alexametrics
26.6 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Mengubah Mindset Pernikahan Dini, Mengapa Tidak?

Mobile_AP_Rectangle 1

Angka perceraian di Kabupaten Jember selama 2020 mencapai lebih dari 5000 kasus. Dari jumlah tersebut sebagian besar disebabkan faktor tingginya angka pernikahan dini dan kesulitan ekonomi selama pandemi. Melihat pernikahan dini di Jember, miris memang. Jika kita memperdulikan tingginya angka tersebut, maka generasi yang seharusnya menjadi agent of change. Menurut saya, pernikahan dini mengalami keterpurukan secara psikologis sebagai dampak buramnya masa depan. Mereka yang seharusnya masih mencari jati diri, bersosialisasi, mencari nilai-nilai kehidupan dengan terbentangnya wawasan harus terbelenggu dengan masalah keluarga sebagai konsekuensi berumah tangga.

Tingginya kasus tersebut harus dicarikan solusi terbaik, melalui pembinaan rana kemasyarakatan (orang tua), pendidikan (anak sebagai subjek didik) dan pemangku kebijakan (pemerintah). Semua elemen harus bersinergi untuk mengentaskan keadaan tersebut agar pernikahan dianggap sesuatu yang sakral, dilakukan sekali dalam seumur hidupnya, dan menganggap rumah tangga sebagai biduk yang harus dipertahankan apa pun badai yang akan menghalang. Andaikan mindset itu terbangun maka akan berpikir ulang bagi seseorang melayangkan gugatan cerai dan melakukan perceraian. Beberapa faktor yang dapat mengurangi tingginya angka perceraian pada pernikahan dini antara lain faktor orang tua, faktor pendidikan dan faktor pemerintah sebagai pemangku kebijakan.

Faktor Orang Tua

Mobile_AP_Rectangle 2

Orang tua merupakan sosok dominan dalam membentuk kepribadian anak secara sosial, moral, dan spiritual. Orang tua sebagai garda terdepan tumbuh kembang anak, harus mampu memfasilitasi perkembangan mental yang dibangun dari kepercayaan dan keterbukaan. Jadikan anak sebagai pribadi berbeda yang perlu dihargai sebagai sahabat dan mitra dalam membersamai anak menggali nilai-nilai kehidupan dan mengembangkan potensi diri anak. Intinya, jadilah pendengar yang baik dan pengambil kebijakan yang bijaksana

Masalah terumit itu bukan pernikahan tetapi permasalahan setelah pernikahan dan mempertahankan pernikahan. Keputusan orang tua jangan menjadi bumerang bagi masa depan anak. Biarlah mereka mencari siapa yang layak dan pantas membersamai mengarungi kehidupan, cukuplah orang tua memberikan saran dan nasihat terbaik tentang positif negatif calon pasangan anak dan calon menantu bagi dirinya. Semua bisa berjalan layak dan mendekati kesempurnaan jika anak memiliki pola dan tingkat pendidikan yang cukup memadai dan pola kedewasaan yang terbentuk melalui pola asah, asuh, dan asih yang baik. Budaya atau tradisi takut “tidak laku” karena usia harus mulai bergeser dari paradigma pola pikir orang tua. Bukankah sesuai agama setiap manusia itu terlahir bersama pasangannya? Kenyataan atau fakta riil “takut tidak laku” ini sering terjadi di wilayah pedesaan, mereka terburu-buru menikahkan anaknya jika ada yang meminang. Lulus SD atau paling dewasa ditambah waktu mondok selama 2 tahun. Asumsinya lebih kurang 15 tahun. Usia yang sangat belia dan kekanak-kanakan.

Perasaan “tidak laku” dan jadi buah bibir tetangga, menurut pandangan orang tua merupakan cela atau aib keluarga. Padahal, jika ada perempuan sampai usia lanjut atau tua tidak menikah itu adalah sebuah pilihan individu dan bukan berarti tidak laku dalam bursa perjodohan Mereka lebih enjoy atau nyaman dengan kesendiriannya. Mereka tidak mau berpikir rumit tentang masalah rumah tangga karena ia mampu berdiri sendiri sebagai pribadi kuat untuk menyelesaikan masalah hidup dan kehidupan berbekal pendidikan atau pekerjaan layak yang dimiliki.

Faktor pendidikan

- Advertisement -

Angka perceraian di Kabupaten Jember selama 2020 mencapai lebih dari 5000 kasus. Dari jumlah tersebut sebagian besar disebabkan faktor tingginya angka pernikahan dini dan kesulitan ekonomi selama pandemi. Melihat pernikahan dini di Jember, miris memang. Jika kita memperdulikan tingginya angka tersebut, maka generasi yang seharusnya menjadi agent of change. Menurut saya, pernikahan dini mengalami keterpurukan secara psikologis sebagai dampak buramnya masa depan. Mereka yang seharusnya masih mencari jati diri, bersosialisasi, mencari nilai-nilai kehidupan dengan terbentangnya wawasan harus terbelenggu dengan masalah keluarga sebagai konsekuensi berumah tangga.

Tingginya kasus tersebut harus dicarikan solusi terbaik, melalui pembinaan rana kemasyarakatan (orang tua), pendidikan (anak sebagai subjek didik) dan pemangku kebijakan (pemerintah). Semua elemen harus bersinergi untuk mengentaskan keadaan tersebut agar pernikahan dianggap sesuatu yang sakral, dilakukan sekali dalam seumur hidupnya, dan menganggap rumah tangga sebagai biduk yang harus dipertahankan apa pun badai yang akan menghalang. Andaikan mindset itu terbangun maka akan berpikir ulang bagi seseorang melayangkan gugatan cerai dan melakukan perceraian. Beberapa faktor yang dapat mengurangi tingginya angka perceraian pada pernikahan dini antara lain faktor orang tua, faktor pendidikan dan faktor pemerintah sebagai pemangku kebijakan.

Faktor Orang Tua

Orang tua merupakan sosok dominan dalam membentuk kepribadian anak secara sosial, moral, dan spiritual. Orang tua sebagai garda terdepan tumbuh kembang anak, harus mampu memfasilitasi perkembangan mental yang dibangun dari kepercayaan dan keterbukaan. Jadikan anak sebagai pribadi berbeda yang perlu dihargai sebagai sahabat dan mitra dalam membersamai anak menggali nilai-nilai kehidupan dan mengembangkan potensi diri anak. Intinya, jadilah pendengar yang baik dan pengambil kebijakan yang bijaksana

Masalah terumit itu bukan pernikahan tetapi permasalahan setelah pernikahan dan mempertahankan pernikahan. Keputusan orang tua jangan menjadi bumerang bagi masa depan anak. Biarlah mereka mencari siapa yang layak dan pantas membersamai mengarungi kehidupan, cukuplah orang tua memberikan saran dan nasihat terbaik tentang positif negatif calon pasangan anak dan calon menantu bagi dirinya. Semua bisa berjalan layak dan mendekati kesempurnaan jika anak memiliki pola dan tingkat pendidikan yang cukup memadai dan pola kedewasaan yang terbentuk melalui pola asah, asuh, dan asih yang baik. Budaya atau tradisi takut “tidak laku” karena usia harus mulai bergeser dari paradigma pola pikir orang tua. Bukankah sesuai agama setiap manusia itu terlahir bersama pasangannya? Kenyataan atau fakta riil “takut tidak laku” ini sering terjadi di wilayah pedesaan, mereka terburu-buru menikahkan anaknya jika ada yang meminang. Lulus SD atau paling dewasa ditambah waktu mondok selama 2 tahun. Asumsinya lebih kurang 15 tahun. Usia yang sangat belia dan kekanak-kanakan.

Perasaan “tidak laku” dan jadi buah bibir tetangga, menurut pandangan orang tua merupakan cela atau aib keluarga. Padahal, jika ada perempuan sampai usia lanjut atau tua tidak menikah itu adalah sebuah pilihan individu dan bukan berarti tidak laku dalam bursa perjodohan Mereka lebih enjoy atau nyaman dengan kesendiriannya. Mereka tidak mau berpikir rumit tentang masalah rumah tangga karena ia mampu berdiri sendiri sebagai pribadi kuat untuk menyelesaikan masalah hidup dan kehidupan berbekal pendidikan atau pekerjaan layak yang dimiliki.

Faktor pendidikan

Angka perceraian di Kabupaten Jember selama 2020 mencapai lebih dari 5000 kasus. Dari jumlah tersebut sebagian besar disebabkan faktor tingginya angka pernikahan dini dan kesulitan ekonomi selama pandemi. Melihat pernikahan dini di Jember, miris memang. Jika kita memperdulikan tingginya angka tersebut, maka generasi yang seharusnya menjadi agent of change. Menurut saya, pernikahan dini mengalami keterpurukan secara psikologis sebagai dampak buramnya masa depan. Mereka yang seharusnya masih mencari jati diri, bersosialisasi, mencari nilai-nilai kehidupan dengan terbentangnya wawasan harus terbelenggu dengan masalah keluarga sebagai konsekuensi berumah tangga.

Tingginya kasus tersebut harus dicarikan solusi terbaik, melalui pembinaan rana kemasyarakatan (orang tua), pendidikan (anak sebagai subjek didik) dan pemangku kebijakan (pemerintah). Semua elemen harus bersinergi untuk mengentaskan keadaan tersebut agar pernikahan dianggap sesuatu yang sakral, dilakukan sekali dalam seumur hidupnya, dan menganggap rumah tangga sebagai biduk yang harus dipertahankan apa pun badai yang akan menghalang. Andaikan mindset itu terbangun maka akan berpikir ulang bagi seseorang melayangkan gugatan cerai dan melakukan perceraian. Beberapa faktor yang dapat mengurangi tingginya angka perceraian pada pernikahan dini antara lain faktor orang tua, faktor pendidikan dan faktor pemerintah sebagai pemangku kebijakan.

Faktor Orang Tua

Orang tua merupakan sosok dominan dalam membentuk kepribadian anak secara sosial, moral, dan spiritual. Orang tua sebagai garda terdepan tumbuh kembang anak, harus mampu memfasilitasi perkembangan mental yang dibangun dari kepercayaan dan keterbukaan. Jadikan anak sebagai pribadi berbeda yang perlu dihargai sebagai sahabat dan mitra dalam membersamai anak menggali nilai-nilai kehidupan dan mengembangkan potensi diri anak. Intinya, jadilah pendengar yang baik dan pengambil kebijakan yang bijaksana

Masalah terumit itu bukan pernikahan tetapi permasalahan setelah pernikahan dan mempertahankan pernikahan. Keputusan orang tua jangan menjadi bumerang bagi masa depan anak. Biarlah mereka mencari siapa yang layak dan pantas membersamai mengarungi kehidupan, cukuplah orang tua memberikan saran dan nasihat terbaik tentang positif negatif calon pasangan anak dan calon menantu bagi dirinya. Semua bisa berjalan layak dan mendekati kesempurnaan jika anak memiliki pola dan tingkat pendidikan yang cukup memadai dan pola kedewasaan yang terbentuk melalui pola asah, asuh, dan asih yang baik. Budaya atau tradisi takut “tidak laku” karena usia harus mulai bergeser dari paradigma pola pikir orang tua. Bukankah sesuai agama setiap manusia itu terlahir bersama pasangannya? Kenyataan atau fakta riil “takut tidak laku” ini sering terjadi di wilayah pedesaan, mereka terburu-buru menikahkan anaknya jika ada yang meminang. Lulus SD atau paling dewasa ditambah waktu mondok selama 2 tahun. Asumsinya lebih kurang 15 tahun. Usia yang sangat belia dan kekanak-kanakan.

Perasaan “tidak laku” dan jadi buah bibir tetangga, menurut pandangan orang tua merupakan cela atau aib keluarga. Padahal, jika ada perempuan sampai usia lanjut atau tua tidak menikah itu adalah sebuah pilihan individu dan bukan berarti tidak laku dalam bursa perjodohan Mereka lebih enjoy atau nyaman dengan kesendiriannya. Mereka tidak mau berpikir rumit tentang masalah rumah tangga karena ia mampu berdiri sendiri sebagai pribadi kuat untuk menyelesaikan masalah hidup dan kehidupan berbekal pendidikan atau pekerjaan layak yang dimiliki.

Faktor pendidikan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/