alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Potensi Keanekaragaman Hayati Indonesia sebagai Insektisida Nabati

Mobile_AP_Rectangle 1

Indonesia termasuk negara tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Keberlimpahan keanekaragaman hayati di Indonesia meliputi tingkat gen, jenis dan ekosistem sehingga Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megadiversity. Salah satunya Indonesia memiliki keanekaragaman hayati pada tanaman yang sangat berlimpah.  Tanaman anggrek menjadi salah satu aset keanekaragaman hayati yang penting di Indonesia karena diperkirakan sekitar 5.000–6.000 jenis anggrek ada di Indonesia. Sebanyak 2.197 jenis paku-pakuan ada di Indonesia dari diperkirakan 10.000 jenis paku-pakuan yang ada di dunia. Indonesia juga diperkirakan memiliki 25 persen jenis tumbuhan berbunga yang ada di dunia. Selain itu, Indonesia dilaporkan sebagai pusat sebaran keanekaragaman tingkat gen untuk tanaman budi daya seperti pisang, mangga, durian, rambutan, pala dan cengkeh. Banyak potensi yang dapat dipelajari, diteliti dikembangkan dan dimanfaatkan dari keanekaragaman tanaman di antaranya untuk budi daya, obat herbal dan juga sebagai insektisida nabati.

Insektisida nabati merupakan insektisida yang menggunakan tanaman untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti serangga hama. Tanaman berpotensi menjadi insektisida karena tanaman mengandung senyawa metabolik sekunder yang digunakan tanaman untuk melindungi diri dari serangga hama. Kandungan metabolit sekunder tersebut berupa flavonoid, alkaloid, terpenoid, saponin, tannin, minyak atsiri dan sebagainya.  Metabolit sekunder hampir tersebar di seluruh bagian tanaman seperti akar, batang, daun bunga, dan biji. Suryaningsih dan Hadisoeganda (2004) melaporkan bahwa petani Indonesia telah menggunakan insektisida nabati sejak tahun 1987. Tanaman yang banyak diaplikasi sebagai insektisida nabati antara lain ubi gadung, biji buah sirsak, mahoni, mimba, tembelekan, paitan, dan tembakau.

Serangga hama merupakan hewan yang tergolong herbivora di mana tanaman merupakan sumber makanannya. Kebanyakan serangga hama memakan daun dan buah. Daun merupakan bagian estika dari tanaman, terutama tanaman hias dan sayuran. Buah merupakan bagian hasil atau produk dari tanaman saat dipanen. Tidak terbayangkan jika daun tanaman hias berlubang dan rusak karena dimakan serangga hama, tanaman hias menjadi tidak menarik lagi. Tanaman sayuran seperti sawi atau selada yang daunnya rusak karena diserang hama menjadi tidak menarik lagi untuk dimakan. Tanaman buah seperti tomat, stroberi, cabai menjadi gagal dipanen karena buahnya rusak. Salah satu cara pengendalian hama dapat menggunakan insektisida nabati.

Mobile_AP_Rectangle 2

Indonesia memiliki keanekaragaman tanaman yang berlimpah, di antaranya 2.400 jenis tanaman berpotensi dapat berperan sebagai insektisida nabati. Bahkan, jenis-jenis tanaman tersebut banyak kita jumpai di sekitar kita, di lingkungan rumah kita. Tanaman yang berperan sebagai insektisida nabati memiliki kemampuan yang dapat dalam mengendalikan serangan serangga hama. Pertama, tanaman memiliki kemampuan menolak atau mengusir (repellent) serangga. Beberapa jenis tanaman yang dapat berperan sebagai repellent di antaranya aroma bawang putih dapat mengusir kutu daun Aphids, kutu beras dan kutu jagung. Ekstrak daun nimba dapat digunakan untuk mengusir kutu beras. Ekstrak lada juga dapat digunakan untuk mengusir kutu beras. Selain serangga hama, ada beberapa tanaman dapat juga mengusir serangga vektor penyakit seperti aroma ekstrak daun lavender dan serai yang dapat mengusir nyamuk.

Kedua, tanaman memiliki kemampuan sebagai antifidan (mencegah aktivitas makan serangga). Senyawa antifidan dari tanaman mengakibatkan gangguan pada organ perasa serangga sehingga dapat menurunnya nafsu makan atau menghentikan aktivitas makan dari serangga. Karena pengaruh antifidan tersebut, serangga tidak jadi memakan daun tanaman. Beberapa jenis tanaman yang dapat berperan sebagai antifidan di antaranya ekstrak daun paitan/insulin dapat digunakan sebagai antifidan hama kutu kebul pada tanaman cabai. Kemangi, rimpang lengkuas dan sirih dapat digunakan sebagai antifidan hama ulat gerayak. Jahe-jahean berperan sebagai antifidan untuk hama wereng coklat. Ekstrak daun sirsak berperan sebagai antifidan untuk hama belalang, ulat gerayak dan ulat daun kubis.

- Advertisement -

Indonesia termasuk negara tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Keberlimpahan keanekaragaman hayati di Indonesia meliputi tingkat gen, jenis dan ekosistem sehingga Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megadiversity. Salah satunya Indonesia memiliki keanekaragaman hayati pada tanaman yang sangat berlimpah.  Tanaman anggrek menjadi salah satu aset keanekaragaman hayati yang penting di Indonesia karena diperkirakan sekitar 5.000–6.000 jenis anggrek ada di Indonesia. Sebanyak 2.197 jenis paku-pakuan ada di Indonesia dari diperkirakan 10.000 jenis paku-pakuan yang ada di dunia. Indonesia juga diperkirakan memiliki 25 persen jenis tumbuhan berbunga yang ada di dunia. Selain itu, Indonesia dilaporkan sebagai pusat sebaran keanekaragaman tingkat gen untuk tanaman budi daya seperti pisang, mangga, durian, rambutan, pala dan cengkeh. Banyak potensi yang dapat dipelajari, diteliti dikembangkan dan dimanfaatkan dari keanekaragaman tanaman di antaranya untuk budi daya, obat herbal dan juga sebagai insektisida nabati.

Insektisida nabati merupakan insektisida yang menggunakan tanaman untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti serangga hama. Tanaman berpotensi menjadi insektisida karena tanaman mengandung senyawa metabolik sekunder yang digunakan tanaman untuk melindungi diri dari serangga hama. Kandungan metabolit sekunder tersebut berupa flavonoid, alkaloid, terpenoid, saponin, tannin, minyak atsiri dan sebagainya.  Metabolit sekunder hampir tersebar di seluruh bagian tanaman seperti akar, batang, daun bunga, dan biji. Suryaningsih dan Hadisoeganda (2004) melaporkan bahwa petani Indonesia telah menggunakan insektisida nabati sejak tahun 1987. Tanaman yang banyak diaplikasi sebagai insektisida nabati antara lain ubi gadung, biji buah sirsak, mahoni, mimba, tembelekan, paitan, dan tembakau.

Serangga hama merupakan hewan yang tergolong herbivora di mana tanaman merupakan sumber makanannya. Kebanyakan serangga hama memakan daun dan buah. Daun merupakan bagian estika dari tanaman, terutama tanaman hias dan sayuran. Buah merupakan bagian hasil atau produk dari tanaman saat dipanen. Tidak terbayangkan jika daun tanaman hias berlubang dan rusak karena dimakan serangga hama, tanaman hias menjadi tidak menarik lagi. Tanaman sayuran seperti sawi atau selada yang daunnya rusak karena diserang hama menjadi tidak menarik lagi untuk dimakan. Tanaman buah seperti tomat, stroberi, cabai menjadi gagal dipanen karena buahnya rusak. Salah satu cara pengendalian hama dapat menggunakan insektisida nabati.

Indonesia memiliki keanekaragaman tanaman yang berlimpah, di antaranya 2.400 jenis tanaman berpotensi dapat berperan sebagai insektisida nabati. Bahkan, jenis-jenis tanaman tersebut banyak kita jumpai di sekitar kita, di lingkungan rumah kita. Tanaman yang berperan sebagai insektisida nabati memiliki kemampuan yang dapat dalam mengendalikan serangan serangga hama. Pertama, tanaman memiliki kemampuan menolak atau mengusir (repellent) serangga. Beberapa jenis tanaman yang dapat berperan sebagai repellent di antaranya aroma bawang putih dapat mengusir kutu daun Aphids, kutu beras dan kutu jagung. Ekstrak daun nimba dapat digunakan untuk mengusir kutu beras. Ekstrak lada juga dapat digunakan untuk mengusir kutu beras. Selain serangga hama, ada beberapa tanaman dapat juga mengusir serangga vektor penyakit seperti aroma ekstrak daun lavender dan serai yang dapat mengusir nyamuk.

Kedua, tanaman memiliki kemampuan sebagai antifidan (mencegah aktivitas makan serangga). Senyawa antifidan dari tanaman mengakibatkan gangguan pada organ perasa serangga sehingga dapat menurunnya nafsu makan atau menghentikan aktivitas makan dari serangga. Karena pengaruh antifidan tersebut, serangga tidak jadi memakan daun tanaman. Beberapa jenis tanaman yang dapat berperan sebagai antifidan di antaranya ekstrak daun paitan/insulin dapat digunakan sebagai antifidan hama kutu kebul pada tanaman cabai. Kemangi, rimpang lengkuas dan sirih dapat digunakan sebagai antifidan hama ulat gerayak. Jahe-jahean berperan sebagai antifidan untuk hama wereng coklat. Ekstrak daun sirsak berperan sebagai antifidan untuk hama belalang, ulat gerayak dan ulat daun kubis.

Indonesia termasuk negara tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Keberlimpahan keanekaragaman hayati di Indonesia meliputi tingkat gen, jenis dan ekosistem sehingga Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megadiversity. Salah satunya Indonesia memiliki keanekaragaman hayati pada tanaman yang sangat berlimpah.  Tanaman anggrek menjadi salah satu aset keanekaragaman hayati yang penting di Indonesia karena diperkirakan sekitar 5.000–6.000 jenis anggrek ada di Indonesia. Sebanyak 2.197 jenis paku-pakuan ada di Indonesia dari diperkirakan 10.000 jenis paku-pakuan yang ada di dunia. Indonesia juga diperkirakan memiliki 25 persen jenis tumbuhan berbunga yang ada di dunia. Selain itu, Indonesia dilaporkan sebagai pusat sebaran keanekaragaman tingkat gen untuk tanaman budi daya seperti pisang, mangga, durian, rambutan, pala dan cengkeh. Banyak potensi yang dapat dipelajari, diteliti dikembangkan dan dimanfaatkan dari keanekaragaman tanaman di antaranya untuk budi daya, obat herbal dan juga sebagai insektisida nabati.

Insektisida nabati merupakan insektisida yang menggunakan tanaman untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti serangga hama. Tanaman berpotensi menjadi insektisida karena tanaman mengandung senyawa metabolik sekunder yang digunakan tanaman untuk melindungi diri dari serangga hama. Kandungan metabolit sekunder tersebut berupa flavonoid, alkaloid, terpenoid, saponin, tannin, minyak atsiri dan sebagainya.  Metabolit sekunder hampir tersebar di seluruh bagian tanaman seperti akar, batang, daun bunga, dan biji. Suryaningsih dan Hadisoeganda (2004) melaporkan bahwa petani Indonesia telah menggunakan insektisida nabati sejak tahun 1987. Tanaman yang banyak diaplikasi sebagai insektisida nabati antara lain ubi gadung, biji buah sirsak, mahoni, mimba, tembelekan, paitan, dan tembakau.

Serangga hama merupakan hewan yang tergolong herbivora di mana tanaman merupakan sumber makanannya. Kebanyakan serangga hama memakan daun dan buah. Daun merupakan bagian estika dari tanaman, terutama tanaman hias dan sayuran. Buah merupakan bagian hasil atau produk dari tanaman saat dipanen. Tidak terbayangkan jika daun tanaman hias berlubang dan rusak karena dimakan serangga hama, tanaman hias menjadi tidak menarik lagi. Tanaman sayuran seperti sawi atau selada yang daunnya rusak karena diserang hama menjadi tidak menarik lagi untuk dimakan. Tanaman buah seperti tomat, stroberi, cabai menjadi gagal dipanen karena buahnya rusak. Salah satu cara pengendalian hama dapat menggunakan insektisida nabati.

Indonesia memiliki keanekaragaman tanaman yang berlimpah, di antaranya 2.400 jenis tanaman berpotensi dapat berperan sebagai insektisida nabati. Bahkan, jenis-jenis tanaman tersebut banyak kita jumpai di sekitar kita, di lingkungan rumah kita. Tanaman yang berperan sebagai insektisida nabati memiliki kemampuan yang dapat dalam mengendalikan serangan serangga hama. Pertama, tanaman memiliki kemampuan menolak atau mengusir (repellent) serangga. Beberapa jenis tanaman yang dapat berperan sebagai repellent di antaranya aroma bawang putih dapat mengusir kutu daun Aphids, kutu beras dan kutu jagung. Ekstrak daun nimba dapat digunakan untuk mengusir kutu beras. Ekstrak lada juga dapat digunakan untuk mengusir kutu beras. Selain serangga hama, ada beberapa tanaman dapat juga mengusir serangga vektor penyakit seperti aroma ekstrak daun lavender dan serai yang dapat mengusir nyamuk.

Kedua, tanaman memiliki kemampuan sebagai antifidan (mencegah aktivitas makan serangga). Senyawa antifidan dari tanaman mengakibatkan gangguan pada organ perasa serangga sehingga dapat menurunnya nafsu makan atau menghentikan aktivitas makan dari serangga. Karena pengaruh antifidan tersebut, serangga tidak jadi memakan daun tanaman. Beberapa jenis tanaman yang dapat berperan sebagai antifidan di antaranya ekstrak daun paitan/insulin dapat digunakan sebagai antifidan hama kutu kebul pada tanaman cabai. Kemangi, rimpang lengkuas dan sirih dapat digunakan sebagai antifidan hama ulat gerayak. Jahe-jahean berperan sebagai antifidan untuk hama wereng coklat. Ekstrak daun sirsak berperan sebagai antifidan untuk hama belalang, ulat gerayak dan ulat daun kubis.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/