‘Epic Comeback’ Hari Kemenangan di Bulan Suci Ramadhan

Ramadhan, Liga Champions UEFA dan konferensi cabang jember terasa saling berkaitan saat ini untuk merefleksikan makna kemenangan. Ramadhan disebut bulan kemenangan yang ditandai dengan limpahan rahmat. Sedangkan Liga Champions UEFA dan Konferensi Cabang Jember tak bisa dilepaskan dari hasrat untuk menjadi pemenang. Begitu pula dalam politik, tak ada kekuasaan tanpa kemenangan. Hasrat akan kemenangan merupakan sifat dasar manusia yang kompetitif, juga hasrat untuk berkuasa (the will to power) seperti ditegaskan Nietzsche, menjadi ‘manusia unggul’ (Ubermensch).

IKLAN

Kemenangan adalah keberhasilan meraih target optimal yang diharapkan. Kemenangan ditentukan oleh hasil akhir. Kemenangan dalam Konferensi Cabang Jember (Konfercab) misalnya, tak bisa dilepaskan dari hasil akhir perhitungan suara. Karena itu, dalam kompetisi politik, nasihat bijak “Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda” kerap terasa konyol. Sebab kekalahan dalam politik berarti ‘habis modal’. Apalagi dalam kompetisi politik yang mengutamakan kapitalisasi modal untuk menggalang kemenangan. Demi meraih hasil akhir kemenangan itulah, berbagai cara ditempuh, bila perlu menghalalkan segara cara demi mencapai tujuan, seperti dogma Niccolo Machiavelli.

Tapi kemenangan sesungguhnya tak melulu soal hasil. Ada dimensi etis yang sesungguhnya inheren dan tak bisa diabaikan begitu saja dalam proses dan perjuangan mencapai kemenangan. Itulah sebabnya bagaimana meraih kemenangan menjadi hal yang menentukan kualitas suatu kemenangan. Dimensi etis dalam kemenangan membuat kita menghargai proses, sebagai bagian dari pergulatan mencapai kualitas keluhuran manusia. Sebab bila dimensi etis itu hilang, maka kemenangan sebagai upaya meraih tingkat keluhuran, bisa menjadi sesuatu yang merusak tatanan nilai.

Ada ‘kemenangan faktual’, di mana ukuran kemenangan didasarkan pada fakta, data, peraturan/ perundangan yang menjadi acuan ketetapkan. Berdasarkan fakta, kemenangan menjadi tak terbantahkan. Semisal, dalam Liga Champions UEFA 2019 kesebelasan Liverpool mengalahkan Barcelona 4-3. Siapa pun, baik individu atau media, tak bisa membantah fakta itu. Kecuali bila ada televisi yang memang beda, lalu memanipulasi fakta itu menjadi kemenangan Barcelona.

Karena kemenangan faktual bisa dimanipulasi, maka ada hal yang tak boleh dilupakan, yakni hal yang substansial dalam kemenangan. Inilah yang sering disebut dengan ‘kemenangan substansial’, di mana proses dan cara bagaimana kemenangan diperjuangkan mendapat apresiasi, karena dimensi etis yang dicapainya. Kesebelasan Liverpool dikenal sebagai ‘juara tanpa mahkota’ karena total football-nya yang indah. Ada substansi yang membuat perjuangan meraih kemenangan menjadi berharga, bahkan terkadang, mendapatkan apresiasi tinggi kemenangan faktual yang diraih tidak dengan cara-cara elegan.

Ketika yang faktual dan subsantial menjadi hal yang tak terpisahkan, itulah ‘kemenangan ideal’. Fair play, sebagaimana dalam sepak bola, adalah manifestasi keinginan mencapai yang ideal itu. Dimensi etis itu memprasyaratkan bahwa yang substansial tak bisa dipisahkan dari perkara teknis dan prosedural untuk mencapai kemenangan.

Dimensi etis juga membuat kemenangan sering dipandang sebagai sesuatu yang tak bisa dilepaskan dari yang transendental, sebagaimana banyak diutamakan dalam implementasi keimanan; seperti makna puasa sebagai upaya meraih kemenangan, yang merupakan proses kesadaran yang bersifat transcendental. Dalam ‘kemenangan transcendental’ ada proses pencarian yang bukan lagi untuk semata-mata pembuktian kemenangan diri, tetapi pencapaian menuju yang ilahiah. Kemenangan transcendental boleh jadi bersifat relatif dan sangat indivisual, tetapi kedalaman makna yang dicapainya bersifat keilahian (religiosistas) dan menjadi tak terukur nilainya, justru karena ia tak hanya sekedar perkara yang faktual.

Bagaimana dimensi-dimensi kemenangan di atas menjadi relevan bagi tiap orang, tentu saja berbeda-beda penyikapannya. Tapi kita bisa mengimplementasikan hierarki nilai Max Schekler, filsuf Jerman, untuk mengukur dan menilai sejauh apa kemenagan itu menjadi berarti bagi kemanusiaan kita.

Menurut Scheler, terdapat hierarki nilai dari tingkat rendah ke yang lebih tinggi. Hirearki ini bersifat mutlak atau absolut, mengatasi perubahan historis, dan terlebih “membangun suatu sistem acuan dalam etika” untuk “mengukur dan menilai perubahan moral dalam sejarah” (Paulus Wahana, 2008).

Hirearki nilai itu di antaranya (1) nilai kesenangan, yang bisa dibilang tingkat terbawah, karena didasarkan pada kesenangan inderawi, kepuasan yang ditimbulkannya hanya pencapaian kesenangan individual. (2) nilai vitalitas atau kehidupan, meliputi seusatu yang luhur, kesejahteraan umum, yang tidak dapat direduksikan. (3) nilai spiritual, yang lebih tinggi, yang tak bisa dilepaskan dari nilai estetis, benar dan salah, juga pengetahuan. (4) nilai kesucian/keprofanan, yang bernilai absolut, yang membawa pada pencerahan sekaligus penyerahan yang hakiki.

Lewat hierarki nilai itu, kita bisa meletakkan di tingkatan mana sebuah kemenangan memperoleh maknanya. Misalkan, kemenangan trancendental bisa saja bernilai kesenangan pribadi, sejauh ia hanya memberi kesenangan pada diri sendiri. Sebaliknya, kemenangan faktual bisa bernilai spiritual atau mencapai tingkat keprofanan, apabila ia memberikan pencerahan dan nilai yang luhur bagi banyak orang. Seberapa tinggi dan mulai kemenangan, pada akhirnya bisa dilihat dari seberapa jauh ia memiliki kebergunaan seluas-luasnya.

Maka, bagaimana menilai kemenangan dalam Konfercab kali ini, sesungguhnya bisa dilihat dari apakah kemenangan itu hanya menguntungkan individu/golongan, ataukah kemenangan bangsa. Bagaimana kemenangan itu dicapai, ditentukan serta diterima, akan memperlihatkan tingkatan ‘hirearki nilai kemenangan’ yang dicapai oleh bangsa kita hari ini.

Mantan presiden Abdurahman Wahid pernah menegaskan, “Tak ada satu pun kekuasaan yang layak dipertahankan dengan pertumpahan darah.” Saya kira, begitu pun dengan kemenangan. Tak perlu ada “pertumpahan darah” hanya untuk kemenangan. Saya percaya, kemenangan terindah adalah kemenangan untuk kemanusiaan.

*) Penulis adalah Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) IAIN Jember.

Reporter :

Fotografer :

Editor :