alexametrics
26.5 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Kekeringan, Sanitasi Sekolah dan Kebijakan Pemanenan Air Hujan

Oleh : Anita Dewi Moelyaningrum, S.KM., M.Kes

Mobile_AP_Rectangle 1

Rerata curah hujan yang tinggi serta kualitas air hujan di Indonesia yang masih baik dapat dipanen sehingga menyelesaikan permasalahan kekurangan air bersih. Luasan atap bangunan sekolah sangat strategis digunakan untuk memanen air hujan (rain water harvesting), juga mampu menjaga ekologi lingkungan karena mampu menampung air hujan jika daerah resapan air kurang luas sehingga dapat mencegah banjir.

Pemanen Air Hujan (PAH) dapat dibuat sederhana, mudah dan ekonomis. Alat penampung air hujan dapat diposisikan diatas tanah maupun dengan sumur resapan. Alat penampung air hujan ini bisa dibuat dengan bahan plastik, aluminium maupun bata semen. Air hujan dari atap sekolah akan ditangkap dan disalurkan melalui pipa ke alat penampungan air hujan di mana selanjutnya akan dipanen saat musim kemarau. Hal yang diperlukan adalah membuat saluran air dari talang bangunan atap sekolah untuk disalurkan ke bak penampung air hujan. Pada bak penampung air hujan tersebut kemudian diberi saluran air pelimpasan keluar untuk menyalurkan air ke bak toilet sekolah. Air hujan pertama kali sebaiknya tidak ditampung ke dalam bak PAH karena masih berfungsi sebagai pembersih atap sekolah yang kemungkinan kotor. Untuk itu saluran penangkap air sebaiknya dilengkapi dengan katup yang bisa di tutup untuk air hujan pertama kali, dan dibuka untuk menangkap air hujan berikutnya yang akan ditampung dalam bak PAH.

Pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development (SDGs) memiliki 17 tujuan dan 169 target yang terintegrasi. Pada tujuan nomor enam, yaitu clean water and sanitation, bertujuan untuk memastikan ketersediaan dan pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan, dijabarkan menjadi beberapa target yang harus diacapai pada tahun 2030 yaitu antara lain: mencapai akses sanitasi dan kebersihan yang memadai dan layak untuk semua; Menurunkan jumlah masyarakat yang menderita kelangkaan air; Mendukung dan memperkuat partisipasi masyarakat lokal dalam meningkatkan pengelolaan air dan sanitasi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mengacu pada RPJMN, Indonesia optimis untuk mencapai target 100 persen cakupan sanitasi pada tahun 2019. Untuk itu, Kebijakan satu sekolah dengan satu pemanen air hujan dapat membantu Indonesia dalam percepatan pencapaian target SDGs nomor enam, menurunkan jumlah masyarakat yang menderita kelangkaan air terutama di sektor pendidikan dasar, dan juga akan memperkuat partisipasi masyarakat sekolah dalam mengelola air.

Kebijakan pemanenan air hujan di setiap sekolah, dapat dilakukan dengan kombinasi pendekatan top down dan bottom up. Kebijakan top down (atas-bawah) diperlukan dalam pencapaian tujuan RPJMN dan SDGs dalam pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi. Sedangkan, pendekatan bottom up (bawah-atas) juga harus dilakukan untuk mengajak masyarakat berpartisipasi, peduli dan punya rasa memiliki terhadap kebijakan program tersebut. Efektivitas kebijakan satu sekolah satu PAH dapat tercapai jika didukung oleh kejelasan implementasi program kegiatan, serta biaya. Untuk itu perlu peran serta pemerintah daerah (Kota/ Kabupaten) dalam pelaksanaannya.

 

*) Penulis adalah dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, anggota Kelompok Riset Center of Woman and Child Health Empowerment Studies (C-WoCHE) FKM Universitas Jember dan Institute for Maritime Studies (IMAS) Universitas Jember.

- Advertisement -

Rerata curah hujan yang tinggi serta kualitas air hujan di Indonesia yang masih baik dapat dipanen sehingga menyelesaikan permasalahan kekurangan air bersih. Luasan atap bangunan sekolah sangat strategis digunakan untuk memanen air hujan (rain water harvesting), juga mampu menjaga ekologi lingkungan karena mampu menampung air hujan jika daerah resapan air kurang luas sehingga dapat mencegah banjir.

Pemanen Air Hujan (PAH) dapat dibuat sederhana, mudah dan ekonomis. Alat penampung air hujan dapat diposisikan diatas tanah maupun dengan sumur resapan. Alat penampung air hujan ini bisa dibuat dengan bahan plastik, aluminium maupun bata semen. Air hujan dari atap sekolah akan ditangkap dan disalurkan melalui pipa ke alat penampungan air hujan di mana selanjutnya akan dipanen saat musim kemarau. Hal yang diperlukan adalah membuat saluran air dari talang bangunan atap sekolah untuk disalurkan ke bak penampung air hujan. Pada bak penampung air hujan tersebut kemudian diberi saluran air pelimpasan keluar untuk menyalurkan air ke bak toilet sekolah. Air hujan pertama kali sebaiknya tidak ditampung ke dalam bak PAH karena masih berfungsi sebagai pembersih atap sekolah yang kemungkinan kotor. Untuk itu saluran penangkap air sebaiknya dilengkapi dengan katup yang bisa di tutup untuk air hujan pertama kali, dan dibuka untuk menangkap air hujan berikutnya yang akan ditampung dalam bak PAH.

Pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development (SDGs) memiliki 17 tujuan dan 169 target yang terintegrasi. Pada tujuan nomor enam, yaitu clean water and sanitation, bertujuan untuk memastikan ketersediaan dan pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan, dijabarkan menjadi beberapa target yang harus diacapai pada tahun 2030 yaitu antara lain: mencapai akses sanitasi dan kebersihan yang memadai dan layak untuk semua; Menurunkan jumlah masyarakat yang menderita kelangkaan air; Mendukung dan memperkuat partisipasi masyarakat lokal dalam meningkatkan pengelolaan air dan sanitasi.

Mengacu pada RPJMN, Indonesia optimis untuk mencapai target 100 persen cakupan sanitasi pada tahun 2019. Untuk itu, Kebijakan satu sekolah dengan satu pemanen air hujan dapat membantu Indonesia dalam percepatan pencapaian target SDGs nomor enam, menurunkan jumlah masyarakat yang menderita kelangkaan air terutama di sektor pendidikan dasar, dan juga akan memperkuat partisipasi masyarakat sekolah dalam mengelola air.

Kebijakan pemanenan air hujan di setiap sekolah, dapat dilakukan dengan kombinasi pendekatan top down dan bottom up. Kebijakan top down (atas-bawah) diperlukan dalam pencapaian tujuan RPJMN dan SDGs dalam pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi. Sedangkan, pendekatan bottom up (bawah-atas) juga harus dilakukan untuk mengajak masyarakat berpartisipasi, peduli dan punya rasa memiliki terhadap kebijakan program tersebut. Efektivitas kebijakan satu sekolah satu PAH dapat tercapai jika didukung oleh kejelasan implementasi program kegiatan, serta biaya. Untuk itu perlu peran serta pemerintah daerah (Kota/ Kabupaten) dalam pelaksanaannya.

 

*) Penulis adalah dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, anggota Kelompok Riset Center of Woman and Child Health Empowerment Studies (C-WoCHE) FKM Universitas Jember dan Institute for Maritime Studies (IMAS) Universitas Jember.

Rerata curah hujan yang tinggi serta kualitas air hujan di Indonesia yang masih baik dapat dipanen sehingga menyelesaikan permasalahan kekurangan air bersih. Luasan atap bangunan sekolah sangat strategis digunakan untuk memanen air hujan (rain water harvesting), juga mampu menjaga ekologi lingkungan karena mampu menampung air hujan jika daerah resapan air kurang luas sehingga dapat mencegah banjir.

Pemanen Air Hujan (PAH) dapat dibuat sederhana, mudah dan ekonomis. Alat penampung air hujan dapat diposisikan diatas tanah maupun dengan sumur resapan. Alat penampung air hujan ini bisa dibuat dengan bahan plastik, aluminium maupun bata semen. Air hujan dari atap sekolah akan ditangkap dan disalurkan melalui pipa ke alat penampungan air hujan di mana selanjutnya akan dipanen saat musim kemarau. Hal yang diperlukan adalah membuat saluran air dari talang bangunan atap sekolah untuk disalurkan ke bak penampung air hujan. Pada bak penampung air hujan tersebut kemudian diberi saluran air pelimpasan keluar untuk menyalurkan air ke bak toilet sekolah. Air hujan pertama kali sebaiknya tidak ditampung ke dalam bak PAH karena masih berfungsi sebagai pembersih atap sekolah yang kemungkinan kotor. Untuk itu saluran penangkap air sebaiknya dilengkapi dengan katup yang bisa di tutup untuk air hujan pertama kali, dan dibuka untuk menangkap air hujan berikutnya yang akan ditampung dalam bak PAH.

Pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development (SDGs) memiliki 17 tujuan dan 169 target yang terintegrasi. Pada tujuan nomor enam, yaitu clean water and sanitation, bertujuan untuk memastikan ketersediaan dan pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan, dijabarkan menjadi beberapa target yang harus diacapai pada tahun 2030 yaitu antara lain: mencapai akses sanitasi dan kebersihan yang memadai dan layak untuk semua; Menurunkan jumlah masyarakat yang menderita kelangkaan air; Mendukung dan memperkuat partisipasi masyarakat lokal dalam meningkatkan pengelolaan air dan sanitasi.

Mengacu pada RPJMN, Indonesia optimis untuk mencapai target 100 persen cakupan sanitasi pada tahun 2019. Untuk itu, Kebijakan satu sekolah dengan satu pemanen air hujan dapat membantu Indonesia dalam percepatan pencapaian target SDGs nomor enam, menurunkan jumlah masyarakat yang menderita kelangkaan air terutama di sektor pendidikan dasar, dan juga akan memperkuat partisipasi masyarakat sekolah dalam mengelola air.

Kebijakan pemanenan air hujan di setiap sekolah, dapat dilakukan dengan kombinasi pendekatan top down dan bottom up. Kebijakan top down (atas-bawah) diperlukan dalam pencapaian tujuan RPJMN dan SDGs dalam pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi. Sedangkan, pendekatan bottom up (bawah-atas) juga harus dilakukan untuk mengajak masyarakat berpartisipasi, peduli dan punya rasa memiliki terhadap kebijakan program tersebut. Efektivitas kebijakan satu sekolah satu PAH dapat tercapai jika didukung oleh kejelasan implementasi program kegiatan, serta biaya. Untuk itu perlu peran serta pemerintah daerah (Kota/ Kabupaten) dalam pelaksanaannya.

 

*) Penulis adalah dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, anggota Kelompok Riset Center of Woman and Child Health Empowerment Studies (C-WoCHE) FKM Universitas Jember dan Institute for Maritime Studies (IMAS) Universitas Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/