Puasa ‘Cebong’ dan ‘Kampret’

PERHELATAN demokrasi dalam bentuk pemilihan umum (pemilu) telah usai. Pemilu kali ini memang pantas dibilang sebagai pemilu terumit dan terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Kita boleh bangga karena pemilu itu terjadi di negara kita, Indonesia. Syukurlah pesta lima tahunan itu, secara umum, telah berjalan sukses.

IKLAN

Akan tetapi, dibalik ‘kesuksesan’ tersebut, tampaknya menyisakan pula ‘sejarah kelam’, khususnya bagi keluarga yang mengalami. Pasalnya, di tengah euforia kita berdemokrasi ini, ternyata telah terjadi musibah hilangnya ratusan nyawa yang tidak terbayangkan sebelumnya. Menurut pantauan cnnindonesia.com, sampai saat ini jumlah petugas penyelenggara untuk sementara yang meninggal dunia mencapai 554 orang, baik dari pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), maupun personel Polri/TNI.

Berdasarkan data KPU per Sabtu (4/5) pukul 16.00 WIB, jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal sebanyak 440 orang. Sementara petugas yang sakit 3.788 orang. Jumlah itu bertambah dari hari sebelumnya yaitu 424 orang. Begitu pula dengan petugas yang sakit juga bertambah dari hari sebelumnya yang mencapai 3.668 orang. Dengan fenomena demikian kiranya layaklah jika pemilu kali ini merupakan pemilu yang membanggakan sekaligus ‘mengerikan’. ‘Syukurlah’ semua korban tersebut bukan diakibatkan oleh sebuah konflik atau huru-hara dampak pemilu seperti di negara-negara lain.

Sekalipun demikian, masih ada lagi kenangan pemilu yang menyedihkan karena telah viral di jagat media sosial (medsos). Apa itu? Yaitu, munculnya sebutan ‘cebong’ dan ‘kampret’. Sebutan ‘cebong’ disematkan kepada para pendukung pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden Jokowi-Ma’ruf Amin, sedangkan ‘kampret’ disematkan kepada para pendukung paslon capres dan cawapres Prabowo-Sandi.

Sebenarnya, kita semula tidak risau dengan banyolan para pendukung masing-masing paslon. Akan tetapi, dalam perkembangan, istilah tersebut lalu digunakan untuk saling mengejek oleh kedua belah pihak. Tak jarang, ketika para politisi dan para pendukungnya menggunakan kata tersebut untuk menyebut lawan politiknya mengucapkannya dengan penuh sinis atau bahkan makian. Ironisnya, kata ‘makian’ itu, selain dilontarkan dengan tanpa menghiraukan etika dan moral, juga ikut diucapkan oleh para elite yang notabene orang-orang berpendidikan. Bahkan, beberapa di antara mereka juga para tokoh agama. Penggunaan kata itu tampaknya sudah mirip dengan penggunaan kata ‘dancuk’ ala arek Suroboyoan. Ketika diucapkan dengan ketawa dan canda akan terasa sebagai sebuah sapaan keakraban. Dan, semula arek Suroboyo memang menggunakan dalam konteks demikian. Akan tetapi, jika (kini) diucapkan dengan mata melotot, akan terasa sebagai sebuah makian bahkan tantangan berkelahi.

Istilah ‘cebong’ dan ‘kampret’ dengan konotasi tersebut sejatinya adalah sebuah stigmatisasi yang oleh Alquran dikenal dengan ‘laqab’. Dalam QS Al Hujurat (49:11) Allah berfirman: “Hai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olokan wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Kata kunci kalimat tersebut adalah panggil memanggil dengan gelar-gelar buruk. Allah sangat melarang dan Allah memberinya predikat zalim bagi pelaku yang tidak mau bertobat. Menurut ayat tersebut, sebagaimana rangkaian tertuang pada kalimat sebelumnya, penyebabnya karena ada perasaan lebih baik dari yang lain. Orang lain atau kelompok di luarnya seratus persen jelek.

Secara psikologis mengapa seseorang bisa fanatik dengan orang tertentu bisa disebabkan oleh perasaan senang yang membabi-buta. Perasaan demikian, dari dulu memang telah biasa membuang jauh-jauh rasionalitas kita sebagai manusia. Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh At Tirmidzi, dalam salah satu sabdanya juga pernah mengingatkan kita: “Cintailah sesuatu sekadarnya saja, karena boleh jadi apa yang kamu cintai itu suatu saat kamu benci. Dan, bencilah sesuatu juga sekadarnya (pula) karena boleh jadi yang kamu benci itu suatu saat kamu cintai.”

Dengan kalimat lain, cinta dan benci kepada apa pun dan tokoh mana pun seharusnya sekadarnya saja. Tujuannya, agar kita tidak terjebak dalam fanatisme buta yang pada akhirnya akan membuat kita malu, bahkan mencelakan diri kita di kemudian hari.

Padahal, pada saat yang sama ada cinta yang seharusnya mendapat prioritas dari apa pun dan tokoh mana pun. Rasulullah SAW bersabda: “Belum beriman seseorang sehingga aku lebih dicintainya dari pada dirinya, keluarganya, anak-anaknya.”

Maksudnya adalah, kita diharuskan mencintai Allah dan Rasulullah SAW dengan kadar cinta yang melebihi kadar cinta kita kepada diri kita sendiri. Juga lebih dari kadar cinta kita kepada keluarga kita, anak-anak kita, dan seterusnya.

Bentuk implementasi yang terlihat jelas di masa ketika beliau SAW masih hidup adalah tindakan para sahabat. Banyak di antara para sahabat di kala itu harus dihadapkan pada dua pilihan, antara mencintai Allah dan rasul-Nya atau mencintai ayah dan ibunya. Misalnya, Mush’ab bin Umair. Beliau sangat mencintai kedua orang tuanya, demikian juga keduanya sangat mencintai dirinya. Namun, ketika harus memilih antara cinta pada orang tua dan cinta pada Rasulullah SAW, beliau pun lebih memilih cinta kepada Rasulullah SAW. Soalnya, kedua orang tuanya benci dan memusuhi Rasulullah SAW, serta mengultimatum dirinya untuk memilih satu di antara dua pilihan tanpa ada kemungkinan ketiga untuk memadukan. Maka setelah semua upaya dilakukan, berbagai negosiasi dijalankan, juga bujukan dan ajakan untuk melihat secara lebih luas disampaikan, jalan terakhir adalah pilihan beliau untuk lebih mencintai Allah dan Rasulullah SAW. Beliau pun diusir dan ‘dipecat’ jadi anak oleh kedua orang tuanya. apa boleh buat, karena kedua orang tuanya tidak mau dipadukan cintanya dengan cinta Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Konteksnya dengan keberagamaan kita masing-masing, kiranya sudah waktunya kita back to basic, yaitu meninggalkan semua gegap gempita pemilu beserta atributnya. Selanjutnya, kita perlu kembali ke jati diri sebagai manusia yang suatu saat akan meninggalkan dunia beserta isinya. Kecintaan kepada parpol atau paslon tertentu ada baiknya kita jadikan sebagai ajang pesta lima tahunan yang tidak perlu kita bawa dalam kehidupan sehari-hari sesudahnya. Kita membabi buta mendukung politisi tertentu toh belum tentu mereka memberi pengaruh signifikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sementara kita tidak tahu sampai kapan kesempatan hidup ini akan diberikan oleh Allah. Jiwa kita tentu tidak boleh dibiarkan tumbuh menjadi jiwa chauvinis. Sebab, jiwa itu pulalah yang telah terbukti berakibat merugikan manusia karena kesetiaan kepada jargon-jargon sang tokoh seperti Tenno Heika, Napoleon Bonaparte, dan Adolf Hitler. Sementara, secara individual, kita sendirilah yang mempunyai otoritas menentukan nasib kita pribadi di hadapan Sang Pencipta kelak di akhirat. Akhirnya, dengan momentum bulan suci ini marilah kita puasa pula berucap ‘cebong’ dan ‘kampret’ sambil mengubur dua kata itu dalam-dalam.

Semoga tulisan ini menjadi bahan refleksi kita semua.

*) Penulis adalah hakim Pengadilan Agama Lumajang Klas I A.

Reporter :

Fotografer :

Editor :