kekuatan ekonominya. Oleh sebab itu, meskipun telah menjadi negara-negara baru yang merdeka, Rusia tetap ingin melanjutkan dominasinya secara politik maupun ekonomi seperti semasa di Uni Soviet dulu. Kemarahan Rusia memuncak ketika Ukraina berhasrat bergabung dengan Nato, menjauh dari Rusia. Menurut saya perang ini dipicu oleh kombinasi aspek politik, psikologis (merasa sebagai negara besar), ekonomi, dan militer (keunggulan tentara dan alat persenjataan) dari Rusia.

Perang Rusia vs Ukraina telah memasuki hari-hari yang semakin mendebarkan. Rudal-rudal Rusia selain menyasar instalasi militer Ukraina juga diberitakan menyasar ke infrastruktur transportasi, rumah sakit, permukiman warga serta sumber-sumber social ekonomi seperti listrik dan pasar. Reaksi dunia khususnya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat maupun PBB mengecam serangan tersebut serta mengancam memberi sanksi ekonomi kepada Rusia, dan Indonesia pun setuju. Sanksi tersebut diharapkan membuat ekonomi Rusia guncang lalu bersedia membuka dialog dengan Ukraina untuk membahas perdamaian. Tampaknya perjalanan ke arah dialog perdamaian sangat sulit terwujud selama sanksi ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat tidak memberikan efek yang berarti bagi perekonomian Rusia. Serangan militer Rusia dengan persenjataan yang sangat canggih akan terus terjadi yang menyebabkan infrastruktur sosial ekonomi Ukraina semakin luluh lantak.

Apa yang saya khawatirkan terjadi. Perang Rusia vs Ukraina meletus sejak 24 Februari 2022, hingga kini terus berlanjut. Perang ini menurut saya tidak datang dengan tiba-tiba, melainkan ada sejarah panjang yang banyak aspek berkelindan di dalamnya. Mereka dulunya adalah dua sahabat ketika Rusia dan Ukraina masih bergabung di Uni Soviet di tahun 1922, namun kemudian bubar pada tahun 1991. Puluhan tahun mereka seiring sejalan, beragam suka dan duka mereka lewati bersama, termasuk pada saat perang dunia kedua, bersama menggempur Nazi Jerman. Suku Rusia menikah dengan suku Ukraina. Percampuran budaya antara suku Rusia dan Ukraina terjadi.

Baca Juga : Dua Bacalon Berebut Kursi Kades Gedangmas

Generasi berikutnya yang lahir adalah campuran darah Rusia dan Ukraina. Orang Rusia ada yang bekerja di Ukraina. Orang Ukraina ada yang bekerja di Rusia. Anak-anak Ukraina ada yang sekolah di Rusia dan demikian sebaliknya. Di desa, di tempat tinggal mereka, orang Ukraina bertetangga dengan orang Rusia. Silaturahmi pasti terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Singkatnya terjadi interaksi yang cukup lama pada konteks ekonomi, social, budaya, pendidikan, dan lain-lainnya. Ikatan batiniah antar mereka pasti sangat kuat.

Ketika Uni Soviet bubar, bermunculan negara-negara baru pecahannya yang merdeka dan berdaulat termasuk Ukraina. Ini tentu sangat mengejutkan bagi Rusia yang selama di Uni Soviet cukup dominan. Negara-negara baru tersebut misalnya Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, dan lainnya, selain Ukraina. Negara-negara tersebut terbilang kecil dibanding Rusia. Rusia relatif lebih unggul dalam hal jumlah penduduk, jumlah tentaranya, peralatan militernya, dan kekuatan ekonominya. Oleh sebab itu, meskipun telah menjadi negara-negara baru yang merdeka, Rusia tetap ingin melanjutkan dominasinya secara politik maupun ekonomi seperti semasa di Uni Soviet dulu. Kemarahan Rusia memuncak ketika Ukraina berhasrat bergabung dengan Nato, menjauh dari Rusia. Menurut saya perang ini dipicu oleh kombinasi aspek politik, psikologis (merasa sebagai negara besar), ekonomi, dan militer (keunggulan tentara dan alat persenjataan) dari Rusia.

Perang Rusia vs Ukraina telah memasuki hari-hari yang semakin mendebarkan. Rudal-rudal Rusia selain menyasar instalasi militer Ukraina juga diberitakan menyasar ke infrastruktur transportasi, rumah sakit, permukiman warga serta sumber-sumber social ekonomi seperti listrik dan pasar. Reaksi dunia khususnya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat maupun PBB mengecam serangan tersebut serta mengancam memberi sanksi ekonomi kepada Rusia, dan Indonesia pun setuju. Sanksi tersebut diharapkan membuat ekonomi Rusia guncang lalu bersedia membuka dialog dengan Ukraina untuk membahas perdamaian. Tampaknya perjalanan ke arah dialog perdamaian sangat sulit terwujud selama sanksi ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat tidak memberikan efek yang berarti bagi perekonomian Rusia. Serangan militer Rusia dengan persenjataan yang sangat canggih akan terus terjadi yang menyebabkan infrastruktur sosial ekonomi Ukraina semakin luluh lantak.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/